LOGINBejo lebih dulu mandi dan membersihkan diri sebersih bersihnya karena Mila sesuka itu. Bahkan persiapan dia lakukan hampir satu jam di kamar mandi hingga semua jari terlihat keriput. "Nah kalau begini, mau dijilat, disedot, dihisap, dimut, gue pede."Bejo keluar dengan tubuh yang sangat segar. Masih dengan berbalut handuk sebatas pinggung. Bejo melangkah mendekati meja yang di depan sana ada kaca berukuran kecil untuknya melihat penampilannya sendiri.Minyak wangi disemprotkan keseluruh badan. Dia menyeringai kala wangi maskulin begitu sangat menggoda. Ini sudah kesekian kalinya tetapi untuk kegiatan ranjang tidak akan pernah membuatnya bosan. Hanya saja, sambil menunggu waktu. Bejo lebih dulu menyiapkan bahan untuk proposalnya. Sejenak dia bergelut dengan kata dan juga mengasah otak. Tanpa dia tau kalau Mila pun tengah mempersiapkan diri di kamar. "Kalau pakai yang ini gimana ya?" Mila melihat lingerie yang kini ada di tangannya. Semua stok lingerie baru sudah digunakan dan tidak
"Nyonya mikirnya kejauhan. Udah kayak jalan-jalan dari Jakut ke Jaksel. Kudu melewati kemacetan dan kesabaran yang ekstra. Ke sana terus mikirnya. Yang kesini aja nggak ada, Nyonya? Nggak mau jauh-jauh kalau Bejo, Nya. Maunya di ranjang Nyonya aja." "Jangan gombal! Saya serius tanya sama kamu. Ada rahasia apa kamu sama Caca?" "Nyonya pengen tau banget?" Sontak Mila merengut dengan melipat kedua tangan dan melengos enggan menatapya lagi. Mila diam dan Bejo terkekeh melihat itu. "Duuuh gemas banget bini orang! Coba bini sendiri. Udah gue ketekin sekarang juga. Sakingnya bini orang, jadi cuma bisa mandang." Dalam hati Bejo begitu berisik tetapi mau gimana memang adanya Mila begini sekarang. Sudah bebas mengungkapkan isi hati dan ketidak sukaannya sedangkan dia hanya kebagian gemasnya saja yang ditahan-tahan seperti tengah menahan kentut di depan Mila. "Jo kamu ngomong apa sih? Yang jelas kalau bicara!" "Katanya masih kesal kok negur?" "Oh jadi kamu nggak mau ditegur? Ok
"Aaaaaa..... Iya-iya ampun, Nyonya! Ampun!" Mila yang geregetan kemudian menarik telinga Bejo agar sadar tengah bicara dengan siapa. Bukannya minta maaf malah ngajak perang. Itulah yang Bejo lakukan hingga membuat Mila gemas sendiri jadinya. "Kamu tuh apa sih! Udah buat aku nunggu, sekarang malah mau ngajak aku gelud. Gimana konsepnya sih, Jo? Ih! Geregetan banget sama kamu tau nggak! Bikin aku uring-uringan aja!"Mila melepaskan telinga Bejo yang kini terlihat memerah. Kalau tidak begini mungkin wajah Mila yang memar karena tadi tangan Bejo sudah ancang-ancang ingin memukulnya. Maka dari itu Mila langsung main tangan juga. "Maaf Nyonya, maaf! Duh nggak tau kalau itu Nyonya. Kirain ada yang mau rampok saya tadi. Maklum baru bangun Nyonya. Kaget banget tadi.""Kamu ngapain tidur di sini? Saya tuh nyariin tau nggak! Saya pikir kamu belum datang. Bisa ngabarin 'kan? Kenapa malah buat saya nunggu? Hampir saja saya pulang naik taksi online tau nggak.""Iya maaf, Nyonya. Tadi tuh udah ng
"Lo serius?" tanya Bejo dengan kedua mata yang menunjukkan keterkejutannya. Caca menganggukkan kepala meyakinkannya kalau apa yang disampaikan benar adanya. Bejo pun mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Apa yang bisa membuat lo yakin?" "Aku yang capek mengurusnya. Kamu paham nggak sih, aku di titik lelah dan muak banget." "Tapi kemarin ada di sana, dia yang mau treatment 'kan?" tanya Bejo dan Caca menganggukkan kepalanya. "Iya, tapi ya gitu deh! Nggak tau juga bisa sampai begitu tuh gimana. Pusing aku juga." "Terus gimana sama pacarnya yang satu?" tanya Bejo terus menggali informasi. Ajimumpung banget baginya yang memang sudah lelah semalaman mencari informasi dan siang ini malah dibuka selebar-lebarnya sampai Bejo rasanya ingin bersorak tetapi dia malah dibuat tercengang berulang kali. "Ya nggak tau dong, Jo. Kalau tau juga nggak mungkin banget. Kayaknya malah gantung soalnya udah nggak pernah lihat yang pertama ke rumah lagi." "Kira-kira lo tau siapa cowok perta
"Maaf, Bu." Bejo menundukkan kepala. Kalau ini memang salahnya juga. Pekerjaan sangat mengganggu kuliahnya. Padahal harusnya tidak begini. Sayangnya memang yang berkaitan dengan Mila tidak bisa dia biarkan. Namun kedua matanya mencoba untuk benar-benar tebuka, telinga mendengarkan dan otak sebisa mungkin tetap berkonsentrasi mendengarkan apa dosen sampaikan. "Kamu paham, Jo?" "Siap paham, Bu." "Ingat jangan ada revisi! Saya tidak menerima mahasiswa yang tidak berkonsentrasi dalam mengerjakan skripsinya." "Tidak akan terulang lagi, Bu." "Kalau begitu buktikan! Jangan sampai banyak revisi! Saya tidak bisa menjamin kamu sidang tahun ini kalau tidak ada keseriusan, Jo!" sehut Bu Rima, dosen muda yang sangat cerdas menurutnya. " Baik, Bu." Dia segera beranjak dari sana setelah banyak hal yang dibahas. Bejo memejamkan kedua mata seraya bersandar di dinding. Diam Bejo di sana. Pusing juga kepalanya, rasanya pengen rebahan hingga tepukan di lengannya membuatnya membuka m
"Apa kamu ingat saat saya di rumah sakit kemarin? Saya sempat ragu tetapi kemudian saya yakin untuk meneruskan misi balas dendam ini?" Bejo mengangukkan kepala, dia kembali mengingat lagi dan memang kala itu dia pun sempat mengembalikan semua keputusan pada Mila. Terserah Mila maunya gimana tetapi belum ada satu jam, Mila langsung yakin dan saat itu Bejo tidak terpikirkan apapun lagi selain ranjang dan gaya bercinta. "Saat itu aku menerima pesan dari seseorang. Hanya nomor saja yang aku tidak tau dari siapa dan dia mengirimkan beberapa foto Mas Saka bersama wanita lain. Di saat itu juga aku semakin yakin." "Boleh saya melihat fotonya, Nyonya?" Mila pun segera bergerak mengambil ponsel dari dalam tasnya. Bejo yang semula ingin buru-buru pergi malah jadi tertahan karena keingintahuannya tentang itu. Mila pun memberikan ponsel itu padanya yang kemudian segera dia buka. "Ini nggak langsung dikasih tau fotonya aja, Nyonya? Saya bisa melihat siapa saja yang menghubungi Nyonya. Bu
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







