LOGIN"Aku bisa mengurus diriku sendiri. Ibu jangan terlalu ikut campur urusanku."Enzo berdiri di balik meja kerjanya, kedua telapak tangan menekan kayu mahoni. Rahangnya mengeras. Di belakangnya, lampu-lampu kota sudah menyala penuh di balik kaca setinggi langit-langit.Ibunya duduk di sofa kulit dengan punggung tegak dan kaki bersilang, setenang orang yang menunggu teh dituang."Urusanmu adalah urusan ibu," ujarnya.Jam dinding berdetak. Enzo menegakkan tubuh."Paparazi itu suruhan Ibu, kan?" tanyanya.Cincin permata di jari ibunya mengetuk sandaran sofa. Sekali. Dua kali."Ibu sudah melakukan ini dari dulu," jawabnya. "Saat mantan-mantanmu yang lain ibu perlakukan seperti itu, kau tidak pernah protes. Kenapa sekarang?""Elena bukan mereka, Bu. Dia tidak akan nyaman dengan ini!"Suaranya memantul di dinding. Tidak ada yang bergerak.Ibunya menelengkan kepala, menatap putranya lekat-lekat. "Tidak nyaman? Jadi sekarang kau memikirkan kenyamanan seorang wanita? Apa kau mencintainya, Enzo?"
Lantai eksekutif BRN Corp selalu terdengar sama setiap pagi. Bunyi sepatu di lantai marmer, ketikan keyboard yang bersahutan, dan aroma kopi dari pantry yang menyebar sampai ke lorong. Tidak ada yang bicara dengan suara keras di lantai itu, dan tidak ada yang berani terlambat.Pukul sembilan lewat beberapa menit, Cane duduk di balik mejanya dengan berkas laporan pagi terbuka di hadapannya. Ada satu hal yang belum tersaji di mejanya pagi ini, padahal biasanya sudah ada sejak Isabela tiba.Ia melirik cangkir kosong di sudut meja.Tangannya terulur ke telepon internal dan menekan satu tombol yang tersambung ke ruangan Isabela."Isabela, buatkan kopi."Nada sambung terdengar. Sekali, dua kali, tiga kali.Tidak ada yang menjawab.Cane menunggu sampai sambungan itu terputus sendiri, lalu mengulanginya sekali lagi. Hasilnya sama. Ia meletakkan gagang telepon perlahan, dan jemarinya mengetuk permukaan meja satu kali, lalu berhenti.Pintu diketuk dua kali, hati-hati."Masuk."Clara melangkah m
Di balik kemudi, Elena menginjak pedal gas pelan-pelan. Setiap kali kaki kanannya menekan terlalu dalam, nyerinya menjalar sampai ke pinggang. Ia melirik pakaian yang melekat di tubuhnya, dan wajahnya makin cemberut."Pas," gumamnya. "Pas sekali. Kapan dia mengukurnya? Memangnya dia penjahit?"Ia menarik-narik ujung bajunya dengan satu tangan, seolah kain itu yang bersalah."Dan tadi itu apa? Bangun-bangun sudah ada wajah menyebalkan itu, duduk santai, tersenyum seperti baru memenangkan lotre. Aku bahkan belum sempat cuci muka." Ia melirik buku-buku jarinya. "Tinjuku juga kurang keras. Harusnya kutambah satu lagi di sisi yang satunya, biar seimbang."Lampu merah menyala. Elena mengerem, dan suaranya mengecil."Semalam aku mabuk. Orang mabuk tidak bisa dimintai pertanggungjawaban, itu ada di undang-undang, aku yakin ada." Ia berhenti sebentar. "Lagi pula, siapa suruh wajahnya seperti itu. Pria dengan wajah begitu tidak boleh dibiarkan berkeliaran di klub. Itu pelanggaran."Ia menarik n
Isabela baru benar-benar terlelap ketika suara langkah pelan dan bunyi pintu kamar yang terbuka membuatnya mengerjap.Cahaya pagi sudah menembus tirai tipis. Di ambang pintu, neneknya berdiri dengan tas kecil tersampir di lengan dan kerudung yang sudah rapi."Nenek mau pergi dulu, ya," ujar sang nenek pelan. "Isabela, apa kau tidak bekerja hari ini?"Isabela membeku di balik selimut yang ditariknya sampai ke dagu. Jas hitam itu sudah ia selipkan ke dasar lemari sebelum tidur, dan kakinya yang masih perih ia sembunyikan dengan hati-hati di bawah selimut.Bekerja. Berarti kantor. Berarti bertemu Cane.Ia sama sekali tidak ingin bertemu iblis Barrone itu, tidak hari ini, bahkan mungkin tidak besok."Aku sedang libur, Nek," jawabnya akhirnya, berusaha terdengar biasa saja. "Nenek pergi saja, biar Bela yang jaga rumah."Neneknya tersenyum. "Baiklah. Nenek pergi dulu ke tempat Dona Marta. Nenek sudah masak, kalau kau ingin makan, makanannya ada di lemari. Kau bisa memanaskannya kalau mau."
Mobil hitam itu melaju membelah jalanan yang lengang. Cane duduk di kursi belakang dengan satu siku bertumpu di sisi jendela, menatap lampu kota yang lewat tanpa benar-benar melihatnya. Di kursi depan, sopir dan seorang pengawal duduk tegak dan diam. Dua mobil pengawal lain mengekor di belakang.Ponselnya bergetar. Nama Dante muncul di layar.Cane mengangkatnya tanpa berkata apa-apa."Presiden," suara Dante terdengar dari seberang. "Nona Isabela sudah dipastikan sampai di rumah neneknya dengan selamat. Dari rekaman CCTV jalan, ia turun dari taksi di ujung gang dan masuk sendirian. Tidak ada yang mengikutinya."Cane tetap diam.Dante terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Hanya saja, ia berjalan agak pincang."Jemari Cane yang tadi mengetuk lutut berhenti.Pandangannya masih tertuju pada jendela. Ia tidak perlu bertanya kenapa. Rahangnya mengeras samar, tetapi wajahnya tetap tenang.Beberapa detik berlalu tanpa suara. Cane mengakhiri panggilan tanpa satu kata pun, lalu meletakkan ponseln
Tengah malam Isabela terbangun dengan napas tersentak.Kamar itu gelap. Hanya ada garis tipis cahaya kota yang menyelinap dari sela tirai, jatuh memanjang di atas seprai putih yang kusut. Kepalanya berdenyut, tenggorokannya kering, dan seluruh tubuhnya terasa asing, seperti milik orang lain yang baru saja ia pinjam.Ia mengerjap, menatap langit-langit yang tidak ia kenali. Lalu semuanya datang sekaligus.Lantai dansa yang berkilat. Tawanya sendiri yang terlalu keras. Tangan besar Cane yang menghapus eyeliner di sudut matanya, dan suaranya sendiri yang kemudian berkata dengan lantang bahwa ia mau tidur dengan pria itu.Isabela membeku. Wajahnya memanas sampai ke telinga."Tidak. Tidak, tidak, tidak," bisiknya pelan.Ia menoleh ke sisi ranjang. Sisi itu kosong, tetapi bantalnya masih menyisakan cekungan. Dari balik pintu di ujung kamar terdengar suara air yang mengucur, teratur dan tenang, dan justru itu yang membuat jantungnya berdegup makin liar.Ia bangun terlalu cepat, dan kepalanya
Di tempat yang sangat berbeda—puncak menara BRN Corp—kesunyian terasa seperti sesuatu yang sengaja diciptakan. Bukan sepi karena tidak ada orang, tapi sepi karena tidak ada yang berani bersuara lebih dari perlu. Aroma maskulin yang tajam, jejak parfum berat, dan asap cerutu mahal menyatu dalam udar
Satu Tahun Kemudian — São PauloLangit tengah hari membentang terik di atas barisan gedung tinggi São Paulo, memantulkan cahaya putih menyilaukan pada kaca-kaca jendela yang seolah berpijar. Kota ini tidak membawa aroma laut seperti Rio—yang ada hanya wangi aspal panas, tajamnya kopi yang baru dise
Malam di Rio de Janeiro selalu punya cara sendiri untuk memeluk manusia—lembap, hangat, dan sedikit terlalu dekat. Udara asin dari laut menyelinap di celah-celah gedung, merayap pelan di sepanjang jalanan yang mulai sepi. Di bawah temaram lampu jalan, aspal legam memantulkan cahaya keemasan—seperti
Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.Layar menyala.09.15.Jantungnya berhenti."Tuhan! Aku mati!"







