ANMELDEN”Hmm….”
”Lo emosian banget akhir-akhir ini, jadi gue pikir lo butuh humor sejenak.””Humor lo jelek!”Ia tertawa pelan. Sesuatu menyentuh bagian belakang kepalaku. Dan kuyakin itu keningnya yang ia tempelkan di sana.“Lo PMS, ya?””Menurut lo?””Biasanya kalau lo udah jadi singa begini, lo pasti PMS. Karena Flo yang normal tuh nggak meledak-ledak. Kecuali kalau PMS.””Hmm.” Mungkin memang aku sedang mengalami PMS. Seingatku, periode datang bulanku memang beberapa hYacht ini bersandar di tengah-tengah laut yang indah. Aku duduk di salah satu kursi santai, menatap laut yang indah sejauh mata memandang. Rainer tiba-tiba mendekat dengan celana renangnya yang ketat.”Yakin nggak mau berenang?””Nggak mau.””Ya udah, pegangin hape gue. Gue mau berenang dulu.”Ia menyerahkan ponselnya padaku, kutaruh di atas meja bersamaan dengan ponselku dan juga minuman dingin. Pria itu berjalan menuju dek belakang lalu melompat ke dalam air. Ia bergerak lincah di dalam air sementara aku menatapnya dengan tatapan ngeri, membayangkan ada hiu kelaparan yang sedang mencari mangsa lalu menerkamnya.Seketika tubuhku bergidik. Pasti sangat mengerikan sekali. Rainer benar, ini akibat kalau terlalu sering menonton film, otakku jadi terkontaminasi dengan hal-hal seperti itu. Kuputuskan untuk meneruskan bacaan yang belum selesai juga, novel itu hanya berhasil kubaca separuh sejak tiba di Bali, jadi aku ingin menyelesaikannya selagi kami di sini.
“Flo.” Rainer meraih tanganku untuk digenggam dengan lembut. “Apa pun yang lagi berisik di pikiran lo, keluarin aja. Jangan ditahan. Jangan lo pikirin mati-matian. Lo tuh suka banget overthinking sama segala sesuatunya. Ada apa? Cerita aja sama gue.”Justru hal itu yang paling tidak bisa kuceritakan padanya. Aku agak takut dengan perubahan hubungan ini. Meskipun bersikeras mengatakan bahwa tidak ada yang berubah. Nyatanya aku merasa ada yang berubah. Apakah karena seks?Tiba-tiba Rainer berdiri lalu mendekatiku, ia membungkuk untuk memeluk tubuhku dengan lembut.”Yang lo takutkan nggak akan terjadi. Apa pun itu. Entah hubungan pertemanan kita atau apa pun yang berisik dalam benak lo sekarang. Kita tetap seperti yang sebelumnya. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Ikuti aja alurnya. Lo juga butuh having fun. Nggak capek jadi Wonder Woman terus? Rileks, nikmati apa yang terjadi hari ini. Nggak usah dikhawatirkan apa yang belum terjadi esok hari.” Ia mencium puncak kepa
Tubuhku terasa hangat dan juga ada sesuatu yang berat sedang menekanku dari belakang. Dengan penuh perjuangan, aku membuka mata.Hal pertama yang kulihat adalah tirai kamar. Cahaya dari tirai yang sedikit terbuka menandakan hari sudah siang. Entah jam berapa sekarang, aku tidak tahu. Aku mencoba menggerakkan tubuh yang terasa kaku dan juga pegal, sayangnya tidak bisa karena perutku sedang dipeluk erat oleh sepasang tangan kekar..Ah, pantas saja. Tadi malam aku melakukan hubungan seks dengan Rainer berkali-kali sampai kelelahan. Entah jam berapa kami tidur, yang pasti menjelang subuh. Kami terus melakukannya sampai merasa puas, hanya beristirahat sebentar sebelum memulainya lagi. Dia memiliki stamina yang tiada habisnya. Untung saja aku cukup bisa mengimbangi meskipun pada akhirnya tetap kewalahan. Miliknya yang kembali mengeras menekan pinggangku. Apa ia kembali bernafsu? Atau ini hanya reaksi alami dari tubuh pria setiap pagi? Merasakan ketenangan napasnya yang menerp
