로그인Suara tawa melengking memecah keheningan butik tas mewah di salah satu mall kawasan Jakarta Selatan. Catleiya duduk santai di sofa beludru sambil mengayun-ayunkan kaki jenjangnya yang berbalut sepatu hak tinggi. Sementara itu, tiga sahabat dekatnya sibuk mengagumi tumpukan kantong belanjaan bermerek yang berjejer rapi di lantai marmer butik.
"Leiya! Gila ya, kamu habis putus cinta atau menang lotre sih? Borongnya nggak tanggung-tanggung begini!" seru Nadine sambil mengangkat sebuah tas selempang kulit edisi terbatas dengan mata berbinar. "Bukan dua-duanya, Sayang," Catleiya tersenyum misterius. Jari lentiknya mengetuk-ngetuk dagu dengan gaya centil andalannya. "Aku cuma lagi mempraktikkan cara menghabiskan uang sebelum uangnya terkunci oleh aturan pernikahan." Tiga sahabatnya langsung membeku di tempat. Fanya yang sedang memegang gelas minuman hampir saja menjatuhkannya ke lantai. "Tunggu... apa?! Pernikahan?!" Catleiya mengangguk riang tanpa beban, seolah baru saja mengumumkan rencana liburan akhir pekan. "Yup. Bulan depan aku nikah dengan Theodore Wilson. Pangeran es Wilson Group yang mukanya sekaku papan pengumuman kelurahan itu, lho." Keheningan melanda butik mewah itu selama tiga detik penuh, sebelum akhirnya ketiga temannya berteriak heboh bersamaan, sama sekali mengabaikan tatapan heran dari pelayan butik yang berjaga di sudut ruangan. "Demi apa kamu dapat si Kulkas Dua Pintu itu?!" pekik Fanya heboh, langsung menghambur dan mengguncang-guncang bahu Catleiya. "Dia kan digosipkan anti wanita sejak patah hati dua tahun lalu!" "Nah, justru itu menariknya," Catleiya terkekeh geli, matanya berbinar nakal mengingat ekspresi Theodore kemarin malam. "Mamanya yang jodohin kami. Pas ketemu kemarin di restoran, dia natap aku dingin banget, kayak mau nelan aku hidup-hidup! Tapi makin dia dingin, makin aku gemes pengen nempelin dia terus sampai meriang." Lalita menepuk jidatnya sendiri, tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya. "Leiya, kamu mau nikah atau mau mencari perkara baru sih? Tapi jujur, bayangin cewek se-centil kamu harus hidup sama cowok sekaku Theodore... aku taruhan dalam waktu seminggu dia bakal minta ampun karena pusing dengar celotehan kamu yang nggak ada habisnya." "Nggak akan sampai seminggu," timpal Fanya sambil tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar. "Tiga hari! Aku bertaruh tiga hari Theodore bakal memasang peredam suara di seluruh sudut rumahnya karena nggak kuat dengar suara kamu!" Catleiya hanya tertawa manja, memeluk tas barunya dengan riang. Di otaknya, dia sudah membayangkan berbagai skenario lucu untuk menjahili calon suaminya yang super cuek itu. _______ Sementara di belahan kota yang lain, atmosfernya sangat berbeda seratus delapan puluh derajat. Di dalam ruangan VVIP sebuah tempat perkumpulan eksklusif yang bernuansa temaram dan mewah, kepulan asap rokok tipis memenuhi udara. Suara musik dari luar hanya terdengar samar-samar. Theodore duduk di sofa kulit hitam yang empuk, melonggarkan dasinya sedikit lalu meneguk segelas minuman dengan ekspresi wajah yang datar seperti biasa. Theodore baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Di sekelilingnya tiga sahabat karibnya sejak masa SMA Stefan, Marco, Julian sedang asyik mengobrol heboh sebelum Theodore tiba-tiba meletakkan gelasnya ke meja kaca dengan dentingan yang cukup berat. "Bulan depan gue nikah," ucap Theodore tanpa ekspresi wajah sedikit pun, seolah-olah dia baru saja mengumumkan jadwal rapat pemegang saham kuartal pertama. Stefan yang sedang minum seketika tersedak hebat. Dia terbatuk-batuk sampai mukanya merah padam, sementara Marco langsung menjauhkan rokoknya dengan mata terbelalak lebar. "Uhuk! Uhuk! Apa lo bilang, Theo? Menikah? sama siapa? Hantu?" Stefan mengusap dadanya yang perih, mengira pendengarnya sudah rusak. "Catleiya. Anak William Adhitama," jawab Theodore pendek, tetap tenang. Julian, yang paling tahu segala gosip dan selak-beluk kalangan atas Jakarta, langsung menjentikkan jarinya dengan heboh. "Tunggu, Catleiya Adhitama? Cewek yang lulusan manajemen seni itu? Yang pembawaannya selalu ceria dan centil kalau di depan publik?" Theodore mengetatkan rahangnya, ingatan tentang bagaimana gadis itu dengan berani menggodanya di depan orang tua mereka kemarin langsung berputar di kepala. "Dia... terlalu berisik." Marco langsung meledak dalam tawa yang sangat keras, memukul-mukul lengan sofa kulit di sampingnya hingga badannya terguncang. "Bwahaha! Lo seriusan, Theo?! Macas es kayak lo dijodohin sama cewek se-ekspresif Catleiya? Ini sih namanya bencana alam nasional buat ketenangan hidup Lo yang membosankan itu!" "Dia menyetujui perjodohan ini hanya karena utang budi keluarganya pada Wilson Group," kata Theodore membela diri, mencoba mengembalikan tameng sikap cueknya. "Gue udah tegasin kalau gue nggak punya waktu untuk mengurus hal yang nggak penting seperti pernikahan itu. Setelah sah, kami hanya akan hidup masing-masing di rumah." Stefan merangkul bahu Theodore sambil tertawa geli, tidak memedulikan tatapan membunuh dari sahabatnya itu. "Bro, lo meremehkan kekuatan cewek centil. Lo pikir lo bisa tetap cuek? Gue taruhan, dalam sebulan, pertahanan es lo itu bakal meleleh. Minimal, pagi lu yang biasanya tenang bakal berubah heboh karena dia minta pendapat soal penampilannya sebelum Lo berangkat kerja." "Nggak mungkin," potong Theodore dingin, menepis tangan Stefan dari bahunya dengan gerakan tegas. "Gue bisa bayangin lo lagi memimpin rapat direksi yang tegang sama investor asing," goda Marco dengan seringai jahil semakin lebar. "Terus tiba-tiba ponsel lo yang biasanya cuman isi urusan saham, bergetar karena pesan teks dari bini lo yang isinya cuman nanya hal sepele pakai emoji lucu. Hahaha! Muka lo yang biasanya sok datar itu pasti langsung mati kutu di depan direktur karena kebingungan mau balas apa." Julian ikut menambahkan sambil terkekeh pelan. "Intinya, hidup lo yang lurus dan ngebosenin itu bakal berubah total, Theo. Gue udah nggak sabar pengen lihat pusingnya lo pas ngadepin dia nanti." Theodore memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut pening. Membayangkan ucapan teman-temannya saja sudah membuat bulu kuduknya meremang ngeri. Sifat cuek yang selama ini menjadi senjata andalan terasa goyah bahkan sebelum janji suci pernikahan itu diucapkan. Kembali ke kawasan mall, Catleiya dan teman-temannya kini sedang menikmati pencuci mulut di sebuah kafe. Fanya masih penasaran dengan bagaimana Catleiya akan menghadapi Theodore yang terkenal tidak tersentuh wanita manapun sejak dua tahun lalu akibat patah hati. "Tapi Leiya, serius deh. Si Theodore itu kan punya trauma masa lalu ya soal mantannya yang dulu. Lo nggak takut dicuekin habis-habisan setelah nikah nanti?" tanya dengan nada yang kini berubah agak serius dan sedikit khawatir. Catleiya menyendok es krim stroberinya dengan santai, lalu mengerlingkan matanya dengan jenaka. " Takut? Kamus hidup Catleiya nggak ada kata takut untuk urusan menaklukkan cowok, Sayang. Cowok kaku kayak Theo itu sebenarnya cuman butuh sedikit kejutan di hidupnya yang datar . Lagian, kalau dia jual mahal , aku tinggal jual murah ke dia. Kita lihat saja nanti, seberapa kuat Kulkas berjalan itu menahan pesona cewek paling menggemaskan se-Jakarta ini." Nadine menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa pasrah. "Kamu