แชร์

74- Solusi Syar'i

ผู้เขียน: Sora Carita
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-05 16:19:26

Dari balik dinding kaca area tunggu, pandangan Tala tidak lepas dari sosok Sansa yang tampak menggemaskan dengan baju renang bermotif bunga matahari. Ini adalah trial class pertama anak itu, dan karena ini pengalaman pertamanya masuk ke kolam dalam, Geza sengaja ikut menceburkan diri untuk menemani dan menenangkan Sansa di dalam air.

”Jadi amunisi dari gue udah dipake belum?” tanya Amika setengah berbisik, nadanya terdengar penuh selidik sekaligus menggoda.

Amika si cerewet itu memang sengaja m
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
taqiyyanaura47
wkwk....amika kadang ada benernya solusi syar'i....lanjut thorr
goodnovel comment avatar
Teteng Yeni
Masi abu abu hubungannya.....
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Sebelum Tiga Tahun   75- Adik Bayi

    Sansa, si bocah tiga tahun itu, termasuk anak yang anteng dan menggemaskan. Tala nyaris tak pernah melihatnya tantrum atau mengacak-acak isi rumah seperti kebanyakan balita. Masa tersulit mengasuh Sansa hanyalah saat bocah itu baru mengalami kecelakaan sekaligus kehilangan kedua orang tuanya. Selebihnya, semakin besar usianya, semakin banyak hal yang membuat Tala takjub.Hanya saja, bertambahnya kemampuan Sansa juga berarti bertambah liar pula ide-ide di kepalanya.Dan di situlah Tala sering dibuat kewalahan.Bayangkan saja. Perempuan yang bahkan belum pernah menikah atau memiliki anak itu, mendadak harus menghadapi logika seorang bocah tiga tahun yang tak pernah kehabisan akal.Rasanya sungguh nano-nano menjadi orang tua pengganti.Padahal Tala termasuk orang yang sabar dan sangat menyukai anak kecil. Namun menghadapi imajinasi Sansa yang seolah tak berbatas, ia tetap saja sering angkat tangan.Mulai dari merengek agar Tala dan Geza memasak bersamanya, memaksa mereka ikut bermain pet

  • Sebelum Tiga Tahun   74- Solusi Syar'i

    Dari balik dinding kaca area tunggu, pandangan Tala tidak lepas dari sosok Sansa yang tampak menggemaskan dengan baju renang bermotif bunga matahari. Ini adalah trial class pertama anak itu, dan karena ini pengalaman pertamanya masuk ke kolam dalam, Geza sengaja ikut menceburkan diri untuk menemani dan menenangkan Sansa di dalam air.”Jadi amunisi dari gue udah dipake belum?” tanya Amika setengah berbisik, nadanya terdengar penuh selidik sekaligus menggoda.Amika si cerewet itu memang sengaja mengekori Tala ke kolam renang sore ini. Kakinya sudah pulih dan karena tidak punya agenda apa pun di akhir pekan, jadilah ia hadir di sana hanya untuk merecoki dan menggoda Tala.Tala sontak menoleh tajam, beruntung mereka duduk terpisah jauh dari para orang tua yang lain.“Heh, itu ngaco banget tahu! Ngirim barang laknat gitu terang-terangan banget. Gue gak butuh,” balas Tala ketus dengan suara tertahan.”Belum butuh kali. Gue tuh sedia payung sebelum hujan,” sergah Amika cepat, tak mau kalah.

  • Sebelum Tiga Tahun   73- Tipe Adrian

    "Om, lo tuh mesum banget sih! Bisa gak sih jangan kayak gitu di tempat umum?" protes Hanum berapi-api begitu mereka semua sudah duduk mengitari meja panjang di restoran dekat kantor. Wajahnya masih menyisakan sisa-sisa syok pasca-menonton pertunjukan gratis tadi.Sama syoknya dengan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu—Sania, Hanum, Adrian, Jia, Sus Lia, dan tentu saja Sansa.Lengkap.Kurang security saja, pikir Tala miris."Salah?" tanya Geza cuek. Pria itu dengan santai menuangkan air putih ke gelas Tala, sama sekali tidak terlihat terganggu atau malu."Kan istri sendiri.""Itu kantor, Hei! Kantor!" sahut Hanum lagi, gregetan dengan ekspresi lempeng Geza. "Untung Sansa gak lihat.”Terimakasih sus Lia yang sangat bisa gerak cepat di situasi darurat."Itu ruangan istri saya. Kalian harusnya ketuk dulu kalau mau masuk," balas Geza tak mau kalah.Sania yang duduk di ujung meja ikut menyahut pelan sambil meringis. "Udah kali, Pak. Saya udah ketuk tiga kali, tapi bapaknya aja yang ke

  • Sebelum Tiga Tahun   72- Tertangkap Basah

    Geza melangkah maju, lalu dengan santai duduk di kursi tepat di depan meja kerja Tala. Tangannya terulur, ikut membuka dan membalik map yang tengah Tala cek sejak tadi."Ada yang urgent banget sampai harus dikerjain weekend gini?" tanya Geza, matanya beralih menatap Tala dengan intensitas yang sama seperti subuh tadi.Tala menelan ludah pelan.Yang urgent itu sebenarnya jarak kita sekarang, Geza, jerit Tala dalam hati."Buat persiapan bidding Senin besok, biar gak ada kendala.” jawab Tala seformal mungkin, mencoba membentengi diri.Padahal kendala yang sebenarnya sudah muncul sejak dini hari tadi.Dan nama kendala itu...Geza Ragendra."Kamu... tahu dari mana aku lembur di sini?"Geza menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu mengulas senyum miring yang teramat tipis. "Sania report ke saya."Ah, sial. Tala memejamkan matanya sesaat, merutuki kebodohannya sendiri. Ia lupa satu fakta penting; sekoperatif apa pun Sania padanya sekarang, gadis itu tetaplah salah satu "antek-antek"

  • Sebelum Tiga Tahun   71- Melarikan Diri

    Saat Tala benar-benar terbangun, pria itu sudah pergi entah ke mana. Sisi kasur di sebelahnya sudah mendingin, namun sisa pelukan dan kecupan hangat di keningnya subuh tadi masih terasa membekas nyata. Seketika, akal sehat Tala mulai menjerit lagi. Ini tidak benar. Logikanya yang sempat meleleh tadi menuntut untuk dipasang kembali.Ini hari Sabtu, awalnya ia berencana untuk diam di rumah saja menghabiskan waktu bersama Sansa. Namun, saat selesai mandi dan bersiap sarapan, ia mengurungkan niat itu begitu mendengar kalimat Hanum."Om Eja udah berangkat dari jam enam tadi, Tante. Katanya mau tenis dulu, nanti pulang siangan deh kayaknya," ujar Hanum sambil menata piring.Baguslah. Berarti rumah aman sampai siang. Mereka tak perlu pamer keharmonisan di depan Hanum dan Tala tak perlu gelisah saat jarak mereka terlalu dekat.Jika Geza pulang agak siangan dan berangkat hanya untuk tenis, itu artinya sisa hari Sabtu ini pria itu akan berdiam di rumah. Dan menghabiskan waktu seharian penuh den

  • Sebelum Tiga Tahun   70- Mimpi Buruk

    Setelah obrolan panjang dengan Geza itu, akhirnya Tala memejamkan mata. Namun tidur tak benar-benar memberinya istirahat. Kesunyian kamar justru menyeretnya masuk ke dalam labirin ingatan yang paling ingin ia hindari.Semuanya terasa begitu nyata. Ia seperti kembali menjadi mahasiswi yang baru pulang dari kampus. Maket tugasnya masih dipeluk erat, kardusnya penyok di beberapa sisi. Napasnya memburu ketika langkahnya berhenti di sebuah pemakaman yang tanahnya masih basah oleh hujan.Ia mengenali tempat itu. Perlahan, pandangannya jatuh pada sebuah batu nisan. Nama ayahnya terukir di sana membuat dadanya langsung sesak."Nggak..."Suara itu terdengar seperti miliknya, tetapi begitu jauh. Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. Lututnya melemas hingga seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Sangat hangat dan akrab."Tala..."Jani.Pelukan kakaknya selalu sama. Erat. Menenangkan. Membuatnya merasa semuanya akan baik-baik saja. Namun kehangatan itu hanya bertahan sesaat. Dalam sat

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status