Share

17

Author: Re_
last update publish date: 2026-10-11 17:51:44

Ketika malam makin pekat dan benar-benar sunyi, Hazel turun dari kasurnya dengan sangat perlahan. Gadis itu berjingkat menuju jendela setelah memastikan Lily masih terpejam.

“Nona, Mau ke mana?”

Suara itu membuat tangannya menggantung di udara, membuatnya berhenti untuk membuka jendela.

Hazel meringis, Bulu kuduknya meremang, hawa dingin seakan menusuk leher belakang.

Dia ketahuan.

“Lily, kau bangun?” dia memasang wajah polos setelah berbalik.

Gadis itu; Lily, menatapnya dengan mata melotot,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    22

    Nigel sedang memeriksa tali kekang kudanya ketika sebuah celukan terdengar.“Wah, Marchiones sampai mengantar keberangkatan Tuan!”Ia mengangkat kepala, mengikuti arah pandangan para prajurit.Seorang gadis berdiri di balkon kediaman dengan gaun biru muda dan selendang yang melingkari lehernya. Rambutnya bergerak pelan tertiup angin pagi, dari kejauhan gadis itu tampak anggun, bahkan sedikit rapuh.Alis Nigel berkerut.“Marchioness? Apa yang dilakukannya?!”“Marchiones memang cantik, pantas saja Tuan tidak rela meninggalkannya.”Tawa kecil terdengar dari beberapa prajurit. Nigel tidak tertawa, tatapannya justru beralih pada Aiden yang menoleh ke arah balkon dan menyadari setelah beberapa saat Aiden masih belum juga mengalihkan pandangan.Rahang Nigel mengeras.Rumor itu sudah menyebar ke mana-mana. Tuan mereka, yang selama ini tidak pernah tunduk pada kehendak siapa pun, kini dikabarkan bersedia menuruti permintaan seorang wanita. Bahkan, hal itu mulai menjadi bahan candaan di antara

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    21

    Pagi itu cahaya menyusup melalui jendela-jendela tinggi kamar Hazel. Menerobos tirai tipis berwarna pucat dan menerangi ruangan dengan kehangatan yang lembut.Udara pagi terasa sejuk sementara aroma bunga dari vas di atas meja samar-samar memenuhi kamar.Hazel duduk di depan meja rias, sementara Lily menyisir rambut panjangnya dengan hati-hati.Sisir itu bergerak berlahan mengurai setiap kusut, hingga setiap helaian rambur Hazel jatuh lurus dan lembut di punggungnya.“Rambut Nona semakin panjang. Warna rambut asli Nona mulai terlihat di bagian akarnya, apakah perlu menyurati Baron agar mengirimkan pewarna rambut lagi?” bisiknya berhati-hati.Hazel mengamati pantulan dirinya di cermin,“Apa rambut barunya sudah tumbuh banyak?”“Iya, warnanya sudah mulai terlihat jelas.”“Kalau begitu tulislah surat, hati-hati, jangan sampai ada yang mengetahuinya.”“Baik, Nona.”Setelah memastikan rambutnya tidak lagi kusut,Lily mengambil botol kaca kecil dari atas meja. Ia menuangkan sedikit minyak be

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    20

    Sore itu taman kediaman terasa tenang. Cahaya matahari mulai condong ke barat, menyusup diantara dedaunan dan meninggalkan bayangan panjang di atas jalan setapak. Angin berhembus ringan, membawa aroma bunga yang sedang bermekaran.Hazel duduk di bangku batu di dekat hamparan mawar. Ia tampak sehat, sesekali Hazel memetik kelopak bunga sambil berbicara kepada Lily, wajahnya tenang bahkan sedikit ceria.Sampai suara langkah kaki terdengar dari belakang.Hazel menoleh, Aiden berjalan mendekat.Hazel segera berdiri, “Tuan.”Aiden berhenti di depannya.‘Lady menikmati sore ini?”Hazel menggangguk. “Ya.”Aiden melirik taman di sekeliling mereka.“Bagus.”Ia kemudian terdiam sebentar,“Aku datang untuk memberitahu sesuatu.”Hazel menatapnya,“Ya?”“Aku akan berangkat besok pagi.”Hazel membeku, hanya sesaat, namun Aiden melihatnya. Wajah hazel yang semula tenang langsung berubah.“Apa?!””Pasukan akan bergerak besok.” Aiden menegaskan.Wajah hazel pucat, bukan berpura-pura, kali ini karen

