LOGIN
“Apa kita benar-benar harus mengetuknya lagi, Ibu?”
Suara Laura bergetar pelan, tenggelam di antara ketukan jemari ibunya dan deburan gerimis yang membasahi marmer teras. Dadanya masih terasa sesak. Pertengkaran hebat semalam masih berdengung jelas di kepalanya, bagaimana ayahnya mengemasi sisa aset, melemparkan tuduhan tanpa nurani, lalu menendang ia dan ibunya keluar dari kediaman keluarga tanpa menyisakan sepeser pun. Di usianya yang menginjak dua puluh tiga tahun, Laura mendadak menjadi tunawisma bersama Eleanor, terpaksa menelan seluruh gengsi dan menempuh perjalanan berjam-jam demi menumpang di rumah pria ini. Jonas Gideon. Adik angkat Eleanor yang sudah hampir lima tahun tidak pernah bertatap muka langsung dengan mereka. Sebelum ketukan kedua Eleanor mendarat, gerendel pintu bergeser pelan. Daun pintu ganda yang menjulang tinggi itu berayun terbuka ke dalam. Hawa hangat dari dalam rumah langsung menguar keluar, membawa aroma khas kayu cendana, tembakau mahal, dan kesegaran mint yang maskulin. Di ambang pintu, seorang pria berdiri tegak menjulang membingkai cahaya temaram lampu gantung kristal. Jonas. Di usianya yang ketiga puluh lima, postur tubuh Jonas memancarkan dominasi yang mutlak. Kemeja abu-abu gelapnya digulung rapi hingga ke siku, memamerkan lengan bawahnya yang kokoh berurat. Wajahnya terpahat tegas dengan rahang persegi yang dingin dan sepasang mata cokelat kelam yang tajam, mata seorang pria berkuasa yang terbiasa memberi titah. “Kalian sudah datang rupanya,” ucap Jonas tanpa basa-basi kehangatan seorang kerabat yang menyambut keluarga. Eleanor buru-buru maju selangkah seraya menundukkan kepala sedikit dengan canggung. “Jonas... maaf jika kami merepotkanmu selarut ini. Terima kasih banyak sudah bersedia membukakan pintu untuk kami di situasi yang amat memalukan ini.” Pandangan Jonas bergulir pelan dari sang kakak angkat, lalu jatuh sepenuhnya pada Laura yang berdiri di belakang. Tatapannya tidak berkedip, menyapu wajah pucat gadis itu, turun ke ceruk lehernya yang tersingkap dari balik mantel basah, hingga ke siluet lekuk tubuhnya. Laura menahan napasnya. Itu sama sekali bukan tatapan seorang paman kepada keponakannya; ada intensitas gelap, menakar, dan begitu posesif di balik ketenangan topeng datarnya. “Masuklah sebelum kalian kedinginan. Rumah ini cukup luas untuk dua orang tambahan,” ujar Jonas singkat seraya menggeser tubuh besarnya ke samping. Langkah sepatu Laura berderit halus di atas lantai marmer hitam berurat emas yang mengilap sempurna. Rumah ini terlampau megah dan terlampau asing, membuat rasa rendah dirinya merayap cepat. Ketika ia hendak mengangkat koper besarnya yang basah, sebuah tangan kekar berkulit sawo matang mendahuluinya. Ujung jemari Jonas yang kasar dan hangat menyapu pergelangan tangan Laura. Sentuhan singkat itu mengirimkan sengatan panas yang merambat cepat ke tengkuk Laura, membuat bulu kuduknya meremang seketika. “Kamar utama di lantai bawah sudah disiapkan untukmu, Eleanor,” ucap Jonas dingin, mengalihkan fokusnya kembali ke ibunya. “Biar kau tidak perlu lelah menaiki tangga. Istirahatlah, pelayan akan membawakan teh hangat.” “Terima kasih banyak, Jonas. Kau penyelamat kami,” sahut Eleanor haru, sebelum perlahan diantar oleh kepala pelayan menuju sayap barat. Kini, aula depan itu hanya menyisakan Laura dan Jonas. Kesunyian seketika berubah pekat dan menekan. “Ikut aku ke atas,” titah Jonas seringan ia menjinjing koper berat Laura. Laura mengangguk kaku, melangkah mengekor di belakang punggung lebar Jonas yang membentang kokoh. Dari belakang, ia bisa melihat bahu tegap dan pinggang ramping yang terbalut celana kain mahal. Bau kayu cendana dari tubuh pria itu meracuni indra penciumannya di sepanjang anak tangga mahoni. Di lantai dua yang berpendar keemasan, Jonas mendorong sebuah pintu kayu