INICIAR SESIÓNResign aja Om Eja, tinggal borong Jco bagiin atu atu tuh ke anak divisi ahaha btw ini recallnya ke bab dulu banget pas Geza sama Tala masih hts-an pas Tala ngambek gegara disemprot Geza yang cemburu liat jaket Adrian dipake Tala.
“Ta, please. Jangan gini. Kasih saya kesempatan buat bikin kamu yakin.”“Kamu yang jangan gini.” Tala akhirnya menoleh, menatap Geza dengan mata yang mulai memerah. “Dari awal kesepakatan kita cuma nikah kontrak. Kalau kamu tahu masih ada Kinan di hati kamu, kenapa mesti kasih harapan ke aku? Kenapa deketin aku sebegitunya?”Geza terdiam, tapi Tala sudah terlanjur melanjutkan. Semua kecurigaan yang sejak tadi berusaha Tala tahan kini tumpah begitu saja.“Apa karena Kinan jauh, jadi kamu butuh pengalih sementara yang bisa bebas kamu buang begitu dia kembali?”“Ta..” Geza menggeram rendah.“Saya emang brengsek, tapi saya nggak mungkin mainin perasaan perempuan kayak gitu. Saya benci perselingkuhan.”Tala tak merespons pembelaan itu. Dadanya sudah terlalu sesak, hatinya masih sangat perih.“Jadi, sejak kapan kamu ada main sama Kinan?” todongnya lagi. “Apa dari awal kita nikah kontrak pun kamu masih punya hubungan sama Kinan?””Nggak ada hubungan sama sekali, Ta. Iya, kita kontekan tapi i
Tala menyusul ke sekolah Sansa. Setelahnya, ia pergi berdua dengan anak itu, berkeliling mal untuk meredakan pikirannya yang kusut. Namun, bukannya merasa lebih jernih, Tala justru semakin jengah.“Aman semua untuk minggu ini, Mbak. Paling nanti minggu depan ada schedule sama pihak Bhuwana,” Sania menginformasikan jadwal Tala minggu ini lewat sambungan telepon.Sekacau saat ini, Tala tak mungkin pergi ke Janitra.Lagi pula, agendanya minggu ini memang cukup longgar. Tak ada rapat penting atau keputusan strategis yang menuntut kehadirannya. Paling-paling, ia hanya perlu memantau perkembangan perusahaan dan mendalami prospek bisnis Janitra yang akan digarap dalam waktu dekat.“Hari apa? Kalau cuma Pak Suwandi aja yang hadir, fine, kan?”Tala tahu ini bukan keputusan yang profesional. Namun, ia sungguh muak jika harus melihat Geza dan Kinan ada di sana juga. Bayangan Kinan mencium Geza saja sudah cukup membuat perutnya mual.Apa ini alasan Geza berulang kali menanyakan keyakinannya untuk
Semua penjelasan dan pembelaan yang baru saja Tala dengar dari mulut suaminya itu justru membuatnya semakin muak.Tala tertawa getir, tanpa sedikit pun rasa geli.“Oke, kamu nggak bales, tapi kamu diem aja. Kenapa? Cukup menikmati? Keinget masa-masa delapan tahun itu?” todongnya tajam.Dadanya semakin sesak. Rasa sakit yang sejak semalam mati-matian ia tahan kembali menghimpit, begitu kuat hingga napasnya terasa tercekat.Tala merasa bodoh karena sempat percaya, bodoh karena membiarkan dirinya jatuh cinta, dan lebih bodoh lagi karena mengira Geza tak akan pernah tega menyakitinya seperti ini.”Ta, semuanya terjadi begitu cepat.” Geza mengusap wajahnya kasar, frustrasi. “Saya mabuk. Pandangan saya udah kabur, saya bahkan sempat salah lihat—”Ia terdiam sejenak, rahangnya mengeras.“Kinan tiba-tiba cium saya. Saya ngefreeze, Ta. Bukan karena saya menikmati, apalagi karena saya pengen mengulang masa lalu.” Tatapannya kembali tertuju pada Tala. “Saya cuma nggak langsung bisa bereaksi.”“B
