LOGIN“Kita sudah sampai, Sayang.” Dimas berbisik di telinga Laura yang masih terlelap, ia tidur sepanjang jalan menuju rumah Dimas.“Ah, iya Sayang. Maaf aku ketiduran.” Laura tersenyum begitu lembut. Mobil berderit halus saat berhenti di depan sebuah rumah bernuansa hangat. Dimas mematikan mesin, lalu segera turun untuk membukakan pintu untuk Laura.Gerakannya tangkas, penuh kesiapsiagaan seorang suami baru sekaligus seorang dokter yang tahu benar bahwa fisik dan batin istrinya baru saja melewati badai besar setelah prosedur kuret itu.Di dalam rumah, aroma teh kamomil yang menenangkan langsung menyambut mereka.Dimas memastikan Laura duduk nyaman di sofa dengan bantal penyangga di punggungnya, sebelum ia meletakkan map tebal berisi berkas-berkas penting di meja kerja.Itu adalah dokumen yang separuh malam tadi ia susun, syarat-syarat untuk meresmikan pernikahan siri mereka secara hukum di pengadilan agama.Dimas ingin melindungi Laura sepenuhnya, menjadikannya istri yang sah di mata neg
“Aku tidak bisa, Moreno,” ucap Laura, suaranya serak dan bergetar.“Sekarang aku sudah menikah dengan Dimas. Dia suamiku. Tolong ... terimalah kenyataan kalau kita memang tidak berjodoh.”Kata-kata Laura bagai petir di siang bolong bagi Moreno.Kalimat “tidak berjodoh” itu menghantam kewarasannya hingga hancur berkeping-keping.“Tidak berjodoh? Tidak bisa, Laura! Aku tidak bisa!” raung Moreno, menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Matanya menyalang merah, memancarkan keputusasaan yang mengerikan.“Kamu tidak tau bagaimana rasanya saat aku pulang dan mendapati rumah itu sepi tanpa kamu! Tidak ada lagi wanita yang menyambutku di pintu! Aku hampir gila, Laura! Aku hilang akal!”Suara Moreno bergetar hebat, napasnya memburu cepat.Ia kemudian mengalihkan pandangannya yang penuh kebencian kepada Dimas yang sedang mendekap pelindung di depan Laura.Rasa cemburu dan kehilangan telah mengubah cinta Moreno menjadi obsesi yang gelap dan berbahaya.“Aku tidak peduli lagi,” desis Moreno de
Arlan tidak akan membiarkan istrinya diseret-seret ke dalam pusaran konflik masa lalu mereka, meskipun ia dan Karin memang orang yang membantu Dimas dan Laura kawin lari ke Surabaya.“Jangan bawa-bawa istriku dalam masalah busuk kalian!” tekan Arlan dengan suara rendah yang penuh ancaman.“Jaga mulutmu sebelum aku yang membuatmu bungkam di rumah sakit ini!”Karin tidak memperdulikan lagi ketegangan di antara para pria itu. Ia langsung menerobos masuk ke dalam ruang perawatan begitu pintu terbuka.“Apa yang terjadi pada Laura?” tanya Karin dengan suara bergetar menahan tangis.Matanya berkaca-kaca menatap kembarannya yang terbaring begitu pucat di atas ranjang rumah sakit.Laura tampak sangat rapuh, belum sepenuhnya tersadar dari pengaruh bius total pasca prosedur kuret yang baru saja dijalaninya.Di sudut ruangan, Moreno dan Dimas masih saja sibuk bertengkar, saling melempar ego dan tidak ada satupun yang mau mengalah.Namun, begitu menyadari kelopak mata Laura bergerak perlahan menan
Suasana di dalam ruangan mendadak mencekam. Dokter Diego kembali dengan selembar kertas hasil laboratorium di tangannya.Lembaran itu seolah menjadi hakim atas ketegangan yang sedari tadi merayap di antara Moreno dan Dimas.“Bagaimana hasilnya, Dokter?” tanya Dimas cepat, memecah keheningan.Suaranya serak, penuh akan kecemasan.Dokter Diego membetulkan letak kacamata standarnya lalu menghela napas pendek.“Kami sudah melakukan pemeriksaan toksikologi dan pemindaian darah secara menyeluruh. Tidak ditemukan adanya jejak obat aborsi, racun atau zat kimia berbahaya lainnya di dalam tubuh Ibu Laura.”Moreno terpaku!Tangannya yang semula mengepal erat perlahan melemas.“Lalu, kenapa bisa keguguran, Dok?”“Kondisi janin Ibu Laura sejak awal memang lemah,” jelas Dokter Diego dengan nada simpati.“Dan yang memperburuk keadaan adalah tingkat stres yang sangat tinggi. Ibu Laura mengalami tekanan batin yang luar biasa, sehingga fisiknya tidak mampu bertahan. Perpaduan antara janin yang rapuh da
“Kau pikir aku akan terpuruk setelah kau mengeluarkan berita itu?”Dimas tersenyum sinis.Perang ini bukan lagi sekadar memperebutkan seorang wanita, melainkan harga diri dua dinasti besar.Moreno telah menyulut perang dan Dimas tidak akan berhenti sampai lawannya itu berlutut tanpa sisa.Malam itu, kamar utama kediaman Dokter Dimas terasa begitu mencekam.Laura berguling ke kanan dan ke kiri, namun matanya sama sekali tidak mau terpejam.Kepalanya terasa mau pecah memikirkan perang media yang saling menjatuhkan antara Dimas dan Moreno.Sejak kemarin, jangankan makan, seteguk air pun rasanya enggan melewati tenggorokannya.Makan malam romantis saja, Laura tidak selera melihatnya.Stres berat itu kini mulai menagih harga dari tubuhnya yang rapuh.Tiba-tiba, sebuah rasa keram yang luar biasa dahsyat mencengkram perut bagian bawahnya.Rasa sakit itu begitu tajam, seolah ada sebilah pisau yang sedang menyayat rahimnya.“Akhh....!”Laura memekik, tangannya spontan mencengkram sprei.Ketika
Sementara itu, di sebuah restoran privat di Jakarta, Dimas dan Laura duduk berdua menikmati makan malam pasca kepulangan mereka dari Surabaya.Tangan Dimas tidak pernah lepas menggenggam jemari Laura, tatapannya begitu memuja.“Kamu harus makan yang banyak, Sayang. Demi kesehatanmu dan bayimu,” ucap Dimas lembut sembari memotongkan daging steak di piring Laura.Laura tersenyum, meski ada semburat gundah yang belum hilang dari wajahnya.“Terima kasih, Sayang. Kamu terlalu baik padaku. Terkadang ... aku merasa gak pantas mendapatkan semua kebahagiaan ini setelah apa yang terjadi.”“Jangan pernah bicara begitu!” potong Dimas cepat. Ia menatap lekat-lekat wajah Laura.Mata itu, hidung itu, lekuk bibir itu, setiap jengkal wajah Laura begitu sempurna.Namun, jauh di dalam lubuk hati Dimas yang paling dalam, ada bayangan Karin yang melintas.Sebuah rasa bersalah yang langsung ia tepis kuat-kuat.Tiba-tiba, ponsel Dimas yang berada di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan re
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”







