로그인Yessica melewatinya, tetapi Giancha mengulurkan tangan setinggi pinggulnya dan menghentikannya. Yessica mendongak."Bukan berarti aku tidak ingin mengklaimmu sebagai milikku," bisiknya.Yessica menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. "Aku tahu. Ini rumit. Aku juga tidak menganggap kamu salah."Giancha mengangkat dagunya dan membungkuk untuk menciumnya dengan lembut."Kamu luar biasa dalam apa yang kamu lakukan, Harimau Betina, dan aku tidak pernah ingin menghambatmu. Sekarang ataupun di masa depan."Tangan Yessica memegang rahang Giancha. Mata birunya menatap mata Giancha."Aku tidak tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Tapi aku berterima kasih karena kamu peduli padaku."***"Kami menangkap Hendar Djatmiko pagi ini." Titto Raharjo, teman Giancha di kepolisian, menemui mereka di resepsionis. Itu kalimat pertama yang dia ucapkan.Yessica langsung bersandar pada Kairo. Kairo melingkarkan k
Giancha hampir lupa bahwa Simon berada di kantor mereka hari itu."Iya." Giancha mengusap rambut saat lift bergerak naik. "Dia adalah profesor Yessica dan pernah merayunya.""Kita tahu kenapa dia berada di acara amal?""Kampus punya satu meja di sana." Giancha bersandar ke dinding dan memperhatikan angka lantai yang bergerak naik perlahan. "Kenapa pria seperti dia mempertaruhkan pekerjaannya hanya untuk mencoba menyerang seseorang?"Semua tindakan penguntit sebelumnya sudah diperhitungkan. Yang ini terasa ceroboh."Pria itu mabuk. Mungkin dia melihat kesempatan lalu langsung meraihnya." Simon mengangkat bahu, dan lift berhenti di lantai kantor. "Kita hanya perlu menunggu dan melihat apakah mereka benar-benar menangkap pria itu."Giancha membawa Simon ke ruang rapat. Yessica berdiri dan tersenyum saat mereka melewatinya. Ketika Stefan keluar dari ruangannya, dia menjabat tangan Simon sebelum menghampiri Yessica. Stefan menuntun Ye
Tatapan Kairo menyusuri tubuh telanjang Yessica saat dia membuka celana jeans dan mengeluarkan rudalnya. Mulut Yessica pun langsung dipenuhi air liur melihat rudalnya yang sekeras baja. Kairo menggeleng sambil tersenyum kepadanya."Ini bakal cepat dan keras, tapi kamu akan menerimanya sebisamu. Benar, pelacur kecilku?"Yessica tidak sempat menjawab. Kairo mencengkeram kakinya lalu menghujamkan rudalnya dalam-dalam ke dalam diri Yessica. Protes Yessica berubah menjadi erangan.Kairo menyandarkan pergelangan kaki Yessica di bahunya lalu menurunkan tangan ke pinggul Yessica dan mengangkatnya dari tempat tidur."Aku butuh kamu klimaks dengan cepat, seperti pelacur yang baik."Kairo mengangguk kepada Andree sebelum menghentak masuk dan keluar dari tubuh Yessica. Setiap hentakan membuat panas di dalam tubuh Yessica semakin menyebar.Andree membungkuk di atas wajah Yessica lalu menempel pada buah dadanya. Dia menjilat dan
Tangan-tangan mereka membersihkan tubuh Yessica, menyusuri lekuk tubuhnya, lalu masuk ke dalam dirinya. Mulut-mulut mencium mulutnya sampai mereka bergerak dalam tarian yang memusingkan dan Yessica kembali menjadi berantakan oleh hasrat dan nafsu. Dia membutuhkan lebih. Dia menginginkan lebih.Sambil mengerang, Yessica pun berpegangan pada dada Giancha."Sial, Sayang." Tangan Kairo membelai pinggul Yessica. Jari-jarinya memainkan bokong Yessica sementara mulutnya mencicipi leher Yessica, menggigit, mengisap, dan menjilatnya. "Kamu perlu dikenyot, kan, pelacur kecilku?""Tolong," desah Yessica.Giancha mengangkat Yessica dan Yessica melingkarkan kedua kakinya di pinggangnya. Rudal Giancha meluncur ke dalam sangkarnya dan Yessica kembali merasa utuh.Saat Kairo memasukkan rudalnya ke bokong Yessica, tubuhnya hancur di antara mereka. Dia begitu penuh, begitu rakus dan sepenuhnya dikenyot, sampai dia tidak bisa tenang sementara keduanya
