LOGINKeheningan yang manis nan damai kembali merayapi setiap sudut kamar berukuran king size itu. Kehangatan kulit yang saling bersentuhan di balik selimut sutra seolah menjadi benteng kokoh yang melindungi Arlo dan Hazel dari kejamnya dunia luar. Hazel menyandarkan pipinya di dada bidang Arlo, mendengarkan irama detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan. Rasa lelah akibat badai emosi yang menguras jiwa berjam-jam lalu mendadak menguap, berganti menjadi sebuah rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.Namun, kedamaian itu ternyata tak bertahan lama.Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...Mimpi indah mereka mendadak terganggu oleh getaran beruntun dan nada dering ponsel yang menyakiti telinga. Baru saja mengalami waktu yang tenang dan hangat bersama Arlo, Hazel merasakan atmosfer di sekitar mereka bergetar pelan akibat gangguan mendadak itu.Hazel mengernyitkan alisnya, meraih ponsel yang tergeletak di atas meja nakas di samping ranjang. Layar ponsel yang menyala terang memantulkan seb
Arlo menghentikan belaian lembut jemarinya di rambut ash brown Hazel selama sepersekian detik. Pria itu menarik napas panjang, merengkuh tubuh Hazel sedikit lebih erat ke dalam pelukannya seolah ingin menyalurkan kekuatan sebelum menyampaikan kabar tentang sosok yang pernah membuat hidup Hazel begitu menderita."Rona sudah ditemukan, Hazel," jawab Arlo dengan nada baritonnya yang tenang namun mantap.Hazel mendongak sedikit, membelalakkan matanya pelan. "Sudah ditemukan? Di mana dia bersembunyi selama ini, Arlo?""Dia kabur ke Italia," jelas Arlo runtut, pandangannya menatap lurus ke arah langit-langit kamar. "Wanita itu berpikir dengan melarikan diri ke luar negeri bersama koper perhiasan dan dokumen-dokumen itu, dia bisa bebas dari jangkauan hukum. Tapi anak buahku dan kepolisian internasional berhasil melacak keberadaannya di sebuah vila terpencil di pinggiran Milan. Dan sekarang... Rona sudah mendekam di dalam penjara Italia menunggu proses ekstradisi kembali ke sini."Sebuah desa
Kehangatan di dalam ruang kerja yang tadinya begitu dingin nan redup itu mendadak berubah menjadi sebuah pusaran emosi yang begitu intens. Isak tangis Hazel yang perlahan mereda di perpotongan leher Arlo seolah menjadi pemantik bagi seluruh kerinduan dan keputusasaan yang tertahan di dalam dada pria itu selama berhari-hari.Rasa lega yang teramat sangat menyergap jiwa Arlo. Pengakuan tulus Hazel bahwa wanita itu tidak butuh harta maupun saham ratusan miliar, melainkan hanya membutuhkan dirinya yang jujur, menghancurkan sisa-sisa tembok pertahanan Arlo.Karena saking senangnya Arlo, ia tidak bisa menahan diri lagi. Dengan jemari yang gemetaran namun tegas, Arlo menangkup kedua pipi Hazel yang masih basah oleh sisa air mata, mendongakkan wajah cantik berhiaskan mata ash brown itu, dan langsung melumat bibir Hazel dengan begitu dalam dan penuh penyerahan diri.Ciuman itu begitu intens, sarat akan keputusasaan pria yang baru saja diselamatkan dari jurang kematian batin. Arlo menyesap bibi
Sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela apartemen terasa hangat, namun tidak mampu mencairkan kebekuan di dada Hazel. Jemari Hazel yang bergetar masih menyentuh permukaan dingin bingkai kaca berisi bungkus plastik roti kusam itu. Air matanya menetes pelan, membasahi kertas surat dari Arlo yang kini tergeletak di meja.Ingatan dari kehidupan Hazel sebelumnya perlahan berputar kembali bagaikan gulungan film tua yang berdebu.Di kehidupan lalunya yang penuh penderitaan sebelum ia diberi kesempatan kedua untuk terlahir kembali, Hazel memang samar-samar mengingat kejadian sore berhujan sepuluh tahun lalu itu. Ia ingat pernah menyodorkan separuh roti manis kepada seorang anak laki-laki berbaju lusuh yang duduk kedinginan di depan panti asuhan. Namun, saat itu pikiran Hazel terlalu lugu untuk menyadari siapa anak laki-laki itu sebenarnya. Siapa yang akan menyangka bahwa anak laki-laki malang yang pernah ditolongnya dulu adalah Arlo? Pria yang kini berdiri tegak, gagah, namun juga han
Jeritan histeris Luna dari balik pintu besi kediaman keluarga Baron menghilang ditelan keheningan malam, menyisakan Axel yang berdiri di selasar luar dengan dada yang berombak keras. Udara dingin basemen merayap hingga ke balik jas mewahnya, namun tak mampu memadamkan api cemburu dan penderitaan yang membakar jiwanya.Di saat yang sama, beberapa kilometer dari sana, kota Jakarta tersiram gerimis yang tak kunjung reda. Lampu-lampu jalan memantul di atas aspal yang basah, menciptakan pendar keemasan yang sendu, sebuah latar yang pas bagi jiwa-jiwa yang sedang terombang-ambing oleh pengkhianatan dan cinta yang salah arah.Suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela kamar menjadi satu-satunya alunan nada di dalam kamar Hazel. Gadis itu tidak tidur. Ia meringkuk di sudut tempat tidur berukuran queen size milik Yaya, memeluk kedua lututnya erat-erat. Selimut tebal yang melingkupi tubuhnya sama sekali tidak memberikan kehangatan. Hazel merasa hatinya telah mati rasa, membeku oleh kepahi
Langkah kaki Yaya terdengar begitu pelan saat menapak di atas karpet tebal koridor apartemennya. Kunci pintu elektronik berbunyi bip dua kali, lalu daun pintu bergeser terbuka. Yaya melepaskan sepatu hak tingginya dengan helaan napas lelah, mencoba melangkahkan kaki sepelan mungkin agar tak mengganggu sahabatnya yang ia kira masih tertidur lelap di kamar tamu.Namun, baru saja Yaya melangkah dua jengkal melewati foyer, sosok Hazel sudah berdiri tegak di balik selasar ruang tengah.Hazel mengenakan gaun tidur katun longgar berwarna krem. Rambut ash brown-nya yang panjang terurai bergelombang, membingkai wajahnya yang pucat pasi dengan mata yang masih memerah dan sembap. Ia berdiri mematung di sana dengan tangan terlipat di dada, menatap Yaya lurus-lurus tanpa ada lagi sisa-sisa tangisan histeris, yang tersisa hanyalah tatapan dingin yang begitu asing dan hampa.Yaya tersentak pelan, menghentikan langkahnya. "Hazel...? Kamu belum tidur?"Hazel tidak langsung menjawab. Manik matanya ya
Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma
Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,







