Share

Bab 8

Author: Kariana
last update publish date: 2026-11-07 21:37:15

Nadine mendorong kursi rodanya mendekati lemari. Tangannya bergerak mengeluarkan semua bajunya dari dalam.

“Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Nadine,” ujar Rama dengan napas terengah. Alisnya bertaut, tidak setuju saat melihat Nadine yang sedang mengemasi barangnya.

“Bukankah aku hanya beban bagimu, Rama?” tanya Nadine pelan tanpa menoleh.

“Aku pikir, dengan kepergianku ini, kamu bisa bebas,” tambahnya.

Rama menggeleng. Kakinya melangkah mendekati Nadine, lalu berjongkok di depan kursi rodanya. Ia berusaha menggenggam tangan wanita itu, tetapi segera ditepis.

“Tolong, percaya sama aku. Aku sudah menjelaskan semuanya padamu,” ucapnya memohon.

Nadine tidak memedulikannya. Tangannya terus sibuk mengemasi baju.

“Sayang... aku mohon, jangan seperti ini,” lirih Rama. Kepalanya menunduk, menatap tangan Nadine yang enggan digenggam.

Selesai mengemasi baju, Nadine meraih koper itu. Namun, tangan Rama dengan cepat menahannya.

“Nadine!” panggil Rama dengan suara meninggi. “Oke, kalau kamu kukuh mau pindah rumah, aku akan ikut bersamamu.” Suaranya kembali merendah.

Nadine menoleh. Wajahnya yang datar menatap Rama dengan tenang.

“Kamu tidak berhak ikut bersamaku,” ucap Nadine dingin.

“Aku ini suamimu, Nadine!” ujar Rama dengan nada frustrasi. “Aku berhak melakukan itu.”

“Aku sudah memintamu untuk menceraikanku, Rama. Jadi, aku mohon, izinkan aku pergi dan segera urus perceraian kita,” tegas Nadine. Ia menghela napas lelah, tetapi matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.

“Nadine... aku tidak bisa seperti ini denganmu,” ujar Rama sambil menundukkan kepala. “Aku tidak mau kamu pergi dengan kesalahpahaman ini.”

Nadine menggeleng, lalu tertawa getir. Mendengar pembelaan Rama, bukannya percaya, ia justru semakin muak. “Sudah, cukup, Rama. Kamu tidak perlu membela dirimu sejauh ini, semuanya sudah cukup.”

Rama mendongak dengan mata sendu. “Aku bisa buktikan kalau aku tidak berselingkuh.”

“Dengan cara apa kamu bisa membuktikannya?” tantang Nadine.

“Kita bisa atur makan malam bertiga dengan perempuan yang kamu bilang selingkuhanku itu,” ucap Rama. “Aku akan buktikan kalau semua ini hanya kesalahpahaman,” lanjutnya dengan mata berbinar, seperti menemukan ide yang tepat untuk pembelaannya.

“Bagaimana? Kamu mau, kan, Nadine? Mungkin setelah kamu bertemu langsung dengannya, kamu tidak akan menuduhku lagi,” tanya Rama.

Nadine menghembuskan napasnya. Sebenarnya ia bisa saja menolak. Namun, entah mengapa bibirnya bergerak untuk menyetujui ajakan Rama yang terdengar konyol itu.

“Baiklah, malam ini ayo kita pergi,” jawab Nadine setuju. Entah apa yang akan ia saksikan setelah ini, saat bertemu dengan Rama dan selingkuhannya yang masih enggan diakui pria itu.

Dan entah apa alasan Rama yang membuatnya enggan mengaku, padahal keputusan Nadine untuk pergi, itu sama saja memberikan kebebasan baginya.

Mengapa pria itu seolah ingin meyakinkan bahwa apa yang selama ini Nadine ketahui adalah sesuatu yang salah?

“Baik. Aku akan atur semuanya,” ucap Rama. Nadine menangkap sudut bibir pria itu yang melengkungkan senyuman.

Rama bangkit berdiri, meraih ponsel dari saku celananya, lalu melangkah meninggalkan Nadine yang menatapnya lelah.

---

“Kamu sangat cantik malam ini, Sayang,” bisik Rama pelan. Tangannya mendorong kursi roda Nadine mendekati meja. Setelah posisinya tepat, pria itu ikut duduk di kursi sebelahnya.

Malam ini, di sinilah Nadine. Di sebuah restoran bintang lima, tepatnya di ruang VIP. Sepertinya Rama sengaja memesan ruangan yang lebih pribadi.

Dulu, saat-saat seperti ini adalah hal yang paling Nadine tunggu. Makan malam berdua di luar, menikmati kebersamaan mereka. Rama tidak pernah terlihat malu mendorong kursi rodanya. Ke mana pun, ia selalu memperhatikan kenyamanan Nadine.

