Share

Bab 43

Penulis: Vhiena Vhie
last update Tanggal publikasi: 2026-03-15 22:09:25

Siang yang sama di tempat yang berbeda, Harsya baru saja keluar dari ruang rapat setelah lebih dari dua jam membahas masalah yang semakin rumit di perusahaannya.

Pintu ruangan itu tertutup perlahan di belakangnya. Suara kursi yang bergeser dan percakapan orang-orang masih terdengar samar dari dalam, tetapi Harsya tidak menoleh lagi.

Didampingi sekretarisnya, dia melangkah menyusuri koridor dengan langkah panjang, sementara pikirannya masih dipenuhi potongan-potongan pembahasan yang sejak tadi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 101

    “Ibu jangan ke sana, ya?” Ralia berkata dengan lirih, nyaris seperti memohon. Sartika menatapnya dengan campuran antara rasa kasihan dan tidak puas. Namun, setelah beberapa saat terdiam, dia akhirnya mengembuskan napas panjang dan duduk kembali di sofa.Kemarahannya memang belum reda sama sekali, rasa kesal masih membara di hatinya, wajahnya bahkan masih muram, tetapi sekarang pikirannya mulai dipenuhi pertimbangan lain.Ralia perlahan ikut duduk di samping Sartika. Dengan penuh kelembutan, dia berkata, “Ibu nggak perlu khawatir. Aku sudah baik-baik saja.”Sartika melihat penampilannya yang masih berantakan dan semakin merasa tidak puas di dalam hati. “Tapi, Ibu masih nggak bisa terima kamu diperlakukan seperti ini.”Ralia mengulas senyuman lembut, tapi matanya yang merah dan berkaca-kaca justru membuat senyuman itu tampak menyedihkan.“Nggak apa-apa, Bu,” ucapnya. “Aku justru nggak bisa tenang kalau Ibu pergi ke sana. Pria itu sepertinya bukan orang biasa. Aku takut dia akan m

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 100

    Ralia pulang ke rumah membawa sisa kemarahan yang belum juga reda. Sepanjang perjalanan, bayangan tentang kejadian di toko bunga itu terus berputar di kepalanya tanpa henti. Semakin diingat, semakin dadanya terasa sesak oleh kemarahan dan kebencian. Dia mengemudikan mobilnya lebih cepat. Jemarinya menggenggam setir dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih. Ketika tiba di rumah yang dia tempati bersama Harsya, Ralia melihat mobil Sartika sudah terparkir di halaman. Itu bukan hal baru lagi, ibu mertuanya itu memang sering sekali mampir, hampir setiap hari. Ralia sebenarnya bosan, tetapi harus tetap berpura-pura menyambut dengan hangat demi menjaga citranya sebagai menantu yang baik, lembut dan penuh kasih sayang. Saat mobilnya berhenti tepat di samping mobil Sartika, Ralia tidak langsung turun. Dia secara naluriah melirik kaca spion, melihat pantulan dirinya yang kacau. Riasan wajahnya yang awalnya rapi dan halus sudah agak memudar. Rambut panjangnya sedikit berantakan.

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 99

    Suara gesekan sapu dengan lantai terdengar pelan, berulang-ulang memecah kesunyian toko bunga yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Ralia menggenggam gagang sapu erat hingga ruas jemarinya memutih. Wajahnya muram, bibirnya terkatup kaku, sementara sorot matanya dipenuhi emosi yang dipaksa ditekan.Setiap gerakan tangannya tampak kaku dan penuh keterpaksaan. Pecahan pot bunga di lantai dikumpulkannya perlahan, tanah yang berhamburan dibersihkan sedikit demi sedikit.Di dekat rak bunga, Althan masih berdiri dengan tenang. Tubuh tingginya bersandar di sisi rak kayu. Tidak ada ekspresi berarti di wajah pria itu. Namun tatapannya jelas sedang mengawasi.Di sisi lain, Kanina membawa Artanti duduk di kursi dekat meja kerja. Emosinya tampak sudah reda, digantikan ekspresi kebingungan, seolah tidak mengerti apa sedang terjadi.“Ibu di sini saja, ya?” ucap Kanina sambil mengusap tangan ibunya dengan lembut.Artanti tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan polos. Kanina memberinya se

