Share

Sidang

Menatap pesan dari Yudi dengan jantung berdetak kencang, berjalan sedikit cepat menuju ruangannya dan mulai mengerjakan apa yang dirinya ketahui selama proses. Yudi dan Markus suka memberikan tes dadakan seperti ini, mengerjakan dalam diam dan beberapa menit kemudian semua selesai.

Melangkah ke ruangan Yudi dengan sedikit cemas, jantung berdetak semakin kencang. Mengetuk pintu yang tidak lama terdengar suara dari dalam, Jimmy memasuki ruangan mendapati Yudi membaca sesuatu.

“Masuk dan langsung duduk.” Yudi membuka suaranya.

Jimmy mengikuti apa yang dikatakan Yudi, duduk dihadapan tanpa menatap Jimmy sama sekali, masih sibuk dengan kertas-kertas yang ada dihadapannya.

“Jadi bagaimana?” tanya Yudi membuka suara mulai menatap Jimmy.

Jimmy mulai menceritakan semuanya termasuk apa saja yang barusan terjadi, Yudi mendengarkan dalam diam dengan tatapan lurus tepat di kedua mata Jimmy. Berusaha tenang selama menjelaskan pada Yudi, sedikit khawatir apa yang dijelaskan tidak sesuai dengan harapan dan biasanya dilakukan.

“Tadi istirahat setelah operasi?” tanya Yudi setelah Jimmy cerita.

“Lebih tepatnya setelah memastikan semua kondisi baik-baik saja.” Jimmy menjawab langsung.

Yudi menganggukkan kepalanya “Kamu tahu menjadi dokter jantung tidak mudah?”

“Tahu, prof.”

“Lalu kenapa tetap mau mengambil jantung?”

“Saya ingin belajar mengenai penyakit yang membuat adik saya meninggal.” Jimmy menjawab jujur.

“Mata kamu mirip sama ibu kamu.”

Jimmy mengerutkan keningnya mendengar perkataan Yudi, dirinya tahu masa lalu orang tuanya dengan professor dihadapannya, tapi tidak menyangka akan dengan mudah berkata seperti itu dihadapannya.

“Kamu akan disini sampai dia siuman?” tanya Yudi kembali pada topik mereka.

“Sebentar lagi saya pulang, dok.” Jimmy menjawab langsung dengan sopan.

“Hasil yang kamu tulis sudah benar, sekarang tinggal kamu mengumpulkan jam operasi sebanyak-banyaknya. Saat ini kamu memang menemani kami berdua di meja operasi, tapi bisa saja suatu waktu kami meminta kamu yang menjalani operasi. Istirahat yang cukup dan jangan main-main saja kerjaannya, ibu kamu orang yang selalu memiliki semangat luar biasa.” Yudi memberikan nasehat panjang yang hanya diangguki Jimmy “Kamu boleh keluar.”

Jimmy menganggukkan kepalanya, keluar dari ruangan Yudi, menutup pintu dengan menghembuskan nafas lega. Setidaknya saat berada didalam bisa menjawab dengan baik, nilai positif yang didapatnya dari calon mertua, pendekatan Jimmy yang sangat bagus, menurutnya.

Langkahnya menuju ke ICU, memastikan keadaan pasien sebelum pulang. Memasuki ruangan ICU yang langsung disambut dengan suara-suara mesin, langkah Jimmy fokus pada pasien yang menjadi tujuannya.

“Pasien baru saja sadar.” Yani mendekati Jimmy dengan membawa rekam medis.

“Apa yang dirasakan?” tanya Jimmy dengan suara dan tatapan lembut.

“Pusing.”

“Nanti pusingnya hilang, sekarang tenang dulu.” Jimmy masih mengeluarkan suara lembut khusus untuk anak-anak “Sudah kentut, mbak?” tanya Jimmy mengalihkan perhatian ke Yani.

“Tadi belum, dok.” Yani menjawab langsung.

“Sayang, sudah kentut?” tanya Jimmy yang dijawab gelengan kepala “Kita keluar dari sini tunggu keadaannya bagus dan sudah kentut ya.”

“Kangen mama.”

“Ya, ditunggu sebentar nanti bisa ketemu sama mama dan papa.” Jimmy tersenyum kearah pasiennya yang hanya mengangguk lemas.

“Haus, dok.”

Jimmy menghembuskan nafas panjang, hal yang selalu dihadapi setiap selesai operasi. Banyak yang menjadi keluhan setiap kali operasi selesai, pusing dan terakhir adalah haus. Terkadang masih tidak tega memberikan pengertian tentang kondisi yang harus bersabar kembali, senyum hanya bisa diberikan Jimmy sebelum menjawab.

“Kita tunggu perkembangannya, kalau nanti bagus bisa minum. Perawat ini nanti yang akan berikan minum nantinya, bisa bersabar sebentar?” memberikan tatapan memohon yang hanya diangguki pasien.

Jimmy meninggalkan pasiennya, diikuti Yani berjalan di belakangnya. Memegang rekam medis yang tertulis disana, hembusan nafas pelan dikeluarkannya sambil menatap pasien yang berbaring.

“Lebih sulit kalau pasiennya masih bayi.” Danu berbicara tepat disamping Jimmy.

“Lo ada disini?” Jimmy menatap malas pada Danu “Gimana perkembanganmu?”

“Orang tuanya tidak memberikan obat karena lupa.” Danu mengatakan dengan nada kesalnya.

Jimmy menepuk bahu Danu pelan “Sabar.”

“Lo udah operasi bayi?” tanya Danu penasaran.

“Beberapa hari lalu, memang sulit operasi bayi. Bukannya lo udah?” Jimmy menatap Danu penuh ingin tahu.

“Lagi.” Jimmy hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.

Jimmy menepuk bahu Danu setelah memberikan beberapa instruksi pada Yani, keluar dari ruangan dan menuju ruang istirahat. Kondisi ruangan yang sepi membuat Jimmy memutuskan berganti pakaian, memilih pulang untuk istirahatkan diri.

Perjalanan yang ditempuh tidak memakan waktu lama, jarak rumah sakit dengan apartemennya juga tidak terlalu jauh. Memasuki tempat tinggalnya, selalu bersih setiap saat, semua itu tidak lepas dari kebiasaan maminya yang meminta asisten di rumah datang setiap saat untuk membersihkan tempat tinggalnya.

“Kamu sudah selesai?” Jimmy terkejut dengan kedatangan Febby membawa makanan di tangannya.

“Pekerjaan sudah selesai, tidak ada yang harus dilakukan lagi.”

Febby masuk kedalam pantry di tempat tinggalnya, memindahkan makanan ke piring dan membawanya ke tempat Jimmy duduk.

“Mending kamu mandi dulu.” Jimmy menatap Febby lembut.

“Aku sudah mandi sebelum kesini.”

Jimmy hanya menganggukkan kepalanya “Kalau gitu ganti baju aja.”

“Aku nggak bisa lama disini, kamu tahu alasannya kenapa.”

“Baiklah, kita makan.” Jimmy mengatakan dengan mengangkat tangan tanda menyerah.

Makan dengan bercerita tentang apa yang dialami selama seharian di rumah sakit, tangan Jimmy menggenggam tangan Febby selama berbicara dan makan, tatapan lembut tidak lepas sama sekali setiap Febby bercerita.

“Ayah manggil kamu?” tanya Febby tidak percaya.

Jimmy menganggukkan kepalanya “Jantungku berdetak kencang setiap kali prof berbicara atau manggil.”

“Ayah selalu suka sama orang pintar jadi nggak salah kalau suka juga sama kamu.”

Jimmy bergidik pelan saat Febby berbicara menceritakan Yudi, sepanjang hidupnya gambaran tentang Yudi adalah pria tidak bertanggung jawab. Saudara-saudaranya yang lain tidak suka jika menyebut menyebut atau secara tidak sengaja jika ada yang menyebut nama itu.

Menatap punggung Febby yang membersihkan piring kotor mereka dari belakang, secara otomatis Jimmy berdiri dengan melangkah kearah Febby, memeluknya dari belakang dengan mencium lehernya lembut. Tindakan Jimmy membuat Febby membeku, bukan hal pertama Jimmy melakukan ini, tapi tetap saja membuat Febby tidak bisa bergerak sama sekali.

“Kamu kenapa?” tanya Febby setelah berhasil menguasai dirinya.

“Kamu seksi.” Jimmy berbisik tepat di telinga Febby yang membuatnya bergidik ngeri.

“Aku lagi cuci piring ini.” Febby menggerakkan badannya agar Jimmy melepaskan pelukan.

“Biarin sebentar, aku nggak bisa memeluk kamu dengan lepas kalau diluar.”

“Ya, tapi biarkan aku selesaikan ini dulu.”

Jimmy melepaskan tangannya dari perut Febby, bersandar pada meja dengan matanya tidak lepas dari Febby, menatap apa yang Febby lakukan saat ini. Suara kran air yang dimatikan tanda jika Febby telah selesai, membalikkan badannya membuat mereka saling menatap satu sama lain. Jimmy berjalan mendekat dan langsung menarik pinggang Febby membuat tubuh mereka tidak berjarak, mendekatkan bibirnya dengan bibir Febby yang membuat bibir mereka berjarak beberapa senti, Jimmy memajukan wajahnya dengan mencium lembut bibir Febby, sentuhan di bibir yang membuat ciuman dalam mereka berdua lakukan.

“Akhirnya aku bisa mencium kamu,” ucap Jimmy setelah ciuman mereka lepas.

Febby hanya diam, menatap kedua mata Jimmy saat mengatakan hal itu, jemari Jimmy bergerak di bibir Febby membersihkan saliva mereka berdua tanpa melepaskan tatapan satu sama lain.

“Aku harus pulang, ayah pasti sudah perjalanan.” Febby membuka suaranya.

Jimmy melepaskan pelukannya membiarkan Febby melakukan apa yang ingin dikerjakan, lagi-lagi Jimmy hanya menatap tanpa membantu. Febby mendekati Jimmy dengan mencium lembut pipinya, Jimmy kembali menarik Febby dengan melumat kembali bibirnya.

“Vitamin buat besok,” ucap Jimmy dengan mengedipkan matanya.

Mengantarkan Febby keluar dari tempatnya, memastikan memasuki lift sebelum akhirnya menutup pintu. Jimmy menggelengkan kepalanya atas apa yang mereka berdua lakukan, melangkah masuk kedalam dan tidak lama kemudian bel berbunyi membuat Jimmy mengerutkan keningnya, kembali melangkah ke pintu untuk membukanya.

“Mami sama abang ngapain kesini?”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status