เข้าสู่ระบบ“Ibu mengatakan seseorang sudah menungguku di sisinya,” ujar Adrian sambil menatap gerbang antar-dunia yang berputar di hadapannya. Suara tawa dari balik gerbang semakin jelas. Adrian merasakan inti purba di dalam dadanya berdenyut keras, seolah mengenali keberadaan seseorang di seberang sana. “Jangan masuk sebelum kau mengetahui siapa yang menunggumu,” ujar Kaelvar memperingatkan. Adrian menoleh. “Kalau orang itu bersama ibuku, aku justru harus pergi,” jawab Adrian. Kaelvar menggeleng. “Tempat itu bukan dunia yang bisa kau masuki sesuka hati,” ujar Kaelvar. Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Aku sudah terlalu lama membiarkan orang lain menentukan jalan hidupku,” ujar Adrian. “Kali ini aku yang menentukan.” Alya melangkah mendekat. “Adrian, aku ikut denganmu,” ujar Alya. Adrian menatap Alya. “Tempat itu mungkin sangat berbahaya,” ujar Adrian. “Aku tahu,” jawab Alya. “Tapi aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian.” Adrian terdiam sesaat. “Baik,” ujar Adr
“Inti pertama ada di dalam tubuh ibuku?” tanya Adrian sambil menatap sosok berjubah putih itu dengan wajah tak percaya. Sosok tersebut mengangguk. “Benar, Adrian,” jawab sosok itu. Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga. “Kalau begitu, kenapa selama ini semua orang mengatakan inti purba berada di tubuhku?” tanya Adrian. “Karena inti yang berada di tubuhmu hanyalah pecahan kedua,” jawab sosok tersebut. Adrian terdiam. “Pecahan kedua?” tanya Adrian. “Ya,” jawab sosok itu. “Inti pertama berada dalam tubuh ibumu sejak sebelum kau lahir.” Adrian merasakan dadanya sesak. “Lalu kenapa ibu memberikan kehendaknya kepadaku?” tanya Adrian. Sosok itu memandang Adrian dengan tatapan serius. “Karena ibumu tahu inti pertama akan memburumu setelah kau lahir,” jawabnya. Adrian mengepalkan tangan. “Siapa yang memburu ibu?” tanya Adrian. “Penguasa purba,” jawab sosok itu. Penguasa purba yang terluka langsung menatap sosok tersebut. “Jangan membuka rahasia itu!” bentak penguasa purba. A
“Jadi kaulah pencipta sebenarnya dari inti purba?” tanya Adrian sambil menatap kegelapan yang terbuka di belakang penguasa purba. Sebuah sosok perlahan keluar dari celah ruang. Jubah putih menutupi seluruh tubuhnya, sementara wajahnya masih tersembunyi di balik bayangan. “Benar, Adrian,” jawab sosok tersebut. Adrian menggenggam Pedang Sang Penjaga semakin erat. “Kenapa kau memanggil namaku seolah kau sudah mengenalku sejak lahir?” tanya Adrian. Sosok itu tertawa pelan. “Karena aku melihatmu sebelum kau melihat dunia,” jawabnya. Adrian mengerutkan kening. “Apakah kau yang memilih kelahiranku?” tanya Adrian. “Bukan,” jawab sosok tersebut. Adrian terkejut. “Lalu siapa?” tanya Adrian. Sosok itu menunjuk ke dada Adrian. “Dirimu sendiri,” jawabnya. Adrian terdiam. “Aku tidak mengerti,” ujar Adrian. “Kesadaranmu sebelum lahir memilih untuk menerima inti purba,” jawab sosok tersebut. Adrian mengingat kembali sosok anak kecil yang pernah ditemuinya dalam ruang putih. “Adrian
“Kalau satu kehendak harus hilang, biarkan kehendakku sendiri yang menentukan harganya,” ujar Adrian sambil menggenggam Pedang Sang Penjaga. Cahaya putih memenuhi Kuil Penjaga Pertama. Penguasa purba mundur beberapa langkah, sementara lantai di bawah kaki Adrian retak. [PROSEDUR PEMBUNUHAN PENGUASA PURBA: 12%.] [PERINGATAN.] [PENGGUNAAN PEDANG AKAN MENGHAPUS SATU KEHENDAK.] Adrian menatap tulisan sistem. “Kalau kehendak ibuku hilang, apa yang akan terjadi?” tanya Adrian. Sistem menjawab. [KEHENDAK SANG PENJAGA AKAN TERHAPUS.] Adrian menggeleng. “Aku tidak akan membiarkannya,” ujar Adrian. Penguasa purba tertawa. “Kau tidak memiliki pilihan lain,” ujar penguasa purba. Adrian menatapnya. “Selalu ada pilihan,” jawab Adrian. Penguasa purba mengangkat tangannya. “Kalau begitu, gunakan pedangmu,” tantang penguasa purba. Gelombang hitam melesat menuju Adrian. Adrian mengangkat Pedang Sang Penjaga. “Bukan sekarang,” ujar Adrian. Ia menebas udara. Gelombang putih membelah
“Jadi kehendak ibuku adalah kunci untuk membunuhmu?” tanya Adrian sambil menatap penguasa purba. Penguasa purba tersenyum. “Benar,” jawab penguasa purba. “Itulah alasan kehendaknya harus disembunyikan.” Adrian mengepalkan tangan. “Kalau begitu, kenapa kau tidak menghancurkannya sejak awal?” tanya Adrian. “Karena aku tidak bisa menyentuh kehendak itu secara langsung,” jawab penguasa purba. Adrian menyipitkan mata. “Kenapa?” tanya Adrian. “Karena kehendak ibumu berasal dari garis penjaga yang diciptakan untuk mengikatku,” jawab penguasa purba. Adrian menatap simbol putih di dadanya. “Jadi selama ini kemampuan itu bukan sekadar warisan,” ujar Adrian. “Bukan,” jawab penguasa purba. “Itu adalah senjata.” Adrian menarik napas. “Kalau begitu, aku akan menggunakannya,” ujar Adrian. Penguasa purba tertawa. “Kau pikir semudah itu?” tanya penguasa purba. Adrian mengangkat tangan. “Aku tidak perlu mengalahkanmu dengan kekuatan,” jawab Adrian. “Aku hanya perlu menemukan kelemahanm
“Kalau kau sudah bangun, tunjukkan dirimu!” seru Adrian sambil menatap langit-langit Kuil Penjaga Pertama. Guncangan semakin kuat. Debu berjatuhan dari atap kuil, sementara inti purba di dalam tubuh Adrian berdenyut seperti jantung kedua. [PERINGATAN KRITIS.] [PENGUASA INTI PURBA TERDETEKSI.] [JARAK: TIDAK DAPAT DIUKUR.] Adrian mengepalkan tangan. “Jangan sembunyikan dirimu di balik tekanan energi,” ujar Adrian. “Aku tidak akan tunduk hanya karena kau lebih tua dariku.” Sebuah suara menggema dari seluruh penjuru kuil. “Kesombonganmu masih sama seperti saat pertama kali darahmu diciptakan,” ujar suara tersebut. Adrian mengerutkan kening. “Darahku tidak diciptakan untukmu,” jawab Adrian tegas. Suara itu tertawa rendah. “Kau akhirnya mengingatnya,” ujar suara tersebut. Adrian merasakan sesuatu bergerak di dalam inti purbanya. [KEHENDAK SANG PENJAGA AKTIF.] [KEHENDAK PENGUASA INTI AKTIF.] Dua kekuatan itu menyatu. Adrian menarik napas. “Keluar dari tubuhku,” perintah Adr







