LOGIN"Bawa dia masuk, Vic. Tinggalkan saja perempuan dungu itu di tanah."Suara Dimas terdengar sedingin lantai beton, menyayat udara malam yang sudah dipenuhi jeritan serak Nia. Tidak ada kemarahan yang meluap-luap dari intonasinya, hanya sekadar rasa muak yang pekat seakan ia baru saja menginjak bangkai hewan dan ingin segera membersihkan sepatunya.Victor, sang algojo berbadan tegap itu, tidak membuang sedetik pun. Tarikan kasarnya di kerah kaus membuat Arka terhuyung mundur, nyaris kehilangan keseimbangan. Tangan Victor yang besar dan kapalan mencengkeram kedua lengan Arka, memelintirnya ke belakang dengan sudut yang menyakitkan. Bunyi krek pelan dari sendi bahu Arka terdengar samar, disusul jeratan cable ties berbahan nilon tebal yang langsung mengikat dan menggores pergelangan tangannya hingga berdarah.Di tengah dengung tajam di telinganya akibat hantaman pelinggis beberapa menit lalu, Arka masih bisa mendengar isak tangis Nia. Suara perempuan yang selalu menatapnya dengan penuh har
Tali cable ties berbahan nilon tebal itu berderit keras, mengunci pergelangan tangan Arka di belakang punggung.Victor menarik kerah belakang kaus usang Arka dengan tenaga kasarnya, memaksa pria yang babak belur itu berdiri bersusah payah. Darah segar menetes dari sudut bibir Arka, menodai karpet merah di bawah kaki mereka.Melihat suaminya diseret bak binatang buruan, pertahanan mental Nyonya Adhiguna yang sedari tadi dijaga mati-matian akhirnya runtuh total. Logika, perhitungan dingin, dan rasa takut menguap, digantikan oleh insting murni seorang istri yang menolak melihat dunianya dihancurkan untuk kedua kalinya.Nia melepaskan gagang pisau daging yang sejak tadi disembunyikan di balik celemeknya, membiarkannya tergeletak di atas meja. Ia menendang kursi plastik yang menghalanginya dan berlari keluar dari area prasmanan."Tidak! Jangan bawa suamiku ke mana-mana!"Jeritan Nia melengking tinggi, membelah udara siang pegunungan yang tegang. Tidak ada lagi logat Sunda yang kental. Tida
Moncong baja Glock 19 menekan pelipis kanan Arka, mengantarkan hawa dingin yang kontras dengan peluhnya.Waktu seakan membeku. Di bawah tenda itu, hanya desah napas Victor dan bunyi pelatuk yang menegang yang memecah keheningan.Insting purba Arka meronta, mendesaknya untuk mematahkan leher Dimas sekarang juga sebelum peluru meletus. Namun, bayangan Gendhis berkelebat. Diikuti tatapan Nia yang berdiri tak jauh dari sana. Jika isi kepalanya berceceran di karpet ini, keluarganya tak lagi punya pelindung.Rahang Arka mengeras. Perlahan, otot lengannya yang sekaku beton mulai mengendur. Kuncian maut itu terlepas.Dimas langsung ambruk ke atas karpet merah. Ia meringkuk sambil memegangi lehernya yang kini dihiasi cetakan jari kemerahan. Suara batuknya terdengar menyiksa, diselingi bunyi tarikan napas kasar dan serakah saat paru-parunya kembali meraup oksigen.Tanpa membuang detik, Victor menendang lipatan lutut Arka dari belakang. Sang Mastermind terpaksa jatuh berlutut."Jangan bergerak,"
"...Karena hantu... tidak akan bisa melindungi putri kecilnya dari monster yang sebenarnya."Kalimat itu meluncur dari bibir Dimas, rendah, nyaris seperti bisikan, namun ditutup oleh tarikan senyum miring yang meremehkan. Di kepalanya, kalimat itu adalah skakmat. Sebuah gertakan pamungkas yang ia yakini akan membuat pria di hadapannya menciut, menelan ludah, dan menunduk dalam diam demi menjaga penyamarannya tetap aman.Dimas salah perhitungan.Dua kata itu—"putri kecilnya"—memotong habis tali kendali yang sudah mati-matian dijaga Arka selama bertahun-tahun. Topeng 'Rudi' si tukang servis lusuh retak, lalu hancur tak bersisa. Di detik itu juga, sosok Arka Adhiguna mengambil alih, merangkak naik ke permukaan membawa amarah murni yang membekukan.Prang!Nampan perak yang menyangga tumpukan piring kotor merosot dari cengkeraman Arka, menghantam lantai berbatu. Pecahan keramik dan porselen berhamburan ke segala arah, bunyinya merobek dengung pidato membosankan yang sedari tadi mengalun da
