เข้าสู่ระบบStefan masuk ke kantor setelah makan siang, tetapi Yessica tidak bersamanya. Dia ingin memberi Yessica waktu untuk membantunya meredakan rasa sakit yang mungkin dirasakannya setelah semua percumbuan mereka selama beberapa hari terakhir. Malam ini giliran Giancha tidur bersamanya. Giancha harus kreatif, karena tidak peduli apa pun yang dikatakan Yessica, dia memang perlu istirahat dari penetrasi.Namun, mereka masih bisa melakukan hal-hal lain untuk meredakan kebutuhan yang seolah terus muncul di antara mereka. Giancha tersenyum sambil memasang telinga, menunggu suara Yessica naik. Giancha yakin Stefan memberinya batas waktu. Membiarkannya sendirian membuat mereka semua khawatir, tetapi mungkin selama ini mereka terlalu mengekangnya.Tidak ada tempat yang lebih aman daripada apartemen mereka. Namun, sepertinya setiap kali mereka meninggalkan Yessica sendirian, selalu saja terjadi sesuatu. Selain itu, memang sulit membiarkannya sendirian. Giancha belum pernah be
Yessica mengembuskan napas panjang ketika Stefan kembali menyesuaikan gerakannya. Stefan mengangkat salah satu kaki Yessica ke bahunya, lalu melakukan hal yang sama pada kaki satunya. Dia menggeser posisi Yessica perlahan hingga lebih dekat ke tepi kitchen island."Kita pelan-pelan."Yessica menyandarkan kepalanya ke belakang, membiarkan tubuhnya rileks sambil menunggu sentuhan Stefan berikutnya.Stefan perlahan mendorong batangnya masuk, menjaga tekanan tetap stabil sampai otot-otot Yessica mengendur dan menerimanya. Saat batang Stefan sepenuhnya berada di dalamnya, gerakannya berdenyut pelan sementara dild0 bergerak lembut di bagian depannya.Jari-jari Yessica mencengkeram permukaan meja yang halus di bawah tubuhnya, mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan. Stefan menarik dild0 itu keluar, lalu menggesekkannya perlahan pada bagian yang masih sensitif. Benda itu masih terasa hangat."Apa yang kamu rasakan?" tanya Stefan sambil sedikit m
Yessica peduli pada Soniawan. Pria itu sudah berusaha memberinya kesempatan sebaik mungkin. Bukan salah Soniawan jika putranya ternyata pria yang suka melecehkan perempuan.Kairo mengecup bahu Yessica sebelum bergabung dengan Andree di kitchen island. Giancha kemudian memutar tubuh Yessica menghadapnya dan mengangkat dagunya.Tatapan mata hijau Giancha menelusuri wajah Yessica, seolah mencari celah yang menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres. Yessica yakin dia sudah menyembunyikan semuanya.Dia pun tersenyum pelan. "Kami terlalu keras sama kamu." Giancha menggeleng sambil mengusap bibir Yessica dengan ibu jarinya."Nggak kok."Giancha mengatupkan bibir. "Kamu butuh istirahat. Tubuhmu juga butuh istirahat." Dia terdiam sejenak sebelum berkata pelan, "Mungkin malam ini kamu tidur di kamar sendiri."Yessica langsung menggeleng. Dia menggenggam kedua pipi Giancha dan memaksanya menatap matanya."Aku capek? Iya. B
Stefan menarik sebuah kursi lalu duduk tepat di hadapan Yessica. Dild0 dingin itu berada di genggamannya."Jangan bersuara, Tuan Putri. Kalau kamu bersuara, aku berhenti."Yessica menatapnya, menarik napas panjang, lalu mengangguk. Stefan senang menguji batas wanita itu, hampir sama senangnya saat menguji pengendalian dirinya sendiri.Dengan ujung dild0 yang dingin, Stefan mengusap perlahan dari leher Yessica hingga ke putingnya. Napas Yessica menjadi lebih cepat, tetapi dia tetap diam. Puting itu semakin mengeras ketika Stefan memutar ujung dild0 di sekelilingnya.Stefan mengangkat dild0 itu, lalu membungkuk dan menggantinya dengan kehangatan mulutnya. Yessica mengeluarkan suara lirih sebelum langsung menahannya. Stefan mengisap dan memainkan puting itu dengan lidah hingga kembali hangat sebelum menjauh.Wajah Yessica memerah, matanya dipenuhi hasrat. Stefan beralih ke sisi satunya, kembali memainkan puting dengan sentuhan ding
Stefan menyalakan lampu kantor lalu masuk ke ruang kerjanya. Yessica selalu berhasil mengalihkan fokusnya, bahkan tanpa sengaja. Stefan harus memperkuat tekadnya agar tidak menyentuh wanita itu selama jam kerja. Bunyi lift menandakan Yessica sudah tiba, disusul suara hak sepatunya yang beradu dengan lantai.Rutinitas Yessica sudah di luar kepala Stefan. Wanita itu akan menuju mejanya lebih dulu, lalu ke pantry untuk menyiapkan kopi dan mengosongkan mesin pencuci piring. Setelah selesai, dia kembali ke mejanya.Hari ini, setelah itu, Yessica akan masuk ke ruang kerja Stefan.Bayangan Yessica di atas meja kerjanya kembali memenuhi pikirannya. Selama beberapa detik, Stefan membiarkan kenangan itu mengalir. Hari pertama Yessica duduk di hadapannya, menyentuh tubuhnya sendiri hingga mencapai puncak sementara Stefan hanya mengawasi.Lalu muncul kenangan lain. Yessica membungkuk di atas meja kerjanya, hanya mengenakan sepatu hak tinggi, stocking selutut
"Pagi ini aku butuh kamu di kantorku."Yessica pun menoleh. "Kita bakal ngerjain proyek apa?""Beberapa pekerjaan yang seharusnya selesai dari awal tahun, tapi terus tertunda karena kami belum punya asisten yang benar-benar mampu menanganinya." Tatapan Stefan berubah semakin hangat. "Tapi kamu punya semua kemampuan yang kami butuhkan. Kita bakal beresin semuanya dengan cepat."Tatapan pria itu menyapu tubuh Yessica. Yessica menggigit bibir bawahnya pelan."Aku bakal pakai baju buat proyek itu, kan?""Tentu." Stefan pun tersenyum. "Kurang lebih. Mungkin ada beberapa bagian penting dari pakaianmu yang sengaja nggak aku siapkan hari ini."Yessica kembali menyuap sarapannya. Dia merasa sudah bisa menebak apa yang tidak disiapkan Stefan untuknya hari ini, meski sebentar lagi dia akan mengetahuinya sendiri.Mereka menyelesaikan kopi dan sarapan bersama. Stefan terus melirik tubuh Yessica, tetapi tidak pernah sekalipun menyentuhnya. Stefan pernah bilang dia suka menguji kendali dirinya. Mung
Itu suara Andree. Yesica segera menekan tombol untuk membuka pintu. Sesaat kemudian, pria berambut pirang itu pun muncul dan masuk dengan senyum lebar. "Makasih ya," ucapnya. "Sama-sama," balas Yesica sambil menempelkan kartu aksesnya. Pintu lift pun tertutup. "Jadi kamu mau gabung sama kita y
Bagaimana caranya agar tetap tenang kalau ternyata ia benar-benar mendapatkan pekerjaan ini? "Kami ingin menawarkan posisi ini untuk masa percobaan, mulai hari Senin. Apa kamu masih bersedia?" Suaranya lembut namun berwibawa, bergetar di pendengaran Yesica dengan cara yang sangat menggoda. "Tent
Saat Yesica menaiki tangga menuju apartemennya di lantai tiga, ia terus bertanya-tanya dalam hati. Apakah semua ini benar benar nyata? Ke 4 big boss itu sudah menjelaskan soal pekerjaan dan paket gajinya. Apakah itu tandanya ia diterima? Memang mereka tidak menanyakan pertanyaan standar di wawan
"Senang bertemu denganmu," ucapnya sekuat tenaga. Aura kekuatan yang terpancar dari pria ini sangat kuat. Stefan tersenyum tipis lalu mundur memberi jalan pada yang lain. Pria berikutnya lebih kekar, berambut hitam. Matanya yang berwarna hijau menelusuri tubuh Yesica, berhenti sebentar di kaki, pi