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 98

    Kalimat Althan terdengar ringan. Hampir seperti ucapan yang wajar. Tidak keras, tidak pula diwarnai emosi. Namun justru karena itu, sindiran di dalamnya terasa begitu jelas.Ralia langsung membeku, seolah seseorang baru saja menampar wajahnya di depan banyak orang—pelan, namun telak hingga meninggalkan rasa panas yang menjalar sampai ke dada.Untuk sesaat, dia lupa mempertahankan ekspresi rapuh yang sejak tadi dia bangun dengan susah payah. Matanya membelalak tipis, sementara bibirnya menegang tanpa sadar.“Masih mau berpura-pura?” Artanti berseru jengkel. Tangannya mengangkat botol semprot lagi, seakan sudah siap menghujani Ralia dengan semburan air jika masih bersandiwara.Kanina menahan tangan ibunya dengan lembut, namun senyum tipis tampak jelas di bibirnya. Ralia melihat itu sebagai ejekan dan kemarahan di dalam hatinya semakin bergejolak.Dia akhirnya menarik napas pelan, lalu perlahan bangkit berdiri dari lantai yang kotor, mengabaikan gaunnya yang sudah ternoda tanah di b

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 97

    Suara langkah sepatu terdengar pelan dan teratur, semakin mendekat dari arah pintu. Ralia yang semula masih dipenuhi amarah seketika terdiam saat menyadarinya.Dia tidak menoleh. Namun matanya bergerak cepat, seolah dalam satu detik itu pikirannya langsung bekerja mencari sesuatu.Lalu, hampir seketika, raut wajahnya berubah. Amarah di matanya menghilang, digantikan dengan ekspresi sedih yang tampak begitu meyakinkan. “Kanina…” suaranya bergetar halus, nyaris berubah menjadi tangisan. “Aku nggak tahu apa salahku…”“Aku ke sini cuma mau beli bunga… sekalian menyapa kamu dan ibumu… Tapi kalian... malah memperlakukan aku seperti ini…”Kalimat itu keluar terbata-bata, diiringi isak kecil yang terdengar menyedihkan.Jika orang lain melihatnya sekarang, mungkin mereka benar-benar akan percaya bahwa Ralia adalah korban yang tidak tahu apa-apa.Gaunnya kotor terkena tanah, rambutnya sedikit berantakan, sementara tetes air di wajahnya membuat penampilannya tampak semakin memperihatinka

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 96

    Kanina menatap perempuan di depannya seperti sedang melihat orang bodoh. “Mengadu?” ulangnya perlahan.Sebuah tawa kecil lalu lolos dari bibirnya—ringan, pendek, tetapi mengandung sesuatu yang tidak bisa disalahartikan. Bukan tawa yang hangat, bukan pula tawa yang menunjukkan kegembiraan. Lebih seperti ejekan yang tidak repot-repot disembunyikan.“Tuduhan macam apa itu?” katanya sambil menggeleng tak habis pikir.Reaksinya membuat Ralia menatap dengan tajam, tampak tersinggung. Namun, sebelum dia sempat buka suara, Kanina sudah mendahului.“Aku bukan mengadu,” ucapnya dengan nada santai. “Aku hanya ingin suamimu melihat sendiri apa yang kamu kirimkan padaku, tentang betapa bahagianya kalian… tentang bagaimana kamu begitu ingin menunjukkannya padaku.”Kanina tersenyum kecil. “Bukankah itu hal yang bagus?” tanyanya kemudian. “Suamimu pasti bangga, punya istri yang begitu rajin menunjukkan betapa bahagianya dia setelah berpisah denganku.”Kata-kata itu dipenuhi sarkasme—halus

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status