ログイン"Aku akan membunuhmu!"Jeritan Lu Vivi menggema di seluruh ruangan. Namun Li Mingzi bahkan tidak berkedip. Dia masih berjongkok di samping Gong Manli, memastikan kondisi gadis itu benar-benar stabil setelah luka-luka yang dideritanya. Bagi Li Mingzi, ancaman Lu Vivi saat ini tidak lebih berarti daripada suara angin yang lewat."Mingzi... hati-hati," bisik Gong Manli sambil menggenggam ujung bajunya."Tenang. Aku di sini," jawab Li Mingzi singkat.Sebelum Gong Manli sempat mengatakan apa pun lagi, suara langkah kaki ramai terdengar dari luar ruangan. Suara sepatu menghantam lantai semakin dekat, disusul pintu yang terbuka lebar. Seorang pria muda dengan pakaian mahal masuk bersama belasan bodyguard bertubuh besar yang langsung memenuhi bagian belakang ruangan."Vivi!"Ye Anyi mempercepat langkah begitu melihat keadaan Lu Vivi. Wajahnya yang semula tenang langsung berubah ketika melihat pipi wanita itu membengkak dan rambutnya berantakan. Dia menghampiri Lu Vivi, lalu menoleh tajam ke s
Gong Manli terhuyung ke lantai setelah tamparan ketiga. Bibirnya sudah pecah, darah tercampur air liur menetes ke ubin marmer."Ruan Yin belum datang juga?" Lu Vivi berjalan mengelilinginya, hak sepatunya berdenting tajam di lantai. "Sudah setengah jam. Kau bohong padanya, ya?""Tidak..." Gong Manli menahan isak, dadanya sesak menahan sakit. "Jalannya jauh. Sekarang jam pulang kerja, macet parah...""Alasan!" Wen Liyin menendang pinggangnya, membuat Gong Manli mengerang keras dan meringkuk lebih dalam.Lu Vivi jongkok di depannya, mencengkeram dagu Gong Manli dengan kasar, memaksanya mendongak. "Kalau sampai lima menit lagi dia tidak muncul, kupastikan wajahmu ini tidak bisa dikenali lagi. Dengar baik-baik."Salah satu bodyguard menarik rambut Gong Manli, membuat kepalanya tertarik ke belakang. Wen Liyin mendekat lagi, kali ini mencubit lengannya keras-keras sampai memar. Gong Manli menjerit tertahan, air mata sudah bercampur darah di pipinya, tapi mulutnya tetap terkatup rapat. Ini s
Lu Vivi membanting pintu mobil begitu masuk, napasnya masih memburu. Dia menekan layar ponsel dengan kasar, menempelkannya ke telinga. "Ye Anyi. Ke rumahku. Sekarang." Tidak sampai lima belas menit, Ye Anyi sudah berdiri di ruang tamu, wajahnya cemas melihat Lu Vivi mondar-mandir dengan tangan terkepal. "Ada apa? Kenapa mukamu..." "Putra Mahkota Aula Bintang." Lu Vivi memotong, suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya. "Dia punya wanita lain. Bukan cuma satu. Dua!" Ye Anyi mengangkat bahu, seolah itu bukan berita besar. "Ya wajar saja, Vivi. Laki-laki seperti dia, punya banyak wanita itu biasa. Kalau soal aku..." dia melangkah mendekat, mencoba meraih tangan Lu Vivi, "...aku cuma mencintaimu. Tulus, tidak pernah macam-macam." Plak! Tamparan itu mendarat telak di pipinya sebelum sempat menyelesaikan kalimat. Ye Anyi terdiam, tangannya perlahan naik menyentuh pipi yang memerah. "Aku tidak butuh cinta tulusmu," desis Lu Vivi, matanya berkilat. "Aku cuma mau jadi sa
Qin Luxi duduk di meja kerja pribadinya, berkas tebal tergeletak rapi di hadapannya. Lampu meja menyorot tajam ke lembaran-lembaran itu, memperlihatkan foto dan catatan yang dikumpulkan Tuan Ji semalaman. Dia membaliknya satu per satu, sampai matanya berhenti pada satu nama yang membuat alisnya langsung berkerut.Ruan Yin.Dia membaca ulang paragraf itu, memastikan tidak salah lihat. Hubungan dekat, sudah lama, bahkan disebut-sebut cukup akrab di kalangan orang dalam Aula Bintang. Tangannya mengepal, kertas di genggamannya sampai kusut."Playboy." Kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, tajam dan penuh sinis. Dia melempar berkas itu ke meja, dadanya naik turun menahan geram. "Kupikir dia cuma polos. Ternyata pandai juga mainnya."Dia meraih pena merah, lalu melingkari nama Ruan Yin dengan gerakan kasar, tintanya sampai menembus ke halaman berikutnya. Nama Bai Yumeng menyusul kena lingkaran yang sama. Setelah itu, giliran nama Li Mingzi sendiri yang dia beri tanda silang besar-bes
Cahaya hijau kebiruan langsung menyembur dari permukaan batu, membentuk semacam perisai tipis yang menahan seluruh kekuatan petir itu sebelum lenyap begitu saja. Jantung Qin Luxi masih berdegup kencang, tapi kali ini bukan cuma karena takut, ada rasa penasaran yang mulai menggeser rasa ngerinya.Qin Luxi berkedip beberapa kali. Dia bahkan lupa menutup mulutnya. Apa yang selama ini dianggap cerita kosong baru saja terjadi kurang dari sepuluh langkah di depannya."Rambutku... kau bilang itu bahan formasi tadi." Dia menyentuh rambutnya sendiri, masih setengah tidak percaya. "Kenapa harus rambutku?""Karena kau gadis spiritual bawaan," jawab Li Mingzi santai. "Energimu murni, cocok jadi sumber tenaga formasi. Cuma kau yang bisa.""Jadi kau memang sudah merencanakan ini dari awal?""Kau memang ditakdirkan jadi wanitaku," katanya begitu saja, tanpa beban, tangannya terangkat memegang dagu Qin Luxi.Tepat saat itu, sambaran ketiga menyambar, lebih keras dari dua sebelumnya, membuat tanah di
Li Mingzi melepas kemejanya, melipatnya asal, lalu menjejalkannya ke dalam peti mati bersama sehelai rambut Qin Luxi. Tutup peti ditutup dengan bunyi berat, lalu didorongnya masuk ke liang yang sudah digali. Tanah ditimbun kembali, gundukan segar menutupi kayu hitam legam itu.Dia mendirikan batu nisan sederhana, menggores tulisan "Makam Li Mingzi" dengan jarinya sendiri di permukaan batu. Setelah itu digigitnya ujung jari, meneteskan darah merah pekat yang meresap ke dalam ukiran huruf."Nah, selesai." Dia menepuk-nepuk tangan, lalu menoleh dengan wajah polos. "Mau sujud dulu di depan makamku?""Kamu mati saja sana!" semprot Qin Luxi, wajahnya merah padam antara jijik dan geram. Laki-laki ini benar-benar tidak tahu malu, bikin makam sendiri lalu minta disembah seolah itu hal wajar.Li Mingzi tidak marah, malah tertawa kecil. Dia mulai berjalan mengelilingi makam kosong itu, satu putaran, dua putaran, terus sampai sembilan kali. Langkahnya pelan dan teratur, seperti sedang mengikuti p
"Ya." Li Mingzi beranjak dari kursinya."Hei, tunggu! Jangan masuk! Kau bisa celaka!" cegah karyawan berkacamata dengan panik.Tapi Li Mingzi tidak mengindahkan peringatannya.Karyawan berkacamata hanya bisa menggeleng pasrah, membayangkan pemuda aneh itu akan segera babak belur dihajar anak buah Z
Li Mingzi menatap cek itu dengan dahi berkerut. Kemudian mengangkat wajah dengan ekspresi bingung yang tidak dibuat-buat. "Apakah ini mahar untukku?"Linqi hampir tersedak. Beberapa karyawan yang menguping dari kejauhan saling berpandangan tidak percaya.Li Mingzi mengangguk pelan, lalu menggeleng.
Seketika, barisan pengawal dan pelayan di kiri-kanan pintu masuk ikut menundukkan kepala serempak. Jelas, Yu Shen telah memberitahu bawahannya mengenai Li Mingzi sebelumnya. Li Mingzi melirik mereka sekilas, lalu berdehem pelan, merasa tidak nyaman dengan penyambutan yang berlebihan ini. "Tidak
“Menaklukkan 7 wanita? Pasti ini hanya akal-akahan si tua bangka itu!” gerutu Li Mingzi, tetapi langkahnya terus terayun untuk masuk ke dalam kereta api. Demi bisa memperpanjang umurnya yang tinggal 28 hari lagi, Li Mingzi terpaksa turun gunung dan menjalankan misi khusus dari gurunya, Yu Shen. Ta







