LOGIN"Salam, Yang Mulia 'Ratu' yang terhormat di Kerajaan Langit," salam Mei Ling dengan nada menyindir dan mencibir. "Aku kira kau sudah melupakan tata krama dan etika yang dijunjung tinggi di istana dalam ini, Selir Utama Mei Ling," ganti Li Jing menyindir dan mencibir ke arah Mei Ling. Tatapan tajamnya yang bagaikan belati beracun mengintimidasi tepat di netra Mei Ling membuat Mei Ling sedikit bergidik. Suaranya yang tegas dengan nada soprannya yang khas, kali ini sungguh membuat Mei Ling sedikit bergetar. "Sejak kapan dia begitu mendominasi aura di sekitarnya," gumam Mei Ling dalam hatinya. "Maafkan Hamba, Yang Mulia, beberapa hari ini hamba tidak enak badan, sehingga hamba tidak bisa menghadap untuk memberi salam pada Yang Mulia," jawab Mei Ling yang sedikit melemah dan melembut merasakan bahwa saat itu adalah saat yang sangat tidak tepat untuk memprovokasi Li Jing dengan perkataannya, karena bagaimana juga Li Jing adalah Ratu Kerajaan Langit, apalagi Mei Ling mendengar bahwa Ra
Malam itu seperti yang telah di putuskan oleh Wang Ming, mereka menuju Paviliun Mawar Phoniex. Ketika mendekati tempat kediaman Li Jing, terdengar suara merdu yang menyanyikan lagu cinta yang hangat. Wang Ming akhirnya tergoda untuk melihat pemandangan indah di depannya. Seorang wanita sedang mengenakan pakaian sedikit terbuka, namun jelas memperlihatkan lekuk tubuh dan kemolekan tubuh pemiliknya. Wang Ming yang sudah terpengaruh dengan dupa khusus yang ada di area tersebut mulai mendekati wanita yang sedang menyanyi dan menari itu. Wang Ming memeluk pinggang ramping wanita tersebut dan mencium aroma sejuta bunga yang menjadi parfum wanita itu di lehernya yang putih dan tanpa noda. Dupa asmara seribu cinta pun membuat Wang Ming semakin mabuk dan tidak bisa mengendalikan hasrat yang tiba-tiba mencuat. Milik kebanggaan Naga itu sudah mencuat kokoh dan keras di balik jubah Kekaisarannya yang dia kenakan. Kasim Liang dan semua pelayan yang mengikuti Raja tahu diri dan melangka
Kedua Selir itu kembali saling lempar pandangan satu dengan yang lain. "Ampun, Yang Mulia, mengapa Yang Mulia mengatakan kita harus minimal setara dengan kemampuan Selir Mei Ling?" tanya Selir Kim memberanikan diri. "Karena dia yang pandai membuat hati Raja luluh. Jika kalian tidak bisa setara kemampuan Selir Mei Ling, maka hati Raja juga tidak akan luluh pada kalian. Setelah pesta perjamuan Bunga Jade, biasa akan diadakan pemilihan Selir lagi, sebab hingga hari ini Raja kita belum mempunyai keturunan, itu pasti membuat para menteri cemas." "Hah, pemilihan Selir baru?" lirih Selir Yen. Wajahnya sudah pucat pasi. Harem istana memang terlalu beresiko. "Ya, dan pastinya akan lebih banyak lagi Selir baru yang lebih muda dan cantik dari kita. Jika kita tidak memiliki kelebihan apapun untuk memenangkan hati Raja, kita akan tersingkir!"Selir Yen dan Selir Kim terdiam. Apa yang dikatakan oleh Li Jing benar adanya. Sekarang semua ini bergantung pada usaha diri sendiri. Bukan lagi pada ya
Pagi itu di kediaman Li Jing, "Pagi Yang Mulia Baginda Raja dan Yang Mulia Ratu, sarapan sudah kami siapkan, di tambah tonik untuk memulihkan stamina juga," "Hmm, hmmm," Li Jing berdehem pada Xiao Xing dengan tatapan mata membunuh. Membuat Xiao Xing langsung pergi sambil senyum-senyum. "Minum dulu, Ratu ku, hmm?" Wang Ming langsung menyodorkan secawan air untuk Li Jing minum. "Terima kasih, Yang Mulia," sahut Li Jing. "Ratu ku, mulai hari ini, aku akan lebih memperhatikanmu, aku akan lebih bijaksana dan akan menyelidiki segala sesuatu dengan baik. Maafkan aku... telah lama abaikan dirimu dan selalu menyalahkan Ratu ku yang cantik dan bijaksana," ucap Wang Ming. Tangan Li Jing langsung digenggam dan dicium oleh Raja Wang Ming. "Yang Mulia, sebenarnya apa yang terjadi, Hamba selama ini juga berterima kasih kepada Yang Mulia." "Ratu ku, aku akan kembali ke sidang pagi, aku serahkan kembali urusan istana dalam harem ini padamu, aku kemarin sudah mengambil segel Phoniex yang
"Diam, Ratu ku jangan bergerak lagi," bisik Wang Ming. Tiba di kediaman Li Jing yang dia tinggalkan selama dua bulan itu kini sudah terlihat bersih, Wang Ming sudah memerintahkan pelayannya untuk membersihkan Paviliun Mawar Phoniex tadi. Raja Wang Ming langsung membawa Li Jing ke atas ranjangnya. Wang Ming langsung menciumi leher Li Jing dan bibir Li Jing di bawah kungkungannya. Li Jing menjadi gelagapan menerima sikap Raja Wang Ming yang sangat tiba-tiba seperti itu. "Yang Mulia, Yang Mulia, Hamba baru saja keluar dari aula leluhur Hamba masih bau dupa dan penuh debu abu selama di sana, Yang Mulia hamba... Hamba... hmmm, ah, hmm ah... Yang Mulia." ucap Li Jing di sela desahan yang spontan saja keluar saat Wang Ming sudah menciumi leher dan bibirnya semakin rakus. Hingga menarik jubah sederhananya jatuh ke pantai berhamburan. Dada bidang Wang Ming kini sudah terekspos kokoh di depan mata Li Jing yang masih membelalak tidak percaya atas apa yang dilakukan oleh Rajanya. Li J
Li Jing langsung lemas dan terduduk di lantai dingin aula leluhur, dia masih tidak percaya jika Raja Wang Ming tiba-tiba membebaskan hukuman kurungnya tanpa alasan jelas yang dia tahu. Gelang Giok Bulannya berpendar cahaya putih kebiruan sama seperti yang dia lihat saat A Chen dekat dengan dirinya beberapa bulan lalu sebelum dia di hukum kurung di aula leluhur. Kasim Liang, membawa Li Jing dan Xiao Xing, ke gudang harta milik Raja. Li Jing hanya mengikuti titah yang dia terima. Tiba di depan gudang harta Raja, Li Jing jadi ragu-ragu untuk masuk. Kembali gelang Giok miliknya berpendar cahaya warna putih kebiruan. Terasa sangat sejuk di kulit tangannya. Mata amethyst-nya, menatap takjub banyaknya harta yang sangat bagus di depan matanya. Xiao Xing sampai menelan salivanya melihat harta yang melimpah. Semua itu adalah hasil upeti wilayah sekitar yang selalu diberikan ke Kerajaan Langit setiap tahunnya. "Yang Mulia Ratu, silakan masuk. Raja sudeh mengizinkan Yang Mulia Ratu dan pel
Wesssss! Tap! Anak panah itu menancap tepat di pohon besar sebelah Wang Ming berdiri. Wang Ming yang terkejut tapi awas, melihat di ujung anak panah itu ternyata ada surat yang dililitkan disana. Wang Ming menarik anak panah itu dan membuka surat tersebut. "Lepaskan Ratu Li Jing! Bukan dia
"Tuliskan titahku!" "Lapor, Ampun Yang Mulia, Baginda Raja," seru seorang kasim datang melapor, hal yang tidak di duga oleh Li Jing dan Xiao Xing. "Ampun Yang Mulia, Baginda Raja, jangan timpakan kesalahan itu pada Selir utama, sebab telah kami selidiki, ternyata ada yang sengaja menyebarkan be
Hari yang ditunggu tiba juga. Di taman utama Kerajaan Langit, tampak banyak tamu undangan yang datang dan duduk di masing-masing kursi kehormatan mereka, sesuai dengan wilayah masing-masing. Selir Yen, Kim dan Xia, sudah mengambil posisi sesuai yang diatur oleh Li Jing. Namun saat mereka sibuk m
Desahan menuju puncak kenikmatan menjadi melodi malam itu bagi dua insan yang terjerat dalam asmara terlarang di istana barat Kerajaan Langit. Di tempat lain, Li Jing duduk dengan menatap langit yang tiba-tiba gelap tanpa bulan. Gelang Giok Bulan di tangannya kini berubah warna menjadi merah dan







