LOGINsiapakah dia?? main hai hei hai hei aja
Momen yang selalu menjadi momok bagi Tala, kini datang.Kinan resmi menggantikan orang yang sebelumnya menangani kerja sama dengan Janitra. Maka, hari ini menjadi pertemuan pertama mereka dalam urusan proyek—Kinan sebagai perwakilan Bhuwana, sementara Tala hadir mewakili kepentingan Janitra dan Sansa khususnya.Pertemuan itu berlangsung di salah satu tower Bhuwana, ditemani Suwandi dan juga tim Janitra.Setelah sempat melalui tarik-ulur khas negosiasi korporasi, hari ini mereka akhirnya mencapai kata sepakat.Geza sebenarnya sudah beberapa kali menawarkan Tala untuk mundur dari proyek ini. Ia cukup memantau dari jauh dan tidak perlu terlalu proaktif terlibat dalam setiap prosesnya.Namun, setelah hubungan mereka resmi jadi pernikahan sungguhan Tala memilih bertahan. Ia tak mau bersikap kekanak-kanakan hanya karena mantan kekasih suaminya kini duduk di seberang meja.Dengan semua yang sudah mereka lalui, rasanya tak mungkin Geza berpaling begitu saja.Lagipula, Geza tahu bagaimana rasan
Geza masuk ke kamar pukul sebelas, setelah memastikan dapur sudah kembali bersih.Sebenarnya ia bisa saja membiarkannya. Toh besok Bi Yuni juga akan membereskannya. Namun, dapur kotor justru membuat kepalanya pening. Lagipula, ia butuh mengumpulkan energi untuk menghadapi Tala.Membujuk, tepatnya.Istrinya sedang mens, baru kecewa karena hasil tes negatif, ditambah kemunculan Kinan. Paket lengkap untuk membuatnya begitu sensitif.Dan Geza harus menghadapinya.Dua tahun ke belakang, Geza mungkin tak akan terlalu terpengaruh. Seingatnya, Tala juga tidak sesensitif ini. Atau mungkin dulu ia saja yang tidak cukup peka karena hari-hari mereka memang lebih sering diisi adu mulut dan sarkas. Jadi, kalau Tala sedang kesal, Geza akan membalas. Kalau Tala nyolot, ia akan menyolot balik.Selesai.Sekarang? Perempuan yang sama bisa membuatnya pusing hanya dengan membelakanginya.Geza mendekat ke ranjang. Bantal hangat yang tadi sudah ia siapkan suhunya seharusnya sudah pas.“Ta....” panggilnya pel
Selama tiga hari berturut-turut Geza lembur. Kemunculan Kinan tentunya masih mengganjal di pikiran Tala—didorong efek hormon menstruasi—semuanya terasa jauh lebih mengganggu.Mungkin benar kata Amika. Ia harus menghabiskan satu malam penuh dengan suaminya itu. Sekedar untuk bermanja, mungkin.Malam ini, Tala sudah menyiapkan makan malam untuknya. Bukan menu yang merepotkan, hanya menu-menu ringan dan gampang diolah karena Geza bilang akan pulang lebih cepat.Sebenarnya, Tala ingin sekali menyambut Geza dengan pakaian dinas yang baru dibelinya. Tapi untunglah ia masih sangat waras. Yang sedang tidak waras cuma gejolak hormonnya yang belakangan terlalu banyak tingkah.Begitu pintu dibuka ia dibuat terkejut dengan kehadiran tiga pria di hadapannya.Oh, salah.Ada satu lagi.Untung saja akal sehatnya masih lebih kuat daripada hormonnya. Kalau tidak, bisa-bisa malam ini ia sudah membuka pintu dengan pakaian dinas seksi itu di depan empat pria sekaligus.Tala bergidik sendiri membayangkannya
Dua hari setelah menemui obgyn, siklus bulanan Tala datang. Moodnya jelas belum membaik. Bahkan di hari pertama menstruasinya, Tala kembali menangis. Bukan sekadar meneteskan air mata, melainkan sampai terisak keras di kamar. Tangisnya baru berhenti setelah Geza memeluknya. Lama.Lebay memang. Salahkan hormonnya.Menurut dokter, ada kemungkinan Tala memang terlalu terbawa sugesti. Setelah melihat bayi Sandra, pikirannya tanpa sadar menghubungkan semuanya dengan masa lalu—ketika ia sering menemani Jani menjalani program kehamilan hingga masa kehamilan sang kakak. Ditambah beberapa perubahan tubuh yang ia rasakan belakangan ini, semuanya terasa seperti tanda yang saling menguatkan. Padahal belum tentu.Kini ia memasuki hari kedua menstruasi, masih di titik paling kacau. Masih begitu sensitif. Karena itu, ia janjian dengan Amika saat jam makan siang. Sedikit curhat, sedikit haha-hihi, lalu ngobrol ngalor-ngidul agar pikirannya kembali lebih ringan.Setidaknya, itu rencana Tala.“Emang lo
Dalam satu hari ini, terlalu banyak hal tak terduga yang terjadi dalam hidup Tala. Hal pertama, jelas ia tak pernah menyangka masih ada secuil kemungkinan bahwa dirinya sedang hamil, meskipun hasil test pack tadi pagi menunjukkan negatif. Berharap? Tentu. Hal tak terduga berikutnya adalah bertemu mertua dan kakak iparnya secara kebetulan di akhir pekan, di rumah sakit sebesar ini. Dari sekian banyak tempat dan sekian banyak waktu, kenapa harus di sini? Saat perasaannya sendiri sedang kacau, ia malah harus berhadapan dengan orang-orang yang sama sekali tidak ingin ditemuinya hari ini. Tala kira, sampai di situ saja kejutan untuknya. Ternyata ia terlalu cepat menyimpulkan. Karena setelah itu, datang sesuatu yang bahkan tak pernah melintas sedikit pun dalam pikirannya. Dengan begitu cepat sampai Tala kehilangan sepersekian detik untuk sekadar memahami apa yang sedang dilihatnya. Jika tadi ia masih sempat berpikir harus bersikap bagaimana, kali ini tidak. Ia kehilangan daya pikir da
Appointment dengan obgyn yang sudah Geza buat sejak pagi tadi dijadwalkan pukul 15.00 di salah satu rumah sakit di kawasan Pondok Indah. Sebelum ke sana, mereka terlebih dahulu menemani Sansa bermain di playground, lalu makan dan berkeliling mall sebentar. Setidaknya, mood Tala sudah jauh lebih baik. Tala pernah menemani Jani ke rumah sakit ini untuk pemeriksaan kandungan dulu, ketika Arka sedang berada di luar kota. Dokter yang menangani Jani waktu itu masih sama. Seorang pria paruh baya dengan rambut yang hampir seluruhnya memutih dan kacamata yang bertengger di batang hidung. Wajahnya tegas, tapi suaranya justru lembut dan menenangkan. Tala menceritakan satu per satu soal siklus haidnya yang tiba-tiba terlambat, juga berbagai gejala yang belakangan ia rasakan. Dokter mendengarkan dengan tenang sebelum menjelaskan bahwa semua itu bisa saja merupakan tanda kehamilan awal, tetapi perubahan hormon atau ovulasi yang terlambat juga bisa menjadi penyebabnya. Test pack yang negatif tadi
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me







