MasukSetelah tinggal bersama dengan Keluarga Ignasius selama 20 tahun, Paula baru tahu dirinya bukan putri kandung mereka.Setelah putri kandung itu ditemukan, Paula malah dicampakkan calon suaminya, dicelakai, bahkan diusir.Orang-orang mengatakan Paula mengandung anak haram, tetapi tidak ada yang menyangka bahwa anak itu adalah anak pewaris keluarga terkaya, Keluarga Sasongko!Pada akhirnya, Paula menikah dengan pewaris itu yang sekaligus adalah paman sahabatnya. Namun, semua orang yakin dia akan berakhir menyedihkan!"Kudengar, dia diam-diam masuk ke kamar hotel Pak Darwin. Lagian, semua orang tahu Pak Darwin sulit tertarik pada wanita. Keluarga Sasongko pasti akan menyiksanya mati-matian!""Setelah anaknya lahir, dia pasti akan diusir Keluarga Sasongko!"Di luar dugaan, orang-orang tidak melihat akhir tragis Paula setelah melahirkan. Dia justru terlihat jalan-jalan bersama mertuanya, bahkan dihadiahi kediaman mewah senilai kuadriliun!Bahkan, Darwin si pewaris yang selalu bersikap dingin itu tampak menindih Paula di depan mobil karena mabuk. "Istriku, gimana kalau kita tambah momongan lagi?"
Lihat lebih banyakELIRA POV
"Last night was a mistake."
I heard it before I opened my eyes. Four words, flat as a closed door.
I turned my head on the pillow. Kian stood at the end of the bed already dressed, shirt buttoned to the collar, hair combed like he hadn't just spent the night tearing the sheets apart with me.
My stomach dropped.
"Kian—"
"Don't." He didn't look at me. He looked at the window. "It was the moon. It does that. It's not real."
Not real. My whole body still ached from him and he was standing there telling me it wasn't real.
I sat up, pulling the sheet against my chest. My skin still carried his scent, and under it, something else. Something new. A pull in my ribs that hadn't been there yesterday, like a hook set deep and tightening.
Mate.
I felt it. He had to feel it too.
"You feel it," I said. "Don't tell me you don't."
His jaw moved. A muscle jumped once under his ear.
"I feel a lot of things I'm not going to act on."
Hope is a stupid, stubborn animal. Mine wouldn't die even then. I'd wanted this man since I was fourteen years old and invisible in every room he walked into. Now the goddess herself had put us in the same bed, and some small, foolish part of me thought — maybe. Maybe now he sees me.
"So what happens now?" I asked. "We're mates, Kian. That doesn't just—"
The door slammed open.
Priya stood in the frame first, hand pressed to her mouth, eyes already wet. Behind her, my mother.
Not my mother. Never my mother. I just hadn't learned that yet.
"Priya, wait—" I started.
Marisol crossed the room in three strides and slapped me before I could finish the sentence. My head snapped sideways. My ears rang.
"You disgusting little—" She grabbed my hair, wrenched my face up to hers. "In her bed. In her fiancé's bed. Did you plan this? Did you plan this from the start, you ungrateful little bastard?"
"It was an accident," I said. My voice cracked down the middle. "The full moon, we didn't choose—"
"Save it." Marisol's grip tightened. "Everyone will know what you are by morning. A slut who couldn't keep her hands off her own sister's mate."
"Enough."
Kian's voice. Flat. Final.
Marisol's hand froze in my hair.
"Last night was an accident," he said, still not looking at me, only at her. "It changes nothing. My engagement to Priya stands."
Something in my chest folded in half and stayed that way.
Priya made a small, wounded sound and turned into Kian's shoulder. He put a hand on her back. On her back, not mine. Like I was furniture that had been moved without permission and now needed putting back.
My father filled the doorway next.
I felt it before I even turned my head. The room went colder.
"Pack your things," Robert said. His voice didn't shake. It never shook, not for me. "You're an omega now. I want you out of this house within the hour."
The words hit harder than the slap.
"Dad—"
"Don't call me that." He said it the way a man corrects a stranger who has his name wrong. "You've embarrassed this family for the last time."
"It wasn't a scheme." I was crying now and I hated myself for it, hated that my voice was begging. "I didn't plan this, I would never — Kian, tell them. Tell them what happened."
I looked at him. I made myself look at him, because some idiot piece of me still believed that if I just looked hard enough, he would remember every second of last night and choose me in front of all of them.
Kian looked back.
And said nothing at all.
I watched the last of my hope die in his eyes before it died in mine. He wasn't going to help me. He was never going to help me. Whatever had happened under that full moon, whatever the goddess had decided about the two of us, Kian Voss had already made his choice, and it wasn't me.
Robert stepped further into the room, and for the first time in my whole life I saw something in my father's face that wasn't distance.
It was relief.
Relief that he finally had a reason.
"One hour," he said again, and turned to leave — and that was when I understood, with a cold, sick certainty settling into my bones, that whatever came through that door nex
t was going to be so much worse than a slap.
Hanya saja, Darwin tahu Freda sangat protektif sampai-sampai bisa bersikap tidak masuk akal. Jika Darwin tidak menunjukkan dirinya sangat menghargai Paula, Freda pasti akan menganggap Paula sebagai orang luar dan mewaspadainya.Lama-kelamaan, di antara Darwin dan Paula pasti akan muncul konflik karena hal ini. Freda menggenggam tangan Paula dan berkata seraya tersenyum lembut, "Oke, aku tahu kamu itu anak yang baik."Freda juga merasa senang Darwin bisa menemukan wanita yang disukainya. Darwin bertanya, "Tadi kamu mau bilang apa?"Freda memukul kepalanya dan menyahut dengan ekspresi cemas, "Keluarga Fonda sudah pindah. Nona Sheila pindah ke kediaman tua dengan alasan rumahnya sudah tua. Entah kenapa, dia berselisih dengan Nyonya Kara sampai-sampai Nyonya Kara pingsan."Darwin yang khawatir bertanya, "Bagaimana kondisi ibuku sekarang?"Paula juga khawatir. Sebelumnya Paula pernah melihat Kara. Dia sudah tua sehingga tidak boleh mengalami syok.Freda menjawab, "Dokter sudah memeriksa Nyo
Paula menggoyang lengan Darwin dan bertanya, "Kamu masih marah? Dia masih muda dan gegabah, untuk apa kamu perhitungan dengannya?"Darwin mendengus, lalu bertanya balik, "Kamu menganggap aku tua?""Aku nggak berani. Pak Sasongko masih muda dan kuat, hal ini nggak perlu diragukan lagi," timpal Paula seraya mengedipkan matanya.Darwin langsung teringat semalam mereka bercinta dengan intens. Dia pun tersenyum. Darwin menjelaskan tindakannya tadi, "Keluarga Sudarmo lebih rumit dari yang kita bayangkan. Kalau Harry terus bertindak gegabah, dia pasti akan celaka dalam waktu singkat."Waktu itu, Darwin setuju Harry masuk ke Grup Sasongko karena kakek Harry memohon pada Terry. Jadi, dia menghormati kakek Harry. Selain itu, Darwin pernah menyelidiki Harry. Dia tahu Harry tidak jahat.Paula langsung memuji, "Aku tahu kamu sangat baik."Mereka pulang ke vila. Freda menyambut mereka dengan ekspresi cemas. Dia melihat Darwin dan tampak ragu-ragu untuk bicara."Ada apa? Bilang saja," ujar Darwin. Di
Jadi, sekarang Darwin tidak mungkin mendepak Harry. Dia hanya ingin menegur Harry agar dia menyadari kenyataannya.Namun, Harry tidak mengetahui hal ini. Dia melihat Darwin menelepon Wilson dan menyuruhnya mencari orang lain untuk mengambil alih proyek ini. Harry pun panik.Darwin sudah memutuskan untuk mengabaikan Keluarga Sudarmo dan mendepaknya dari Grup Sasongko. Ketika Harry baru masuk ke Spirit Animation, dia terus membuat masalah.Meskipun begitu, Darwin tetap membantu Harry. Jadi, Harry menganggap Darwin tidak berani menyinggung Keluarga Sudarmo dan memecatnya.Sekarang Harry baru menyadari kali ini Darwin benar-benar ingin mendepaknya. Dia menarik lengan baju Darwin dan memohon, "Aku memang salah. Aku mohon beri aku kesempatan lagi.""Apa?" tanya Darwin yang berpura-pura tidak mendengar ucapan Harry.Harry merasa dipermalukan. Namun, dia tetap membungkuk dan menegaskan, "Aku mohon beri aku kesempatan lagi."Paula berdeham. Dia memperingatkan Darwin agar tidak terlalu berlebiha
Melihat Paula marah, Harry bergegas mengejar Paula dan memelas, "Maaf, aku salah. Kalau kamu nggak mau bergabung dengan Light Animation, kita tetap bekerja di Spirit Animation. Kamu nggak akan meninggalkan proyek ini, 'kan?"Walaupun Harry agak posesif terhadap Paula, dia tetap mementingkan proyek. Harry tidak ingin menghancurkan proyek karena masalah pribadi. Dia yakin Paula mempunyai pemikiran yang sama dengannya.Hanya saja, Harry mengabaikan Darwin. Sebenarnya Darwin adalah orang yang bisa menentukan nasib proyek.Sebelum Paula menjawab pertanyaan Harry, Darwin berujar dengan dingin, "Tentu saja Paula nggak akan meninggalkan proyek ini. Tapi, kamu nggak usah bekerja di Spirit Animation lagi.""Kenapa?" tanya Harry dengan ketus.Harry tersenyum sinis dan bertanya balik, "Menurutmu?"Darwin merupakan bos dari Spirit Animation, jadi dia bisa memecat Harry. Apa Harry tidak bisa menduganya?Harry baru memahami maksud Darwin. Dia mulai panik karena dirinya sudah berjuang untuk proyek ini
Darwin berlutut dengan satu kaki, mengeluarkan cincin yang sudah disiapkan sejak lama, dan menatap Paula dengan penuh perasaan.Pria itu berujar, "Paula, maukah kamu menikah denganku? Nggak peduli berapa banyak badai yang akan kita hadapi di masa depan, aku akan selalu menggenggam tanganmu erat-erat
"Bukannya kamu bisa masuk karena dibantu seorang pria?" tanya Pedro dengan tatapan membunuh.Aurel buru-buru menjelaskan, "Pria itu sudah menikah dan nggak mau bercerai. Aku harus mencari pria lain demi masa depanku.""Lanjutkan," ucap Pedro yang mulai tertarik.Aurel memanfaatkan kesempatan ini untuk
"Aku memang nggak tunjukkan pada Pak Smith. Jadi, Pak Smith masih menganggap Paula teperdaya oleh pesona Darwin. Paula dibutakan oleh cinta," ucap Pedro.Pedro mengakui perbuatannya yang curang, tetapi dia juga bersyukur karena tidak menunjukkan dokumen itu kepada Smith.Smith memang membatalkan perni
Smith menerima sendok dari tangan Paula dan perlahan-lahan memakan semua tahu yang telah disajikan olehnya. Setelah itu, dia melambaikan tangan dan memberi isyarat kepada semua orang untuk keluar.Saat ruangan itu hanya tersisa Paula, Smith, dan Winelli yang keberadaannya hampir tidak terasa, Smith m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak