بيت / Romansa / Selir Yang Terlupakan / Benih Dendam Yang Tumbuh

مشاركة

Benih Dendam Yang Tumbuh

مؤلف: Melati Lu
last update تاريخ النشر: 2026-08-19 17:29:01

Bab 162

Siang itu, matahari bersinar terik di atas atap istana yang berkilauan. Di Sayap Timur, suasana tetap tenang dan damai. Lianhua duduk di beranda, memilah kelopak bunga melati yang baru saja dipetik untuk diseduh menjadi teh hangat. Jasmine, Mei Mei, dan Liling sibuk menata rak buku di sudut ruangan, sesekali tertawa pelan — suara tawa yang dulu tak pernah terdengar di tempat ini.

"Kau tersenyum terus sejak tadi," kata Mei Mei sambil meletakkan tumpukan buku di meja
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Selir Yang Terlupakan   Benih Dendam Yang Tumbuh

    Bab 162 Siang itu, matahari bersinar terik di atas atap istana yang berkilauan. Di Sayap Timur, suasana tetap tenang dan damai. Lianhua duduk di beranda, memilah kelopak bunga melati yang baru saja dipetik untuk diseduh menjadi teh hangat. Jasmine, Mei Mei, dan Liling sibuk menata rak buku di sudut ruangan, sesekali tertawa pelan — suara tawa yang dulu tak pernah terdengar di tempat ini. "Kau tersenyum terus sejak tadi," kata Mei Mei sambil meletakkan tumpukan buku di meja. "Seakan semua beban di dunia ini sudah hilang." Lianhua menatap ketiga sahabatnya itu dengan lembut. "Bukan beban yang hilang. Tapi aku belajar memikulnya bersama seseorang. Itu membuat segalanya terasa lebih ringan." Namun ketenangan itu tidak terasa di Paviliun Barat. Di sana, udara terasa berat dan pengap. Tirai jendela ditarik rapat, menutup cahaya siang yang terang. Xiwu berjalan mondar-mandir di ruangan itu, jubah sutranya berdesir kasar setiap kali ia berbalik. Wajah

  • Selir Yang Terlupakan   Benih Kepercayaan Yang Tumbuh

    Bab 161 Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti taman Sayap Timur, menyembunyikan ujung-ujung dedaunan dan kelopak bunga melati yang baru saja mekar. Udara terasa sejuk dan segar, beraroma tanah basah dan kesederhanaan yang menenangkan. Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon willow yang cabangnya menjuntai lembut hingga menyentuh permukaan kolam kecil. Di tanganku, kuas itu berhenti bergerak, mataku menatap ke arah pintu masuk taman tempat Hongwu biasanya muncul di pagi hari sebelum berangkat ke Aula Besar. Belum lama berselang, terdengar langkah kaki yang kukenal — mantap, tegas, namun kini tidak lagi terasa berat seakan memikul beban seluruh dunia. Hongwu muncul di balik tirai daun willow, jubahnya yang berwarna gelap berkilau terkena sisa embun pagi. Saat melihatku, senyumnya langsung merekah, mengubah wajahnya yang biasanya kaku menjadi lembut dan hangat. "Kau sudah bangun?" tanyanya pelan saat mendekat, lalu tanpa ragu ia berlutut di sampingku, me

  • Selir Yang Terlupakan   Bayangan Di Sudut Istana

    Bab 160Hari-hari setelah upacara pengangkatan berlalu dengan perlahan namun penuh perubahan. Istana yang dulu terasa dingin dan jauh, kini berubah menjadi tempat yang lebih terang dan hidup — setidaknya bagi sebagian besar penghuninya.Lianhua menjalani hari-harinya dengan tenang. Tak ada lagi tuntutan yang membebani, tak ada lagi perintah yang membuatnya gemetar. Pagi harinya ia habiskan di taman kecil yang kini penuh dengan bunga melati yang baru saja ditanam, menatap kelopak-kelopak putih yang mulai mekar perlahan. Siang hari ia duduk di meja kerjanya, melukis dengan tenang, sementara Jasmine, Mei Mei dan Liling selalu berada di dekatnya — tak lagi sebagai pelayan biasa, melainkan teman setia yang selalu siap mendengarkan atau sekadar menemaninya dalam keheningan.Hongwu datang dan pergi sesuai tugasnya, namun tak pernah melewatkan waktu untuk mampir ke Sayap Timur. Kadang ia membawa buku-buku langka dari perpustakaan kekaisaran, kadang makanan lezat yang disiapkan khusus untuknya

