Masuk"Tabib Feng berapa lama aku bisa bertahan? Apakah ada penawarnya?" "Ampun Yang Mulia, ada legenda kuno, racun kabut dingin hanya bisa disembuhkan dengan air suci di lembah Bulan Abadi. Itu hanya bisa ditemukan oleh orang-orang yang pilihan saja. Jika Yang Mulia mendapatkan air suci itu maka Yang Mulia akan bisa kenal oleh semua racun mematikan di dunia. Namun tidak ada seorang pun yang sampai kesana. Kecuali Wang Tabib Dewa itu sendiri," jawab Tabib Feng sambil menyeka keringat dingin di pelipisnya. "Apakah sangat parah?" "Untungnya tidak terlalu parah, tapi Yang Mulia tidak bisa gunakan energi dalam Yang Mulia lagi. Jika Yang Mulia gunakan maka racun kabut dingin itu langsung mengembang dan menjalar ke seluruh organ vital Yang Mulia," jelas Tabib Feng. "Raja ini bisa bertahan berapa lama?" "Jika Yang Mulia rajin meminum tonik yang Hamba buatkan khusus maka Yang Mulia akan berumur lebih panjang dari seharusnya saat terkena racun tersebut." "Jadi, aku masih bisa memerintah lebih
"Lapor Yang Mulia, kami hanya ingin mengingatkan jika dua minggu lagi akan ada acara doa bagi para leluhur. Yang Mulia biasa mengadakan perjalanan untuk ziarah ke makam raja-raja terdahulu Kerajaan Langit dan meminta berkah bagi Kerajaan Langit. Jadi kami mengusulkan untuk segera di tunjuk para penanggungjawab yang akan mengurus pemberangkatan Yang Mulia," lapor Tuan Kim. "Terima kasih Tuan Kim, Anda sudah mengingatkan tradisi Kerajaan Langit. Baik, Raja ini menitahkan Tuan San saja yang mengurus segala kebutuhan dan persiapan upacara di makam para Raja terdahulu. Selaku Ketua Departemen Ritus dan Astronomi juga." "Hamba, akan melaksanakan titah Yang Mulia Bagindo Raja," jawab Tuan San cepat. "Baiklah, apakah masih ada lagi yang ingin dibicarakan?" "Untuk kali ini tidak ada, Yang Mulia," jawab para menteri. "Baiklah jadi kita akan persiapkan perjalanan panjang kita ke tempat para makan Raja terdahulu. Kita akan singgah di Kuil Keberuntungan juga yang tidak jauh dari makam para R
Wang Ming terus membuat Li Jing puas. Kini Wang Ming yang pegang kendali. Wang Ming langsung membuka kedua paha mulus Li Jing lebar -lebar dan memposisikan miliknya yang juga sudah tidak sabar untuk menikmati hangatnya milik Li Jing. Raja menggesek-gesekkan miliknya yang sudah keras dan besar itu ke milik Li Jing yang sudah basah dan mulai masuk perlahan-lahan. Blessssttttt! Akhirnya masuk juga, Wang Ming mulai menggerakkan dirinya maju mundur dan mulai mencapai kedalaman yang paling dalam milik Li Jing. Tubuh Li Jing melengkung dan menarik leher Wang Ming, bibirnya menciumi bibir Wang Ming. Wang Ming menyambut dengan rakus. Pertukaran saliva kembali terjadi. Hingga akhirnya Wang Ming pun tiba ke puncak kenikmatannya juga. Bersamaan dengan Li Jing, membuat keduanya kini ambruk dan saling memeluk. Tangan Wang Ming masih meremas - remas dada Li Jing, kemudian baru mengecup kening Li Jing yang sudah berkeringat banyak. "Malam ini, Ratuku sangat luar biasa, Raja ini jadi kewalaha
"Ampun Yang Mulia Baginda Raja, tadi, tadi, Ratu lagi mandi. Jadi Hamba berteriak supaya bisa segera menyambut Yang Mulia," jawab Xiao Xing cepat dengan langsung tersungkur di kaki Raja. "Dia adalah Ratuku, meski dia lagi mandi pun sepertinya tidak ada masalah bukan jika Raja ini masuk?" selidik Wang Ming lagi. Hatinya merasakan ada yang disembunyikan di balik pintu kediaman Li Jing. "Yang Mulia, Yang Mulia, Hamba akan cek dulu dan bantu Ratu bersiap dulu," mohon Xiao Xing, yang langsung berlari ke dalam dan menutup pintu dengan mengganjalnya dengan balok kunci dari dalam. Xiao Xing masih bisa melihat bagaimana berantakannya pakaian Ratunya yang sempat digoda kawan kecilnya tadi. Li Jing segera merapikan diri dan mencoba menghapus keusilan A Chen saat dia akan pergi. Xiao Xing menutup matanya saat A Chen memberikan tanda cintanya yang selama ini dia pendam pada Li Jing. "Aduh, tanda itu mengapa juga kelihatan di situ?" gumam lirih Xiao Xing yang melihat Li Jing berusaha menghapus
A Chen langsung menarik tubuh Li Jing mendekat ke dadanya yang sudah dibalut perban dan obat oleh Li Jing. Tubuh Li Jing yang ramping namun berdada besar itu kini menempel di dada bidang A Chen. "Chen, lepaskan aku," ronta Li Jing. "Tidak, kau bohong. Bibirmu yang manis ini menolak, tapi tubuhmu mengkhianatimu sendiri Jing'er," bisik A Chen membuat semua bulu kuduk Li Jing meremang. Nafas Li Jing bagaikan sedang diburu binatang buas di hutan. Naik turun dadanya yang besar langsung bergesekan dengan dada bidang A Chen itu, sontak membangunkan milik A Chen yang sudah lama tertidur dan tak mendapatkan pelepasan. Sibuk dengan urusan negara dan perintah rahasia Li Jing kawan kecilnya yang sudah menarik hatinya sejak awal mereka bertemu dan bersama. "Jing'er, aku tahu kau tidak sepenuhnya suka tinggal di sini. Tapi demi bangsa dan rakyat ini kau bertahan hingga kini, bahkan saat Raja mulai mengabaikan dirimu sejak lama, Raja hanya dekat dan mendengarkan Mei Ling si ganjen itu, kau menco
Li Jing langsung bergegas meninggalkan Raja Wang Ming. Nafasnya memburu, keringat dinginnya keluar begitu saja setelah dia sudah dekat dengan kediaman miliknya. "Hah, hampir saja,hampir saja. Hufffff! Dasar Raja Labil! sebentar marah, sebentar sayang, sebentar benci sebentar perhatian sebentar manja sebentar gilaaaaa!" maki Li Jing dalam hatinya. Tangannya yang putih mulus bak susu, mengipas-kipas dirinya yang sudah kepanasan. "Kau kira, aku akan luluh dengan sandiwara mu itu? Cih! Jika aku masih di kehidupan lalu aku pasti akan berbunga-bunga dan bahagia sekali kau datang dan memperhatikan aku seperti itu, tapi tidak untuk hari ini, setelah kau tega mencabut nyawaku dengan racun ganas itu, bahkan saat aku sekarat pun kau pergi dengan selir ganjen mu itu meninggalkan aku meregang nyawa sendiri, malah kau buang aku di makam dingin tak bertuan itu dan hampir tubuhku dimakan anjing hutan dan serigala, jika aku tidak alami itu semua di kehidupan laluku, aku mungkin bisa kembali tulus d
Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka
Xiao Xing, kembali dengan langkah cepat.“Yang Mulia, ini penawar racun yang Anda minta,” ucap Xiao Xing pada Li Jing. “Bagus. Apakah ada yang tahu kau membeli penawar racun ini?” Tanya Li Jing sambil memutar guci kecil berwarna hijau muda di tangannya. Matanya yang berwarna ungu amethist-nya,
“Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?” Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “
“Pelayan! Tuliskan titahku!”“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina, dicabut gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai. Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun







