Startseite / Romansa / Suami Perkasa / Aku Tidak Rapuh

Teilen

Aku Tidak Rapuh

last update Veröffentlichungsdatum: 21.09.2025 16:39:54

Malam itu, Elina tertidur dengan wajah basah air mata di lantai ruang tamu. Sementara Carlos, meski sudah masuk kamar, masih belum benar-benar lelap. Alkohol membuat kepalanya berat, tapi pikirannya tak henti berputar.

Bayangan Elina ketika hamil muncul begitu saja. Perut membesar, wajah pucat, dan—yang paling ia benci—gosip yang pernah ia dengar: bahwa Elina masih menerima tamu ketika sudah mengandung. Entah benar atau tidak, gosip itu menempel di kepalanya, meracuni pikirannya.

Carlos meng
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Suami Perkasa   Adik Ipar

    Udara di ruangan itu terasa berat, seolah setiap napas harus dipaksakan keluar masuk paru-paru. Lampu gantung menyala redup, memantulkan kilau dingin di atas meja kaca yang penuh dengan sisa minuman. Bau alkohol bercampur dengan ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Di tengah ruangan, Edgar berdiri dengan napas tertahan, rahangnya mengeras, matanya tidak pernah lepas dari sosok di depannya. Edward. Pria itu berdiri santai, satu tangan memegang gelas, seolah ini hanya pertemuan biasa. Padahal tidak ada yang biasa dari cara dia menatap Edgar—tajam, merendahkan, penuh kendali. “Akhirnya dateng juga chiken loser,” ucap Edward pelan, bibirnya melengkung tipis. “Gue kira lo bakal terus sembunyi di balik alasan-alasan lo.” Edgar tidak menjawab. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, menahan sesuatu yang jelas-jelas hampir meledak. “Lo maunya apa?” tanyanya singkat. Edward tertawa kecil, berjalan mendekat dengan langkah santai. “Langsung ke inti. Bagus. Gue juga gak suka basa-basi.” Ia

  • Suami Perkasa   Sebelas Dua Belas

    Carlos memang terbiasa menertawakan apa pun, termasuk sindiran yang seharusnya menyinggungnya. Sore itu pun sama. Ia duduk santai di lounge langganannya, satu tangan memutar gelas minuman, sementara matanya menyapu ruangan tanpa benar-benar fokus pada apa pun. Di depannya, Gerald bersandar dengan ekspresi yang terlalu santai untuk sesuatu yang jelas-jelas sedang ia siapkan. “Lo tuh ya, Carlos…” Gerald membuka percakapan sambil menggeleng pelan. “Kadang gue bingung. Lo ini sadar gak sih diri lo kayak apa?” Carlos menyeringai. “Sadar banget. Ganteng, kaya, menarik. Mau lanjut?” Gerald terkekeh pendek, tapi matanya tidak ikut tertawa. “Playboy cap kadal. Itu julukan yang paling cocok.” Carlos mengangkat bahu, santai. “Gue gak pernah bilang gue cowok baik baik.” “Iya,” Gerald mengangguk pelan. “Masalahnya… sifat kayak gitu ternyata nular juga ya di keluarga lo,ternyata turun temurun.” Carlos berhenti sebentar, lalu tertawa kecil. “Mulai nih. Mau bawa-bawa siapa lagi sekarang?

  • Suami Perkasa   Pecat Nadia

    Perasaan bersalah itu tidak pernah benar-benar pergi dari Mariana;Lucy bernapas dengan sisa-sisa berat yang belum sepenuhnya hilang, bayangan tentang asap rokok dan sosok Edward selalu ikut muncul, menempel seperti bayangan yang tak bisa dilepaskan. Ia sempat ingin mengakhiri semuanya, memutus Edward sekali dan untuk selamanya, demi Lucy, demi dirinya sendiri. Jarinya pernah berhenti di atas layar ponsel, tepat di nama itu. “Udah cukup…” bisiknya pelan. Tapi sebelum keputusan itu benar-benar jadi, bayangan itu muncul—Durasi? Tahan uji.Stamina.. terlalu KuatTeknik.. sangat Kreatif.Dan yang paling pentimg Edward hafal titik-titik sensitif tubuhnya..Mariana tidak rela kehilangan kesenangan begitu aja. “Kalau aku lepas semuanya… aku bakal kehilangan kepuasan.” gumamnya. Pada akhirnya, ia tidak jadi menekan apa pun. Lucy perlahan sembuh. Batuknya mereda, napasnya kembali teratur, dan tangisnya kembali hidup. Rumah yang sempat tegang mulai menemukan ritmenya lagi, meski tidak

  • Suami Perkasa   kita Usahakan

    Awalnya terasa seperti sesuatu yang ringan, hampir seperti adegan yang terlalu indah untuk dipertanyakan. Edward berdiri di dekat jendela, cahaya sore jatuh miring di bahunya, mempertegas garis rahang yang tegas dan tatapan yang selalu seolah tahu apa yang ia inginkan. Di sela jemarinya, rokok menyala pelan, asapnya naik tipis, melingkar santai sebelum menghilang di udara. Ia menghisap tanpa terburu-buru, seolah dunia berjalan mengikuti ritmenya. Mariana duduk di sofa, memperhatikannya dengan senyum kecil yang sulit ia sembunyikan. “Apa sih lihatnya gitu amat?” Edward melirik, setengah tersenyum. Mariana hanya mengangkat bahu, tertawa pelan. “Nggak. Cuma… kamu tuh sok keren.” Edward mendekat tanpa menjawab, menyingkirkan rokoknya ke asbak, lalu berdiri tepat di depannya. Tangannya naik, menyelip ke rambut Mariana, menariknya sedikit mendongak. Ada aroma asap yang masih menempel, bercampur dengan sesuatu yang hangat dan familiar. Sebelum Mariana sempat bicara, bibir Edward sudah

  • Suami Perkasa   Pilihan Yang Bukan Pilihan

    Beberapa hari setelah itu, semuanya masih berjalan seperti biasa di permukaan. Mariana tetap di rumah, mencoba menjalani hari dengan ritme yang tampak normal, sementara Edgar tetap bersikap tenang seperti sebelumnya—tidak banyak bertanya, tidak pernah memaksa, dan seolah memilih memendam semua yang mungkin berputar di kepalanya. Namun ketenangan itu ternyata tidak benar-benar utuh. Sore itu, Edgar pulang dengan kondisi yang tidak bisa disembunyikan. Begitu pintu terbuka, Mariana yang sedang berada di ruang tengah langsung menoleh, dan dalam satu detik, tubuhnya refleks berdiri. Ada sesuatu yang langsung terasa tidak beres bahkan sebelum ia benar-benar melihat jelas. “Edgar—” Langkahnya cepat mendekat, hampir berlari kecil. Tangannya terangkat, ingin menyentuh wajah suaminya, tetapi tertahan di udara begitu ia melihat lebih jelas. Memar di sudut bibir. Pelipis yang sedikit bengkak. Dan goresan di tangan yang terlalu rapi untuk disebut kecelakaan biasa. “Ini kenapa?” su

  • Suami Perkasa   Cara Kamu Bilang Cinta

    Beberapa minggu setelah itu, vila yang awalnya terasa asing kini berubah menjadi ruang yang begitu akrab Pagi itu, cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela besar kamar, menyinari lantai kayu dan sebagian tempat tidur yang belum sempat dirapikan. Mariana duduk ditepi ranjamg. Edward keluar dengan langkah santai, rambutnya masih basah, tetesan air jatuh perlahan ke bahu dan dadanya. Ia tidak mengenakan atasan, hanya celana panjang santai yang menggantung rendah di pinggangnya. Tidak ada kesan sengaja pamer, tapi justru itu yang membuat semuanya terasa lebih nyata. Mariana terpaku sejenak, matanya menangkap setiap detail tanpa bisa langsung berpaling. Tubuh Edward terlihat kuat dan terlatih, bukan berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia menjaga tubuhnya. Bahunya lebar, garis lengannya tegas, dan ada ketenangan dalam cara ia berdiri—seolah ia sepenuhnya nyaman dengan dirinya sendiri. Mariana cepat-cepat mengalihkan pandangan, tapi ekspresi kecil di wajahnya sudah

  • Suami Perkasa   Pagi Yang Nyata

    Hujan belum reda ketika mereka akhirnya tiba di sebuah hotel Nafas Sukma masih memburu, tubuhnya menggigil. Gaun tipis yang melekat di kulitnya dingin, berat oleh air hujan. Steve menggenggam tangannya erat, seakan takut jika ia melepaskannya barang sedetik saja, Sukma akan menghilang lagi. Mer

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-26
  • Suami Perkasa   Aku Sudah Iklas

    ---Farel melangkah perlahan di antara batu-batu nisan, angin sore membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram hujan. Langkahnya berat, seperti ada beban yang menekan setiap inci tubuhnya. Di tangannya, ia membawa bunga melati segar yang baru saja ia beli dari pasar kecil di dekat gerbang maka

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-26
  • Suami Perkasa   Kau Bersalah

    --- Farel duduk di sofa, tangan gemetar,rasa penasaran dan bersalah yang tak tertahankan. Meski Sukma telah tiada, Farel merasa ada kepingan kebenaran yang harus ia ungkap. Pagi itu, ia melangkah ke kantor Steve Gallant Mecredi—pria yang terakhir kali menolong Sukma. Ia perlu jawaban, penjelasan

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-26
  • Suami Perkasa   Aku Kalah

    Steve langsung bangkit. Ia menyingkirkan tangan Sukma dengan lembut namun tegas, lalu berlari ke luar kamar. Sukma tercekat, tidak percaya pria itu benar-benar meninggalkannya di tengah pelukan yang panas. Di ruang tengah, Steve mendapati pemandangan yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-26
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status