Accueil / Romansa / Sekarang, Giliranku! / ribut di butik lagi

Partager

ribut di butik lagi

Auteur: Perfect Wife
last update Date de publication: 2026-09-04 20:49:49

Pagi bergulir membawa semburat keemasan yang menerobos celah jendela butik. Suara mesin jahit yang berderit teratur dan denting jarum yang beradu dengan meja kaca menjadi irama menenangkan bagi Hazel.

Setelah rentetan drama yang melelahkan bersama keluarga tiri dan kejutan tak terduga dari Axel kemarin, berada di antara tumpukan kain sutra dan sketsa gaun adalah satu-satunya cara Hazel untuk menjaga kewarasannya.

Karena hari ini masih libur, jadi Hazel menyempatkan ke butik untuk memeriksa dan
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Sekarang, Giliranku!    ribut di butik lagi

    Pagi bergulir membawa semburat keemasan yang menerobos celah jendela butik. Suara mesin jahit yang berderit teratur dan denting jarum yang beradu dengan meja kaca menjadi irama menenangkan bagi Hazel. Setelah rentetan drama yang melelahkan bersama keluarga tiri dan kejutan tak terduga dari Axel kemarin, berada di antara tumpukan kain sutra dan sketsa gaun adalah satu-satunya cara Hazel untuk menjaga kewarasannya.Karena hari ini masih libur, jadi Hazel menyempatkan ke butik untuk memeriksa dan memantau pekerjaannya di sana karena dia besok sudah harus masuk ke kantor lagi. Yaya melangkah masuk membawa dua cangkir kopi panas yang aromanya menyeruak memenuhi ruangan. Ia meletakkan satu cangkir di sebelah papan gambar Hazel, lalu bersandar di tepi meja dengan kening berkerut curiga."Hazel, jujur padaku," selidik Yaya, memicingkan matanya penuh selidik. "Muka kamu pagi ini aneh sekali. Kelihatan seperti orang yang habis memenangkan lotre, tapi di saat bersamaan seperti orang yang mau p

  • Sekarang, Giliranku!    Cinta atau Obsesi?

    Amukan Luna meledak begitu pintu kamarnya terkatup rapat. Gadis itu melemparkan bantal, membalikkan tempat pensil di atas meja rias, hingga vas bunga kecil yang berada di sudut meja hancur berkeping-keping menghantam lantai marmer. Napasnya memburu, mukanya merah padam dipenuhi amarah yang membakar."Kurang ajar! Kak Axel benar-benar kurang ajar!" jerit Luna histeris seraya menghentakkan kakinya ke lantai.Rona yang bergegas mengekor di belakangnya langsung mengunci pintu kamar. Pria paruh baya di luar, John, masih sibuk menetralkan rasa syoknya di ruang keluarga, sementara Rona harus meredam ledakan emosi putri kesayangannya ini."Luna, tenang dulu, Sayang! Jangan teriak-teriak seperti ini! Jangan buang-buang energimu, Sayang!" bisik Rona panik sembari memegang kedua bahu Luna yang gemetaran."Aku tidak peduli, Mama!" rengek Luna melengking, air matanya kembali menetes deras, kali ini bukan air mata buatan, melainkan murni luapan amarah dan rasa tidak terima. "Mama lihat sendiri kan

  • Sekarang, Giliranku!    sandiwara gagal

    Langkah kaki Hazel terhenti tepat di batas karpet bulu ruang keluarga. Suara isakan Luna yang mendayu-dayu berpadu dengan usapan penuh drama dari Rona menciptakan panggung pertunjukan yang sangat familiar. John, yang duduk di sofa utama dengan segelas air dingin di genggamannya, seketika menoleh begitu mendengar derap langkah Hazel. Matanya menyalang penuh amarah."Bagus! Akhirnya kamu pulang juga, Hazel!" bentak John keras, langsung berdiri hingga air di gelasnya berguncang. "Kamu puas sekarang?! Lihat apa yang sudah kamu perbuat pada adikmu!"Hazel menghentikan usahanya untuk memutar bola mata. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, berdiri tegak dengan sikap tenang yang teramat kontras dibanding ketegangan di ruangan itu. Bumbu komedi hadir dari raut wajah Hazel yang justru terlihat sangat mengantuk ketimbang panik, seperti seseorang yang dipaksa menonton siaran ulang sinetron episodenya sudah ia hafal luar kepala."Ada apa lagi, Pa?" tanya Hazel datar, tanpa nada ketakutan sed

  • Sekarang, Giliranku!    biar waktu dan tindakan yang buktikan

    Angin laut yang berhembus kencang di atas puncak tebing membuat ujung gaun Hazel berkibar pelan. Sebelum Hazel menjawab, Axel sepertinya mengerti jika Hazel belum menemukan jawabannya. Pria itu melihat keraguan dan benteng pertahanan yang masih berdiri kokoh di balik manik mata ash brown milik Hazel.Akhirnya Axel bangkit, menepuk-nepuk celana bagian lututnya yang kotor oleh tanah berumput. Ia lalu mengatakan pada Hazel jika ia belum bisa menjawab sekarang tidak apa-apa."Aku tidak menuntut jawabanmu detik ini juga, Hazel," ujar Axel seraya menatapnya lembut. Axel memberikan waktu bagi Hazel untuk mempertimbangkannya sembari membuktikan pada Hazel kesungguhannya. "Biar waktu dan tindakanku yang membuktikannya padamu."Karena Axel sudah bicara seperti itu, jadi Hazel pun setuju. Hazel mengangguk pelan, menyilangkan tangan di dada. Hazel juga ingin tahu bagaimana performa Axel, seberapa lama pria yang dulunya sangat arogan ini sanggup bertahan dalam mode 'pria bertobat'. Tapi Hazel j

  • Sekarang, Giliranku!    minta kesempatan terakhir

    Setelah perjalanan yang cukup lama membelah kepadatan lalu lintas kota dan menanjak menyusuri tebing-tebing curam, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Mobil sport milik Axel perlahan melambat dan berhenti sempurna di pelataran rumput liar.Hazel mendorong pintu mobil, menginjakkan kakinya ke atas tanah yang empuk, lalu berjalan perlahan menyusuri tempat itu. Pandangannya seketika dimanjakan oleh batas alam yang memukau.Hamparan rumput hijau yang luas membentang luas di sekelilingnya, menyatu harmonis dengan pemandangan laut biru yang membias pendar matahari bagaikan hamparan kristal cair.Yap, Axel membawanya ke puncak pegunungan tepat di tepi pantai.Suasana yang begitu tenang dengan hembusan angin laut yang cukup kuat menerpa wajah dan menerbangkan helai rambut ash brown-nya yang terurai alami. Aroma garam yang khas bercampur kesegaran rumput basah membuat rongga dada Hazel yang semula sesak mendadak merenggang. Hazel merasa jauh lebih relaks, seolah-olah seluruh beban tumpuka

  • Sekarang, Giliranku!    blokir dan hapus

    Axel menatap Hazel dengan raut penuh kecemasan, kedua tangannya terangkat sedikit seolah hendak menggapai jemari wanita itu namun ragu. "Hazel, Papa memintaku kemari karena katanya kamu mau memikirkan ulang soal pembatalan pernikahan kita. Tolong... beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya."Hazel terkekeh karena geli mendengar ucapan Axel. Tawa kecil yang renyah namun sarat akan nada sindiran meluncur mulus dari bibirnya. Padahal memang Luna dan Axel sendiri lah yang menjadi penghancur hubungan keduanya, tapi pria ini bertingkah seolah-olah pertunangan mereka retak akibat bencana alam yang tak disengaja."Kamu ini lucu sekali, Axel," ujar Hazel sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Hazel mengatakan jika ia memang bilang pada Om Baron kalau akan memikirkan hubungan antara dirinya dengan Axel. "Tapi bukan berarti aku mencabut pembatalan pernikahan itu. Aku hanya berjanji pada papamu untuk berpikir jernih, bukan berarti aku memaafkanmu begitu saja."Axel mengembuskan napa

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

  • Sekarang, Giliranku!    2. Kesempatan Kedua

    Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status