Teilen

75- Adik Bayi

last update Veröffentlichungsdatum: 05.07.2026 18:49:48

Sansa, si bocah tiga tahun itu, termasuk anak yang anteng dan menggemaskan. Tala nyaris tak pernah melihatnya tantrum atau mengacak-acak isi rumah seperti kebanyakan balita. Masa tersulit mengasuh Sansa hanyalah saat bocah itu baru mengalami kecelakaan sekaligus kehilangan kedua orang tuanya. Selebihnya, semakin besar usianya, semakin banyak hal yang membuat Tala takjub.

Hanya saja, bertambahnya kemampuan Sansa juga berarti bertambah liar pula ide-ide di kepalanya.

Dan di situlah Tala sering di
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Teteng Yeni
wkwkk ....yang kayak gini ini aku suka....pada hal tadi sempet jengkel karena Masi abu abu.....sekarang merah kuning hijau biru.....wkwkk.....
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Sebelum Tiga Tahun   75- Adik Bayi

    Sansa, si bocah tiga tahun itu, termasuk anak yang anteng dan menggemaskan. Tala nyaris tak pernah melihatnya tantrum atau mengacak-acak isi rumah seperti kebanyakan balita. Masa tersulit mengasuh Sansa hanyalah saat bocah itu baru mengalami kecelakaan sekaligus kehilangan kedua orang tuanya. Selebihnya, semakin besar usianya, semakin banyak hal yang membuat Tala takjub.Hanya saja, bertambahnya kemampuan Sansa juga berarti bertambah liar pula ide-ide di kepalanya.Dan di situlah Tala sering dibuat kewalahan.Bayangkan saja. Perempuan yang bahkan belum pernah menikah atau memiliki anak itu, mendadak harus menghadapi logika seorang bocah tiga tahun yang tak pernah kehabisan akal.Rasanya sungguh nano-nano menjadi orang tua pengganti.Padahal Tala termasuk orang yang sabar dan sangat menyukai anak kecil. Namun menghadapi imajinasi Sansa yang seolah tak berbatas, ia tetap saja sering angkat tangan.Mulai dari merengek agar Tala dan Geza memasak bersamanya, memaksa mereka ikut bermain pet

  • Sebelum Tiga Tahun   74- Solusi Syar'i

    Dari balik dinding kaca area tunggu, pandangan Tala tidak lepas dari sosok Sansa yang tampak menggemaskan dengan baju renang bermotif bunga matahari. Ini adalah trial class pertama anak itu, dan karena ini pengalaman pertamanya masuk ke kolam dalam, Geza sengaja ikut menceburkan diri untuk menemani dan menenangkan Sansa di dalam air.”Jadi amunisi dari gue udah dipake belum?” tanya Amika setengah berbisik, nadanya terdengar penuh selidik sekaligus menggoda.Amika si cerewet itu memang sengaja mengekori Tala ke kolam renang sore ini. Kakinya sudah pulih dan karena tidak punya agenda apa pun di akhir pekan, jadilah ia hadir di sana hanya untuk merecoki dan menggoda Tala.Tala sontak menoleh tajam, beruntung mereka duduk terpisah jauh dari para orang tua yang lain.“Heh, itu ngaco banget tahu! Ngirim barang laknat gitu terang-terangan banget. Gue gak butuh,” balas Tala ketus dengan suara tertahan.”Belum butuh kali. Gue tuh sedia payung sebelum hujan,” sergah Amika cepat, tak mau kalah.

  • Sebelum Tiga Tahun   73- Tipe Adrian

    "Om, lo tuh mesum banget sih! Bisa gak sih jangan kayak gitu di tempat umum?" protes Hanum berapi-api begitu mereka semua sudah duduk mengitari meja panjang di restoran dekat kantor. Wajahnya masih menyisakan sisa-sisa syok pasca-menonton pertunjukan gratis tadi.Sama syoknya dengan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu—Sania, Hanum, Adrian, Jia, Sus Lia, dan tentu saja Sansa.Lengkap.Kurang security saja, pikir Tala miris."Salah?" tanya Geza cuek. Pria itu dengan santai menuangkan air putih ke gelas Tala, sama sekali tidak terlihat terganggu atau malu."Kan istri sendiri.""Itu kantor, Hei! Kantor!" sahut Hanum lagi, gregetan dengan ekspresi lempeng Geza. "Untung Sansa gak lihat.”Terimakasih sus Lia yang sangat bisa gerak cepat di situasi darurat."Itu ruangan istri saya. Kalian harusnya ketuk dulu kalau mau masuk," balas Geza tak mau kalah.Sania yang duduk di ujung meja ikut menyahut pelan sambil meringis. "Udah kali, Pak. Saya udah ketuk tiga kali, tapi bapaknya aja yang ke