"Ba-baik, Tuan Bos... hampura... hampura abdi, Tuan. Teu dihaja..."Suara itu keluar dari tenggorokan Arka dengan getaran yang meyakinkan. Ia menjepit pita suaranya sendiri hingga menghasilkan nada parau melengking suara khas pria kecil yang ketakutan setengah mati di hadapan penguasanya.Bahunya diturunkan, punggung dibungkukkan hingga ia tampak sepuluh sentimeter lebih pendek. Arka buru-buru merogoh saku celana komprangnya. Dikeluarkannya sehelai lap kain kusam penuh noda kecap, lalu tangannya terulang ke atas meja berlapis taplak putih itu.Arka tidak sekadar berakting. Ia menjadi. Jari-jari kasarnya mulai bergetar hebat tremor pura-pura yang nyaris sempurna. Ia mengelap tumpahan kopi dengan gerakan panik dan kikuk, sengaja menyenggol pinggiran piring kecil hingga berbunyi cling keras."Aduh, hampura, Bos. Leungeun abdi ngeleper, duka teuing kunaon. Panginten can sarapan," celoteh Arka sambil terus mengelap meja, kepalanya menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata pria berpakai
"Teh Lastri! Cilaka!"Gebrakan keras di meja kayu membuat Nia tersentak. Mandor Haris berdiri di depan warung dengan napas memburu. Helm proyeknya miring dan seragamnya basah kuyup oleh keringat.Di sudut warung, Arka menghentikan putaran obengnya pada kipas angin rusak. Instingnya langsung awas."Ada apa, Pak Mandor? Pucat amat," tanya Nia. Ia menyodorkan gelas teh tawar hangat, menjaga intonasi suaranya tetap seperti ibu warung yang keheranan.Haris menenggak teh itu sampai tandas, lalu mengusap wajahnya kasar. "Katering VIP dari hotel Cianjur kecelakaan di tikungan Puncak. Mobilnya guling, makanannya hancur semua. Padahal sejam lagi acara groundbreaking mulai. Bos-bos Jakarta sama Singapura udah di jalan!"Nia mengerjapkan mata. "Terus... apa hubungannya sama warung saya, Pak?""Mister Victor yang nyuruh saya ke mari," Haris menatap Nia memelas. "Mister bilang bos Jakarta lumayan penasaran sama masakan lokal di sini. Tolong banget, Teh. Teteh yang handle meja VIP siang ini. Geco, a
Senin Pagi. Menara Adhiguna.Arka melangkah keluar dari lift pribadi dengan suasana hati yang sudah mendung sejak dari rumah. Dia sudah menyiapkan mental untuk menghadapi kekacauan. Di kepalanya, dia sudah menyusun skenario untuk memarahi asisten pengganti Bella jika kopi paginya terlalu manis, ata
Sabtu Malam. Ruang Kerja Pribadi Arka di Rumah.Hujan deras mengguyur Jakarta, menciptakan suara latar yang konstan dan menekan. Di dalam ruang kerja kedap suara itu, Arka duduk di balik meja mahoninya, menatap Anton dengan tatapan tidak percaya.Satu hari lagi. Besok, Bella dan Dimas dijadwalkan m
Arka pulang lebih awal sore ini. Langkah kakinya ringan saat memasuki kamar tidur utama, seolah beban berat masa lalu baru saja diangkat dari pundaknya.Dia melepas jas kerjanya dan melemparnya santai ke kursi. Nia yang sedang melipat pakaian Amara di atas kasur menoleh."Tumben Mas Arka senyum-sen
Perjalanan pulang dari Menara Adhiguna menuju rumah terasa sepuluh kali lebih lama dari biasanya.Arka duduk di kursi belakang mobil mewahnya, wajahnya tegang. Lampu baca di langit-langit mobil dia nyalakan, meskipun dia tidak sedang membaca dokumen.Tangan Arka tidak bisa diam.Setiap dua menit se







