แชร์

Menabuh Genderang Perang

ผู้เขียน: Risca Amelia
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-20 20:14:00

Tak butuh waktu lama, pelayan datang membawakan nampan besar berisi piring-piring pesanan.

Makanan untuk Sabiya, Andreas, dan Nina tiba lebih dulu, baru kemudian disusul hidangan chicken cordon bleu yang dinantikan Altair.

Bocah kecil itu dengan tenang meraih garpu dan pisaunya. Tanpa ragu, Altair mulai memotong bagian ujung daging dengan gerakan terukur.

Sambil mengoleskan sedikit mentega ke atas roti, Andreas bertanya kepada Sabiya.

"Bu Rosella... apa restoran ini adalah langganan Anda saat
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Memilikimu Sebelum Berpisah

    Sabiya menatap wajah Roman lekat-lekat. Pria yang biasanya berdiri dengan angkuh itu kini tampak diliputi kecemasan. Bahkan, cengkeraman Roman pada kruk terasa begitu kaku.Entah mengapa hatinya mendadak ikut gelisah. Maka, Sabiya akhirnya memenuhi permintaan Roman."Baiklah... kita pulang sekarang," ucap Sabiya akhirnya, memutuskan untuk menepis segala egonya.Ia segera berbalik dan menghampiri Jetro yang sudah sampai di mejanya. Dengan tatapan penuh permohonan, Sabiya berpamitan."Kak Jetro, maaf, aku harus pulang lebih dulu bersama Roman dan anak-anak. Kabari aku jika kau sudah sampai di Monella.”Jetro menatap Sabiya sejenak. Pria itu melirik sekilas ke arah Roman yang berdiri dengan wajah muram di ujung ruangan, lalu mengangguk maklum."Pergilah, Sabiya. Jaga dirimu."Sementara itu, dari sudut lain di dalam ballroom, Dominic Sterling berdiri menyandarkan punggungnya pada pilar marmer. Sambil menyesap minuman, ia mengamati kepergian Sabiya dan Roman yang tampak tergesa-gesa mening

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Di Antara Dua Pilihan Sulit

    "Tuan Roman, ada hal penting yang harus saya sampaikan," bisik Dante.Menangkap adanya getar kecemasan dalam suara Dante, insting Roman langsung waspada. Ia yakin tangan kanannya itu baru saja mendapatkan kabar yang kurang menyenangkan.“Katakan, Dante. Siapa yang berani menggangguku di tengah pesta?”Dante kemudian menunjukkan layar ponselnya. "Ada surel darurat masuk ke sistem keamanan kantor pusat Valeriano Corp. Si pengirim memberikan pesan untuk Anda, dan melampirkan tiga buah foto."Roman menunduk, menatap layar ponsel yang disodorkan asisten setianya itu.Seketika, manik abu-abunya melebar. Di dalam surel tersebut, tertera sebuah pesan yang sangat provokatif dan sarat akan ejekan.[Ibumu ada di tanganku. Jika kau masih ingin melihatnya bernapas, datanglah segera ke kota Lisea. Waktumu tidak banyak, Roman Valeriano]Seluruh darah di tubuh Roman seolah tersedot habis dalam satu detik, usai ia membaca pesan tersebut.Pandangannya lantas turun untuk memeriksa tiga bukti visual yang

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Dansa Perpisahan

    Sabiya mematung di tempat. Pipinya seketika merona merah di bawah pendar lampu kristal ballroom. Bagaimana tidak. Seluruh pasang mata para elit sosial kota Denver, para kolega bisnis, serta rekan kerjanya di Elegance Jewelry kini tertuju kepadanya.Ingin sekali Sabiya membalikkan badan, lalu bersembunyi di balik dinding yang tebal. Namun, semua itu terlambat.Sang pembawa acara sudah terlanjur mengumandangkan namanya lewat mikrofon.Di samping Sabiya, Ares bersorak riang gembira sambil melompat-lompat kecil. Bocah itu menyenggol lengan ibunya dengan riang. "Mama dipanggil ke depan! Ayo maju, Ma!"Altair yang biasanya tenang, ikut menimpali dengan senyuman kecil di bibirnya. "Paman Roman mau memberikan buket bunga itu kepada Mama."Didorong oleh tatapan penuh desakan dari ratusan pasang mata di sekelilingnya, Sabiya terpaksa melangkah maju. "Baiklah, para tamu undangan yang terhormat! Mari kita sambut wanita beruntung malam ini, Nona Rosella!" seru sang MC meriah. "Silakan, Tuan Rom