Andree mencium tengkuknya sementara Stefan mengusap kacang nikmatnya dan memperhatikan wajah Yessica. Dia menyerap setiap ekspresi Yessica, melihat gairah di dalam dirinya terus meningkat hingga akhirnya meledak."Besok," bisik Andree di telinganya, "aku dan Kairo akan menggenjot rahim serakah ini bersamaan, sementara Stefan menggenjot bokongmu dan Giancha menggenjot mulutmu. Kamu bakal penuh dengan rudal. Seberapa keras kamu akan klimaks untukku, Kucing kecil?"Stefan mengusap titik G Yessica sementara Andree terus mendorong masuk dan keluar sampai semuanya terasa kabur. Tubuh Yessica pun terjebak di antara tubuh panas mereka, kulit bergesekan dengan kulit. Tangan Andree terus menggoda buah dadanya.Sepanjang waktu itu, gairah di dalam tubuh Yessica meledak menjadi kobaran panas. Tubuhnya kejang dan menyembur di sekeliling keduanya. Yessica merasa dirinya hancur menjadi begitu banyak bagian hingga butuh waktu sangat lama untuk kembali pulih."Sia
Stefan mengusap kedua sisi pinggang Yessica lalu menempelkan dahinya di perutnya. Dia berbalik dan menyandarkan kepala di sana, ingin Yessica tahu bahwa dia adalah miliknya. Tangan Yessica menopang kepala Stefan. Dada Stefan mengembang saat menarik napas, menghirup aroma lembut bunga dari tubuh Yessica dan merasakan kulit hangatnya di pipi. "Aku takut kehilanganmu," bisik Yessica. "Dia jauh lebih hebat dariku." Stefan mendongak dan melihat air mata menggenang di mata Yessica. "Dia bahkan gak sebanding dengan separuh dirimu. Aku hampir kehilanganmu." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Stefan. Dia menarik Yessica turun dari bangku lalu memeluknya erat. "Dia hampir merenggutmu dariku." "Dia gak merenggutku." Yessica mengembuskan napas di dada Stefan. "Aku memang takut, tapi dia gak menyakitiku. Aku di sini." Stefan mencium puncak kepalanya dan menghirup aroma tubuhnya. Seluruh malam ini terasa mengerikan. Namun sekara
"Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y
Sambil duduk tepat di tengah ruangan, Yesica berusaha menyelesaikan dokumen-dokumen itu. Perasaannya aneh. Padahal jelas-jelas ia sendirian di sana. Semua pintu kantor tertutup rapat, kecuali pintu milik Giancha. Yesica menyilangkan kaki dan menyelesaikan formulir terakhirnya. Ia bersandar di kursi
Itu suara Andree. Yesica segera menekan tombol untuk membuka pintu. Sesaat kemudian, pria berambut pirang itu pun muncul dan masuk dengan senyum lebar. "Makasih ya," ucapnya. "Sama-sama," balas Yesica sambil menempelkan kartu aksesnya. Pintu lift pun tertutup. "Jadi kamu mau gabung sama kita y
Bagaimana caranya agar tetap tenang kalau ternyata ia benar-benar mendapatkan pekerjaan ini? "Kami ingin menawarkan posisi ini untuk masa percobaan, mulai hari Senin. Apa kamu masih bersedia?" Suaranya lembut namun berwibawa, bergetar di pendengaran Yesica dengan cara yang sangat menggoda. "Tent







