ログインLima belas menit kemudian, pintu ruangan terbuka. Gina melangkah masuk. Wanita itu mencondongkan tubuh, berbisik singkat di telinga Reyhan, lalu mundur dengan sopan.Reyhan beranjak dari duduknya. "Han, aku ada urusan. Nggak bisa antar kamu pulang."Hana mengerucutkan bibir, meski akhirnya mengangguk. "Ngerti."Ia tidak bertanya lebih jauh. Sudah cukup lama ia mengenal Reyhan untuk tahu kalau tidak semua urusan pria itu bisa ia campuri.Tanpa merendahkan suaranya, Reyhan menoleh pada asistennya, tepat di depan Hana. "Gina, tolong antar dia pulang. Pastikan selamat sampai rumah.""Baik, Tuan."Hana masih menekuk wajahnya. Tiba-tiba, Reyhan meraih ponselnya dari atas meja. Jemarinya bergerak cepat di atas layar. Beberapa detik kemudian, ia memasukkan ponselnya kedalam saku jaketnya."Buat kebutuhan kamu. Jangan protes," ujar pria itu.Hana melirik layar ponselnya sendiri yang baru saja menyala. Sebuah notifikasi dari aplikasi B-mobile muncul. Matanya seketika membelalak."Rey, ini gila
"Kenapa berhenti?" protes Hana di sela napasnya.Mendengar itu Reyhan melanjutkan gerakannya. Bermula dari ritme lambat yang menyiksa, lalu berangsur memburu dan menukik lebih dalam. Hana meresapi setiap gesekan yang tercipta, mengimbangi ayunan pinggul pria di atasnya. Bunyi decit sofa menjadi latar musik yang mengiringi penyatuan dua tubuh yang selama ini saling mendamba.Tautan bibir mereka nyaris tak pernah terlepas. Sambil terus bergerak, lidah mereka saling membelit liar. Tangan Reyhan bergerilya merengkuh pinggang, meremas dada, hingga menyentuh titik sensitif di bawah sana, memicu ledakan gairah yang membuat kewarasan Hana nyaris hilang."Rey... aku...""Aku tahu. Barengan, Han."Puncak itu menjemput mereka nyaris di waktu yang sama. Tubuh Hana menegang hebat untuk kedua kalinya, disusul erangan parau Reyhan yang melepaskan seluruh benih hangatnya jauh di dalam rahim Hana.Keduanya ambruk lemas. Deru napas mereka berbaur menjadi satu di udara yang terasa memanas. Keringat me
Mendengar erangan tertahan itu, Reyhan menghentikan sejenak agresi bibirnya. Ia menatap wajah Hana yang memerah dengan napas tersengal. Kedua tangannya masih bertumpu pada pinggul wanita itu, meremas perlahan, merengkuh setiap lekuk tubuh yang bersembunyi di balik sisa pakaian yang sudah berantakan."Kenapa?" suara Reyhan terdengar parau."Aku... nggak nyangka," bisik Hana akhirnya, suaranya sedikit bergetar. "Kamu... selama ini juga mikirin aku?""Setiap malam." Balasan Reyhan meluncur tanpa keraguan. Sorot matanya mengunci pandangan Hana. "Rasanya nyaris gila menahan diri selama ini."Sensasi hangat seketika meletup di perut Hana. Gugup itu menguap, digantikan oleh hasrat terpendam yang kini meronta, menuntut pelampiasan."Sekarang, kamu nggak perlu nahan diri lagi," bisiknya lirih. Jemari lentiknya memberanikan diri menyentuh wajah Reyhan, mengusap rahangnya yang kokoh, sebelum mendarat tepat di bibir pria itu.Reyhan menangkap jemari itu dan mengecupnya lembut. Sedetik kemudian, t
Wajah mereka berada dalam jarak yang sangat intens. Begitu dekat hingga Hana bisa merasakan embusan napas Reyhan yang sedikit memburu menerpa kulit wajahnya. Aroma maskulin dari pemuda itu langsung menginvasi indra penciumannya, membuat jantung Hana berdegup gila-gilaan."Kamu ragu uang yang aku dapat nggak bersih?" bisik Reyhan serak, suaranya terdengar sangat dalam. Mata tajam Reyhan menatap lurus ke dalam manik mata Hana. Di balik tatapan yang mengintimidasi itu, Hana bisa melihat kilat kekecewaan, amarah, sekaligus hasrat yang tertahan. "Aku nggak meragukanmu, Rey... aku cuma takut," bisik Hana dengan suara yang mulai serak. Ia mencoba menahan diri agar tidak terhanyut terlalu dalam ke dalam pesona pemuda itu, meski hatinya berteriak sebaliknya. "Aku takut kamu berubah jadi orang lain yang nggak bisa lagi aku kenali. Aku sayang sama kamu, dan aku cuma mau kamu tetap jadi Reyhan yang aku kenal..."Pengakuan jujur itu justru memicu sesuatu di dalam diri Reyhan. Rasa kecewa yang ta
"Cukup!" seru Jason dari samping Rania."Cukup? Kita masih jauh dari kata selesai," balas Reyhan datar. Ujung pisau itu kini mengarah lurus, mengancam akan memotong jari kelingking Wisnu.Seseorang dari kubu Wisnu mencoba bergerak menyerang, namun terlambat. Tepat sebelum bilah tajam itu menyentuh targetnya, sebelah tangan kekar mencengkeram erat pergelangan tangan Reyhan."Kekuatan di belakang Wisnu bukan sesuatu yang bisa Anda lawan sembarangan. Dan Nona Rania tidak akan membiarkan Anda memotong jarinya di sini," bisik Jason. Pria itu sebenarnya tidak peduli pada nasib Wisnu. Ia hanya tidak ingin melihat pemuda bernyali gila seperti Reyhan harus mati konyol diburu oleh keluarga besar pemuda tersebut.Reyhan hanya tersenyum tipis. Ia membuka genggamannya, membiarkan pisau itu terlepas sesuai dengan perhitungannya. Bilahnya yang luar biasa tajam sempat menggores kelingking kiri Wisnu saat terjatuh, membuat darah segar kembali menetes."Argh!" Wisnu menjerit kesakitan.Jason tersenta
Wisnu berhenti di ambang pintu. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Reyhan dengan tatapan heran bercampur geli. "Kenapa? Kamu mau sujud minta maaf? Boleh juga, mumpung ada yang melindungi kamu."Reyhan berjalan maju melewati Rania, berhenti tepat dalam jarak dua langkah dari Wisnu. "Tidak," jawab Reyhan dingin. Tatapannya menajam layaknya srigala. Ia menunjuk ke arah Hendra yang bersandar di sofa dengan wajah memar dan sudut bibir yang masih meneteskan darah. "Temanku, babak belur gara-gara kelakuan anjing-anjingmu. Jadi, pilihannya malam ini hanya ada dua. Kamu menanggung rasa sakit yang sama persis seperti temanku, atau... kamu tinggalkan satu jari kelingkingmu di atas meja itu sebelum keluar dari ruangan ini."Pernyataan tersebut ibarat bom yang baru saja meledak. Semua orang di ruangan itu melotot tidak percaya. Wisnu sendiri mematung, menatap Reyhan tidak percaya sekaligus penasaran. Ia benar-benar tidak habis pikir dari mana pemuda tanpa identitas ini mendapatkan nyali sebe







