LOGIN"Tulis lagi, Ayah!" Tangan ayah kembali bergerak dan Mila juga Bejo begitu sangat memperhatikan pergerakan tersebut. Kedua alis Bejo menukik melihat apa yang ayah tuliskan lagi di sana. 'Mila anak ayah' DEG Sontak Mila dan Bejo kembali saling memandang satu sama lain. Keduanya menatap saling tak percaya dengan apa yang ayah tuliskan. Tanpa diminta, beliau membocorkan sesuatu. Air mata Mila pun runtuh dan kembali memandang beliau. Mila meraih tangan ayah dan kembali bertanya meminta diyakinkan. "Jadi Mila bukan anak Ibu?" tanya Mila dan Ayah menggeleng kepala. Mila pun memejamkan kedua mata kemudian memeluk Ayah. Tangis wanita itu pecah hingga Bejo mendekati dan mengusap punggung Mila menguatkan wanita itu. Bejo mengenal nafas berat dan menatap ayah dari Mila dengan kedua mata berkaca-kaca. "Bisa-bisanya Bapak menikahi Dajjal. Kasihan Nyonya, Pak." Bejo sedih bukan karena Mila anak tiri dari Ibunya tetapi karena Mila selama ini hanya dijadikan tumbal oleh wanita s
"Ya elaaaahhhh, intinya maunya sama gue kalau begini mah. Syulit-syulit!" Bejo mengusap kasar wajahnya tetapi berusaha untuk membujuk. Maunya, Keysa tidak banyak drama tetapi nyatanya beda. Keysa bahkan membuat Bejo tambah pusing saja. "Bu, yang ini juga nggak diragukan lagi kalau buat keperkasaannya. Walaupun masih ori lecet tangan doang, tapi dia gacor Bu. Dijamin puas deh! Kalau nggak enak balikin! Saya kasih gratis ongkir buat sekali coba. Gimana? Yang penting Ibu bisa tidur setelah itu kan?" "Memangnya siapa sih, Jo? Lagian kamu juga kenapa nggak mau banget sama saya? Sudah saya katakan, saya akan menjaga kerahasiaan ini. Nggak akan ada yang tau Jo. Aman!" "Bukan itu masalahnya, Bu. Saya sudah tidak bisa lagi diganggu gugat. Makanya saya carikan ibu yang yahuuut dan jaminan orangnya nurut. Mau diapain, suruh gaya apa juga manut. Pokoknya Bu Key nggak akan nyesel. Mau ya, Bu! Saya butuh informasi tentang Tuan, Bu. Jangan persulit itu!" "Saya tuh sebenarnya nggak per
Bejo mengusap kasar wajahnya. Dia terduduk di pinggir taman toko roti milik Mila. Satu batang rokok terselip di jemarinya. Sesekali dia menyesap mengepulkan asap yang mengudara. "Ya kali gue harus kawin dulu sama Keysa biar tau semuanya. Gue yakin, Keysa paham apa yang terjadi sama Saka. Selain kejahatan itu, pasti banyak boroknya Saka yang Keysa telen sendirian. Ahh monyet-monyet!" Bejo mengusap kepalanya sendiri. Pening sekali dia memikirkan tentang bab perkawinan dengan dosennya sedangkan ada Mila yang pastinya ngamuk kalau sampai itu dia lakukan. "Coba gue tanya aja kali ya. Siapa tau mau sama si Edo. Sama-sama batang. Edo juga masih perjaka. Ilang juga paling sama tangannya sendiri. Kali aja mau." Bejo menyesap lagi batang rokok yang masih separoh. Dia hendak mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Keysa tetapi Mila tiba-tiba sudah ada di hadapannya. "Jo kamu ngapain di sini? Ini apa? Kamu merokok? Sejak kapan?" cecar Mila dan Bejo mengangkat tangannya memamerkan pu
"Oh ini ... " Saka mengusap bagian leher yang Mila tunjuk dan tersenyum mengalihkan pandangan dari wanita itu. "Wanita mana? Nggak ada, Sayang! Jangan suka curiga begitu!" jawab Saka meyakinkan. "Oh... Jadi nggak ada wanita lain seperti yang aku pikirkan?" tanya Mila seraya melipat kedua tangannya memandang Saka dengan tenang. Peka! Itulah yang Mila ingat-ingat sesuai apa yang Bejo sampaikan tadi. Harus peka! Setiap gerakan, ekspresi dan juga apapun yang Saka tunjukan membuatnya fokus memandang. Saka duduk tetapi berjarak dari Mila. Pria itu membuka tangan bersandar sofa dengan kaki menekuk di atas lutut. Saka tersenyum memandang Mila yang kini semakin intens memperhatikan. "Masih tidak percaya?" "Aku tidak memintamu untuk meyakinkanku, Mas. Aku hanya ingin mendengar jawabanmu saja," jawab Mila dengan lugas dan tetap memandang Saka. "Tidak ada. Apa kalau cakaran pasti ada korban? Aku tidak bersama dengan wanita manapun, Mila." Mila menganggukkan kepala da
"Jo!" Bejo menyeringai memandang Mila yang sangat terkejut dan hampir saja terpekik setelah melihatnya menyusul. Sudah dibilang mau ikut tapi masih saja terkejut. Padahal Bejo tidak pernah main-main dengan ucapannya sendiri. "Sssttt...." Bejo menutup bibir Mila hingga wanita itu bungkam. Setelah itu Bejo memberikan kedua ibu jarinya pada Mila. Bukan hanya dua saja, Bejo duduk dan mengangkat kedua kaki memberikan kedua ibu jari kakinya. "Lima jempol, Nyonya." "Kok lima? Satu, dua, tiga, empat, Jo." "Lima sama yang di dalam sempak, Nyonya." Mila tertegun mendengar apa yang dia sampaikan. Wanita itu merapatkan bibir dan menggelengkan kepala. Bejo pun kembali berdiri di hadapan Mila. "Nyonya ingat gimana pelitnya Tuan Saka? Dia nggak akan mau menikah lagi kalau syarat Nyonya itu kekayaannya." Mila menganggukkan kepala dan menekuk kedua tangan di dada. "Benar katamu, Jo. Aku tidak kepikiran sampai sana. Aku bahkan sudah ikhlas kalau pun Mas Saka mau menikah lagi
"Perang udah perang! Nggak usah mikir bakal gimana. Perang keluarga situ biar kelar semuanya!" oceh Bejo kemudian melahap lagi anggur hijau yang masih ada dalam pangkuannya. Sementara di sana Mila hanya diam dengan kedua tangan menyilang di dada sedangkan Saka sudah menghadap pada Mamahnya. Saka memandang dengan penuh tanya. "Katanya datang ingin silaturahmi dengan Mila. Kenapa malah ribut begini, Pah, Mah?" "Mamahmu, Saka!" "Mamah gimana? Kamu itu, Pah. Kenapa tidak jujur saja tujuan datang itu apa? Untuk apa masih ditutup-tutupi? Nggak ada gunanya lagi," oceh Mamah pada Papah dan segera menjawab pertanyaan Saka. "Kami ke sini dengan bertujuan meminta ijin pada Mila untuk kembali menikahkan kamu dan Mila menyetujui tetapi syarat yang istri kamu berikan sangat konyol Saka! Dia minta sebagian dari hartamu. Perempuan pemeras! Tidak tau diuntung kamu! Kamu lupa siapa yang mengangkat kembali derajat keluargamu, hah?" Mamah kembali hendak menyerang tetapi Saka segera menga
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka







