Share

Bab 2

Author: Mugi
Aku kembali ke rumah yang kutinggali dengan Welly.

Baru saja meletakkan tas dan hendak menyalakan lampu, sebuah bayangan tiba-tiba melompat ke punggungku. "Kak Welly, kamu sudah pulang?"

Aku yang baru keluar dari rumah sakit, tidak sanggup menahan beban itu dan langsung jatuh tersungkur ke lantai.

Sambil merintih menahan sakit, aku mendorong orang itu menjauh dan berkata, "Siapa kamu?"

Kendal berdiri dan menyalakan lampu. Dia lalu menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut yang berlebihan. "Aduh, maaf sekali, aku kira Kak Welly tadi ...."

"Apa kamu ... Kak Ziana? Tapi Kak Welly bilang Kakak nggak akan pulang ...."

Ukuran tubuhku dan Welly sangat jauh berbeda, siapa pun yang punya mata pasti tidak akan salah lihat.

Sambil menahan sakit di pinggang, aku berdiri dan memperhatikannya dengan tatapan tidak senang. Lalu berkata, "Kenapa kamu ada di sini?"

Rambut Kendal masih basah, dia hanya mengenakan kemeja putih longgar yang panjangnya hanya menutupi pangkal paha. Kedua kakinya yang jenjang dan mulus terpampang nyata, terlihat sangat menggoda.

Aku ingat kemeja itu. Itu kemeja yang kuberikan pada Welly saat kami baru berpacaran. Di kancing lengannya bahkan ada inisial nama kami berdua.

Mata Kendal seketika memerah. Sambil meremas telapak tangannya sendiri, dia tiba-tiba menarik tanganku dan menamparkan ke wajahnya sendiri.

Aku mematung di tempat, belum sempat bereaksi ketika pintu terbuka dan Welly masuk, lalu langsung mendorongku menjauh.

Welly pasang badan melindungi Kendal, lalu membentakku, "Ziana, kenapa kamu menamparnya?!"

"Kendal cuma salah orang, apa perlu sampai begini?"

Welly lalu berbalik, mengusap bekas merah di wajah Kendal dengan penuh rasa iba, sambil menyalahkannya kenapa tidak menghindar.

Telapak tanganku terasa kesemutan, rasa sakit di pinggangku semakin menjadi, dan hidungku terasa perih. Aku merasa seperti orang asing di sini.

"Welly, apa kamu nggak mau menjelaskan sesuatu? Kenapa dia ada di sini?"

Rumah ini aku yang membelinya untuk Welly, agar dia bisa fokus merintis usahanya tanpa rasa khawatir.

Sekarang, dia justru membawa wanita lain ke sini.

Wajah Welly sempat memperlihatkan sedikit rasa bersalah, tetapi segera tertutup oleh ekspresi tidak sabar.

"Kendal ditipu oleh pemilik kontrakannya. Setelah pulang dinas dia nggak punya tempat tinggal, jadi aku sebagai atasannya menampungnya semalam."

"Sayang, rumah kita ‘kan luas, ini cuma masalah sepele."

Aku melangkah maju, ingin melihat lebih jelas wajah munafik yang menjijikkan itu. Namun, Kendal justru mundur ketakutan, sambil melambai-lambaikan tangan memohon agar aku tidak memukulnya lagi.

"Kak Welly, aku pergi sekarang saja. Kak Ziana jangan marah ya, aku bisa tidur di kolong jembatan, Kakak nggak perlu memikirkanku."

Welly merangkul Kendal, kata-katanya penuh dengan nada dingin dan amarah padaku, "Siapa yang salah harus menanggung akibatnya. Minta maaf pada Kendal!"

"Ziana, nggak semua orang terlahir kaya sepertimu, yang sejak kecil nggak tahu susahnya hidup. Anak orang miskin seperti kami, mungkin kekurangan harta, tapi kami punya harga diri. Jangan harap kamu bisa menginjak-injak martabat kami sesukamu!"

Setelah selesai berbicara, dia membimbing Kendal ke ruang tamu untuk mengobati wajahnya.

Benar-benar ahli dalam mengadu domba status sosial.

Padahal dari awal, aku hanya bertanya kenapa dia bisa ada di rumahku.

Sudahlah, tidak penting lagi.

Rumah ini dan pemiliknya tidak akan lagi punya urusan denganku.

Pinggangku terasa seperti akan patah. Aku bersandar di lemari sepatu, bernapas pendek untuk meredakan nyeri. Pandanganku jatuh pada kantong belanjaan yang dibawa Welly tadi.

Dari Restoran Quizine, tempat favoritku.

Dia meninggalkan Kendal sendirian di rumah hanya untuk pergi sendiri membeli makanan dari sana.

Dulu, setiap kali aku ingin makan itu, dia kalau tidak memesan lewat aplikasi, pasti menyuruh asistennya. Sekarang untuk Kendal, dia sungguh berdedikasi.

Jika aku tidak pulang, malam ini pasti akan menjadi malam yang sangat romantis bagi mereka.

Ponselku berdering. Mama mengabarkan bahwa Keluarga Rosvi sangat senang mendengar aku menyetujui perjodohan itu. Mereka bahkan mengusulkan pernikahan diadakan bulan depan, katanya karena sudah menerima "hadiah" dariku.

Hadiah?

Kami semua cukup bingung, jadi Mama menanyakan pendapatku.

Aku tidak memusingkan hal itu terlalu lama. Aku mendongak dan tanpa ragu menyetujuinya.

Bagus sekali. Semakin cepat pernikahannya, semakin baik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Kecelakaan, Aku Menikahi Pria Terkaya   Bab 9

    Aku dan Alex ternyata sangat cocok dalam segala hal. Setelah saling menyatakan perasaan, hubungan emosional maupun fisik kami berkembang sangat pesat. Esok adalah hari pernikahan kami. Malam ini, kami mengadakan pesta melepas masa lajang masing-masing.Alex berpesan dengan cemas, "Kalau ada apa-apa, segera telepon aku."Aku tertawa dan berkata, "Memang akan ada masalah apa? Pergilah bersenang-senang."Agar semua orang bisa menikmati pesta, aku hanya menyuruh pengawal berjaga di luar.Namun, aku tidak menyangka Welly akan menyelinap masuk ke pestaku.Di pertengahan pesta, saat semua orang mulai mabuk, aku pun merasa lemas. Seseorang menyodorkan segelas air. Aku mengira itu temanku, jadi aku meminumnya beberapa teguk.Tak lama kemudian, kepalaku terasa berat dan aku pun pingsan sepenuhnya.Saat membuka mata, aku melihat wajah menjijikkan Welly."Kamu gila! Beraninya kamu menculikku! Alex nggak akan melepaskanmu!"Aku bicara dengan sisa tenaga yang ada, lalu aku melihat Kendal tertawa s

  • Setelah Kecelakaan, Aku Menikahi Pria Terkaya   Bab 8

    Ciuman ini terasa sangat posesif dan lama. Baru setelah aku merasa hampir kehabisan napas, Alex melepaskanku. Welly gemetar karena amarah.Alex melangkah mendekati Welly dengan penuh tekanan dan berkata, "Sepertinya bisnis Perusahaan Warha belakangan ini masih terlalu lancar, sampai Pak Welly punya waktu luang untuk mempertanyakan perasaan kami sebagai tunangan."Welly menatapnya dengan tatapan benci sekaligus takut. "Pak Alex, apa hebatnya membawa urusan bisnis ke dalam perasaan? Kalau berani, ayo kita bersaing secara adil!""Ziana, kamu nggak perlu takut. Aku hanya sedang jatuh di dunia bisnis. Beri aku waktu, aku akan kembali ke puncak dan memberimu kehidupan yang kamu inginkan."Aku menatap album foto itu tanpa menyahut. Hal itu membuat Welly semakin besar kepala dan berkata, "Pak Alex, apa gunanya bisnismu sukses? Apa gunanya menjadi orang terkaya? Kamu nggak akan pernah bisa mendapatkan hati Ziana. Ikatan perasaan di antara kami nggak bisa dibandingkan dengan apa pun!"Alex me

  • Setelah Kecelakaan, Aku Menikahi Pria Terkaya   Bab 7

    (Sudut Pandang Tokoh Utama)Saat pertama kali melihat Alex, aku memang merasa dia tampak sangat familiar.Begitu pandanganku jatuh pada jam tangan di pergelangan tangannya, barulah sebuah dugaan muncul di benakku. Aku berkata, "Kamu orang asing di jalan waktu itu?"Sadar aku masih merangkul lengannya, aku segera menarik tanganku. Kilatan kekecewaan melintas di wajahnya, lalu dia mengangguk pelan."Aku sangat suka jam tangan ini." "Hanya saja, mantan pacarmu sepertinya nggak akan menyerah semudah itu. Perlu bantuanku?"Aku menggeleng dan berkata, "Aku akan menyelesaikannya sendiri, hal ini nggak akan mengganggu perjodohan kita."Aku menunjuk ke arah perhiasan-perhiasan itu. "Semua ini terlalu berharga. Jam tangan yang kuberikan padamu mungkin nggak ada apa-apanya dibanding harga perhiasan ini. Sebaiknya kamu ambil kembali saja." Lagi pula, jam tangan itu kuberikan padanya secara tidak sengaja."Bulan depan kita akan menikah. Istri Alex layak mendapatkannya." "Simpan saja dengan tenan

  • Setelah Kecelakaan, Aku Menikahi Pria Terkaya   Bab 6

    (Sudut Pandang Orang Ketiga)Hingga tiba di rumah, Welly masih tidak mau percaya bahwa Ziana benar-benar akan menikah dengan orang lain. Apalagi orang itu adalah putra kedua Keluarga Rosvi, calon penguasa Perusahaan Rosvi di masa depan.Welly teringat betapa dominannya dia di depan Ziana dulu. Ziana selalu mencintainya dengan tulus, dan semua orang di sekitarnya menjadi saksi atas hal itu. Namun, tatapan dingin dan acuh tak acuh Ziana di toko tadi, terasa seperti bongkahan es yang menyumpal mulutnya. Sangat asing.Welly mulai menggeledah rumahnya dengan kalut, tapi dia menyadari keadaan rumah masih sama seperti sebelumnya. 'Ziana pasti hanya sedang merajuk dan menunggu untuk dibujuk,' pikirnya. Namun, Ziana adalah seorang nona besar yang tidak pernah mementingkan harta benda, dan kejadian hari ini sama sekali tidak terlihat seperti akting.Welly mengurung diri di ruang kerja dengan pikiran yang kacau. Dalam kemarahannya itu, dia menendang tempat sampah hingga terguling. Dari dalam

  • Setelah Kecelakaan, Aku Menikahi Pria Terkaya   Bab 5

    Suara itu terdengar rendah dan berwibawa. Para pelayan toko yang sedari tadi berisik, seketika terdiam dan membelah jalan. Mereka memberikan ruang bagi pria itu sambil membungkuk hormat. "Selamat datang, Tuan Muda!"Aku mendongak. Seorang pria tampan dengan tubuh tegap dan tinggi sedang berjalan ke arahku. Alisnya tajam, matanya bak bintang, dengan fitur wajah yang tegas dan dalam. Seluruh tubuhnya memancarkan aura dominan yang tak tertandingi.Tanpa basa-basi, dia melayangkan satu pukulan keras tepat ke wajah Welly. Setelah itu, dia berbalik dengan gerakan gesit, berdiri di sampingku, lalu menyeka tangannya dengan sapu tangan."Maaf, aku terlambat."Dia adalah pria yang dijodohkan denganku, Alex.Pria itu menjentikkan jarinya dan seketika para staf toko berbaris di hadapanku membawa baki-baki perhiasan. Kilauan berliannya nyaris membuat mataku silau.Kendal sedang memegangi Welly dan berteriak tidak terima, "Kamu pria gila! Beraninya kamu memukul Kak Welly! Apa kamu tahu siapa dia?"N

  • Setelah Kecelakaan, Aku Menikahi Pria Terkaya   Bab 4

    Aku belum pernah melihat Welly semarah ini. Urat-urat di lehernya menonjol, matanya merah padam seperti binatang buas yang terpojok."Minta maaf! Aku bilang, minta maaf padanya!"Aku meraba punggungku, tanganku terasa basah. Ternyata benturan tadi membuatku berdarah."Aku nggak berniat ...."Welly memotong ucapanku. Dia sama sekali tidak memedulikan lukaku dan terus memaksaku meminta maaf. Kendal yang berada di belakangnya melemparkan senyum licik ke arahku.Aku merasa seolah seluruh tenagaku telah terkuras habis, hanya menyisakan raga yang hancur berantakan. Jiwaku terasa mati rasa dan konyol saat mengikuti perintah yang sia-sia itu. Aku berkata, "Kendal, maafkan aku."Welly mendengus dingin, lalu menggendong Kendal pergi.Aku menatap album foto buatanku. Seandainya saja Welly mau melirik sedikit saja, mustahil dia tidak melihatnya. Namun sudahlah, benda ini tidak perlu dibawa pergi. Aku membuang album itu beserta sebuah flashdisk ke dalam tempat sampah....Ketika tengah malam.W

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status