로그인“Maaf ya, Karin. Aku terlalu senang bisa baikan sama kamu, makanya aku gak mau jauh dari kamu,” ucap Silvi bergelayut di tangan Karin saat mereka ada di Bandara.
Karin tersenyum kecut. Ia bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada Silvi.“Iya, yaudah kita masuk ke pesawat sekarang,” jawab Karin dengan senyum lembutnya.Ternyata, sulit untuk membenci Silvi.Silvi menghembuskan napas lega saat duduk di kursi business class pesawat yang membawanya ke Bali.Aldi Calling….Kenapa Pria ini selalu merongrongnya? Silvi hanya wanita biasa, Aldi itu konglomerat. Wanita mana yang tidak bisa ia dapatkan.Di tengah momen emosional antara Karin dan Silvi di tepi kolam renang, ketenangan pagi itu mendadak terganggu.Ponsel di dalam tas Silvi bergetar hebat. Nama Aldi tertera di layar, seolah sang monster tidak pernah benar-benar membiarkan mangsanya lepas dari genggaman.Silvi mengusap air matanya kasar.Dengan tangan gemetar namun penuh kebencian, ia menggeser tombol jawaban dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.“Halo,” ucap Silvi, berusaha menahan getar suaranya.Dari seberang telepon, suara Aldi terdengar sangat kontras dengan nada lembut yang ia gunakan kepada istrinya tadi subuh.Aldi bicara dengan nada yang sangat dingin, tetapi ada ledakan amarah yang tertahan di dalamnya.Pria itu rupanya sudah mendapatkan laporan dari para bodyguard-nya bahwa Silvi telah
“Akhirnya ada juga Villa yang kosong,” ucap Silvi setelah sampai di Villanya.Silvi mengambil keputusan besar. Ia menolak untuk sejengkal pun lebih lama tinggal di bawah atap villa terkutuk milik Aldi.Dengan sisa tenaga dan tubuh yang masih terasa remuk, ia mengemas seluruh pakaiannya, keluar dari properti mewah itu dan pindah ke sebuah villa yang lebih sederhana di sudut Bali yang lebih sunyi.Villa itu kecil, namun setidaknya masih memiliki kolam renang pribadi dan jauh dari jangkauan bayang-bayang Aldi.Setelah menaruh barang-barangnya, dengan langkah yang masih sedikit goyah, pagi itu Silvi mampir ke villa tempat Karin dan Arlan menginap.Tidak jauh, Silvi memang sengaja mencari Villa yang terdekat, bukan untuk mengganggu. Ia hanya ingin ada tempat cerita.“Pagi, Karin!”Karin yang sedang menikmati teh hangat di tepi kolam renang langsung terkejut melihat kedatangan sahabatnya.Wajah Silvi pucat pasi, matan
Berbeda dengan Karin, Silvi justru harus menghadapi kecemasan.“Istriku di Villa, kamu gak perlu pergi dan khawatir. Ia bukan wanita yang pencemburu,” ucap Aldi tiba-tiba saat di dalam mobil. Baru saja melangkah melewati pintu masuk, ketegangan langsung menyergap. Lampu villa menyala terang, dan di ruang tengah, beberapa koper mewah berlogo desainer ternama sudah teronggok di lantai.Briella, istri sah Aldi, tiba-tiba muncul dari koridor kamar utama. Wanita anggun itu tersenyum lebar, tampak sangat bersemangat.Sementara Silvi, panik bukan main.Rupanya, Briella sengaja datang ke Bali hari itu untuk memberikan kejutan bagi Aldi, sebelum ia ke Jakarta besok. Rencananya Briella ingin mengejutkan Aldi saat di Jakarta, ia malah yang terkejut saat melihat Aldi di Bali.“Sayang, kenapa gak ngomong ke Bali?” Aldi mendekati Briella dengan lembut. Briella sempat menghentikan langkahnya, menatap heran ke arah Silvi yan
“Tutup matanya, Sayang!” Arlan menutup mata Karin dengan kedua tangannya dari belakang. “Kejutan apa lagi sih, Sayang.”Di sudut restoran yang dipesan khusus oleh Arlan, suasana romantis itu kini mencapai puncaknya.Tepat setelah pelayan mengangkat piring hidangan penutup, lampu di area outdoor mendadak redup.DAR! BOOM!Karin tersentak kaget, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat ke arah langit malam Ubud.“Wow, ini kamu yang buat?” tanya Karin tidak percaya.“Iya dong, siapa lagi kalau bukan aku?”Siapa tahu si Aldi pacar gelap Silvi pikir Karin.Arlan telah menyiapkan pertunjukan kembang api pribadi yang meledak indah, mewarnai langit malam dengan pendar cahaya warna-warni yang megah.Air mata haru menggenang di pelupuk mata Karin saat Arlan menggenggam jemarinya erat di bawah gemerlap cahaya tersebut.“Sudah malam, kita pulang sekarang!” Karin mengangguk patuh, Ar
“Maaf ya, Karin. Aku terlalu senang bisa baikan sama kamu, makanya aku gak mau jauh dari kamu,” ucap Silvi bergelayut di tangan Karin saat mereka ada di Bandara.Karin tersenyum kecut. Ia bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada Silvi.“Iya, yaudah kita masuk ke pesawat sekarang,” jawab Karin dengan senyum lembutnya.Ternyata, sulit untuk membenci Silvi. Silvi menghembuskan napas lega saat duduk di kursi business class pesawat yang membawanya ke Bali.Sampai di Bandara, mereka terpaksa harus berpisah mobil.“Gak apa kan, Sil. Kamu gak mungkin satu Villa sama aku dan Arlan, makanya kamu di Villa yang beda, hmmm.”“Iya, santai aja sih, aku tau kok kalian lagi honeymoon. Enjoy, ya!” Silvi tersenyum tapi Karin tahu kalau ia sedang bersedih.Saat masuk ke dalam mobil mewah itu, Silvi menyandarkan kepala, dan masih meyakini bahwa semua kemewahan ini, termasuk mobil mewah yang menjemputnya di Bandara Ngurah Rai sec
Karin menarik resleting koper besarnya dengan tarikan yang kuat. Kamar tidur mereka dipenuhi dengan gaun-gaun pantai, sepatu dan deretan pouch make up yang hampir semuanya sudah rapi.“Akhirnya selesai juga.”Di ambang pintu walk in closet, Arlan berdiri sambil menyandarkan bahunya di kusen pintu, melipat tangan di dada dengan senyum yang akhirnya kembali setelah ketegangan mampir di hidup mereka.“Sayang, kali ini kita jadi liburan ke Bali, kan?” tanya Arlan, memastikan.Matanya menatap Karin dengan binar penuh harap. Cuti kerjanya tinggal dua minggu lagi. Jika honeymoon lokal ini batal lagi seperti rencana keliling Eropa kemarin, ia tidak tahu kapan lagi bisa punya waktu berdua seperti ini.Mereka sangat sibuk dan setelah ini entah Karin akan ditempatkan dimana internsip.Karin mendongak, menyeka peluh tipis di dahinya lalu tersenyum manis.“Jadi dong, Sayang. Pokoknya gak akan ada lagi masalah,” jawab Karin dengan sen
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di