Mungkin, ungkapan Hanum waktu itu keliru. Awal tahun keempat pernikahan mereka bukanlah pembuka menuju hidup bahagia, melainkan awal dari peliknya rumah tangga yang harus mereka hadapi. Dan kini Tala bukan lagi Tala yang lajang dan bebas melarikan diri setiap kali pikirannya kusut. Ada hal-hal yang kini tak bisa ia tinggalkan begitu saja, bahkan ketika hatinya sendiri sedang berantakan. Sekarang ia punya Sansa. Maka, begitu tiba di apartemen Syifa, Tala segera menelepon Sus Lia untuk memastikan keadaan Sansa. Ia juga menitipkan pesan agar besok anak itu tetap berangkat sekolah seperti biasa, tanpa harus menunggu atau diantar olehnya. Amika sempat mampir dan bercerita panjang lebar tentang bagaimana ia melabrak Kinan. Persis seperti yang Tala duga. Geza—si brengsek itu—terus-menerus meneleponnya, yang tentu saja langsung Tala reject. Ia tak bisa mematikan ponselnya begitu saja. Bagaimanapun, ia masih harus bisa dihubungi jika ada sesuatu yang penting terkait Sansa. Dan satu lagi, B
Tala pernah punya pengalaman diselingkuhi. Ia memergoki pacarnya keluar dari sebuah hotel bersama rekan kerjanya, tepat ketika dirinya sedang berada di lobi untuk bertemu klien. Saat itu, Tala hanya diam. Tak ada keributan, tak ada adegan menangis atau memohon penjelasan. Ia mengakhiri hubungan mereka begitu saja, tanpa banyak drama. Entah karena ia memang tak secinta itu pada pria tersebut, entah karena ia enggan menjadi pusat perhatian. Yang jelas, Tala tak merasa perlu membuat keributan. Kemudian Tala dapat kabar kalau mantannya itu dilabrak Amika. Tak berselang lama kemudian, tersiar pula kabar kalau pria itu babak belur dihajar seseorang. Entah siapa pelakunya. Tala tak pernah mencari tahu, apalagi merasa perlu peduli. Namun, kejadian kali ini berbeda. Pria yang baru saja ia pergoki berciuman dengan mantannya bukan sekadar pacar. Status mereka sudah resmi berubah. Geza adalah suaminya. Dan apa yang baru saja dilihatnya? Ciuman. Geza berciuman dengan Kinan. Tala mengerjap b
“Tala, kita di ruang paling ujung. Lo naik aja.” Suara Amika di ujung telepon menuntun Tala menerobos lantai bawah yang ramai dan penuh sesak. Malam ini, ia punya janji dengan Amika, Jia, dan Syifa untuk mencari hiburan sekaligus merayakan Jia yang resmi resign dari pekerjaannya dan memutuskan menjadi IRT. Setelah padel untuk mengobati patah hati Syifa, kini giliran minum di bar untuk merayakan keputusan Jia. “Oke, tunggu. Penuh banget di sini.” “Ya jelas penuh, namanya juga bar. Lo sih, udah lama nggak dateng ke tempat kayak gini amatir lagi kan...Buruan, ya. Kita udah nungguin lo setengah jam, nih,” celoteh Amika, yang sepertinya sudah mulai menyesap alkohol. “Iya, sabar, iya,” gerutu Tala. Sebelum berangkat, ia sudah mengirim pesan kepada Geza untuk mengabari bahwa malam ini ia jadi keluar. Tadinya Tala sempat gamang antara ikut acara itu atau tidak, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk datang. Sayangnya, sampai sekarang belum ada balasan dari suaminya. Pesan terakhir Geza mas
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan
Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang







