ANMELDENSepanjang jalan, Mila mencoba menghubungi Saka tetapi tidak ada sama sekali tanggapan dari pria itu. Panggilan Mila diabaikan begitu saja sampai wanita itu kesal sendiri jadinya.Bejo yang ada di samping Mila pun hanya diam saja tak lagi bertanya. Dia membiarkan Mila melakukan apapun itu. Kekesalan Mila dapat Bejo lihat dengan jelas. Namun tak ada satu pun pertanyaan yang dia berikan pada Mila. "Kenapa nggak diangkat sih? Ngeselin banget!" umpat Mila kemudian menyandarkan tubuh di jok mobil seraya memejamkan kedua mata. Tak lama Mila melirik Bejo yang tak membuka suara sama sekali. "Jo kamu kok diam aja?"Bejo menoleh sekilas kemudian fokus lagi pada jalan. "Tadi Nyonya ditanya juga diem aja. Saya mau tanya lagi takutnya Nyonya ngambek beneran. Ya udah saya diam dulu aja. Ngeri Nyonya malah ngamuk." Kini Mila gantian yang diam setelah Bejo menjawab demikian. Padahal maju kena mundur kena. Kalau banyak tanya kena amuk , giliran diam kena tegur. Memang menghadapi wanita itu harus s
Kedua mata Mila memicing padanya. Wanita itu nampak curiga dengan pertanyaan yang dia berikan tetapi Bejo tetap santai saja menanggapinya. Bejo melangkah kembali menyurusi rak-rak tinggi itu dengan langkah kaki yang santai. "Memangnya kalau saya tau kenapa, Nyonya? Saya sih ya nebak aja. Apalagi pagi ini Tuan sumringah banget. Beehhh laki kalau udah keturututan udah pasti senengnya nggak karuan. Udah kayak semua masalah luntur tinggal ninggalin daki doang sama kentut.""Jo!" Mila kemudian menoleh ke belakang seolah takut ada yang mendengar akan apa yang ia sampaikan. Bejo pun terkekeh melihat Mila yang nampak kelimpungan sendiri. "Ikh kamu tuh!""Hihihi... Nggak usah panik, Nya! Kuping saya 'kan ada spionnya.""Ck, nggak usah bahas itu di sini!""Terus maunya dimana, Nyonya? Kalau di rumah nanti malah ujung-ujungnya saya ngelunjak. Eh ngajak masuk kamar. Kalau di sini aman. Sekalipun ke pancing, nggak mungkin 'kan saya bakal exhib."Kedua alis Mila menukik mendengar apa yang ia sam
"Nyonya saya mau pamit ke pasar untuk membeli kebutuhan di dapur dan persabunan." Mila dan Bejo melirik Bibi yang datang kembali dengan membawa tas belanja di tangannya. Bibi terlihat lebih canggung sekarang. Beliau lebih banyak menundukkan kepala, mungkin karena malu atas apa yang sudah dilakukan. Namun yang ada di tangkapan mata Bejo bukan hanya ekspresi Bibi tetapi juga daftar belanjaan yang ada di tangan beliau hingga membuat kedua alis Bejo menukik melihat itu. "Butuh berapa, Bi?" "Butuh sekitar lima ju..." "Tunggu, Nyonya! Tadi saya bilang sama Nyonya, agar happy terus bukan? Kenapa Nyonya nggak ikut belanja aja?" tanya Bejo dengan melirik Bibi yang kemudian kembali menundukkan kepala beliau. "Bukankah kalau untuk seorang wanita tuh belanja bulanan bisa sangat menyenangkan? Biar Nyonya yang dilihat nggak cuma tulisan sama etalesa roti terus, Nya. Gimana? Biar lebih happy lagi, Bejo antar deh." Mila terlihat memikirkan itu sedangkakn Bejo kembali melirik wajah Bibi yang s
Mila nampak terkejut melihat Saka memanggil Bejo. Wanita itu nampak cemas setelahnya. Padahal yang dipanggil santai saja melangkah menghampiri. "Iya ada apa, Tuan?""Termasuk dengan Bejo. Sekarang yang Bibi tau kalau Bejo adalah sopir istri saya, jadi segala bentuk kedekatan mereka, saya harap Bibi tutup mata! Jangan mencampuri kalau tidak mau saya pecat. Paham!"Bukan bicara pada Bejo, Saka malah bicara pada Bibi dan memberikan peringatan pada beliau yang kemudian menganggukkan kepala mengiyakan. Kalau dipikir selama ini Bibi cukup menghambat pergerakan mereka tetapi niat Bibi yang ini baik dan Bejo cukup mengerti. "Minta maaf pada istri saya!" perintah Saka pada Bibi yang kemudian melangkah mendekati Mila dan berlutut di hadapan Mila hingga membuat Mila kembali terkejut. Padahal baru rasa keterkejutannya surut karena melihat Bejo yang tiba-tiba dipanggil, sekarang malah Bibi yang tau-tau bersimpuh di kakinya. "Jangan seperti ini, Bi! Aku bukan Tuhan yang harus Bibi sembah begin
Paginya, Bejo yang biasa akan menyapa Bibi, tidak lagi dia lakukan. Bejo sengaja ingin melihat bagaimana reaksi Bibi. Dia melangkah menuju meja dapur untuk mengambil makan. Walaupun ini hasil masakan Bibi tetapi tetap dia nikmati. Beliau masih menyiapkan seperti biasa tanpa mengurangi sedikitpun jatah makanan karyawan. "Itu di pengering bukannya baju kamu, Jo? Sudah Bibi jemur tapi kok ada BH sama celana dalam perempuannya juga, Jo?" PPFFTT... Namun bukan sapaan atau tanggapan atas yang terjadi kemarin melainkan pertanyaan yang membuat Bejo menyemburkan makanannya. Uhuks Uhuks Bejo bergerak cepat mengambil minum dan segera mengguyur tenggorokannya. Dia sampai mengelus dada setelahnya saking sesak karena baru ingat kalau ada bikini Mila yang ikut dia cuci juga dan kemarin belum sempat dijemur karena ada insiden hingga membuatnya lupa. "Pelan-pelan, Jo!" Bejo lebih dulu menenangkan diri dan barulah menjawab pertanyaan Bibi. Bejo mendongak menatap Bibi yang masih diam mempe
Mila dan Saka masuk ke dalam kamar. Saka kembali mencumbu Mila tanpa memperdulikan kesiapan Mila saat ini. Tangan Saka meremas pinggul Mila menahan pergerakan wanita itu hingga menempel dan sulit bergerak bebas. Ciuman Saka buas menuntut hingga tas yang masih Mila pegang pun terlepas dari genggaman dan jemari lentik itu mencengkeram pakaian Saka dengan erat. Mila sulit mengimbangi dan kembali merasakan kegilaan Saka lagi. Lidah Saka menyapu rata, mengabsen setiap sudut mulut Mila, membelit dengan sangat agresif hingga Mila kewalahan. "Mas!""Aku sangat menginginkanmu, Sayang!" Di saat seperti ini, masalah yang lalu seolah kembali berputar diingatan Mila, membuka lagi akan perih yang masih menganga tetapi di saat yang sama, Mila tak mampu menolak kewajiban dengan satu syarat yang sudah dia tetapkan yaitu tidak membuka kakinya. Sungguh Mila tidak mampu untuk itu. Mila payah hingga ngos-ngosan saat Saka sudah melepaskan ciuman tetapi tak berenti sampai di sana. Tangan Saka bergerak
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







