Share

Bab 34. Kawin Dua

Author: weni3
last update publish date: 2026-07-04 13:22:05

Mila melirik ponsel yang dimatikan sejak masuk ke dalam kamar tadi. Wanita itu terduduk diam di pinggir ranjang menghadap ke jendela kamar tanpa niat untuk menghubungi Saka.

"Malam ini aku akan tidur di sini bersama dengan Bejo."

Mila beranjak dari sana dan bertepatan dengan itu pintu pun terbuka. Bejo masuk dengan membawa dua cangkir yang berisikan teh dan kopi untuk mereka.

"Minumannya sudah siap Nyonya. Mau duduk dimana? Kamar atau ruang depan, Nyonya?"

"Ruang depan saja, Jo. Kita
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 155. Surga

    "Nyonya saya mau pamit ke pasar untuk membeli kebutuhan di dapur dan persabunan." Mila dan Bejo melirik Bibi yang datang kembali dengan membawa tas belanja di tangannya. Bibi terlihat lebih canggung sekarang. Beliau lebih banyak menundukkan kepala, mungkin karena malu atas apa yang sudah dilakukan. Namun yang ada di tangkapan mata Bejo bukan hanya ekspresi Bibi tetapi juga daftar belanjaan yang ada di tangan beliau hingga membuat kedua alis Bejo menukik melihat itu. "Butuh berapa, Bi?" "Butuh sekitar lima ju..." "Tunggu, Nyonya! Tadi saya bilang sama Nyonya, agar happy terus bukan? Kenapa Nyonya nggak ikut belanja aja?" tanya Bejo dengan melirik Bibi yang kemudian kembali menundukkan kepala beliau. "Bukankah kalau untuk seorang wanita tuh belanja bulanan bisa sangat menyenangkan? Biar Nyonya yang dilihat nggak cuma tulisan sama etalesa roti terus, Nya. Gimana? Biar lebih happy lagi, Bejo antar deh." Mila terlihat memikirkan itu sedangkakn Bejo kembali melirik wajah Bibi yang s

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 154. Lanjutkan!

    Mila nampak terkejut melihat Saka memanggil Bejo. Wanita itu nampak cemas setelahnya. Padahal yang dipanggil santai saja melangkah menghampiri. "Iya ada apa, Tuan?""Termasuk dengan Bejo. Sekarang yang Bibi tau kalau Bejo adalah sopir istri saya, jadi segala bentuk kedekatan mereka, saya harap Bibi tutup mata! Jangan mencampuri kalau tidak mau saya pecat. Paham!"Bukan bicara pada Bejo, Saka malah bicara pada Bibi dan memberikan peringatan pada beliau yang kemudian menganggukkan kepala mengiyakan. Kalau dipikir selama ini Bibi cukup menghambat pergerakan mereka tetapi niat Bibi yang ini baik dan Bejo cukup mengerti. "Minta maaf pada istri saya!" perintah Saka pada Bibi yang kemudian melangkah mendekati Mila dan berlutut di hadapan Mila hingga membuat Mila kembali terkejut. Padahal baru rasa keterkejutannya surut karena melihat Bejo yang tiba-tiba dipanggil, sekarang malah Bibi yang tau-tau bersimpuh di kakinya. "Jangan seperti ini, Bi! Aku bukan Tuhan yang harus Bibi sembah begin

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 153. Budak Nafsu Lagi

    Paginya, Bejo yang biasa akan menyapa Bibi, tidak lagi dia lakukan. Bejo sengaja ingin melihat bagaimana reaksi Bibi. Dia melangkah menuju meja dapur untuk mengambil makan. Walaupun ini hasil masakan Bibi tetapi tetap dia nikmati. Beliau masih menyiapkan seperti biasa tanpa mengurangi sedikitpun jatah makanan karyawan. "Itu di pengering bukannya baju kamu, Jo? Sudah Bibi jemur tapi kok ada BH sama celana dalam perempuannya juga, Jo?" PPFFTT... Namun bukan sapaan atau tanggapan atas yang terjadi kemarin melainkan pertanyaan yang membuat Bejo menyemburkan makanannya. Uhuks Uhuks Bejo bergerak cepat mengambil minum dan segera mengguyur tenggorokannya. Dia sampai mengelus dada setelahnya saking sesak karena baru ingat kalau ada bikini Mila yang ikut dia cuci juga dan kemarin belum sempat dijemur karena ada insiden hingga membuatnya lupa. "Pelan-pelan, Jo!" Bejo lebih dulu menenangkan diri dan barulah menjawab pertanyaan Bibi. Bejo mendongak menatap Bibi yang masih diam mempe

