Share

Part 8. Konfirmasi Kebenaran

Gosip yang beredar di kantor terkait Pijar yang selalu menggoda Elang itu semakin santer terdengar setelah Pijar menolak memberikan keterangan terkait sifat Aurora kepada wartawan. Mereka percaya kalau itu dilakukan oleh Pijar atas dasar kecemburuan. Dengan begitu, citra baik Pijar seolah memudar setiap harinya. Hal ini membuat Pijar seolah terdesak oleh hal yang tidak seharusnya. 

Jika dia mengungkapkan kebenaran bagaimana sifat asli Aurora, itu hanya akan membuat nama baiknya semakin buruk di kantor. Jika dia menutup masalah itu rapat-rapat, Aurora akan merasa berada di atas angin. Pijar seperti tengah makan buah simalakama. 

“Dulu waktu sama Pak Gema, dia kelihatan banget baiknya. Nggak ada yang ingin didapetin. Sekarang ganti sama Pak Elang ya berubah lah. Secara, Pak Elang itu ganteng banget.” 

Langkah kaki Pijar terhenti ketika mendengar obrolan karyawan Infinity. Lorong yang sepi memudahkan Pijar mendengar obrolan tersebut tanpa perlu susah payah. 

“Kalau dibandingkan Aurora dengan Pijar, ya kebanting banget. Aurora itu model yang sudah diakui, tapi Pijar hanya orang beruntung yang bisa dekat dengan keluarga pemilik perusahaan. Nggak sepadan.” Yang lain menimpali. 

Pijar mengepalkan tangannya dengan kuat mendengar obrolan tersebut dengan rasa kesal yang membumbung tinggi di dalam kepalanya. Dua orang yang perlu disalahkan dalam hal ini adalah Elang dan Aurora. Mereka yang menciptakan masalah ini akhirnya ada. 

“Apa yang kamu lakukan di sana?” Suara lain tiba-tiba terdengar. Pijar menoleh ke belakang dan mendapati Elang ada di belakangnya. Tidak segera menjawab, Pijar mencoba melongokkan kepalanya untuk melihat orang-orang yang sedang bergosip tadi dan sudah tidak ada di sana. 

Sial! Pijar tengah melamun sampai dia tak mendengar orang-orang itu sudah pergi dari tempatnya. 

“Tidak ada.” Pijar menjawab Elang setelah itu. Dia meneruskan jalannya untuk masuk ke dalam lift kemudian diikuti oleh Elang di belakangnya. 

Di dalam kotak besi tersebut, keheningan memerangkap keduanya. Pijar enggan untuk berbicara dengan bosnya karena dia tahu, lelaki itu hanya akan membuat mood-nya memburuk. Pijar merasa, bersatunya Elang dengan Aurora benar-benar bisa mengobrak-abrikkan ketenangan yang selama ini dia miliki. 

Sampai di lantai paling atas di mana ruangan Elang berada, mereka keluar dari lift. Kali ini Elang yang berjalan lebih dulu diikuti oleh Pijar. Melewati ruangan-ruangan petinggi perusahaan dengan keheningan semakin mencekam. Hanya terdengar suara sepatu Pijar yang beradu dengan lantai marmer. 

Hampir hari itu Pijar bekerja dengan tenang ketika sebuah berita kembali ketika Aurora kembali membuat masalah. Perempuan itu membuat pengakuan di social media dan mengatakan secara gamblang tentang hubungan yang terjadi antara dirinya dan Elang. Berita itu yang tadinya hanya dikonsumsi oleh satu perusahaan Infinity pun akhirnya menyebar. 

Ada tangis pilu yang dikeluarkan untuk membuat semua orang percaya kepadanya. Tadinya Pijar ingin menahan lidahnya untuk tidak menyebarkan sifat asli Aurora, tetapi kini saatnya dia bersuara. Menghubungi seorang wartawan yang pernah menghubunginya, dia akan membuat pengakuan yang sebenarnya. Nama baiknya sedang dipertaruhkan sekarang. 

*** 

“Papa membesarkan nama perusahaan ini, tidak sekali pun Papa memiliki skandal seperti ini, Elang.” Mengetahui tentang berita tidak menyenangkan itu, akhirnya Gema segera menemui Elang di kantor. “Kamu tahu Mama Permata, dia adalah perempuan hebat yang Papa kejar untuk bisa bernaung di Infinity dulunya, tetapi hal seperti ini sama sekali tidak terjadi.” 

Gema tampak tidak bersahabat jika ada sesuatu tidak menyenangkan menghantam perusahaannya. Karena itu melibatkan Pijar, maka Pijar juga berada di ruangan Elang. Berhadapan dengan bos besarnya dan mendengarkan protes keras dari lelaki itu. 

“Pijar, kamu bisa jelaskan kejadian yang sebenarnya?” tanya Gema. 

Pijar mengangguk dan segera menjelaskan apa yang terjadi. Tentu saja dia memangkas ceritanya di bagian Elang yang sebenarnya adalah dalang dari masalah ini. Pijar tidak ingin mengambil kesempatan untuk menjelekkan Elang di depan sang ayah. Bahkan Elang saja sedikit terkejut dengan pengakuan Pijar. 

“Maafkan saya, Pak. Tetapi saya tidak bisa membiarkan orang lain menginjak harga diri saya. Tidak ada yang bisa membantu saya kecuali diri saya sendiri,” ucap Pijar dengan tegas. 

“Kamu akan mengungkapkan semuanya kepada wartawan?” tanya Gema setelah itu. Ingin tahu jalan apa yang akan diambil oleh mantan sekretarisnya itu.

“Seharusnya dia tidak membuat fitnah seperti ini hanya untuk menutupi masalahnya. Jadi, saya harus bertindak tegas.” Pijar tidak mengatakan secara gamblang tentang jawaban yang akan diberikan. Jadi, dia mengambil kata penuh makna. 

“Baiklah. Perjuangkan apa pun yang memang bisa membuat namamu kembali bagus, karena itu adalah jalan satu-satunya membersihkan namamu.” 

Elang yang sejak tadi berada di sana pun hanya diam. Untuk kali ini, dia memilih untuk membiarkan Pijar berbuat sesukanya. Dia hanya ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh perempuan itu ketika dia berada di depan wartawan. 

Sore hari ketika jadwal pulang sudah tiba, Pijar akhirnya berhadapan dengan para wartawan itu sendirian. Karena semua orang sudah termakan oleh gossip yang diciptakan oleh Aurora, maka dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk menghadapi rentetan pertanyaan yang para wartawan ajukan. 

“Saya tidak akan berbicara banyak hal. Yang pasti, pertama; saya tidak pernah memiliki hubungan spesial apa pun dengan Pak Elang seperti yang dibicarakan Aurora di media. Beliau adalah bos saya dan hubungan kami hanya sebatas profesionalisme kerja. Kemudian yang kedua; Aurora mengatakan kalau kejadian di bandara itu hanya salah paham, itu tidak benar. Ada sebuah kesalahan informasi tentang bunga tersebut. Dia menyukai bunga mawar, sedangkan seseorang yang ingin menjebak saya dengan mengatakan kalau Aurora menyukai bunga lili, karena itu saya membawakannya. Dan seperti yang ada di berita saat itu, dia sengaja melemparkan bunga tersebut ke tong sampah tanpa berpikir dua kali.” 

Pijar berhenti berbicara setelah itu. Rasa kesal yang dia rasakan seolah sedikit demi sedikit memudar setelah dia mengatakan kejadian yang sebenarnya. Kegaduhan antar wartawan itu seketika mencuat. 

“Dia sekarang menangis-nangis mengatakan kalau insiden di bandara itu dikaitkan dengan ketidak senangan saya kepada dia, itu benar-benar bohong. Urusan cinta Aurora dengan bos saya bukanlah urusan saya. Tapi dia menuduh saya yang tidak-tidak. Dia membuat nama saya buruk di depan banyak orang. Jadi, saya harap, penjelasan saya kali ini bisa memenuhi rasa penasaran teman-teman semua. Terima kasih.” 

Pijar menunduk sebelum dia berbalik untuk pergi dari tempat itu. Saat para wartawan itu ingin mengejarnya, dua satpam kantor itu segera menghadang mereka. Pijar lantas bisa segera keluar dari kerumunan dan masuk ke dalam mobilnya. 

Elang yang sejak tadi menatap Pijar itu hanya terdiam di tempatnya. Tatapannya tidak terbaca, tetapi seringaiannya terlukis di bibirnya. 

“Pijar, keberanianmu sungguh luar biasa. Tapi kamu tidak tahu bagaimana Aurora akan kembali membalasmu setelah ini.” 

*** 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status