ANMELDENKlek.Pintu di kamar utama lantai tiga itu tertutup rapat. Begitu melangkah keluar, Mora langsung menghampiri Bibi Greta yang berjalan kaku di depannya.“Bi … Bibi Greta, saya minta maaf,” bisik Mora tercekat, air matanya merebak lagi. Rasa bersalah menghimpit dadanya begitu sesak. “Gara-gara saya, Bibi jadi dimarahi Tuan Aiden. Saya benar-benar minta maaf, Bi …”Langkah Greta terhenti. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap wajah sembab Mora yang pucat pasi.Tak ada amarah yang meledak dari mulutnya. Greta hanya menatap Mora lekat-lekat selama beberapa detik, lalu menghela napas panjang yang terdengar teramat berat dan lelah. Tanpa membalas sepatah kata pun, Greta membalikkan badan dan terus melangkah menuruni tangga, meninggalkan Mora yang mematung dengan rasa bersalah yang kian menyiksa.Mora menelan ludah getir, lalu perlahan mengekor turun ke lantai satu. Namun baru saja kakinya menjejak anak tangga terbawah, sayup-sayup bisikan pelan dari balik partisi ruang tengah menyapa teli
DEG!Mora membeku di tempat. Tubuhnya yang terhimpit rapat di antara pintu marmer dan dada bidang Aiden terasa kaku, tak mampu bergerak barang satu senti pun. Jantungnya berdegup gila-gilaan, memukul-mukul rongga dadanya begitu menyakitkan.“Da-dari mana Tuan Aiden tahu?!”Mora menunduk dalam, mati-matian menggigit bibir bawahnya sendiri hingga memutih. Otaknya berputar liar mencari jawaban.Bibi Greta? Tidak mungkin! Wanita itu sudah berjanji tidak akan mencampuri urusan ini, apalagi sampai membocorkannya secepat ini pada sang majikan.Lalu siapa?Pikiran Mora mendadak melesat pada kejadian di lorong tadi, saat ia merutuki dirinya sendiri sepulang dari kamar Bibi Greta. Derap langkah pelan ... dan seorang pelayan yang sedang mengelap jendela kaca!Atau jangan-jangan ... Tuan Muda Leo mendengarnya?Mata Mora membelalak panik. Suara gumamannya tadi memang agak keras sebelum ia melihat pelayan itu. Mungkinkah Leo yang kamarnya berada di lantai yang sama tanpa sengaja mendengarnya bicar
Suasana di lorong lantai dua mendadak dingin mencekam. Sorot mata Nyonya Besar menyapu Mora dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh penghakiman, sebelum akhirnya beralih pada cucunya yang masih sesenggukan di ceruk leher Aiden.“Kalau kelakuannya sama saja seperti pengasuh-pengasuh sebelum nya, untuk apa kamu pertahankan?” cibir wanita tua itu sinis. “Pecat saja dia sekarang, Aiden! Buang-buang uang menggaji wanita yang kerjanya cuma bikin cucuku histeris begini!”DEG!Jantung Mora serasa anjlok ke perut. Keringat dingin langsung mengucur di pelipisnya. Tangannya meremas celananya kuat-kuat, kepalanya tertunduk makin dalam.Rasa takut seketika mencengkeram dadanya. Bukan cuma takut ditendang keluar dari mansion mewah ini, tapi jeratan utang dua ratus juta pada Aiden yang belum lunas.Kalau detik ini juga ia dipecat dan diusir tanpa membawa uang sepeser pun, mau bayar pakai apa? Diseret ke kantor polisi lagi? Atau Aiden bakal menagihnya dengan cara yang jauh lebih gil
Langkah kaki Mora terasa berat saat menyusuri lorong panjang menuju ruang tengah. Kepalanya tertunduk lesu, kedua sudut bibirnya ditekuk dalam-dalam sembari merutuki kebodohannya sendiri.“Bisa-bisanya mulutku lancang bilang mau berhenti setelah utang lunas …” gumam Mora lirih, menggigit bibir bawahnya cemas. “Bagaimana kalau Tuan Aiden menolak melepaskanku? Atau lebih buruk lagi … bagaimana kalau aku sendiri yang gagal menepati janji itu pada Bibi Greta?”Dilema itu berputar kusut di kepalanya. Di satu sisi, nuraninya berteriak bahwa ia terlalu kotor untuk tetap berada di dekat Leo setelah apa yang terjadi di atas ranjang majikannya. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa Aiden belum sepenuhnya melepaskan jeratan utang itu membuatnya tak berdaya.Deg.Telinganya tiba-tiba menangkap suara derap langkah pelan di dekat lorong. Mora tersentak, refleks mendongak dan menyapu pandangannya ke sekeliling. Lorong itu sepi. Hanya tampak seorang pelayan wanita yang tengah sibuk mengelap jendela kac
“Apa? Mengundurkan diri?!” ulang Bibi Greta dengan mata membulat tak percaya.Mora yang masih bersimpuh lemas di atas lantai kayu hanya bisa mengangguk kaku. Air matanya terus menetes membasahi pipi, meresap jatuh ke serat pernis tua kamar itu.“I-iya, Bi. Saya merasa tidak tahu malu jika harus terus bekerja di sini setelah apa yang terjadi,” rintih Mora parau. Napasnya tersengal menahan sesak yang mencekik dada. “Setiap kali menatap mata polos Tuan Muda Leo ... hati saya tidak tenang. Rasanya seperti ditikam pisau. Saya merasa sangat bersalah. Saya terlalu kotor untuk mengurus anak sebaik dia.”Bibi Greta mematung. Amarah yang semula membakar ubun-ubunnya mendadak surut, ditampar oleh realitas yang menohok sekaligus rasa kecewa. Wanita paruh baya itu mundur selangkah, lalu menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Tangannya memijat pelipis yang berdenyut kencang.Dadanya terasa sesak. Baru kemarin ia mempercayakan luka lama dan trauma kelam Leo yang selama ini ditutup rapat dari siapapu
Bibi Greta langsung mendekat, lalu mencengkeram dan menarik turun kerah baju Mora dengan satu gerakan tegas. Mora terkesiap kaku, napasnya tersangkut di kerongkongan.“A-astaga, Mora!” lirih Bibi Greta menatap tak percaya.Sebagai wanita dewasa yang kenyang makan asam garam, dia cukup paham dengan apa yang ia lihat. Bercak lebam keunguan itu bertumpuk pekat di ceruk leher, disusul bekas gigitan yang belum sepenuhnya kering, jelas ulah seorang pria.Takut ada pelayan lain yang melihat, Bibi Greta buru-buru menaikkan kembali kerah baju Mora. Dadanya naik-turun menahan amarah yang mendadak membakar ubun-ubunnya. Leo yang masih berdiri di atas sofa mengerjap polos, sama sekali tidak menyadari hawa dingin yang mencekik di sekitarnya.“Kalau di kamar Mora banyak nyamuk nakal, tidur di kamar Leo aja mulai nanti malam,” celetuk bocah itu dengan nada riang. “Biar nyamuknya nggak berani gigit Mora lagi.”Darah Mora terasa membeku. Lidahnya kelu, tak sanggup menyusun sepatah kata pun untuk memb







