ログインHai, apa sudah ada yang baca cerita ini? komen yuk, biar author semangat melanjutkannya. 🙏😁😁
"Pak Rey?" Anara meringis, seolah tidak ada niat jahat. "Aku hanya ingin memberikan pijat plus plus, apa Pak Rey keberatan?" Rey menepis tangan Anara, lalu menurunkan kakinya. Anara tetap duduk, dengan gaya yang sedikit sensual. Dia sengaja menurunkan tali kecil piyamanya di pundak. Jika lelaki normal harusnya tertarik dengan itu. Sayangnya sikap Rey tak acuh. "Besok Kakek mau kamu ikut. Kita harus menginap di rumahnya, sehari. Jadi siapkan keperluan Zavi." "Besok?" Anara terkejut. Dia benarkan lagi tali piyama yang merosot lalu turun dari kasur. "Tapi kan Zavi sekolah, Pak Rey?" Anara sengaja mencari-cari alasan, dasarnya dia tidak mau ketemu dengan Erwin. Dia takut dengan kakek tua yang punya wajah dan tatapan galak. Meski belum pernah bertemu, tapi melihat dari foto saja sudah membuat nyali Anara menciut. "Pulang sekolah. Kita nginepnya weekend." Rey tidak mau dengar alasan Anara, setelah dipijat dia ingin keluar dari kamar Anara, tidak diduga di depan pintu ada si kecil yan
"Anara," panggil Rey yang masih terdengar. Anara mendekatkan telinganya ke smartwatch. "Ya, ada apa Pak Rey?" "Apa Zavi tertidur?" "Benar, Pak Rey. Aku akan pindahkan dia dulu. Permisi, aku tutup teleponnya," izin Anara yang buru-buru menutup panggilan lalu menghela napas dalam-dalam. Setelah menutup telepon Anara membawa Zavi masuk ke kamar dengan menggendongnya. Berat badan Zavi lumayan bertambah, jadi Anara sedikit kewalahan. Perutnya terasa kram mendadak, dia pun duduk di tepi ranjang terlebih dulu. Awalnya Anara tidak memikirkan apa pun, namun saat melihat kalender kecil di kamar Zavi dia merasa teringat sesuatu ... dia sudah dua kali tidak datang bulan, akhir-akhir ini sering pusing dan mual. Mungkin kah dia...? Anara menggeleng cepat, dia terus menyangkal pikirkannya yang menebak jika apa yang dia rasakan sekarang karena hormon kehamilan. Tidak, dia tidak mungkin hamil, waktu itu pakai alat kontrasepsi! Tapi jika hamil sungguhan bagaimana? Memikirkannya membuat Anara pa
Dea melempar ucapannya ke Rey, berharap lelaki itu akan ikut menyudutkan dan mencibir Anara. Anara lebih cepat membalas sebelum Rey menyahuti ucapan Dea. "Kak Dea tahu saja, yang pasti bukan om-om sembarangan, ya. Om yang ini memang sangat dermawan dan baik hati. Apa Kak Dea juga mau kukenalkan?" balasnya berani. Dea berdecih, tatapan tidak suka dan jijiknya begitu jelas. Kadang Anara juga gereget ingin mencongkel lirikan sinisnya, tapi dia mencoba sabar karena tahu Dea dekat dengan Rey. Bagaimana pun, Rey bilang dia tidak boleh mencampuri urusannya kalau mau tetap aman sejahtera. "Tidak perlu! Kamu pikir saya murahan," jawab Dea penuh sindiran, namun Anara tidak tersinggung. Dia memilih pamit dan pergi dengan angkuh. "Oke, tidak masalah." Anara melirik Rey sekilas, kemudian dia pamit pulang untuk menjemput Zavi. Setelah Anara melangkah Dea kembali mengobrol dengan Rey. "Setelah ini mau balik ke hotel atau pulang?" "Ke hotel." Anara mencuri dengar, telinganya berfungs
Zavi selalu sensitif jika ada lelaki lain yang mendekati Anara, jelas anak itu takut sampai ada yang membawa pergi Anara. Meski kecil, Zavi tahu untuk menahan Anara harus menjadikan Anara keluarganya. Makanya anak itu ngebet ingin ayahnya segera menikahi Anara. Gerakan Erik terhenti, Anara juga menepis pelan tangan lelaki itu. Dia pamit ke toilet karena perutnya tidak nyaman. *** Anara merapikan berkas-berkas yang harus dia persiapkan setelah akhirnya menyetujui pernikahannya dengan Rey. Tidak akan ada pesta. Tidak pula kemeriahan yang layak disebut perayaan. Namun keputusannya sudah bulat, sebuah langkah yang dia tahu akan mengubah hidupnya selamanya. Sejenak Anara terdiam. Entah sejak kapan, semakin dewasa justru membuatnya merasa semakin kehilangan arah. Dia tidak mengenal cinta, dia tidak paham seperti apa ketulusan itu seharusnya. Satu hal yang dia yakini sekarang hanyalah kenyataan bahwa hidup tidak pernah mudah. Dan untuk membuatnya terasa sedikit lebih ringan, dia membut
"A--pa?" Anara sampai kehabisan kata-kata. Dia hanya tidak menyangka keingian Rey sangat jauh dari ekspektasinya. Rival? Kok, Rival? Minimal kalau tidak dinikahi, bukankah harusnya teman ranjang? "Kamu kaget atau pura-pura kaget?" Rey masih saja bersikap santai, seolah apa yang dia katakan bukan sesuatu yang aneh. Malahan sesuatu yang Anara tunggu sebelumnya. Anara masih terbengong dengan wajahnya yang kaku dan syok. "Bu--bukan begitu ... Maksud Pak Rey ingin jadikan aku wanita simpanan atau bagaimana?" Kali ini Anara juga bicara langsung pada intinya. Anara terlalu serius menanggapi. Rey tertawa, tawa yang terdengar seperti ejekkan. "Mungkin mirip itu." Anara menunduk, dia tampak berpikir keras dan mempertimbangkan. Jadi wanita simpanan juga tidak masalah asal Rey benar-benar bisa membantunya dan memberinya keuntungan. Toh, sekarang Anara bukan gadis suci. Tapi jujur, kalau boleh berharap, Anara ingin hidup normal dan berharga. Pikiran Anara terus beperang antara log
Hoeeek! Hoeeek! Anara mual, dia menekan isi perutnya yang terasa diaduk-aduk namun tidak ada yang keluar, selain cairan berwarna kekuningan. Dia belum sarapan pagi tadi, wajar jika muntah pun tidak ada isinya. Anara pikir dia masuk angin, atau pusing karena perutnya kosong. Setelah mencuci muka dan keluar dari toilet bergegas dia keluar dari rumah sakit ingin membeli makanan. Namun, langkahnya terhenti saat ibunya yang juga berada di rumah sakit itu berdiri di depan ruang ICU tempat Lila dirawat. Tidak hanya sendiri, Salma justru sedang dipojokan oleh Henry yang entah dari mana datangnya mereka bisa bertemu. "Oh, jadi putrimu yang tidak jelas siapa ayahnya itu sedang sekarat ya?" Ucapan Henry sangat pedas. "Jaga mulutmu! Lula pasti akan sembuh!" Salma tidak terima putri bungsunya dikatai begitu oleh Henry. Meski benar, Lula terlahir tanpa tahu siapa ayahnya, Salma sendiri bingung lelaki mana yang menanamkan benih di rahimnya, dia tetap tidak terima Lula dipandang rendah. Apala