ganda. “Ini kamarmu. Ruangan tepat di seberang adalah ruang kerja pribadiku.” Kamar itu luar biasa luas, beraroma vanila lembut dengan tempat tidur king size berseprai sutra. “Kuharap kau bisa mematuhi aturan di rumah ini, Laura,” ujar Jonas seraya berdiri menjulang di ambang pintu, menatapnya lekat-lekat. “Jangan membuat kekacauan yang tak perlu.” Laura buru-buru menyatukan jemarinya di depan pinggang, bersikap seakomodatif dan sepenurut mungkin. “Aku mengerti. Aku berjanji akan menjadi penghuni yang tenang dan tidak akan merepotkanmu sama sekali.” Bibir Jonas berkedut tipis, membentuk seringai samar yang dingin. Tatapannya terkunci pada bibir ranum Laura yang baru saja mengucap janji polos tersebut. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia membalikkan tubuh dan membiarkan pintu tertutup rapat. Laura mengembuskan napas panjang, bersandar lemas pada daun pintu. Ia menata beberapa potong pakaian ke dalam lemari kayu. Namun, saat teringat tas kecilnya yang tertinggal di gantungan lorong luar, ia memutar kenop pintu perlahan untuk mengambilnya. Ketika celah pintu terbuka, napas Laura terhenti seketika. Jonas masih berdiri di sana. Pria itu bersandar santai pada dinding koridor tepat di seberang pintunya, kedua tangan terbenam ke dalam saku celana panjang, memamerkan kemejanya yang meregang kaku di dada. Matanya yang gelap menguliti Laura tanpa tedeng aling-aling, tatapan memburu seekor pemangsa. Darah Laura berdesir panas, tenggorokannya tercekat. Memeluk tasnya erat-erat ke dada, Laura memberanikan diri membuka suara. “Jonas...? Apa ada hal lain yang kau butuhkan dariku malam ini?”Di malam harinya, Eleanor harus pergi ke luar kota untuk mengurus perceraiannya.“Ibu sungguh tidak tenang meninggalkanmu sendirian di rumah ini selama dua hari, Laura,” tutur Eleanor lirih, sarat rasa bersalah.“Pengacara mendadak meminta kehadiranku di pengadilan luar kota besok pagi untuk verifikasi pembagian harta dan surat sita. Tapi rasanya tidak pantas membiarkanmu hanya berdua dengan pamanmu di sini.”Laura menggeleng dengan lembut.“Ibu tidak perlu mencemaskanku. Urusan hukum dan perceraian itu jauh lebih penting agar Ayah tidak bisa menuntut apa pun lagi dari kita. Jonas orang yang sangat teratur, aku berjanji akan menjaga diri dan tidak merepotkannya sama sekali.”Dari arah koridor ruang kerja, langkah kaki yang berat dan mantap terdengar mendekat.Jonas Gideon muncul dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung santai hingga ke siku, tanpa dasi, dan kedua tangannya terbenam ke dalam saku celana panjang.Posturnya yang tegap menjulang seketika mendominasi aula depan yang lu
Ting tong!Bunyi bel di depan memutus ketegangan yang sejak tadi merayap di antara Laura dan Jonas, saat jemari pria itu masih menempel di plester jarinya.“Sepertinya ada tamu yang datang di depan,” bisik Laura pelan sambil menarik tangannya perlahan.Jonas menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat untuk meredam kekacauan di kepalanya sebelum raut wajahnya kembali mengeras dingin.“Tetaplah di sini, biar aku yang memeriksa siapa yang datang,” ujar Jonas singkat seraya bangkit berdiri.Pria itu merapikan kemejanya, lalu melangkah keluar menuju lantai bawah.Namun, Laura yang selalu merasa sungkan dan terbiasa bersikap penurut tidak bisa hanya berdiam diri.Ia merasa tidak pantas bermalas-malasan saat menumpang di rumah megah ini.Gadis itu beranjak turun ke dapur untuk menyiapkan cangkir dan nampan perak, berniat menyuguhkan minuman hangat bagi siapa pun yang bertamu.Ketika Laura melangkah ke ruang tamu utama dengan nampan di tangannya, seorang pria asing berjas abu-abu terang seda
“Suasananya sangat hening, sama persis seperti pemiliknya,” gumam Laura lirih setelah memasuki ruangan tersebut, seraya melangkah masuk mendekati meja kerja granit hitam milik Jonas.Laura menata tumpukan map berkas yang dibawanya dari meja makan pagi tadi. Ia menarik kursi kayu berukir di balik meja, lalu duduk dengan sikap punggung yang tegak dan teratur.Sebagai keponakan yang menumpang hidup, ia ingin menunjukkan kepatuhan tanpa cela; sebisa mungkin membuktikan bahwa keberadaannya tidak menjadi beban bagi sang paman angkat.Dengan jemari yang telaten, Laura mulai membuka map pertama.Lembar demi lembar laporan keuangan tahun lalu ia periksa tanggalnya, merapikan setiap sudut kertas yang terlipat dengan kesabaran luar biasa.Namun, saat jemari lentiknya berniat melepas sebuah klip besi tua yang menjepit bundel laporan tebal di sudut map, pegas besi itu tersangkut kaku.Laura menekan ujungnya lebih kuat.Srak!Ujung logam yang tajam dan sedikit berkarat itu tersentak lepas, menyayat
“Selamat pagi, Ibu. Bangunlah, sudah pagi. Ayo kita sarapan bersama,” ajak Laura kepada sang ibu yang masih berbaring di tempat tidur.“Tidak, Sayang. Turunlah lebih dulu dan sarapanlah bersama Jonas, Ibu masih ingin beristirahat beberapa saat lagi,” suara Eleanor terdengar lemah dari dalam kamar.Laura mengangguk patuh, merapatkan pintu kamar ibunya tanpa suara.Ia berusaha menepis rasa sesak yang kembali menghimpit dada melihat kondisi ibunya yang begitu terpuruk akibat perceraian itu.Laura merapikan pakaian kasualnya, rajut putih berleher tinggi dan rok kain lipit sepanjang betis yang tertutup rapat, memastikan tidak ada lagi siluet tubuh yang tersingkap seperti gaun satin semalam.Ketika kakinya menapaki lantai dasar dan melangkah ke arah ruang makan utama, bau harum biji kopi segar yang baru diseduh menyapa indra penciumannya.Di ujung meja makan granit yang panjang dan megah, Jonas Gideon sudah duduk tegap.Pria tiga puluh lima tahun itu mengenakan kemeja putih yang disetrika l
“Jangan bergerak sembarangan, Laura. Kamu bisa menabrak sudut meja granit,” ucap Jonas pelan. Napas Laura tertahan di tenggorokan, tersengat oleh betapa dekatnya jarak mereka saat ini.Gelap gulita menelan seisi dapur tanpa menyisakan pendar cahaya sedikit pun akibat putusnya aliran listrik mendadak.Seluruh tubuh Laura membeku kaku di tempatnya berdiri.Dadanya yang hanya terbalut gaun tidur satin krem tipis menempel begitu lekat pada dada bidang Jonas, menyerap langsung detak jantung pria itu yang berdegup lambat namun penuh tenaga purba.“A-aku tidak bisa melihat apa-apa, Jonas,” cicit Laura pelan, suaranya tercekat oleh rasa kaget yang belum tuntas mereda. “Ruangannya benar-benar sangat gelap.”Jonas tidak langsung menjawab dengan kata-kata.Sebaliknya, hembusan napas hangat pria itu terasa menyapu puncak dahi dan pelipis Laura, menghantarkan aroma khas tembakau mahal bercampur kayu cendana yang begitu pekat dan candu.Alih-alih melepaskan rangkulannya, lengan kekar Jonas justru
“Tidak ada,” jawab Jonas singkat.Suara beratnya terdengar begitu rendah, mengalun membelah hening lorong remang dengan getaran yang membuat dada Laura bergemuruh kencang.Jonas tidak beranjak satu inci pun dari posisinya bersandar di dinding.Matanya yang pekat tetap terpaku lurus menatap Laura, seolah sedang menikmati rasa gugup yang membuat jemari gadis itu gemetar mencengkeram tas kecilnya.“Hanya memastikan kau tidak tersesat di rumah ini,” lanjut Jonas dingin, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya yang tegap.Pria itu memutar badan, melangkah tenang memasuki ruang kerjanya yang berada tepat di seberang, lalu menutup pintunya tanpa bersuara.Laura menahan napasnya sampai derak pintu ruang kerja itu benar-benar rapat.Ia cepat-cepat menarik tasnya masuk ke dalam kamar, lalu mengunci gerendel pintu dengan napas yang memburu.Berada di dekat Jonas Gideon memberikan jenis ketegangan fisik yang belum pernah ia alami sebelumnya. Rasanya membingungkan, asing, dan berbahaya.Laura merebah