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    19

    “Sudah dengar belum?” Garry si tukang gosip menepuk bahu Phillip lalu merangkulnya. Ia. Saat ini mereka sedang istirahat setelah makan siang.“Tentang?” tanya Phillip“Tertundanya keberangkatan ke perbatasan.” Ia merendahkan suaranya seolah hendak membagikan rahasia besar“Apa yang kau dengar?” kata Rowan mulai tertarik. “Marchioness sakit dan meminta Tuan menemaninya.”Garry mengatakan dengan wajah serius, meskipun sudut bibirnya tampak menahan senyum. Ia sendiri tidak mengetahui seluruh kejadian sebenarnya, tetapi kabar yang di dengarnya dari pelayan sudah cukup untuk membuatnya membuat cerita sendiri.“Tidak mungkin,” bantah Rowan.“Apanya yang tidak mungkin.”“Tuan menunda keberangkatan karena itu.”“Buktinya?” Garry mengangkat tangan dari bahu Phillip.“Kita masih di sini.”“Apa Marchioness begitu menakutkan sehingga Tuan menurut padanya,” tanya Phillip polos.“Tutup mulutmu Phillip,´ Garry bergerak cepat menutup mulut Phillip sambil melihat sekeliling, kalau-kalau ada yang men

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    18

    Aiden keheranan mendapati Hazel lemas di hujung kursi, Ia duduk bersandar dengan mata terpejam. Wajahnya tampak begitu pucat, bibirnya bahkan tak lagi berwarna, begitu polos seperti rusa yang membeku di tengah salju. Bahunya merosot turun, nafasnya turun naik, sesekali dia terbatuk karena kesulitan untuk bernafas.Lily pelayannya tampak sibuk memijit pundak dan menggosok punggungnya dengan raut sedih.Seorang pelayan di utus untuk menyampaikan pesan kepada Raymond yang mendampingi Aiden saat memberikan pengarahan di lapangan. Saat diberitahukan tentang keberadaan Hazel di kantornya Aiden bergegas datang.Teko berisi teh hangat masih tampak penuh, cangkir berisi teh pun masih tak tersentuh, Lady mengaku tidak bisa minum karena merasa kesulitan untuk meneguknya.Aiden menatap Raymond yang menggeleng ragu dalam artian ‘ saya tidak tahu.’ Sebelum duduk di kursinya, Cukup membingungkan melihat Lady bersusah payah berangkat untuk menemuinya dengan keadaan yang sangat menghawatirkan itu.

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    17

    Ketika malam makin pekat dan benar-benar sunyi, Hazel turun dari kasurnya dengan sangat perlahan. Gadis itu berjingkat menuju jendela setelah memastikan Lily masih terpejam.“Nona, Mau ke mana?”Suara itu membuat tangannya menggantung di udara, membuatnya berhenti untuk membuka jendela.Hazel meringis, Bulu kuduknya meremang, hawa dingin seakan menusuk leher belakang. Dia ketahuan.“Lily, kau bangun?” dia memasang wajah polos setelah berbalik. Gadis itu; Lily, menatapnya dengan mata melotot, melihatnya tajam dari ujung kaki sampai ujung kepala. Hazel menciut.“Nona mau kabur?”“Tidak!” jawabnya cepat sambil menyilangkan tangan.“Mau melakukan apa tengah malam begini,” selidiknya mengamati tubuh Hazel yang berbalut blouse lebar dan celana panjang yang dibawanya dari Willowbrook.“Nona tidak khawatir, penjaga akan menemukan Nona seperti ini dan melaporkannya padaTuan Marquess.”Hazel tercenung, situasi memang belum aman, tapi selama dia berhati-hati, dia tidak akan ketahuan. “Lilyy

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    3

    Cahaya sore menembus jendela tinggi ruang kerja itu, jatuh lembut di atas meja kayu mahogani yang dipenuhi dokumen. Marquess Aiden duduk tegak di kursinya, alisnya sedikit berkerut saat matanya menelusuri baris demi baris laporan tanah perbatasan. Ujung jarinya menahan kertas agar tetap rapi sement

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    2

    5 bulan sebelumnya,BrakkPintu terhempas keras. Engsel pintu yang mengkilap karena sering diurapi minyak bahkan hampir terlepas. Baron Jonas yang tengah sibuk melihat dokumen mengerutkan kening, hampir memuntahkan sumpah serapah namun urang dia lakukan saat mendapati Shilla putri kesayangannya ha

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    1

    Ruang makan itu dipenuhi cahaya pagi. Meja panjang berlapis taplak putih, peralatan makan tersusun rapi. Aroma teh hangat dan roti panggang memenuhi udara.Di ujung meja Shilla mengaduk buburnya kesal, terlihat beberapa kali mengetuk mangkuk porselen keras.“Hentikan Shilla, kau bisa menghancurkan

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    8

    Hazel tersenyum puas memandang wajah dan gaun Shilla yang basah kuyup, air masih menetes di lantai marmer. Setelah menyiramkan air, ia Kembali duduk tenang, seolah baru saja melakukan sesuatu yang wajar.Ia mendengar bisikan Shilla pada Marie. Hazel melihatnya dengan mata kepala sendiri, bagaimana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status