FAZER LOGINBejo menoleh memperhatikan kedua wanita yang ada di belakangnya. Ada Lira dan Caca yang begitu sangat memperhatikan tangan Mila yang kini dia genggam. Bejo semakin memperkuat walaupun Mila sudah mencoba untuk bergerak melepaskan diri dari genggaman tangannya. Bejo menarik tangan Mila ke belakang seraya memandang kedua wanita yang ada di hadapannya dengan jengah. "Bosen banget gue liat loe berdua!" Dia mendengus kesal hingga Mila mendongak memandangnya. Kedua alis Mila menukik dan Bejo melirik Mila dengan kedua mata teduh menenangkan. "Jo..." "Ssttt.... Aman!" bisik Bejo dan Mila menganggukkan kepala kemudian mundur. Mila berdiri di belakangnya. Bejo pun melindungi dari pandangan mata liar kedua wanita tersebut. "Kok aku kayak kenal ya siapa wanita ini," kata Lira dan Mila menundukkan kepalanya sedangkan Caca semakin panasaran. Caca sampai menajamkan kedua mata demi bisa melihat wajah Mila. Namun Bejo menatap tajam dan melangkah mendekati dengan pendangan mata semakin
Bejo melirik ke belakang seraya memagut bibir Mila. Dia melihat ke sekitar, sekiranya aman, Bejo akan memperdalam pagutannya. Tangan Mila meremas tangannya dengan lembut seraya membalas decapan-decapan yang dia berikan. Bejo tidak mengabaikan sedikitpun daging kenyal itu. "Euughhh...." Mila melenguh dan Bejo menyesap kuat agar wanita itu tidak mengeluarkan suara-suara yang memancing semua orang menoleh pada mereka. "Jangan berisik, Nyonya!" bisik Bejo kemudian mengusap bibir Mila dengan ujung jarinya. Bejo tersenyum melihat Mila yang memandang dengan kedua mata melembut dan nafas tersengal. Mila bersembunyi di dadanya setelah sadar situasi. Sama dengan adegan yang ada di depan mereka saat ini. Wanitanya memeluk tubuh telanjang pria yang sudah memberikan kepuasan. Mila pun memeluk dengan erat hingga mengabaikan apa yang mereka sedang saksikan. Bejo mengusap kepala Mila dan membiarkan Mila menjadikan dadanya sebagai tempat berlindung yang memberikan kenyamanan untuk
"Jo kamu tuh! Mana ada pakai kaki? Maksud aku pakai sendok." "Ya lagian typo banget bahasanya. Kirain pakai kaki. Lah ini tokor bisa masuk semua ke dalam mulut," sahut Bejo santai menanggapi apa yang Mila sampaikan. "Tokor tuh apa, Jo?" "Sikil!" "Sikil? Apa itu sikil?" tanya Mila lagi dan Bejo berdecak mendengar itu. "Udah kalau nggak tau nggak masalah, Nyonya! Aman! Pusing yang jelasinnya. Beneran!" jawab Bejo memilih menyerah. "Kamu tuh nggak sabar, Jo!" "Iya emang, Nya. Ya kali sikil aja nggak tau. Kaki, Nyonya! Kaki!" jelas Bejo dan Mila merengut mendengar itu. Mila segera meraih wadah makanan yang dia pegang dan makan sendiri tanpa bantuannya. Mila mulai makan, entah kenapa jadi agak nafsu makan. Bejo saja sampai bingung melihatnya. Padahal Mila biasanya jarang makan. Kalau disuruh makan itu susah sekali tetapi siang ini Mila terlihat sangat lahap. "Enak, Nyonya?" "Enak, Jo." "Kenapa, Jo?" tanya Mila padanya. Bertanya pun seraya mengunyah makana
Mila melenguh kala tubuhnya terasa sangat berat. Wanita itu membuka mata dan menemukan penyebabnya. "Jo!" Bejo menindih Mila. Dia menumpuk di sofa dan menguasai tubuh Mila. Tangan Bejo memeluk dan Mila berusaha untuk beranjak dari sana. "Ya ampun, Jo!" "Apa sih, Nya? Ngantuk banget ini," keluh Bejo masih dengan kedua mata yang terpejam kala Mila berusaha untuk melepaskan diri. Bejo menahan tubuh wanita itu. Empuk saja dipeluk padahal Mila merasa engap sekali dan menginginkan untuk benar-benar lepas darinya. "Kenapa sih, Nya?" "Berat." "Biasanya juga ditindih. Apa mentang-mentang nggak dimasukin kali jadinya ngeluh. Kalau dimasukin nggak keberatan ya, Nya?" "Nggak gitu juga, Jo." Bejo menarik diri dan membiarkan Mila merosot ke lantai sedangkan dia kembali menempati sofa panjang itu. Bejo lanjut tidur. Dia masih sangat mengantuk sekali. Sementara Mila sudah beranjak dari sana dan melangkah pelan mengambil minum. Mila menoleh setelah membuka pintu kulkas.
"Sudah aku katakan, jangan melawan Mamah! Kamu tuh kenapa sih? Kenapa tidak pernah paham? Untuk mempertahankan kamu itu sulit, Sayang. Kamu tau kan gimana Mamah. Harusnya kamu yang mengalah." "Aku lelah harus mengalah, Mas! Aku capek harus terus diam. Aku berontak pun kamu marah. Sekarang terserah! Aku nggak akan minta kamu untuk tetap membelaku. Aku paham posisiku. Aku tidak akan mengemis lagi, Mas. Lagian percuma! Mengemispun, kamu tidak bisa sepenuhnya kamu terima. Capek aku, Mas!" Tangan Bejo mengusap punggung Mila. Wanita itu mendongak memperhatikannya tetapi Bejo menggeleng kepala tak banyak bicara. "Jangan seperti itu! Benar kata Mamah, kamu membangkang sekarang, Sayang! Ini yang aku tidak suka. Kamu semakin aku kasih peluang, semakin kamu semena-mena. Kamu semakin berani, Mila!" "Capek bicara sama kamu, Mas. Semua pertanyaan kamu seharusnya kamu kembalikan lagi pada dirimu sendiri!" sahut Mila dan mematikan panggilan tersebut. Mila menunduk mencengkeram ponselny
"Sudah Mamah katakan berulang kali padamu, menikah lagi saja! Istri kamu itu tidak lagi bisa hormat sama Mamah. Mila melawan Mamah bahkan Mila mengusir Mamah. Kamu tau Saka, Mila hampir saja membuat Mamah terjatuh tadi. Mila kasar dan berani membantah Mamah." Saka menghela nafas berat mendengar aduan dari ibunya. Tidak hanya itu saja, Mamah mendekati dan membujuk Saka. "Ceraikan istrimu! Dia mandul dan tidak ada lagi yang bisa dipertahankan darinya. Kamu tau, Mila malah mengatakan kalau kamu yang mandul. Wanita macam apa itu melempar fakta dan menyalahkan suaminya? Dia yang salah tapi dia tidak mau disalahkan!" "Nanti aku akan bicara pada Mila, Mah. Jangan seperti itu! Pikiran Mamah sangat kencang. Jangan sampai Mamah sakit." "Mamah sakit karena istrimu! Kalau bukan karena istrimu, tidak mungkin Mamah sampai emosi seperti ini! Istrimu itu kolot! Banyak tingkah! Ceraikan saja! Kamu bisa mencari yang lebih baik dari dia. Ingat Saka! Mempertahankan diri kamu untuk tetap menja
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka