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 152. Budak Nafsu

    Mila dan Saka masuk ke dalam kamar. Saka kembali mencumbu Mila tanpa memperdulikan kesiapan Mila saat ini. Tangan Saka meremas pinggul Mila menahan pergerakan wanita itu hingga menempel dan sulit bergerak bebas. Ciuman Saka buas menuntut hingga tas yang masih Mila pegang pun terlepas dari genggaman dan jemari lentik itu mencengkeram pakaian Saka dengan erat. Mila sulit mengimbangi dan kembali merasakan kegilaan Saka lagi. Lidah Saka menyapu rata, mengabsen setiap sudut mulut Mila, membelit dengan sangat agresif hingga Mila kewalahan. "Mas!""Aku sangat menginginkanmu, Sayang!" Di saat seperti ini, masalah yang lalu seolah kembali berputar diingatan Mila, membuka lagi akan perih yang masih menganga tetapi di saat yang sama, Mila tak mampu menolak kewajiban dengan satu syarat yang sudah dia tetapkan yaitu tidak membuka kakinya. Sungguh Mila tidak mampu untuk itu. Mila payah hingga ngos-ngosan saat Saka sudah melepaskan ciuman tetapi tak berenti sampai di sana. Tangan Saka bergerak

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 151. Serem Banget

    Mila terisak di dalam pelukannya. Tangis itu terdengar sangat menyedihkan kala masuk ke dalam indera pendengarannya tetapi saat melihat wajah Mila, Bejo sedikit lega kala tidak dia temukan kerapuhan itu. Hanya saja, kemarahan, kekecewaan dan penyesalan atau mungkin sakitnya begitu jelas terlihat dari kedua mata Mila. Sejujurnya Bejo kasihan melihat wanita itu tetapi apa yang ia bisa lakukan kalau yang membuat sedih adalah orang tua dari Mila sendiri. Ingin menggorok leher beliau pun tak mungkin. Kini Bejo sedang menjadi pundak dan telinga yang Mila butuhkan. Pelukannya menenangkan, telinganya mendengarkan dan satu lagi, tangannya mengusap lembut punggung Mila. Bejo merapatkan bibirnya. Namun otak berisik memikirkan ini semua. "Gue punya orang tua baiknya nggak bisa diukur pakai meteran tapi cepet banget diambilnya. Giliran dia yang punya orang tua kayak setan, nggak mati-mati sampe sekarang. Heran gue jadi!" Hiks... Hiks... "Aku hanya ingin bertemu Ayah aja nggak boleh. Aku ngg

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 150. Meminta Jatah

    " Oh itu dosen saya, Nyonya. Dosen yang bimbing skripsi saya. Nyonya tau? Tadi lihat?" "Kamu yang nggak lihat saya, Jo!" celetuk Mila membuatnya meringis mendengar itu. "Eh iya bener banget lagi. Saking fokusnya itu Nyonya, makanya nggak lihat." Mila menghela nafas berat seraya memperhatikannya dengan sangat lekat dan wanita itu bersandar di kursi kerja tanpa mengalihkan sama sekali pandangannya seolah tengah mengulik dan mencari kebenaran dari jawaban yang ia sampaikan. "Dosen, Nyonya. Kalau nggak percaya, bisa saya teleponin sekarang." "Nggak perlu! Aku tau kalau itu dosen kamu tapi aku lihat wanita itu sangat cantik, Jo." "Memang kenapa kalau cantik, Nyonya?" Kedua alis Bejo terangkat dan Mila menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya. Namun Bejo tersenyum tipis melihat itu. Bejo paham kemana arah pikiran Mila. "Cantik itu relatif, tapi memang Bu Kesya cantik. Nyonya nggak perlu khawatir! Selama saya masih memiliki perjanjian kerja dengan Nyonya. Aman pokoknya." Bejo

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 05. Warna Lingerie

    Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 04. Mandul

    "Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 03. Sampai Klimaks

    "Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 02. Tepat Di Titik Sensitifnya

    "Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status