Beranda / Romansa / Selir Yang Terlupakan / Kebenaran Yang Terungkap

Share

Kebenaran Yang Terungkap

Penulis: Melati Lu
last update Tanggal publikasi: 2026-08-20 17:57:39

Bab 164

Dua hari berlalu sejak teh beracun itu ditemukan. Kami sengaja tidak melakukan tindakan apa pun, membiarkan Xiwu berpikir bahwa rencananya berjalan lancar — bahwa aku mungkin meminumnya, bahwa aku mulai terpengaruh. Setiap pagi, Hongwu berangkat ke Aula Besar dengan wajah yang tampak serius, seakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia sengaja membiarkan berita menyebar — bahwa aku merasa kurang sehat belakangan ini, bahwa aku sering merasa pusing dan lelah. Kabar itu p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Selir Yang Terlupakan   Kebenaran Yang Terungkap

    Bab 164 Dua hari berlalu sejak teh beracun itu ditemukan. Kami sengaja tidak melakukan tindakan apa pun, membiarkan Xiwu berpikir bahwa rencananya berjalan lancar — bahwa aku mungkin meminumnya, bahwa aku mulai terpengaruh. Setiap pagi, Hongwu berangkat ke Aula Besar dengan wajah yang tampak serius, seakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia sengaja membiarkan berita menyebar — bahwa aku merasa kurang sehat belakangan ini, bahwa aku sering merasa pusing dan lelah. Kabar itu perlahan menyebar ke seluruh penjuru istana, hingga akhirnya sampai ke telinga Xiwu. Pagi itu, saat Hongwu sedang duduk di singgasana, membahas urusan negara dengan para menteri, Xiwu tiba-tiba muncul di ambang pintu Aula Besar. Ia mengenakan jubah terbaiknya, wajahnya tampak penuh keprihatinan yang dibuat-buat, seakan ia benar-benar khawatir dengan kondisiku. "Yang Mulia," suaranya terdengar lembut namun cukup didengar semua orang. "Hamba mendengar kabar bahwa Nyonya Lianhua

  • Selir Yang Terlupakan   Jebakan Yang Tak Terlihat

    Bab 163 Tiga hari berlalu tanpa ada kejadian yang mencurigakan. Namun keheningan itu justru membuatku semakin waspada. Setiap kali melangkah melewati lorong-lorong istana, setiap kali menerima makanan atau minuman dari tangan pelayan yang tak kukenal, aku selalu teringat kata-kata Hongwu — Xiwu tidak akan diam saja. Dan keheningan ini, bagiku, terasa seperti ketegangan sebelum badai benar-benar melanda. Pagi itu, udara di Sayap Timur terasa lebih hangat dari biasanya. Aku duduk di meja kerjaku, kuas di tangan, namun pandanganku tak kunjung bisa fokus pada kertas kosong di hadapanku. Jasmine masuk membawa nampan berisi secangkir teh melati yang masih mengepul hangat, wajahnya tampak sedikit cemas. "Nyonya," bisiknya pelan sambil meletakkan cangkir itu di sudut meja, jauh dari lukisan yang belum kering. "Teh ini dikirim dari dapur utama. Katanya... Nyonya Xiwu mengirimkan pesan damai. Dia bilang — kutipan — 'tidak ada gunanya saling bermusuhan, lebih baik

  • Selir Yang Terlupakan   Benih Dendam Yang Tumbuh

    Bab 162 Siang itu, matahari bersinar terik di atas atap istana yang berkilauan. Di Sayap Timur, suasana tetap tenang dan damai. Lianhua duduk di beranda, memilah kelopak bunga melati yang baru saja dipetik untuk diseduh menjadi teh hangat. Jasmine, Mei Mei, dan Liling sibuk menata rak buku di sudut ruangan, sesekali tertawa pelan — suara tawa yang dulu tak pernah terdengar di tempat ini. "Kau tersenyum terus sejak tadi," kata Mei Mei sambil meletakkan tumpukan buku di meja. "Seakan semua beban di dunia ini sudah hilang." Lianhua menatap ketiga sahabatnya itu dengan lembut. "Bukan beban yang hilang. Tapi aku belajar memikulnya bersama seseorang. Itu membuat segalanya terasa lebih ringan." Namun ketenangan itu tidak terasa di Paviliun Barat. Di sana, udara terasa berat dan pengap. Tirai jendela ditarik rapat, menutup cahaya siang yang terang. Xiwu berjalan mondar-mandir di ruangan itu, jubah sutranya berdesir kasar setiap kali ia berbalik. Wajah

  • Selir Yang Terlupakan   Benih Kepercayaan Yang Tumbuh

    Bab 161 Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti taman Sayap Timur, menyembunyikan ujung-ujung dedaunan dan kelopak bunga melati yang baru saja mekar. Udara terasa sejuk dan segar, beraroma tanah basah dan kesederhanaan yang menenangkan. Aku duduk di bangku kayu di bawah pohon willow yang cabangnya menjuntai lembut hingga menyentuh permukaan kolam kecil. Di tanganku, kuas itu berhenti bergerak, mataku menatap ke arah pintu masuk taman tempat Hongwu biasanya muncul di pagi hari sebelum berangkat ke Aula Besar. Belum lama berselang, terdengar langkah kaki yang kukenal — mantap, tegas, namun kini tidak lagi terasa berat seakan memikul beban seluruh dunia. Hongwu muncul di balik tirai daun willow, jubahnya yang berwarna gelap berkilau terkena sisa embun pagi. Saat melihatku, senyumnya langsung merekah, mengubah wajahnya yang biasanya kaku menjadi lembut dan hangat. "Kau sudah bangun?" tanyanya pelan saat mendekat, lalu tanpa ragu ia berlutut di sampingku, me

  • Selir Yang Terlupakan   Bayangan Di Sudut Istana

    Bab 160Hari-hari setelah upacara pengangkatan berlalu dengan perlahan namun penuh perubahan. Istana yang dulu terasa dingin dan jauh, kini berubah menjadi tempat yang lebih terang dan hidup — setidaknya bagi sebagian besar penghuninya.Lianhua menjalani hari-harinya dengan tenang. Tak ada lagi tuntutan yang membebani, tak ada lagi perintah yang membuatnya gemetar. Pagi harinya ia habiskan di taman kecil yang kini penuh dengan bunga melati yang baru saja ditanam, menatap kelopak-kelopak putih yang mulai mekar perlahan. Siang hari ia duduk di meja kerjanya, melukis dengan tenang, sementara Jasmine, Mei Mei dan Liling selalu berada di dekatnya — tak lagi sebagai pelayan biasa, melainkan teman setia yang selalu siap mendengarkan atau sekadar menemaninya dalam keheningan.Hongwu datang dan pergi sesuai tugasnya, namun tak pernah melewatkan waktu untuk mampir ke Sayap Timur. Kadang ia membawa buku-buku langka dari perpustakaan kekaisaran, kadang makanan lezat yang disiapkan khusus untuknya

  • Selir Yang Terlupakan   Rumah Kita Yang Baru

    Bab 159Upacara berakhir dengan anggun, namun tidak berlebihan. Hongwu tidak menuntut pengakuan yang berlebihan dari siapa pun, namun apa yang ia ucapkan sudah cukup untuk mengubah segalanya. Saat kami berjalan keluar dari Aula Agung, para pejabat dan pelayan membungkuk hormat dengan kepala tertunduk — bukan karena takut, melainkan karena mereka kini melihat sesuatu yang nyata dan tak tergoyahkan di hadapan mereka.Langkah kami berjalan beriringan di sepanjang koridor yang kini terasa berbeda. Dulu lorong ini adalah jalan yang kulalui dengan hati berdebar, takut salah langkah, takut salah bicara. Namun hari ini, setiap langkahku terasa ringan dan mantap, seakan tanah di bawah kakiku kini berubah menjadi tempat yang benar-benar milikku. Hongwu memegang tanganku erat, tidak melepaskannya sedetik pun, seakan ingin memastikan bahwa semua yang baru saja terjadi bukanlah mimpi, melainkan kenyataan yang abadi."Kau tenang sekali," bisiknya pelan saat kami melewati halaman utama di mana matah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status