Namun, setahun belakangan ini, karena ternyata posisi Nadine sudah ada yang menempati, Rama tidak pernah mengajaknya keluar dengan alasan sibuk.

“Mungkin sebentar lagi dia akan datang,” ucap Rama. Matanya bergerak gusar menatap ponsel di tangannya.

Nadine hanya terdiam dengan tenang. Ia tidak berbicara sedikit pun selama perjalanan dari rumah. Hingga saat ini, bibirnya masih enggan membuka suara.

Ucapan Rama terbukti benar. Tak lama kemudian, Nadine melihat seorang perempuan bertubuh semampai berjalan elegan mendekati meja mereka.

Nara. Nama perempuan itu masih Nadine ingat, yang tempo hari mengirimi foto Rama yang tidur di pangkuannya. Ia mengenakan dress selutut berwarna hitam pekat, tangannya menenteng tas kecil. Senyumannya merekah saat ia mendorong kursi, lalu duduk di hadapannya.

“Aku terlambat ya, Mas?” tanya Nara dengan nada manja yang sengaja ia selipkan.

Rama tersenyum sambil menggeleng pelan. “Nggak kok. Kita juga baru sampai, kan, Sayang?” tanya Rama sambil menatap Nadine meminta persetujuan.

Nadine mengangguk pelan. Matanya masih terpaku pada perempuan di hadapannya ini.

“Namaku Nara, Mbak. Salam kenal ya,” sapa Nara sambil mengulurkan tangannya mengajak Nadine berkenalan.

Nadine menerimanya mau tak mau. Namun, bibirnya tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab Nara.

Nara tersenyum kaku, lalu menarik tangannya. “Mbak Nadine masih marah ya?” tanya Nara, pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa rasa malu.

Nadine menyunggingkan senyuman pahit. Ia merutuki keputusannya yang setuju untuk bertemu bertiga. Ternyata, melihat secara langsung, rasa ingin memaki perempuan di hadapannya ini terasa nyata.

Rama melirik Nadine dengan wajah tidak enak. “Ehm...” pria itu berdeham pelan. “Aku menyuruh Nara bertemu denganmu itu, supaya kamu bisa bicara langsung dengannya, Sayang,” jelas Rama.

“Marah kenapa?” tanya Nadine balik, suaranya terdengar dingin sambil menatap Nara dengan lekat.

Nara melirik Rama sekilas sebelum berucap. “Iya, kan, Mas Rama bilang, Mbak Nadine lagi marah karena salah paham sama aku.”

“Mbak, aku sama Mas Rama hanya sebatas rekan kerja kok, tidak lebih,” ucap Nara dengan gamblang.

Apakah perempuan itu lupa, bahwa dirinya sempat mengirimi Nadine pesan untuk meninggalkan Rama? Lalu sekarang, dengan tampang tidak bersalahnya, ia berusaha membantu Rama menutupi semuanya.

'Permainan macam apa ini?' batin Nadine.

“Lalu?” tantang Nadine dengan tenang.

Nara menghela napas, lalu menatap Nadine dengan sorot mata yang dibuat-buat tulus. “Mbak, aku serius. Aku sama Mas Rama itu cuma sering ketemu karena proyek. Kalau pulang malam bareng, itu juga karena lembur, bukan karena yang lain.”

Pulang malam? Satu fakta yang baru saja Nadine tahu.

“Iya, Sayang,” sahut Rama cepat, ikut meyakinkan. “Proyek yang kemarin itu memang mengharuskan aku sering ketemu Nara. Kamu bisa tanya siapa pun di kantor, semua tim tahu kok.”

“Foto yang Mbak lihat itu juga bukan seperti yang Mbak pikirkan,” tambah Nara sambil mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. “Waktu itu Mas Rama kecapekan di mobil, aku cuma... ya, aku yang nyuruh dia istirahat sebentar. Aku nggak ada niat apa-apa, Mbak. Sumpah.”

Rama mengangguk membenarkan. Sepertinya Nara juga bercerita soal ia mengirimi Nadine pesan.“Aku ketiduran, Sayang. Makanya aku nggak tahu kalau Nara sempat foto. Kalau aku tahu, pasti sudah aku larang.”

“Dan soal chat yang nyuruh Mbak pergi itu...” Nara menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu. “Itu aku khilaf, Mbak. Aku cuma bercanda, tapi kelewatan. Aku minta maaf ya, Mbak. Aku nggak nyangka Mbak bakal nganggep serius. "

“Bercanda?” ulang Nadine dengan suara bergetar menahan amarah. “Kamu menyebut bercanda untuk pesan yang menyuruhku meninggalkan suamiku?”

Rama segera meraih tangan Nadine yang ada di atas meja. “Sayang, dengar aku dulu. Nara sudah aku tegur soal itu. Dia sudah janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku bawa dia ke sini justru supaya kamu bisa dengar sendiri, kalau di antara kami memang tidak ada apa-apa.”

Nara mengangguk kuat-kuat. “Iya, Mbak. Aku sama Mas Rama itu murni profesional. Aku nggak akan berani ngerebut suami orang, apalagi Mbak. Mas Rama itu sayang banget sama Mbak, lho. Di kantor aja dia selalu cerita tentang Mbak.”

Rama menatap Nadine dalam-dalam. “Kamu dengar sendiri, kan? Aku nggak pernah selingkuh, Nadine. Semua ini cuma salah paham yang dibesar-besarkan.”

Nadine terdiam. Kata-kata mereka terdengar begitu rapi, begitu meyakinkan. Terlalu rapi hingga justru terasa janggal.

“Saya izin ke toilet,” ucap Nadine akhirnya. Tak ingin mendengar omong kosong apa lagi yang akan Nara ucapkan, Nadine memundurkan kursi rodanya lalu bergerak pergi.

Namun, Rama sempat menahannya. “Sayang, perlu aku antar?” tanya Rama dengan lembut.

Nadine menggeleng tanpa berucap. Lalu, ia segera pergi dari sana.

Sekembalinya dari toilet, langkah kursi roda Nadine terhenti.

Dari kejauhan, ia melihat Nara berdiri dari kursinya. Perempuan itu berjalan pelan mendekati Rama, lalu tubuhnya membungkuk tepat di samping pria itu.

Nadine enggan menebak hal apa yang akan dilakukan Nara selanjutnya. Namun, ia memilih untuk tidak bergerak dan melihat semuanya.

Tepat di hadapannya, Nara mencium pipi Rama dengan mesra. Singkat, tetapi cukup untuk membuat Rama mengernyit tidak setuju. Posisi Rama yang membelakangi, membuat ia tidak melihat bahwa Nadine berada tak jauh dibelakangnya.

Nara tersenyum kecil, lalu beranjak kembali ke tempat duduknya.

Sementara Nadine, menatap semua itu dengan perasaan yang campur aduk.

Lalu, Nara menoleh. Menyunggingkan senyum kemenangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 8

    Nadine mendorong kursi rodanya mendekati lemari. Tangannya bergerak mengeluarkan semua bajunya dari dalam.“Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Nadine,” ujar Rama dengan napas terengah. Alisnya bertaut, tidak setuju saat melihat Nadine yang sedang mengemasi barangnya.“Bukankah aku hanya beban bagimu, Rama?” tanya Nadine pelan tanpa menoleh.“Aku pikir, dengan kepergianku ini, kamu bisa bebas,” tambahnya.Rama menggeleng. Kakinya melangkah mendekati Nadine, lalu berjongkok di depan kursi rodanya. Ia berusaha menggenggam tangan wanita itu, tetapi segera ditepis.“Tolong, percaya sama aku. Aku sudah menjelaskan semuanya padamu,” ucapnya memohon.Nadine tidak memedulikannya. Tangannya terus sibuk mengemasi baju.“Sayang... aku mohon, jangan seperti ini,” lirih Rama. Kepalanya menunduk, menatap tangan Nadine yang enggan digenggam.Selesai mengemasi baju, Nadine meraih koper itu. Namun, tangan Rama dengan cepat menahannya.“Nadine!” panggil Rama dengan suara meninggi. “Oke, kalau kamu kukuh

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 7

    "Tahu semuanya apa maksud kamu?" Suara Rama terdengar tegang. Ia menatap Nadine lekat-lekat, seolah berharap perempuan itu akan menarik kembali ucapannya.Nadine tidak mengalihkan pandangan. Tangannya terlipat rapi di depan tubuh, sementara jantungnya berdegup lebih cepat di dalam sana. Namun, ia sudah terlalu lama memikirkan semua ini untuk membiarkan rasa sakitnya mengambil alih."Aku tahu kamu punya perempuan lain di luar sana," jawabnya tenang. "Bahkan hari ini, aku tahu kamu pergi dengannya."Di samping mereka, Laras memandang putranya tak percaya. Tatapannya berpindah kepada Nadine, mencari penjelasan yang belum juga ia dapatkan.Rama terdiam sesaat. Wajahnya menegang, lalu ia mengembuskan napas panjang, seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan keadaan."Semua nggak seperti yang kamu pikirkan, Nadine. Aku bisa jelaskan." Ia mengangkat kedua tangan sedikit, meminta Nadine mendengarkan. "Tolong, jangan langsung menyimpulkan."Nadine merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 6

    Rama mencoba tersenyum, akan tetapi matanya tidak dapat berbohong. Pupilnya tiba-tiba melebar, menyisakan lingkar gelap yang kosong.“Maksud kamu siapa? Dia—tentu dia tidak marah”“Dia.” Potong Nadine singkat dan padat. “Nadine…kamu salah paham! Maksudku, vendor… mereka tidak akan marah. Mereka mengerti “Bohong lagi, benar-benar melelahkan. Nadine mendengus kasar. “Rama…aku yakin…kamu tau maksud ucapanku” Ucap Nadine misterius.Kalimat itu membuat Laras menatap Rama penuh bingung. Pria itu masih memaksakan senyuman diwajahnya, matanya memutar-mutar mencari sasaran, enggan menatap mata Nadine, dan berlagak seolah tidak mendengar ucapannya. Matanya melirik ke arah Laras seperkian detik, tatapan seolah mencari bantuan. Namun wanita itu malah bersedekap dada, dan masih menautkan alis menatapnya. “Nadine! Kamu kenapa sih? Ada apa denganmu? Tiba-tiba saja ingin tinggal sendiri, tiba-tiba saja bertanya tentang dia! Dia siapa? Aku nggak ngerti! “ Suara Rama naik satu oktaf, terdengar ti

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 5

    “Aku tidak salah lihat…” gumamnya pelan sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.Sekali ini saja Nadine ingin mencoba, apakah Rama jujur atau tidak. Dia menelpon Rama, karena Nadine yakin sekali, pria tinggi dengan kemeja biru langit itu adalah Rama. Karena dia selama ini yang menyiapkan pakaian Rama.Hanya terdengar nada dering satu kali sebelum akhirnya Rama mengangkat panggilannya.“Kenapa kamu tutup panggilanku?” tanya Rama.Nadine menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab “Maaf kepencet. Rama…kamu sekarang di mana?” Rama tak langsung menjawab, terdengar suara klakson, suara keramaian dan pastinya suara manja seorang perempuan yang sepertinya dibungkam secara paksa.“Aku sedang di jalan, ada meeting bersama vendor di sebuah cafe. Kenapa?”“Oooh,,,tidak apa. Aku tadi berpikir ingin bertemu karena kamu bilang mau jemput aku…jadi..ya udah nggak papa. Bye Rama”“Sayang…maafkan aku…besok aku ambil libur dan aku akan membawamu jalan-jalan, bagaimana? kemanapun kamu mau, aku akan

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 4

    “Ah…ya…terima kasih” suara Nadine cepat bersamaan dengan pergerakan kursi rodanya.Nadine akhirnya bisa masuk ke dalam lift dengan bantuan nya. Pelan-pelan ia menolehkan kepalanya melihat. Pria itu berusia sekitar awal tiga puluhan.Tubuhnya menjulang tinggi,mungkin hampir 180 cm.Badannya tegap,dan atletis.Bahunya terlihat lebar hanya memakai kaos oblong berwarna abu-abu, celana hitam selutut, memakai sandal rumahan.Rambutnya dipotong pendek cepak terlihat agak berantakan.Wajahnya tidak setampan Rama,namun terlihat bersih.Rahangnya tegas,dan dialis kirinya ada bekas jahitan kecil, dengan sorot mata yang hangat dan tenang.Di tangan kirinya ia menenteng kantong plastik berisi sayur dan telur. Namun hal yang menjadi perhatian Nadine adalah…mata pria itu tenang, bahkan tidak menatap kursi rodanya lama-lama seperti orang lain yang menatapnya penuh kasihan. "Terima kasih," ucap Nadine lagi “Maaf merepotkan” Tambahnya.Pria itu mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam lift yang sempit itu.

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 3

    “Nggak ada..aku nggak ada ngomong apa-apa..” Nadine menggeleng, seutas senyum palsu menutupi lukanya merekah lagi.‘Aku harus bisa bertahan sampai nanti benar-benar siap mengatakan itu padanya’ batin Nadine.Percakapan malam itu ditutup dengan Nadine yang memilih tidur terlebih dahulu, sementara Rama,suaminya itu keluar dari kamar mereka pergi entah kemana. Keesokan paginya, Nadine sudah terlihat rapi sejak pukul tujuh. Ia duduk sendirian di meja makan, sementara Mama mertuanya Laras, sedang sibuk di dapur. Seperti pagi-pagi sebelumnya akhir-akhir ini Rama selalu berangkat lebih awal tanpa menunggunya bangun terlebih dahulu. “Rama tadi berangkat pagi-pagi, katanya ada rapat penting dan nggak mau bangunin kamu!” ucap Laras lembut.Nadine mengangguk pelan, “Iya, Ma!”Laras memutar tubuhnya menatap Nadine yang sedang sibuk dengan tablet di pangkuannya.“Nadine..kalau kamu merasa kesepian, bilang sama Mama, hm? Mama akan ajak kamu jalan-jalan. Mama tahu, belakangan ini Rama sangat sibu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status