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Lamaran di Tengah Pesta

    Sebelum Sabiya sempat merangkai kata untuk menolak, terdengar bunyi derak kursi roda yang mendekat. Kemudian, sebuah suara bariton yang berat menyapa Nyonya Vivian di meja kehormatan."Selamat malam, Nyonya Vivian. Saya Roman Valeriano," ucap sebuah suara dingin yang sarat akan otoritas mutlak.Semua mata di meja tersebut menoleh. Di sana, didorong di atas kursi roda oleh Dante, Roman mendekat dengan tubuh tegak. Wajah tampannya memancarkan aura dominasi yang membuat siapa pun segan.Roman meminta Dante menghentikan kursi rodanya tepat di samping Sabiya, untuk memisahkannya dari Dominic. Setelah meminta sang asisten menjauh, tanpa ragu Roman menatap Nyonya Vivian dengan senyuman sopan.“Oh, Tuan Valeriano. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu Anda secara langsung,” jawab Nyonya Vivian dengan hangat. “Terima kasih karena Anda bersedia datang jauh-jauh dari Aldena untuk memenuhi undangan kami.”"Saya sudah berada di Denver dari minggu lalu, Nyonya Vance. Saya dirawat di rumah sakit s

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Di Antara Tiga Pria

    Begitu mobil mewah Jetro bergerak membelah jalanan malam kota Denver, keheningan sempat menyelimuti kabin. Suasana di dalam mobil terasa penuh akan emosi yang tertahan.Seolah mampu membaca setiap gelisah dan isi kepala wanita di sampingnya, Jetro menolehkan kepala."Sabiya, katakan saja apa yang ingin kau katakan,” tutur Jetro. “Apa kau masih ingin bertanya kenapa aku mengundang Roman ke Monella dan membuatnya babak belur?"Mendengar pertanyaan yang terkesan membuka luka lama itu, Sabiya menggeleng pelan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab."Masalah itu sudah berlalu, Kak. Aku tahu... kau melakukan semua itu demi aku. Kau hanya ingin memastikan bahwa Roman benar-benar menyesali segala perbuatannya di masa lalu."Jetro tidak langsung merespons. Pria itu membiarkan deru mesin mobil mengisi keheningan, sebelum kembali bersuara dengan nada yang lebih berat."Kau membiarkan Roman tinggal di apartemenmu bersama anak-anak... apa kau benar-benar yakin akan bersamanya lagi?" tanya

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berebut Pasangan

    Di dalam salon eksklusif, Sabiya duduk nyaman di depan cermin besar, sementara seorang penata rambut profesional sedang menata helai rambut panjangnya menjadi gaya French twist modern.Sedari tadi, Roman dengan setia duduk menemani di atas sofa beludru. Pria itu menatap lurus ke arah cermin, tak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari sosok Sabiya.Ketika Sabiya akhirnya berdiri dari kursi rias, Roman terpaku. Gaun malam dengan warna midnight blue itu membalut tubuh Sabiya dengan sempurna."Kau... sangat cantik, Sabiya," puji Roman. Ia bangkit perlahan dengan bantuan kruknya, lalu merangkul bahu Sabiya. Melihat Roman menempel padanya, pipi Sabiya merona merah. Lekas saja, ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya untuk mengalihkan perhatian."Roman, kita harus segera pulang. Ini sudah jam empat sore,” tutur Sabiya sedikit cemas. “Anak-anak pasti sudah pulang dari kebun binatang."Benar saja. Setibanya mereka di unit apartemen, si kembar sudah berada di ruang tengah bersama Bi

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berlari untuk Wanita Lain

    Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menginginkan Tubuhmu

    Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Bantu Aku, Paman

    Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghilang dari Hidupmu

    Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status