เข้าสู่ระบบ“Bukannya nona Hani ingin berkenalan dengan staf lainnya di pesta?” tanya Leo bingung. “Iya. Tapi, masalahnya aku sama sekali tidak tahu apa pun tentang mereka,” balas Hani, “Bukankah aku harus setidaknya mengetahui sedikit tentang mereka? Seperti posisi dan jabatan masing-masing staf,”“Makanya, aku ingin mengobrol dengan om Leo untuk mengetahui tentang hal itu. Om kan sekretaris ayah, jadi pasti tahu tentang semua itu, kan?” lanjut Hani dengan mata berbinar-binar. Leo kembali menelan ludah. Entah kenapa, ia merasa sedikit sangsi dengan ucapan Hani. Meski begitu, ucapan Hani juga tidak salah. Jefri juga suka meminta informasi tentang staf baru terlebih dahulu sebelum berkenalan dengan mereka.Setelah menimbang-nimbang, Leo akhirnya mengangguk pelan. Wajah Hani seketika cerah. Ia segera menarik lengan Leo menuju ke dalam hotel. “Ayo kita ke bar sekarang! Bar di sini di lantai paling atas, kan?” tanya Hani. Leo mengangguk. Ia tersenyum kecil melihat keantusiasan Hani. Entah apa yan
“Apa? Rara bertemu om Leo di depan tempat kerjanya?” ulang Septa. Ia menatap lekat Hani yang mengangguk gelisah di depannya. “Terus? Apa yang dia lakukan?” tanya Septa. “Rara bilang nggak terjadi apa-apa karena dia juga sudah ubah penampilan dan sedang menggunakan masker saat itu,” desah Hani, “Masalahnya, kami khawatir kalau om Leo kasih tahu ke ayah,”“Aku juga tidak mungkin bertanya begitu saja, kan? Bisa-bisa dia curiga denganku dan laporin ke ayah!”Septa menopangkan dagu dengan tangannya, “Dengan kata lain, kita harus mencari cara untuk mencari tahu, ya?”Hani mengangguk. Ia menatap Septa yang tengah berpikir keras. Raut wajahnya terlihat sangat serius. Hani menghela napas dan menyandarkan badannya ke kursi. “Atau mungkin, kami hanya terlalu banyak berpikir? Dipikir-pikir, tidak terjadi apa pun hingga sekarang,” ucapnya. “Ayah juga masih mengerahkan bawahannya di kota Selatan,” lanjut Hani. “Tidak ada salahnya untuk memastikan,” ucap Septa tegas, “Om Jefri itu kadang tidak
“Apa?” Jantung Rara berdegup semakin kencang, “Apa maksud anda?” Leo mengamati lekat wajah di hadapannya. Matanya memicing. Ia sebenarnya tidak terlalu yakin dengan tebakannya itu. Meski sudah sering melihat foto Rara yang diberikan Jefri, tapi ia belum pernah melihat Rara secara langsung sehingga membuatnya tidak yakin. Terlebih, bentuk dan warna rambut wanita itu berbeda dengan di foto. “Saya sedang mencari seseorang dan anda terlihat mirip dengan orang itu,” ulang Leo lebih jelas. “Tapi, saya masih tidak yakin karena muka anda tidak jelas terlihat. Jadi, bisakah anda membuka maskernya?” Rara menelan ludah. Apa-apaan orang ini? Kenapa dia ingin melihat wajahnya? Jangan-jangan, dia bawahan Jefri? Jantung Rara berdebar semakin kencang. Ia menelan ludah melihat tatapan Leo yang semakin menajam. Kalau be
[Ayah salah mengira orang denganmu hari ini. Dia berniat ke kota Utara, tapi aku sudah berhasil membujuknya untuk tetap mencari di Selatan. Tapi, tetaplah berhati-hati.] Jantung Rara berdegup kencang usai membaca pesan Hani. Ia membaca ulang pesan tersebut, berharap hanya salah membaca. Tapi, pesan itu tetap tertulis sama. Jefri berniat untuk pergi kesini. Meski rencana itu sudah digagalkan oleh Hani, tapi kecemasan tetap menghampirinya. Ia merasa tetap harus melakukan sesuatu. ‘Tapi, apa yang harus kulakukan?’ batin Rara resah. Tidak mungkin dia berpindah tempat. Rara baru saja bekerja di motel Sandra. Selain itu, tabungannya juga masih belum cukup untuk bepergian. Atau dia berganti penampilan saja? “Kenapa kamu tegang begitu?” Rara tersentak kaget. Ia menoleh ke Sandra yang berjalan masuk ke dalam kantor.
‘Apa maksudmu dengan om menemukan Rara? Aku sudah bilang dia di Utara!’“Iya, tapi, jelas-jelas ayah berkata seperti itu tadi saat ditelpon bawahannya,” balas Hani dengan nada rendah. Ia menatap was-was pintu kamarnya, khawatir Jefri tiba-tiba masuk.Di seberangnya, Septa mendesah kencang. ‘Mungkin bawahannya hanya salah lihat,’ balas pria itu. “Tapi, bagaimana kalau Rara benar ada di sana?” buru Hani, “Bisa saja dia sebenarnya melakukan hal yang kau bilang sebelumnya, kan? Memintamu mengantar ke utara, tapi malah ke daerah lain?”‘Kamu kan punya nomor Rara. Coba tanyakan saja dia di mana sekarang,’“Iya, aku sudah bertanya tadi. Tapi, Rara belum membalasnya sampai malam ini,” desah Hani sambil kembali membuka kolom chatnya dengan Rara. Masih belum ada jawaban dari sahabatnya itu, bahkan ia belum membacanya juga. “Sejak bekerja, Rara jadi jarang membaca pesan dariku,” desah Hani lagi, merasa frustrasi. Pasalnya, Jefri
“Om Jefri?” “Apa?” Rara mengucek pelan matanya dan tercekat begitu menyadari sosok di depannya adalah seorang wanita berambut pendek. Ia terlihat lebih tua beberapa tahun dari Rara.Wajah Rara memerah. Bisa-bisanya ia salah mengenalinya dengan Jefri! “Maaf! Saya salah orang!” ucap Rara panik. Wanita itu menaikkan satu alisnya. Ia terlihat heran, tapi akhirnya hanya mengangkat bahunya tidak peduli. “Apa yang kamu lakukan di sini? Daerah ini tidak didatangi orang-orang ronda, jadi sangat berbahaya berada di sini saat larut malam,” dumel wanita itu. Rara menelan ludah. Ini pertama kalinya ia dimarahi oleh orang asing. Meski begitu, sepertinya orang itu memarahinya karena peduli. “Maaf, saya habis mencari pekerjaan tadi,” ucap Rara pelan. “Pekerjaan?” tanya balik wanita itu dengan alis terangkat tinggi.







