LOGIN"Cukup!" seru Jason dari samping Rania.
"Cukup? Kita masih jauh dari kata selesai," balas Reyhan datar. Ujung pisau itu kini mengarah lurus, mengancam akan memotong jari kelingking Wisnu. Seseorang dari kubu Wisnu mencoba bergerak menyerang, namun terlambat. Tepat sebelum bilah tajam itu menyentuh targetnya, sebelah tangan kekar mencengkeram erat pergelangan tangan Reyhan. "Kekuatan di belakang Wisnu bukan sesuatu yang bisa Anda lawan sembarangan. Dan Nona Rania tidak akan membiarkan Anda memotong jarinya di sini," bisik Jason. Pria itu sebenarnya tidak peduli pada nasib Wisnu. Ia hanya tidak ingin melihat pemuda bernyali gila seperti Reyhan harus mati konyol diburu oleh keluarga besar pemuda tersebut. Reyhan hanya tersenyum tipis. Ia membuka genggamannya, membiarkan pisau itu terlepas sesuai dengan perhitungannya. Bilahnya yang luar biasa tajam sempat menggores kelingking kiri Wisnu saat terjatuh, membuat darah segar kembali menetes. "Argh!" Wisnu menjerit kesakitan. Jason tersentak kaget. Namun, sebelum ia bisa memproses tindakan nekat tersebut, ia menunduk dan melihat ujung sepatu kulit Reyhan sudah menginjak dan menggilas kelingking Wisnu yang terluka itu tanpa ampun. "Cukup," putus Rania tegas. Jason segera menyingkirkan pisau berdarah itu dari lantai, khawatir Reyhan akan kembali bertindak di luar kendali. "Sana bawa pergi sampah ini," usir Reyhan dingin. Ia menatap jijik ke arah Wisnu yang merintih kesakitan di lantai, lalu perlahan mengangkat kakinya. Tidak berani bertaruh nyawa lebih lama, para pengawal Wisnu buru-buru memapah tubuh bos mereka dan membawanya lari keluar dari ruangan VVIP tersebut. Suasana yang tadinya pekat oleh aura membunuh kini berubah sunyi senyap. "Tuan, jika Anda berkenan, pihak Elara akan memberikan kompensasi perawatan yang setimpal," ucap Jason, patuh pada arahan tersirat atasannya. Para staf keamanan mulai membersihkan sisa kekacauan. Penonton yang tadinya berkerumun akhirnya membubarkan diri dengan kepala penuh spekulasi liar. Para pelanggan tetap di Club Elara sangat tahu reputasi Wisnu. Mereka benar-benar kehabisan akal memikirkan siapa sebenarnya pemuda yang berani membuat tuan muda arogan itu bertekuk lutut. "Hend, kamu mau minta ganti rugi apa nih?" tanya Reyhan sambil menyeringai tipis, merangkul leher sahabatnya santai. "Aduh, lepasin woy. Aku nggak mau apa-apa," protes Hendra seraya meringis, mencoba melepaskan rangkulan tersebut. "Denger sendiri, kan? Temenku nggak mau apa-apa. Tapi pastinya, kalau Nona Rania bisa bikin dia kelihatan sedikit lebih ganteng habis babak belur begini, aku bakal dukung penuh," goda Reyhan ke arah sang pemilik kelab, nada suaranya santai namun tetap terkesan mendominasi. "Setuju," jawab Rania cepat. Wanita anggun itu memutar tubuh dan langsung melangkah keluar dari ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Reyhan sedikit terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka wanita sedingin es itu akan merespons candaannya. "Saya Jason," ucap pria berotot itu seraya mengulurkan tangannya yang kasar. "Reyhan," balasnya, menyambut jabatan tangan pria tersebut mantap. "Mari," ajak Jason. Ia lalu membimbing Hendra untuk mengikutinya keluar demi mendapatkan perawatan medis. Reyhan duduk kembali di atas sofa, membiarkan Hendra pergi. Ia yakin Rania dan orang-orangnya tidak akan menyentuh sahabatnya. Dalam diam, ia memejamkan mata, kembali meresapi aliran tenaga dari Fase Inersia yang baru saja ia lepaskan. "Rey, soal yang tadi, aku..." Siska melangkah mendekat. Suaranya bergetar, nyaris tenggelam dalam heningnya ruangan. "Mending kamu pulang aja. Aku bakal anggap kejadian hari ini nggak pernah ada. Mulai sekarang, kita nggak usah saling kontak lagi," potong Reyhan datar. Matanya menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun sudi menoleh ke arah gadis itu. Siska membuka mulutnya, mencoba merangkai alasan, tetapi tidak ada satu kata pun yang sanggup ia keluarkan. Pengkhianatannya di saat krisis akibat takut mati telah menjadi kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Jauh di dalam sudut logikanya, Reyhan memahami insting bertahan hidup Siska. Itu murni sifat dasar manusia. Andai sistem tidak memberinya kekuatan, ia dan Hendra mungkin sudah kehilangan nyawa malam ini. Namun, kelakuan Siska yang mencoba mencuci tangan dan justru menyalahkan teman-temannya adalah hal yang pantang ia toleransi. Reyhan tidak membencinya, ia hanya membuang gadis itu dari hidupnya secara permanen. "Rey, sebenernya, Siska tadi tuh..." Hana mencoba menengahi dengan suara ragu. Reyhan langsung mengangkat sebelah tangannya, memberikan isyarat tegas agar gadis itu berhenti bicara. Melihat ketegasan di wajah pemuda itu, Hana akhirnya menutup rapat mulutnya. Ia duduk diam di sebelah Reyhan, meremas ibu jarinya gelisah, tenggelam dalam lautan penyesalannya sendiri. Reyhan merogoh saku celananya, menarik beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu melemparkannya ke atas meja kaca di hadapan Siska. "Ini buat ongkos taksi. Pulanglah," ucapnya datar tanpa nada. Siska menatap lembaran uang itu sejenak. Air matanya akhirnya luruh tak terbendung. Dengan tangan gemetar, ia mengambil uang tersebut, menunduk dalam, dan bergegas melangkah keluar dari ruangan tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun. Begitu pintu berdebum pelan menutup, Reyhan menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Hana. "Dan kamu, tetap di sini. Ada yang perlu kita bicarakan berdua." Namun, alih-alih duduk diam seperti sebelumnya, Hana justru bangkit. Ia melangkah mendekat, sengaja menempatkan dirinya tepat di hadapan Reyhan yang sedang duduk bersandar, seolah memojokkan pemuda itu. "Jawab aku jujur, Rey," desak Hana. Suaranya tertahan, namun menuntut. "Kamu sebenarnya punya bisnis apa? Gimana bisa kamu tiba-tiba sukses dan berubah sejauh ini dalam waktu singkat? Orang-orang seperti Rania dan pengawalnya yang mengerikan itu... mereka bahkan nggak berani sembarangan sama kamu. Kamu kerja apa di belakangku, Rey?" Rentetan pertanyaan itu membuat rahang Reyhan mengeras. Rasa kecewa karena gadis ini meragukannya kembali naik ke permukaan, berbaur hebat dengan sisa-sisa perasaan cinta yang selama ini mati-matian ia pendam. Emosinya mendadak mendidih. Dalam satu gerakan cepat yang sama sekali tidak terprediksi, Reyhan menarik sebelah lengan Hana. "Ah!" Hana kaget, kehilangan keseimbangan. Sebelum gadis itu menyadari apa yang terjadi, Reyhan sudah membalikkan posisi. Ia menekan punggung Hana ke sandaran sofa yang empuk, mengurungnya. Tubuh tegap pemuda itu kini menindih separuh tubuh Hana, mengunci pergerakannya dengan dominasi fisik yang tidak bisa dibantah."Cukup!" seru Jason dari samping Rania."Cukup? Kita masih jauh dari kata selesai," balas Reyhan datar. Ujung pisau itu kini mengarah lurus, mengancam akan memotong jari kelingking Wisnu.Seseorang dari kubu Wisnu mencoba bergerak menyerang, namun terlambat. Tepat sebelum bilah tajam itu menyentuh targetnya, sebelah tangan kekar mencengkeram erat pergelangan tangan Reyhan."Kekuatan di belakang Wisnu bukan sesuatu yang bisa Anda lawan sembarangan. Dan Nona Rania tidak akan membiarkan Anda memotong jarinya di sini," bisik Jason. Pria itu sebenarnya tidak peduli pada nasib Wisnu. Ia hanya tidak ingin melihat pemuda bernyali gila seperti Reyhan harus mati konyol diburu oleh keluarga besar pemuda tersebut.Reyhan hanya tersenyum tipis. Ia membuka genggamannya, membiarkan pisau itu terlepas sesuai dengan perhitungannya. Bilahnya yang luar biasa tajam sempat menggores kelingking kiri Wisnu saat terjatuh, membuat darah segar kembali menetes."Argh!" Wisnu menjerit kesakitan.Jason tersenta
Wisnu berhenti di ambang pintu. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Reyhan dengan tatapan heran bercampur geli. "Kenapa? Kamu mau sujud minta maaf? Boleh juga, mumpung ada yang melindungi kamu."Reyhan berjalan maju melewati Rania, berhenti tepat dalam jarak dua langkah dari Wisnu. "Tidak," jawab Reyhan dingin. Tatapannya menajam layaknya srigala. Ia menunjuk ke arah Hendra yang bersandar di sofa dengan wajah memar dan sudut bibir yang masih meneteskan darah. "Temanku, babak belur gara-gara kelakuan anjing-anjingmu. Jadi, pilihannya malam ini hanya ada dua. Kamu menanggung rasa sakit yang sama persis seperti temanku, atau... kamu tinggalkan satu jari kelingkingmu di atas meja itu sebelum keluar dari ruangan ini."Pernyataan tersebut ibarat bom yang baru saja meledak. Semua orang di ruangan itu melotot tidak percaya. Wisnu sendiri mematung, menatap Reyhan tidak percaya sekaligus penasaran. Ia benar-benar tidak habis pikir dari mana pemuda tanpa identitas ini mendapatkan nyali sebe
"Kalau aku tidak mau?" balas Reyhan. Ia menyentil abu rokoknya ke dalam asbak kristal dengan gerakan yang teramat santai, menantang balik ancaman maut Wisnu menggunakan sorot matanya yang tak kalah tajam."Haha, kamu yakin mau nolak?!" Wisnu terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat kalap dan membawa hawa kematian. "Kalau sampai aku nyuruh anak buahku yang turun tangan, resikonya nggak bakal sesederhana satu jari kelingking. Lebih baik kamu pikiran baik-baik sebelum memberikan jawaban terakhir."Bilah pisau yang menancap di atas meja kayu itu memantulkan kilau mengerikan. Hawa pembunuhan yang menguar dari Wisnu dan barisan pengawalnya membuat tekanan udara di dalam ruang VVIP tersebut terasa mencekik.Siska, yang sejak tadi meringkuk memeluk lututnya, sudah tidak sanggup lagi menahan rasa takutnya. Batas kewarasannya hancur. Gadis itu tiba-tiba bangkit berdiri dengan napas memburu. Wajahnya yang pucat pasi kini beralih menatap Reyhan dengan sorot mata bersalah."Reyhan! Kamu bener-ben
Tanpa berpikir dua kali, Reyhan menerjang masuk.Begitu masuk pemandangan di dalam ruangan sukses membuat darahnya mendidih. Hana tengah meronta di dalam dekapan seorang pria, bajunya terlihat ditarik kusut. Pemuda tidak dikenal itu menyeringai bodoh, aroma alkohol menguar begitu kuat dari tubuhnya. Di sudut lain, Siska meringkuk ketakutan sambil memeluk lutut di sudut sofa."Rey, tolongin aku!" jerit Hana putus asa begitu melihat kedatangan Reyhan. Ia memanggil nama pemuda itu layaknya satu-satunya tali penyelamat yang ia miliki.Tanpa sedikit pun keraguan, Reyhan melesat maju. Ia melayangkan satu tendangan telak ke arah pemuda mabuk tersebut. Tubuh pemuda itu terlempar ke belakang hingga mulutnya menghantam tepi meja marmer. Darah segar seketika mengucur membasahi dagunya.Begitu cengkeramannya terlepas, Hana langsung berlari dan bersembunyi di balik punggung Reyhan layaknya anak kecil yang ketakutan. Reyhan bisa merasakan jemari gadis itu gemetar hebat saat mencengkeram punggungnya
Tidak ada lagi yang berbicara. Reyhan kembali duduk di sudut sofa, sementara Hana masih berdiri di tempatnya. Melihat suasana semakin canggung, Siska akhirnya angkat bicara, berusaha membujuk sahabatnya. "Tuh, denger sendiri kan? Rey aja nyuruh santai. Udah, duduk lagi sini," paksa Siska seraya menarik Hana kembali ke atas sofa empuk tersebut. Reyhan memisahkan diri dan memilih duduk di sofa sudut. Pikirannya melayang. Sosok Hana pernah menjadi pusat semestanya semasa kuliah. Sebuah angan-angan indah yang ia simpan sangat dalam. Namun, seiring kerasnya hantaman realita, perasaan itu telah lama mati. Matinya harapan tersebut bukan karena ia mendadak menjadi miliarder, melainkan karena ia sudah terlalu paham bagaimana dunia menilai manusia dari isi dompetnya. "Lagi mikir apaan?" bisik Hana. Gadis itu tiba-tiba duduk di sebelah Reyhan, mengabaikan Siska yang sedang sibuk memegang mikrofon karaoke. "Nggak ada," jawab Reyhan pendek. "Rey, aku mau nanya sesuatu. Tolong jawab yang j
Siska kembali duduk di sofa sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Jahat banget sih kamu, Rey! Muka udah serius gitu, siapa yang nggak jantungan coba?" gerutunya sambil mengerucutkan bibir. Hendra tertawa lepas seraya bersandar di sandaran sofa. "Aku juga hampir percaya tadi. Habisnya, mukamu datar banget kayak pembunuh bayaran beneran." Hana ikut tertawa pelan. "Lain kali jangan bercanda kayak gitu lagi ya, Rey. Jantungku rasanya mau copot." "Iya, iya, sori. Anggap aja pemanasan sebelum kita nyanyi," balas Reyhan santai. Ia mengambil tablet digital yang terletak di atas meja marmer untuk memesan hidangan. "Sekarang kalian mau pesen apa? Kita pesan sepuasnya, mumpung portofolioku lagi hijau-hijaunya." Reyhan mulai menelusuri layar tablet tersebut. Tanpa perlu melihat deretan harga di sebelah kanan layar, ia memasukkan beberapa botol sampanye vintage edisi terbatas, sebotol wiski premium, sepiring kaviar kualitas terbaik, dan berbagai hidangan mewah lainnya ke d







