เข้าสู่ระบบ"Hanya mengobrol, Tuan. Nyonya juga bantu saya mengobati luka. Saya akan kembali ke kamar." Bejo beranjak dari duduknya. "Terimakasih Nyonya sudah merawat saya. Permisi dulu, mungkin Tuan mau istirahat." Bejo mengangguk sopan kemudian melangkah menuju pintu kamar tetapi Saka yang tak jauh dari sana mengulurkan tangan menghentikan langkahnya. "Buru-buru sekali, Jo? Saya belum mau istirahat. Duduk dulu!" perintah Saka membuatnya berbalik dan melirik Mila yang memperhatikan. Mereka pun kembali duduk bersama lagi. "Sial! Gue malah kejebak di sini. Udah pasti nggak bisa keluar ini. Si Saka pasti mintanya aneh-aneh." Bejo menarik nafas dalam dan Mila beranjak dari setelah Saka meminta mendekati. "Ada apa, Mas? Sini tasnya aku simpan dulu! Itu loh, Mas. Bejo masih sakit. Sebaiknya kamu suruh balik ke kamar. Sudah aku obati agar besok bisa kerja lagi." "Tapi malam ini aku butuh dia Sayang. Sepertinya aku akan memanfaatkan dia untuk menyembuhkan trauma kamu. Pelan-pelan saja, mode tipi
Tangan Bejo menahan pinggul Mila. Tubuh wanita itu ada di atasnya dan melingkar di lehernya seraya bertukar saliva. Lenguhan dan desahan manja mulai terdengar. "Maaf kalau aku menyakitimu," kata Mila kemudian mengusap bibirnya yang terluka tetapi mengecup lagi dengan begitu sangat agresif sekali tanpa bisa dia hindari. "Tidak apa, Nyonya. Lidah Nyonya bisa menyembuhkannya." Bejo pun kembali memagut dengan gerakan lidah yang nakal. Tangannya tetap dipinggul Mila tetapi tangan wanita itu justru meraihnya dan diarahkan tepat di dada. Seketika rasa sakit seolah luntur kala gairah meninggi dan perih efek obat mendadak hilang bersamaan remasan yang memicu adrenalinnya.Di saat itu, Mila langsung melepaskan ciumannya dan mendongak dengan erangan yang semakin mempermainkan hasratnya. Tangan Mila ada pada tangannya yang meremas gemas seolah meminta lebih. Wajah wanita itu pun menunduk dan memandangnya dengan tatapan berkabut. "Apa Nyonya merindukan sentuhan ini?" "Iya, Jo. Ternyata
"Nggak ada bosennya kalau sama Nyonya. Suruh pilih dari ujung rambut sampai ujung jemb.... Eh salah! Sampai ujung kaki. Saya borong semua. Nggak ada pokoknya yang saya bosenin dari Nyonya. Sumpah!" Bejo sampai berani bersumpah karena memang yang ia katakan itu kebenarannya. Bahkan jika Mila mengajak sekarang juga dia mau walaupun harus mode gedebok pisang yang pasrah saja diuleg sama majikan. Mila berdecak mendengar apa yang ia sampaikan kemudian mencubit pinggangnya. "Awwhh...!" pekiknya kemudian meraih tangan Mila dan menggenggamnya."Masuk dulu! Jangan sampai Bibi lihat dan mendengar apa yang kamu sampaikan.""Oke, tapi Tuan sudah mau pulang belum, Nyonya?""Kamu loh yang ditelpon bukan aku."Bejo menggeruk kepalanya yang tak gatal. Jadi Saka lebih perduli padanya? Atau gimana sih maksudnya? Bejo menggelengkan kepala kemudian melangkah masuk dan memilih duduk di sofa. "Suamiku bilang apa tadi?" tanya Mila seraya menutup rapat pintu kamar dan melangkah mendekatinya.Mereka pun
"Se... Sejak kapan Nyonya di sana? Nyonya nggak ada suara tau-tau udah di depan mata." Bejo meringis setelah mengatakan itu kemudian menarik diri dari ranjang. Dia memperhatikan Mila yang masih melihatnya dengan tatapan sinis. Mila berdecak dan dia menurunkan kedua kakinya menghadap wanita itu yang berdiri tepat di depannya. "Kenapa, Nyonya? Kok nggak jawab?" "Kamu yang nggak jawab pertanyaanku tadi." "Oh itu, tadi tuh Tuan dan Bu dosen yang telepon saya, Nya. Mereka menanyakan kabar saya dan janjian ketemu juga sama Bu Dosen." "Oh begitu.... " Mila menganggukkan kepala kemudian melangkah mendekatinya dengan gaya anggun dan juga berkelas. Tatapan mata Mila begitu fokus padanya hingga membuatnya menatap semakin fokus. "Iya begitu, Nyonya." Mila tak lagi menanggapi, wanita itu melangkah mendekati tanpa banyak aba-aba. Kaki satu Mila terangkat dan singgah di pinggir ranjang tepat di samping kakinya. Kedua matanya terbeliak melihat apa yang Mila lakukan. Mendadak dia sesa
"Jemput Nyonya ya, Jo?" "Iya, Bi." Bejo meringis kemudian duduk di kursi dekat meja dapur untuk lebih dulu minum. Lutut kalau ditekuk masih nyeri. Kadang rasanya ingin mengumpat dalam hati, apalagi kalau mengingat akan kejadian semalam. Muak sekali rasanya. "Damn it!" Sontak Bibi menoleh padanya mendengar umpatan yang keluar tadi. "Eh kenapa, Jo? Ada yang sakit? Mau Bibi kasih obat lagi?" "Ngak usah, Bi. Jagoan, nggak akan berasa sakitnya ini mah." Padahal saat ketumpahan kuah dia menjerit keperihan. Setelah minum, Bejo pun beranjak dari sana untuk kembali ke kamar. Rebahan sekalian baca-baca sepertinya cocok dengan dirinya yang sedang seperti ini. Namun baru saja berdiri, Bibi menahan pergerakannya. "Jo, tunggu!" Dia pun berbalik melihat Bibi yang kemudian memberikan potongan buah untuknya. Bibi tersenyum mendekati dan memintanya untuk segera meraih piring itu. Kedua alisnya pun terangkat melihat wajah Bibi yang terlihat penuh permohonan. Sepertinya memang a
"Eh, Jo kamu mau kemana?" teriak Bibi saat melihatnya berlari menuju kamar dan keluar lagi setelah mengambil kunci mobil. Padahal kaki masih sakit, bahkan Bejo pun berlari dengan tertatih tetapi tidak membuatnya gentar. Dia harus mencari Mila. "Niat banget sih ini cewek. Ampun gue mah!" gumam Bejo tanpa menggubris teriakan dari Bibi. Dia segera masuk mobil untuk mencari keberadaan Mila saat ini. "AGH! SIAL!" umpatnya kala kaki dan tangan harus digerakkan untuk menjalankan mobil. Bejo meringis kesakitan tetapi tak membuatnya mundur. Dia tetap melajukan mobil itu ke tempat Mila berada. Pikiran Bejo kemana-mana apalagi saat tau kalau Mila membawa motornya sendiri. Bukan hanya nekat tetapi Bejo pun tak habis pikir sama Mila. Bawa mobil tidak berani giliran bawa motor besar malah ngacir. Kalau sampai Saka tau bagaimana? Apa tidak membuat masalah nantinya? "Jauh banget lagi bengkel yang didatengin. Selamat sampai tujuan tapi tetap aja bikin orang kepikiran. Udah bener-bener di ru
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah







