LOGINNadine mendorong kursi rodanya mendekati lemari. Tangannya bergerak mengeluarkan semua bajunya dari dalam.“Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Nadine,” ujar Rama dengan napas terengah. Alisnya bertaut, tidak setuju saat melihat Nadine yang sedang mengemasi barangnya.“Bukankah aku hanya beban bagimu, Rama?” tanya Nadine pelan tanpa menoleh.“Aku pikir, dengan kepergianku ini, kamu bisa bebas,” tambahnya.Rama menggeleng. Kakinya melangkah mendekati Nadine, lalu berjongkok di depan kursi rodanya. Ia berusaha menggenggam tangan wanita itu, tetapi segera ditepis.“Tolong, percaya sama aku. Aku sudah menjelaskan semuanya padamu,” ucapnya memohon.Nadine tidak memedulikannya. Tangannya terus sibuk mengemasi baju.“Sayang... aku mohon, jangan seperti ini,” lirih Rama. Kepalanya menunduk, menatap tangan Nadine yang enggan digenggam.Selesai mengemasi baju, Nadine meraih koper itu. Namun, tangan Rama dengan cepat menahannya.“Nadine!” panggil Rama dengan suara meninggi. “Oke, kalau kamu kukuh
"Tahu semuanya apa maksud kamu?" Suara Rama terdengar tegang. Ia menatap Nadine lekat-lekat, seolah berharap perempuan itu akan menarik kembali ucapannya.Nadine tidak mengalihkan pandangan. Tangannya terlipat rapi di depan tubuh, sementara jantungnya berdegup lebih cepat di dalam sana. Namun, ia sudah terlalu lama memikirkan semua ini untuk membiarkan rasa sakitnya mengambil alih."Aku tahu kamu punya perempuan lain di luar sana," jawabnya tenang. "Bahkan hari ini, aku tahu kamu pergi dengannya."Di samping mereka, Laras memandang putranya tak percaya. Tatapannya berpindah kepada Nadine, mencari penjelasan yang belum juga ia dapatkan.Rama terdiam sesaat. Wajahnya menegang, lalu ia mengembuskan napas panjang, seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan keadaan."Semua nggak seperti yang kamu pikirkan, Nadine. Aku bisa jelaskan." Ia mengangkat kedua tangan sedikit, meminta Nadine mendengarkan. "Tolong, jangan langsung menyimpulkan."Nadine merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.
Rama mencoba tersenyum, akan tetapi matanya tidak dapat berbohong. Pupilnya tiba-tiba melebar, menyisakan lingkar gelap yang kosong.“Maksud kamu siapa? Dia—tentu dia tidak marah”“Dia.” Potong Nadine singkat dan padat. “Nadine…kamu salah paham! Maksudku, vendor… mereka tidak akan marah. Mereka mengerti “Bohong lagi, benar-benar melelahkan. Nadine mendengus kasar. “Rama…aku yakin…kamu tau maksud ucapanku” Ucap Nadine misterius.Kalimat itu membuat Laras menatap Rama penuh bingung. Pria itu masih memaksakan senyuman diwajahnya, matanya memutar-mutar mencari sasaran, enggan menatap mata Nadine, dan berlagak seolah tidak mendengar ucapannya. Matanya melirik ke arah Laras seperkian detik, tatapan seolah mencari bantuan. Namun wanita itu malah bersedekap dada, dan masih menautkan alis menatapnya. “Nadine! Kamu kenapa sih? Ada apa denganmu? Tiba-tiba saja ingin tinggal sendiri, tiba-tiba saja bertanya tentang dia! Dia siapa? Aku nggak ngerti! “ Suara Rama naik satu oktaf, terdengar ti
“Aku tidak salah lihat…” gumamnya pelan sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.Sekali ini saja Nadine ingin mencoba, apakah Rama jujur atau tidak. Dia menelpon Rama, karena Nadine yakin sekali, pria tinggi dengan kemeja biru langit itu adalah Rama. Karena dia selama ini yang menyiapkan pakaian Rama.Hanya terdengar nada dering satu kali sebelum akhirnya Rama mengangkat panggilannya.“Kenapa kamu tutup panggilanku?” tanya Rama.Nadine menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab “Maaf kepencet. Rama…kamu sekarang di mana?” Rama tak langsung menjawab, terdengar suara klakson, suara keramaian dan pastinya suara manja seorang perempuan yang sepertinya dibungkam secara paksa.“Aku sedang di jalan, ada meeting bersama vendor di sebuah cafe. Kenapa?”“Oooh,,,tidak apa. Aku tadi berpikir ingin bertemu karena kamu bilang mau jemput aku…jadi..ya udah nggak papa. Bye Rama”“Sayang…maafkan aku…besok aku ambil libur dan aku akan membawamu jalan-jalan, bagaimana? kemanapun kamu mau, aku akan
“Ah…ya…terima kasih” suara Nadine cepat bersamaan dengan pergerakan kursi rodanya.Nadine akhirnya bisa masuk ke dalam lift dengan bantuan nya. Pelan-pelan ia menolehkan kepalanya melihat. Pria itu berusia sekitar awal tiga puluhan.Tubuhnya menjulang tinggi,mungkin hampir 180 cm.Badannya tegap,dan atletis.Bahunya terlihat lebar hanya memakai kaos oblong berwarna abu-abu, celana hitam selutut, memakai sandal rumahan.Rambutnya dipotong pendek cepak terlihat agak berantakan.Wajahnya tidak setampan Rama,namun terlihat bersih.Rahangnya tegas,dan dialis kirinya ada bekas jahitan kecil, dengan sorot mata yang hangat dan tenang.Di tangan kirinya ia menenteng kantong plastik berisi sayur dan telur. Namun hal yang menjadi perhatian Nadine adalah…mata pria itu tenang, bahkan tidak menatap kursi rodanya lama-lama seperti orang lain yang menatapnya penuh kasihan. "Terima kasih," ucap Nadine lagi “Maaf merepotkan” Tambahnya.Pria itu mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam lift yang sempit itu.
“Nggak ada..aku nggak ada ngomong apa-apa..” Nadine menggeleng, seutas senyum palsu menutupi lukanya merekah lagi.‘Aku harus bisa bertahan sampai nanti benar-benar siap mengatakan itu padanya’ batin Nadine.Percakapan malam itu ditutup dengan Nadine yang memilih tidur terlebih dahulu, sementara Rama,suaminya itu keluar dari kamar mereka pergi entah kemana. Keesokan paginya, Nadine sudah terlihat rapi sejak pukul tujuh. Ia duduk sendirian di meja makan, sementara Mama mertuanya Laras, sedang sibuk di dapur. Seperti pagi-pagi sebelumnya akhir-akhir ini Rama selalu berangkat lebih awal tanpa menunggunya bangun terlebih dahulu. “Rama tadi berangkat pagi-pagi, katanya ada rapat penting dan nggak mau bangunin kamu!” ucap Laras lembut.Nadine mengangguk pelan, “Iya, Ma!”Laras memutar tubuhnya menatap Nadine yang sedang sibuk dengan tablet di pangkuannya.“Nadine..kalau kamu merasa kesepian, bilang sama Mama, hm? Mama akan ajak kamu jalan-jalan. Mama tahu, belakangan ini Rama sangat sibu