”Jangan ditahan,” ujarnya menyentuh bibir bawah yang kugigit. “Gue mau dengar suara lo. Jadi please… jangan ditahan.” Bibirku masih terkatup rapat, mencoba untuk tetap menahan suara. Namun ketika ibu jarinya mendesak masuk ke dalamku di bawah sana, pertahananku hancur. ”Ah…” eranganku keluar begitu mudahnya. Kepalaku mendongak kala ia menarik ibu jarinya untuk mendorong jari tengahnya. “Yeah, like that.” Pria itu mencium bagian atas vaginaku. “Gue suka sama suara lo.” Sialan! Benar-benar seperti diriku dihancurkan dalam sekali pukulan. Ciumannya kini tertuju pada klitorisku dan mengisap tonjolan kecil itu yang membuatku tersentak dengan pinggul yang terangkat. ”R-Ren!” Nikmat. Sungguh nikmat. Pandangan berputar-putar sehingga membuatku pusing. Reaksi tubuhku begitu terang-terangan. Kewanitaanku berdenyut lebih hebat di saat lidah Rainer menjilat klitoris yang menegang. Ia mengisap, menjilat dan menggigit pelan titik sensit
Tangannya bergerak cepat untuk melepaskan gaunku, dalam waktu beberapa detik, aku sudah berbaring hanya dengan mengenakan celana dalam. Semuanya masih belum mampu kucerna dengan baik. Ketika tangannya mulai menyentuh celana dalamku, mendadak aku mendorong dadanya yang keras.”Kenapa? Berubah pikiran?” Rainer mengangkat wajahnya yang terkubur di leherku.”M-mandi dulu,” ucapku terbata. “Nggak perlu, lo masih wangi—“”Gue mau mandi dan bersihkan makeup dulu.” Karena aku yakin akan langsung tidur setelah kami melakukannya nanti. Aku harus membersihkan wajah sebelumnya, kulitku yang sensitif akan berjerawat kalau aku tidur dengan wajah yang tidak dibersihkan. “Gue takut jerawatan.”Rainer menaruh keningnya di bahuku sambil menahan tawa sampai bahunya bergetar.”Gue udah diujung dan lo masih mikirin jerawat?””Gue nggak suka jerawatan, bikin badmood.”Rainer turun dari tubuhku untuk berbaring di sampingku, ia menolehkan kepalanya untuk menatapku yang juga
Aku tidak berani bersuara, hanya kakiku yang bergerak kian lambat. Kepalaku menoleh ke samping karena tidak berani menatapnya sementara ia tetap menunduk ke arahku. Terpanaan napasnya mengenai puncak kepalaku.Ketegangan di antara kami terasa berbeda. Seperti ada percikan-percikan gairah yang siap menyambar bagai petir. Aku berusaha untuk mengendalikan diri. Bahkan ketika telapak tangannya mengusap lembut pinggangku, aku tetap mencoba untuk tenang.Bagian tengah tubuhku berdenyut kian hebat. Tanpa bisa kucegah, benakku kembali memutar malam di mana kami bergelut dalam gairah. Berpelukan seperti ini membuatku membayangkan pelukan yang kami lakukan dalam keadaan telanjang.God! Pikiranku tidak tertolong lagi!”Ngobrolin apa aja sama Melvin?”“Kepo. Nggak semua hal harus gue ceritain sama lo.””Lo happy banget kayaknya.”“Gue mau diangkat jadi komisaris, happy dong,” jawabku asal.Dia tertawa pelan, tawa yang begitu dekat dengan telingaku sampai membuatk