  • Sebelum Tiga Tahun   72- Tertangkap Basah

    Geza melangkah maju, lalu dengan santai duduk di kursi tepat di depan meja kerja Tala. Tangannya terulur, ikut membuka dan membalik map yang tengah Tala cek sejak tadi."Ada yang urgent banget sampai harus dikerjain weekend gini?" tanya Geza, matanya beralih menatap Tala dengan intensitas yang sama seperti subuh tadi.Tala menelan ludah pelan.Yang urgent itu sebenarnya jarak kita sekarang, Geza, jerit Tala dalam hati."Buat persiapan bidding Senin besok, biar gak ada kendala.” jawab Tala seformal mungkin, mencoba membentengi diri.Padahal kendala yang sebenarnya sudah muncul sejak dini hari tadi.Dan nama kendala itu...Geza Ragendra."Kamu... tahu dari mana aku lembur di sini?"Geza menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu mengulas senyum miring yang teramat tipis. "Sania report ke saya."Ah, sial. Tala memejamkan matanya sesaat, merutuki kebodohannya sendiri. Ia lupa satu fakta penting; sekoperatif apa pun Sania padanya sekarang, gadis itu tetaplah salah satu "antek-antek"

  • Sebelum Tiga Tahun   71- Melarikan Diri

    Saat Tala benar-benar terbangun, pria itu sudah pergi entah ke mana. Sisi kasur di sebelahnya sudah mendingin, namun sisa pelukan dan kecupan hangat di keningnya subuh tadi masih terasa membekas nyata. Seketika, akal sehat Tala mulai menjerit lagi. Ini tidak benar. Logikanya yang sempat meleleh tadi menuntut untuk dipasang kembali.Ini hari Sabtu, awalnya ia berencana untuk diam di rumah saja menghabiskan waktu bersama Sansa. Namun, saat selesai mandi dan bersiap sarapan, ia mengurungkan niat itu begitu mendengar kalimat Hanum."Om Eja udah berangkat dari jam enam tadi, Tante. Katanya mau tenis dulu, nanti pulang siangan deh kayaknya," ujar Hanum sambil menata piring.Baguslah. Berarti rumah aman sampai siang. Mereka tak perlu pamer keharmonisan di depan Hanum dan Tala tak perlu gelisah saat jarak mereka terlalu dekat.Jika Geza pulang agak siangan dan berangkat hanya untuk tenis, itu artinya sisa hari Sabtu ini pria itu akan berdiam di rumah. Dan menghabiskan waktu seharian penuh den

  • Sebelum Tiga Tahun   70- Mimpi Buruk

    Setelah obrolan panjang dengan Geza itu, akhirnya Tala memejamkan mata. Namun tidur tak benar-benar memberinya istirahat. Kesunyian kamar justru menyeretnya masuk ke dalam labirin ingatan yang paling ingin ia hindari.Semuanya terasa begitu nyata. Ia seperti kembali menjadi mahasiswi yang baru pulang dari kampus. Maket tugasnya masih dipeluk erat, kardusnya penyok di beberapa sisi. Napasnya memburu ketika langkahnya berhenti di sebuah pemakaman yang tanahnya masih basah oleh hujan.Ia mengenali tempat itu. Perlahan, pandangannya jatuh pada sebuah batu nisan. Nama ayahnya terukir di sana membuat dadanya langsung sesak."Nggak..."Suara itu terdengar seperti miliknya, tetapi begitu jauh. Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. Lututnya melemas hingga seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Sangat hangat dan akrab."Tala..."Jani.Pelukan kakaknya selalu sama. Erat. Menenangkan. Membuatnya merasa semuanya akan baik-baik saja. Namun kehangatan itu hanya bertahan sesaat. Dalam sat

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

  • Sebelum Tiga Tahun   4- Proposal Tak Terduga

    Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men

  • Sebelum Tiga Tahun   3- Rumah Bagi Sansaya

    Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status