  • Selir Yang Terlupakan   Rumah Kita Yang Baru

    Bab 159Upacara berakhir dengan anggun, namun tidak berlebihan. Hongwu tidak menuntut pengakuan yang berlebihan dari siapa pun, namun apa yang ia ucapkan sudah cukup untuk mengubah segalanya. Saat kami berjalan keluar dari Aula Agung, para pejabat dan pelayan membungkuk hormat dengan kepala tertunduk — bukan karena takut, melainkan karena mereka kini melihat sesuatu yang nyata dan tak tergoyahkan di hadapan mereka.Langkah kami berjalan beriringan di sepanjang koridor yang kini terasa berbeda. Dulu lorong ini adalah jalan yang kulalui dengan hati berdebar, takut salah langkah, takut salah bicara. Namun hari ini, setiap langkahku terasa ringan dan mantap, seakan tanah di bawah kakiku kini berubah menjadi tempat yang benar-benar milikku. Hongwu memegang tanganku erat, tidak melepaskannya sedetik pun, seakan ingin memastikan bahwa semua yang baru saja terjadi bukanlah mimpi, melainkan kenyataan yang abadi."Kau tenang sekali," bisiknya pelan saat kami melewati halaman utama di mana matah

  • Selir Yang Terlupakan   Langkah Menuju Cahaya

    Bab 158 Jam menunjukkan tengah hari saat ketukan pelan terdengar kembali di pintu kamarku. Kali ini bukan Hongwu, bukan pula ketiga sahabatku. Suara di luar terdengar sopan namun penuh keresahan. "Nyonya Lianhua?" suara pelayan yang kukenal sebagai pelayan kepala bagian upacara. "Izinkan hamba masuk. Waktu sudah tiba. Para pelayan dan penata rias sudah menunggu untuk menyiapkan Yang Mulia sebelum upacara dimulai." Aku menarik napas panjang, menyentuh kotak merah tua yang masih terbuka di atas meja. Jepit rambut giok berbentuk bunga melati itu berkilau lembut di bawah cahaya siang. "Masuklah," jawabku pelan namun mantap. Pintu terbuka, dan empat orang pelayan masuk dengan tertib, membawa bakul berisi pakaian, perhiasan, dan alat rias. Mereka menunduk rendah, tak berani menatap mataku secara langsung — perubahan sikap yang begitu cepat, mengingat belum lama berselang aku hanyalah seseorang yang tak mereka hiraukan. "Kami dise

  • Selir Yang Terlupakan   Mahkota Yang Tak Ku Cari

    Bab 157 Aku masih berdiri di dekat jendela, tangan menyentuh kaca dingin, membiarkan pandanganku menyusuri halaman istana yang perlahan mulai dipenuhi orang-orang yang bergegas menuju Aula Besar. Di dalam hati, ada ketenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya — namun di samping itu, ada juga kekhawatiran yang samar, seakan aku baru saja melangkah masuk ke dalam pusaran yang tak bisa lagi kuhentikan. Belum lama, langkah kaki yang kukenal terdengar mendekat — cepat, mantap, dan penuh kegembiraan yang tertahan. Pintu terbuka tanpa diketuk, dan Hongwu berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit memburu seakan ia berjalan terlalu cepat, matanya bersinar terang seperti bintang yang jatuh ke bumi. "Kau sudah kembali?" tanyaku terkejut, melangkah maju menyambutnya. "Bukankah baru saja kau berangkat?" Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia melangkah mendekat, meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat di dalam tangannya yang besar dan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status