benar-benar definisi musibah berjalan yang dibungkus dengan gaun cantik, Leiya. Aku cuma bisa berdoa buat keselamatan mental calon suami kamu.". Sementara itu, di tempat perkumpulan tadi, Theodore kembali menuangkan minuman ke dalam gelasnya untuk mengalihkan rasa kesal. Teman-temannya masih terus meledeknya tanpa henti tanpa memperdulikan wajahnya yang semakin menekuk datar. Bahkan, Stefan dengan gilanya sudah mulai mengetik di ponselnya, membuat sebuah grup obrolan baru dengan nama yang sangat mengelikan, 'Aliansi Suami Takut Istri Centil'. "Ingat, Theo," goda Stefan sambil menaik-turunkan alisnya dengan wajah menyebalkan. "Nanti kalau udah di pelaminan, jangan lupa senyum sedikit. Jangan sampai pas di foto buat dokumentasi seumur hidup, muka lo kayak orang lagi ditahan polisi. Kaku amat!" Theodore hanya menatap Stefan dengan pandangan dingin yang tajam, lalu meneguk minumannya hingga tandas dalam sekali teguk. Di dalam hatinya, dia menghela napas panjang yang sangat berat. Pengumuman malam ini sukses membuat lingkar pertemanan kedua belah pihak dihebohkan oleh bayangan sebuah pernikahan yang paling tidak sinkron di dunia. Sang tuan muda dingin yang super kaku dan si nona kecil yang hobi menggoda benar-benar bersiap menuju pelaminan yang dijamin akan penuh dengan huru-hara rumah tangga.Keesokan paginya, matahari Bali bersinar cerah, memantulkan cahaya berkilauan di atas permukaan air kolam renang pribadi resor mereka. Angin laut yang hangat berhembus lembut, menggoyahkan daun-daun pohon palem di sekitar teras. Namun, keindahan pemandangan tropis itu sama sekali tidak dialihkan oleh Theodore. pria itu sudah duduk tegak di salah satu kursi malas teras sejak pukul tujuh pagi. Kemeja linen putih nya sengaja tidak dikancingkan sepenuhnya, menampilkan kesan santai namun tatapan mata abu-abunya tetap fokus serius pada layar laptop. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik, meninjau laporan keuangan perusahaannya yang sempat tertunda karena acara pernikahan. Baginya liburan lima hari ini hanyalah perpindahan ruang kerja dari Jakarta ke Bali. ketenangan kerja Theodore mendadak terganggu ketika suara langkah kaki ringan terdengar mendekat dari arah dalam resor. Ia menoleh sekilas, berniat menyuruh Catleiya untuk segera sarapan. Namun, begitu matanya menangkap sosok sa
Deru suara ombak malam di pantai Bali terdengar samar-samar dari balik dinding kaca besar resor privat yang mereka tempati. Setelah menempuh penerbangan menjelang malam yang cukup melelahkan dari Jakarta, Catleiya akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar utama resor mewah tersebut. Koper-koper mereka sudah tertata rapi di dekat lemari pakaian oleh pelayan resor. Namun, begitu Catleiya menyalakan lampu kamar, langkah kakinya langsung terhenti. Mata bulatnya menatap luru ke tengah ruangan. Di sana, sebuah ranjang berukuran king size berdiri dengan megah, lengkap dengan taburan kelopak bunga mawar merah membentuk hati di atas sprei putih bersih. Aroma harum, perpaduan wangi esensial melati dan mawar yang sangat khas untuk pasangan pengantin baru. Hanya ada satu ranjang besar. Tidak ada sofa panjang yang cukup luas untuk ditiduri, dan tidak ada kamar tidur tambahan di dalam resor privat ini. Catleiya menghela napas pendek, merasa situasi ini mendadak menjadi sangat canggung. Ingatan ten
