LOGIN"Berhenti kau, pelakor!" Teriakan itu mengguncang segalanya—dan dalam sekejap, Vania jatuh ke dalam pelukan dingin Kalan Namora, CEO yang kejam namun memesona. Dikhianati oleh keluarga. Ditinggalkan suami. Kehilangan bayi yang baru dilahirkannya. Hidup memaksanya menjadi ibu susu bagi Lowel, putra Kalan. “Aku hanya butuh susumu. Tidak lebih. Kontrak ini berakhir saat istriku sembuh.” Surat kontrak itu jatuh di kakinya seperti tamparan dingin. “Tenang, Tuan. Saya tahu tempat saya.” Tapi tak ada yang menyangka: Lowel si bayi jenius justru menjadi jembatan antara dua hati yang terluka. Kalan mulai terguncang. Vania mulai berharap. Lalu… bagaimana dengan Diana—ibu kandung Lowel yang perlahan sadar dari tidurnya?
View More"Akhirnya aku menemukanmu."Vania terkejut saat tahu orang yang menyelamatkannya adalah Ben."Tenang saja kamu sekarang aman. Mereka akan mengurus preman-preman yang mengejarmu itu."Ben kini bernapas lega. Akhirnya, dia dan semua orang selamat dari ancaman Kalan.YZ adalah perusahaan keamanan swasta milik Kalan, yang didirikan pada satu tahun yang lalu. Meskipun perusahaan baru, tapi YZ sudah menggunakan sistem yang lebih canggih dari perusahaan keamanan lainnya.Untuk itu, dalam waktu kurang 1 jam keberadaan Vania langsung terdeteksi.Begitu mengetahui keberadaan Vania, Ben dan staf yang jaraknya tidak jauh dari lokasi Vania langsung bergerak cepat, sehingga mereka tidak sempat kehilangan Vania."Tidak!" Vania menggelengkan kepalanya dan segera menjauh. Baginya, baik Ben maupun para pria itu, sama-sama tidak membuatnya aman.Kalan pasti yang menyuruh Ben untuk mencari dan menangkapnya. Dan pada akhirnya dia hanya akan diserahkan kepada si tua bangka hidung belang itu. Seperti yang K
"Cari dia sampai dapat! Kalau tidak, kalian semua saya pecat!"Suara Kalan menggelegar sampai ke sudut ruangan, membuat semua orang mematung, ketakutan."Sekarang!" Kalan kembali berteriak. Dan dalam hitungan detik ruangan khusus yang ada di perusahaan keamanan swasta itu berubah menjadi pusat kepanikan.Telepon berdering, pesan dikirim dan kendaraan melaju ke segala arah. Mereka semua berpacu pada waktu. Bagaimana tidak? Di kota yang besar dan padat ini, hanya dalam satu jam, Vania harus sudah ditemukan.Sangat mustahil! Tapi tidak seorang pun yang berani gagal. Asap di dapur mereka sedang dipertaruhkan.Kalan sedang berdiri di depan layar yang sangat besar, yang merupakan pusat CCTV. Dia memantau setiap kamera yang menangkap pergerakan Vania."Sial!" Kalan mengumpat saat kamera terakhir, yang ada di sudut gerbang rumahnya, tidak berhasil menangkap ke arah mana Vania pergi."Sepertinya wanita itu sengaja menunggu mobil itu lewat untuk menghindari kamera," ujar pria yang merupakan Di
"Saya sudah mengirim informasi tentang wanita itu. Anda bisa memeriksanya, Tuan." Tanpa banyak bicara, Kalan membuka file yang baru saja masuk dari informannya. Jemarinya menyapu layar tablet, membuka satu per satu data yang terlampir. Biodata singkat, pekerjaan, riwayat pendidikan, hingga beberapa foto lama--yang terlihat seperti foto yang difoto ulang. Kalan menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menarik napas dan mengembuskannya pelan. “Sama sekali tidak ada yang spesial dari wanita ini,” gumam Kalan sambil menutup file dalam satu ketukan. “Tapi kenapa rasanya aku pernah dekat dengannya?” Jujur saja, saat melihat Vania menerobos lampu merah Kalan langsung tersentak. Bukan karena khawatir wanita itu akan celaka, melainkan karena dia seperti melihat seseorang yang pernah ia temui jauh sebelumnya. Begitu Vania masuk dan duduk di pangkuannya, darahnya langsung berdesir. Benjolan halus dan bulu-bulu di tubuhnya berdiri. Bahkan detak jantung terasa berbeda dari biasanya. Tak men
"Dari awal aku nggak setuju kamu menikahi perempuan nggak jelas itu, Kalan. Lihat, pada akhirnya dia sama sekali nggak berguna!" Seorang wanita paruh baya tapi masih terlihat sangat cantik dan modis, tidak berhenti mengomel dan melayangkan tatapan tajam ke arah Kalan. Namun sayangnya, Kalan tidak menggubris sedikit pun. Sejak tadi pria itu fokus menenangkan bayi yang ada di gendongannya. Wanita itu mendengkus, kesal, karena merasa diabaikan. "Ceraikan dia secepatnya!" ucap wanita itu. Dia mengambil dokumen dari dalam tasnya lalu diletakkan atas meja. Kalan hanya melirik sekilas dan kembali mengabaikan wanita itu. Menenangkan Lowel sambil mengurus pekerjaan sudah cukup melelahkan baginya, dia tidak mau hal yang tidak penting ikut menguras pikiran dan energinya. "Kalan kamu--" Kata-kata wanita itu terhenti hanya karena mendengar helaan napas Kalan yang kasar. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat sebagai pelampiasan kekesalannya, karena sedikit pun Kalan tidak mau mendengarkanny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.