로그인Orion Petralis memasuki ruangan dengan mencolok. Aura kekuasaan dan kekayaannya menguar dengan kuat seperti wibawanya. Aura pria yang terbiasa menguasai keadaan dan situasi. Aura pria yang terbiasa mengambil keputusan-keputusan penting. Aura yang sama sekali tidak ada pada diri Aldi Ananta.
Cherryl menatap keberadaan Orion dengan mulut ternganga. Udara di ruangan itu terasa panas dan gerah baginya. Keringat mulai muncul membuat ke
Orion Petralis memasuki ruangan dengan mencolok. Aura kekuasaan dan kekayaannya menguar dengan kuat seperti wibawanya. Aura pria yang terbiasa menguasai keadaan dan situasi. Aura pria yang terbiasa mengambil keputusan-keputusan penting. Aura yang sama sekali tidak ada pada diri Aldi Ananta.Cherryl menatap keberadaan Orion dengan mulut ternganga. Udara di ruangan itu terasa panas dan gerah baginya. Keringat mulai muncul membuat ketiaknya basah. Leher dan pelipisnya juga.Mr. Binochi menarik kursi untuk diletakkan di sampingnya. Dia menoleh saat Orion duduk. Orion tersenyum padanya.“Senang melihatmu baik-baik saja, Maharani.”Dia terkekeh pelan. Sementara Lintang menyengir lebar.“Tentu saja aku baik-baik saja. Aku bersama orang-orang baik. Ada adikku, Pak Darwis, kau dan Mr. Binochi. Para petugas juga bersiaga penuh di luar,”dia tersenyum lebar.
Para wartawan semakin banyak berkumpul di depan pintu masuk. Selentingan kabar yang menyebut nama Ananta dan istri, mantan pejabat dan masih menjadi CEO Sawit Pertiwi itu menjadi magnet tersendiri di kalangan pers untuk berkumpul di depan Polda. Bahkan beberapa stasiun TV mengirimkan reporternya untuk meliput.Mantan pejabat yang dikenal bersih dalam tanda kutip karena licin berkilah dan memainkan peran di belakang layar itu membuat pers menjadi penasaran, siapa yang berani mengusik kehidupannya yang selalu terlihat tenteram itu.“Pak Darwis, bisa tolong jelaskan lebih lanjut, Pak. Bisa Anda kenalkan kepada kami klien Anda?” tanya seorang wartawan dengan nada tidak sabar.Seorang petugas berbicara dengan Pak Darwis kemudian mengarahkan semuanya ke ruang lobby untuk mengadakan konferensi pers dadakan. Sudah ada meja panjang dan kursi-kursi untuk pihak pelapor di depan
Perjalanan ke gedung The Esthetic Jewelry lancar tanpa hambatan apapun. Dia sudah menerima laporan tentang progress pembuatan reproduksi bross milik Keluarga Petralis. Beberapa bagian sudah diselesaikan. Logo Petralis dengan ukiran pada huruf P-nya adalah bagian yang terumit. Belum selesai prosesnya hingga saat mereka tiba.“Aku sangat terkesan dengan proses pembuatannya yang cepat dan sangat presisi per bagiannya,” Orion Petralis menyingkirkan kaca pepbesar berbentuk persegi panjang untuk memudahkannya melihat detil pengerjaan divisi produksi.“Kau benar. Aku bisa betah duduk berjam-jam hanya untuk mengamati bagaimana mereka bekerja. Memanaskan logam-logam mulia itu lalu membentuknya menjadi beberapa bagian kecil. Digiling, dipukul. Digiling lagi hingga mendapat ukuran diameter yang diinginkan. Kemudian mulai dibentuk dengan hati-hati,” Lintang tersenyum lebar.“Kakak Se
Menjelang sore, semua kegiatannya memeriksa kafe miliknya di beberapa daerah elit Jakarta selesai. Hanya beberapa tempat yang memberi keuntungan. Beberapa tempat impas antara pemasukan dan pengeluarannya. Dan banyak yang sepi dari pengunjung.Bagi dia dan suami, tempat-tempat miliknya yang sepi dari pengunjung bukanlah kerugian. Toh mekanismenya, mereka mendapatkan untung dari mengelola tempat usaha yang seolah adalah milik mereka. Padahal, semua operasional ada yang membiayainya. Tempat yang sepi dan jauh dari keuntungan tetap terlihat keren, bersinar dan berkelas karena ada transaksi yang tak terlihat di permukaan. Transaksi besar. Permainan kakap dan kelas tinggi yang tidak semua orang bisa melihatnya. Uang bernilai milyaran berputar di tempat-tempat yagn terlihat sepi pengunjung itu. Arus cash flow-nya cepat hingga tak terlacak siapapun.Dan dirinya sebagai pengelola, mendapatkan fee 2% dari seti
Nyonya Ratna baru saja keluar dari kafe miliknya. Kafe dengan konsep keluarga yang berada di kawasan mall modern di Jakarta Selatan. Di kafe milik ini, perputaran uang lumayan menggairahkan daripada di kafe miliknya di tempat lain.Dia baru saja memeriksa laporan keuangan mingguan di sana. Semua berjalan lancar. Semua terlihat memuaskan. Semuanya terasa lancar kecuali tadi saat suaminya memberitahu bahwa orang yang diutus untuk menguntit menantunya tidak bisa dihubungi dan belum memberi laporan.Geram. Kenapa yang berhubungan dengan menantunya itu selalu menjadi berantakan urusannya? Sebelum nama belakang menantunya terkuak sebagai “Herlambang yang itu” urusan dengan menantunya selalu lancar dan baik-baik saja. Bahkan saat dia meminta liburan ke Pattaya pun tanpa banyak bicara, menantunya memberi tiket dan akomodasi plus uang saku selama seminggu di sana bersama suaminya.Menantunya yang ia nilai kaya
Perjalanan menuju makam di mobil Orion sunyi. Orion membiarkan dirinya hanyut dalam pikirannya sendiri. Memberinya waktu untuk merenung dan berpikir. Memberinya kesempatan untuk membenahi pikirannya tanpa membebani dengan aneka obrolan yang dipaksakan harus ada demi sopan santun.Dia terdiam. Kedua tangannya saling meremat di atas pangkuannya. Sementara Orion sesekali melirik ke arahnya.Mobilnya yang dikemudikan Lintang berada di depan mereka. Sementara mobil paling depan adalah mobil pengawalnya sebagai pembuka dan pemandu jalan, sementara mobil paling belakang adalah mobil pengawal Orion.Pak Darwis tidak berada di rombongan mereka. Dia harus berada di Prisma Glass karena dipanggil oleh Om Tara.Siang itu cuaca cerah. Langitnya begitu biru begitu mereka memasuki areal pemakaman.“Sudah?” suara berat Orion membuatnya tersentak.
Om Tara dan Om Pram tiba hampir bersamaan. Kak Ishaak datang dengan membawa amplop cokelat. Kak Abdi datang paling akhir bersama Anggita. “Bagaimana bisa mereka dengan tidak tahu malu berbicara seperti itu kepada Rani?” Om Pram terlihat sangat gusar.“Dokter Fa
Suara tawa di ruang rawat inap kelas VVIP itu terdengar hingga keluar ruangan. Wajah-wajah lega dari semua yang ada di ruangan itu. Lega, karena dirinya sudah sepenuhnya sadar. Lega, karena dirinya tidak mengalami amnesia seperti yang dikhawatirkan. Ventilatornya sudah d
Dia sangat menyukai tindakan yang diambil Kak Ishaak. Satu keplakan keras mendarat di kepala Mas Aldi. Om Tara dan Om Pram sedang berbincang dengan Neurolog yang menangani cedera kepala keponakan mereka. “Kepalamu terlalu bebal untuk mengerti, Aldi! Para old money ti
Dia sudah mandi dan memakai baju rumah yang nyaman. Ia akan menghabiskan sore ini di taman belakang yang sedang digarap oleh Anwar. Pemandangan halaman belakang terlihat mencolok dengan adanya berkarung-karung media tanam, kompos, sekam bakar, dan sebagainya. D