Suasana di meja makan mendadak hening. Catleiya langsung merasa tenggorokannya mendadak kering. Nyali centilnya yang tadi sempat bangkit seketika menciut mengingat ancaman intens Theodore semalam yang tidak main-main. "Ah, s-soal itu..." Catleiya langsung kehilangan kata-kata. Wajahnya memerah padam. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya dengan gugup di bawah meja, benar-benar bingung harus menjawab apa hingga mencubit paha Theodore demi meminta bantuan. "Aunty Leiya mukanya merah banget, kayak tomat!" celetuk Galilo tiba-tiba dengan nada polosnya yang khas, menunjuk ke arah wajah Catleiya. Bocah berusia tujuh tahun itu langsung membuat semua orang menoleh ke arahnya. Tawa renyah langsung pecah dari mereka yang ada di sana mendengar celetukan spontan dari Galilo. Catleiya hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan malu, sementara tangan di bawah meja semakin erat mencubit paha Theodore karena kesal. Theodore melirik sekilas ke arah istrinya yang kini sedang mati kutu. S
Theodore sudah runtuh. Pria kaku itu tidak lagi menahan diri. Ia langsung menunduk dan mengunci bibir Catleiya dalam sebuah ciuman yang tegas, dalam, dan menuntut. Catleiya terbelalak, tubuhnya gemetar karena terkejut sekaligus takut menghadapi dominasi Theodore yang begitu nyata. Kedua tangannya yang semula berniat menggoda kini mencengkram erat kemeja hitam Theodore karena lemas. Selama beberapa saat, keheningan kamar hotel mewah itu hanya dipenuhi oleh deru napas mereka yang saling memburu, sebelum akhirnya Theodore menjauhkan wajahnya perlahan. Catleiya menghirup oksigen banyak-banyak, wajahnya memerah alami dan napasnya tersengal-sengal karena syok yang teramat sangat. Ia langsung menundukkan kepala, tidak berani lagi menatap mata suaminya. Menatap lekat-lekat bibir ranum istrinya yang kini tampak merona. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis, merasa puas akhirnya berhasil menjinakkan gadis berisik ini hingga gemetar ketakutan di dalam dekapannya. "Sekarang masuk k
Bunyi klik pelan dari pintu kamar presidensial suite yang tertutup menandakan bahwa pesta pernikahan yang melelahkan itu akhirnya benar-benar selesai. Theo langsung berjalan menuju area ruang tamu kamar hotel tersebut. Ia melonggarkan ikatan dasinya dengan kasar menggunakan satu tangan, lalu melempar jas hitamnya begitu saja ke atas sofa. Pria itu menghembuskan napas panjang, mencoba mengusap wajahnya yang terasa kaku setelah seharian dipaksa mengikuti skenario pernikahan ibunya. Dia mengembalikan tubuh, dan pandangannya langsung terkunci pada Catleiya yang berdiri di dekat jendela besar. Wanita itu tampak sedang bersusah payah meraih resleting di bagian punggung gaun pengantinnya yang rumit. Kain brokat putih gading itu bergeser sedikit, mengekspos punggungnya yang putih halus. Ditambah lagi, aroma manis buah stroberi yang segar dari tubuh Catleiya seketika memenuhi ruangan sunyi, mengusik ketenangan Theodore. "Mas," panggil Catleiya, menoleh ke belakang dengan kerlingan mata centi
Kilatan cahaya lampu kilat kamera dari ratusan jurnalis dan fotografer, menerangi aula utama hotel bintang lima yang telah disulap menjadi ruang resepsi super mewah. Dekorasi malam itu didominasi oleh perpaduan warna emas, kristal gantung yang berkilauan, dan rangkaian bunga mawar merah yang megah. Ribuan tamu undangan dari kalangan penjabat, investor asing, hingga selebritas papan atas mengular panjang di karpet merah, Mengantri untuk memberikan selamat kepada pasangan pengantin baru dari keluarga Wilson dan Adhitama. Di atas pelaminan megah, Theodore berdiri tegak dengan setelan tuxedo hitam yang sangat elegan. Meski penampilannya malam itu begitu karismatik dan memukau, ekspresi wajahnya masih tetap sama datar dan dingin tanpa senyuman sedikit pun. Berdiri selama tiga jam menyalami ribuan orang asing adalah definisi siksaan batin bagi pria sekaku Theodore. Namun, siksaan itu terasa berkali-kali lipat lebih berat karena sosok wanita yang berdiri di sampingnya, Catleiya Adhitama







