MasukTala terkekeh canggung. Entah kenapa, rasanya Geza sengaja membiarkan pembicaraan itu mengarah ke sana.“Nggak ada hubungannya kali, Vin. Nggak ngaruh. Kerjaan ya kerjaan, buat skala perusahaan kalian yang segede itu ya tetep bakal banyak,” balas Tala diplomatis.“Kata siapa nggak berpengaruh?” Geza menyahut tenang.“Kamu seberpengaruh itu buat saya.”“Mas Geza!”Arvin yang sejak tadi memperhatikan keduanya langsung terkekeh. “Tuh, kan, Mbak. Saya tuh selalu berdoa semoga kalian langgeng dan bahagia terus.”Ia mengatupkan kedua tangan di depan dada dengan ekspresi dramatis.“Soalnya kalau kalian nggak bahagia, taruhannya nyawa saya sama satu tim, Mbak. Kami yang bakal kena imbasnya.”Tala terdiam. Jangan-jangan ini juga bagian dari trik Geza? Meminta bala bantuan untuk mengubah keputusan cerainya? Huh. Menyebalkan.“Mas, please deh. Yang profesional,” tegur Tala, menyorot Geza sebal.“Of course. Profesional, sesuai kemauan kamu.” Geza mengangkat alis tipis. “Sesuai kesepakatan. Sesuai
Pagi datang, dan saat membuka mata, Tala mendapati Geza sudah lebih dulu terjaga. Pria itu berbaring menyamping, menatapnya lurus.“Udah baikan?” tanya Tala sambil mengusap matanya.“Lumayan.” balas Geza, suaranya sedikit sengau terlihat pilek.“Semalam aku udah kontak Rena. Jadwal kamu juga udah diatur. Jadi hari ini istirahat aja,” ujar Tala.Geza mengangguk pelan.“Aku berangkat lebih pagi hari ini. Nanti Bi Yuni bikinin sarapan. Mau sup lagi atau bubur?” tanya Tala.“Bubur bikinan kamu. Yang kayak bikinan Mbak Jani,” jawab Geza.“Oke. Nanti aku bikinin sebelum berangkat.”Tala baru hendak bangkit ketika tangan Geza terulur, menahan pergelangan tangannya.“Ta, di sini aja.”Tala menoleh. “Aku kerja.”“Kerjaan kamu bisa diatur.” Geza melepas tangannya perlahan, lalu bersandar pada headboard. “Minta tolong Sania atur jadwal kamu hari ini.”Nada suaranya terdengar santai, tetapi tatapannya seolah tak menerima banyak ruang untuk dibantah.“Nggak bisa, Geza. Nanti Bi Yuni bisa bantu kam
Pulang dari Janitra, Tala mendapati Sansa sudah tertidur pulas. Kata Sus Lia, Geza langsung masuk kamar begitu pulang sekitar pukul tujuh dan melewatkan makan malam. Pria itu juga terlihat kurang fit, hanya sempat meminta Sus Lia menemani Sansa sampai tidur.Tala akhirnya berdiri di depan pintu kamar Geza. Ia sempat ragu, tak tahu akan mendapat respons seperti apa setelah belakangan ini mereka menjaga jarak.“Geza, kamu nggak makan?” panggilnya.Hening.Tala mengetuk sekali lagi. Tetap tak ada sahutan. Akhirnya ia membuka pintu sendiri. Terserah kalau nanti Geza marah.Di atas ranjang, Geza meringkuk di balik selimut, hanya sebagian wajahnya yang terlihat.“Za?” panggil Tala pelan.Tak ada respons. Tala melangkah mendekat, lalu menarik sedikit ujung selimut.Tubuh pria itu menggigil. Wajahnya pucat, napasnya berat, dan dahinya terasa panas saat punggung tangan Tala menyentuhnya.“Ya ampun, Geza...” Tala spontan menarik tangannya. “Kamu sakit?”Bibir pria itu bergerak lemah.“Ta... hau
Malam itu, Geza masih duduk di kursi makan ketika Tala selesai mencuci piring sisa makan malam. Sudah dua bulan mereka berada dalam dinamika seperti ini—tetap bisa berbicara jika ada yang perlu dibicarakan, tetapi selebihnya hanya hening dan jarak canggung.Tala mengeringkan tangannya, lalu duduk di seberang pria itu. Geza masih sibuk dengan ponselnya, wajahnya tenang dan sikapnya formal seperti biasa.Ada sesuatu yang memang harus mereka bicarakan. Soal Janitra. Jadi mau tak mau Tala membuka percakapan.“Soal Janitra... kamu yakin bisa beresin semuanya dalam sepuluh bulan ini?”Geza mengangkat pandangan dari ponselnya. “Kenapa nanya gitu?”Tala mengetuk-ngetukkan ujung jarinya di meja sebelum akhirnya melanjutkan maksudnya.“Kemarin Raga datang ke ruangan aku. Dia minta dikasih kesempatan dan mau berdiri di pihak kita.”Geza mengangguk pelan, seolah kedatangan Raga memang sudah masuk dalam perhitungannya.“Perusahaan Mbak Nadira makin goyah. Jelas dia mulai bergerak sendiri di luar k
“Bunda Yaya cantik banget, Tata. Ayah Yaya juga ganteng… kayak Om Eja.”Sansa menunjuk foto di layar tablet Tala. Di sana terpampang foto pernikahan Jani dan Arka.Tala tersenyum kecil.Di usianya yang baru empat tahun, Sansa mulai mengerti bahwa Ayah dan Bundanya sudah tidak ada. Kata Tala, mereka sekarang berada di tempat yang tenang.“Yayanya mana, Tata? Kok nggak ada?”“Yaya masih jauh,” jawab Tala lembut. “Ayah sama Bunda Yaya kan baru menikah.”Sansa mengangguk-angguk, lalu menatap foto itu lagi.“Tata…”“Iya?”“Kalau Yaya peluk fotonya… Bunda tahu nggak?”Tala tersenyum tipis. “Tahu.”“Kalau Yaya bilang ‘Yaya kangen’?”“Bunda juga tahu.”Sansa mengangguk puas.“Berarti Yaya nggak sendirian, ya, Tata?”Seketika mata Tala memanas, ia langsung menarik Sansa ke dalam pelukannya.“Nggak. Yaya nggak pernah sendirian.”Sansa hari ini begitu cerewet sekaligus pengertian. Geza tidak menyukai sesuatu yang kotor atau berantakan, dan ajaibnya, Sansa tumbuh menjadi anak yang sangat tertib. T
Geza terdiam beberapa detik mendengar jawaban Tala. Tatapannya tak beranjak dari wajah perempuan itu.“Why?” tanyanya pelan.“You really don’t love me?”“Kamu yang nggak cinta aku,” sahut Tala pelan.Geza mengembuskan napas kasar. Ada frustrasi yang akhirnya lolos dari ketenangannya.“Apa yang saya tunjukkan selama ini nggak cukup buat bikin kamu paham kalau saya secinta itu sama kamu?”Itulah kalimat yang selama ini ingin Tala dengar dari mulut Geza—validasi yang begitu jelas, tanpa ruang untuk disalahartikan. Namun kini justru kalimat itu membuatnya semakin gelisah, terlebih saat Geza mengatakannya dalam situasi seperti ini, ketika Tala sedang berusaha diyakinkan.Membuat kalimatnya makin terasa ambigu, apakah ini ketulusannya atau bentuk manipulasinya agar Tala setuju. Sebagaimana dulu, ketika Geza memainkan situasi dan emosinya sampai Tala bertindak impulsif dan menyetujui pernikahan kontrak mereka.“Za, mungkin yang kamu rasain ke aku bukan cinta.” Suaranya melemah.“Mungkin itu k
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b







