LOGIN"Jo!" Bejo menyeringai memandang Mila yang sangat terkejut dan hampir saja terpekik setelah melihatnya menyusul. Sudah dibilang mau ikut tapi masih saja terkejut. Padahal Bejo tidak pernah main-main dengan ucapannya sendiri. "Sssttt...." Bejo menutup bibir Mila hingga wanita itu bungkam. Setelah itu Bejo memberikan kedua ibu jarinya pada Mila. Bukan hanya dua saja, Bejo duduk dan mengangkat kedua kaki memberikan kedua ibu jari kakinya. "Lima jempol, Nyonya." "Kok lima? Satu, dua, tiga, empat, Jo." "Lima sama yang di dalam sempak, Nyonya." Mila tertegun mendengar apa yang dia sampaikan. Wanita itu merapatkan bibir dan menggelengkan kepala. Bejo pun kembali berdiri di hadapan Mila. "Nyonya ingat gimana pelitnya Tuan Saka? Dia nggak akan mau menikah lagi kalau syarat Nyonya itu kekayaannya." Mila menganggukkan kepala dan menekuk kedua tangan di dada. "Benar katamu, Jo. Aku tidak kepikiran sampai sana. Aku bahkan sudah ikhlas kalau pun Mas Saka mau menikah lagi
"Perang udah perang! Nggak usah mikir bakal gimana. Perang keluarga situ biar kelar semuanya!" oceh Bejo kemudian melahap lagi anggur hijau yang masih ada dalam pangkuannya. Sementara di sana Mila hanya diam dengan kedua tangan menyilang di dada sedangkan Saka sudah menghadap pada Mamahnya. Saka memandang dengan penuh tanya. "Katanya datang ingin silaturahmi dengan Mila. Kenapa malah ribut begini, Pah, Mah?" "Mamahmu, Saka!" "Mamah gimana? Kamu itu, Pah. Kenapa tidak jujur saja tujuan datang itu apa? Untuk apa masih ditutup-tutupi? Nggak ada gunanya lagi," oceh Mamah pada Papah dan segera menjawab pertanyaan Saka. "Kami ke sini dengan bertujuan meminta ijin pada Mila untuk kembali menikahkan kamu dan Mila menyetujui tetapi syarat yang istri kamu berikan sangat konyol Saka! Dia minta sebagian dari hartamu. Perempuan pemeras! Tidak tau diuntung kamu! Kamu lupa siapa yang mengangkat kembali derajat keluargamu, hah?" Mamah kembali hendak menyerang tetapi Saka segera menga
Papah sangat ragu bicara demikian. Terlihat jelas wajah Papah begitu sangat tertekan dan terpaksa. Berbeda dengan Mamah yang semakin bahagia setelah Papah meminta ijin pada Mila. "Maafkan Papah, Nak. Papah tau ini sangat menyakitkan kamu. Apalagi setelah Papah tau kamu pun sedang banyak masalah keluarga." Mila menganggukkan kepala mendengar penuturan dari beliau. Mila melirik mamah yang tersenyum menunggu jawaban darinya. Namun tak lama ketukan terdengar. Karyawannya masuk membawakan pesanannya tadi. "Silahkan diminum dulu, Pah!" "Halah! Kamu sedang menutupi keterkejutan kamu kan Mila? Kenapa? Kaget ya? Kalau saya rasa tidak perlu kamu terkejut begitu karena memang sudah resiko kamu, Mila. Salah siapa mandul!" Mila tersenyum mendengar penuturan itu dan menoleh lagi pada Papah yang masih merasa bersalah. "Papah minum dulu!" Beliau mengangkat kepala dan tersenyum tipis memandangnya. Mila pun membalas dengan senyuman yang sama. Mila tau, yang paling waras memang hany
Kedua tangan Mila terkepal kuat di ujung roknya. Mila menarik nafas dalam mencoba untuk tetap tenang meskipun ucapan Mamah mertua bak parang. Bahkan bibir Mila masih bisa tersenyum kala hati kembali tersayat perih. "Mah!" "Tidak apa, Pah. Memang begitu adanya." Mila tidak lagi melawan, tidak lagi ingin membela diri dan tidak lagi menggubris walaupun setiap perkataan yang keluar dari mulut beliau akan Mila balas dengan caranya. Mila menundukkan kepala seraya memejamkan kedua mata. Bayangan akan aktifitas panas tadi terngiang diingatan. "Aku harap benih hangat yang tadi Bejo berikan menghasilkan. Kalau bisa dua sekaligus agar aku bisa membuktikan pada mertuaku kalau menantu mandulnya ini masih bisa menghasilkan. Bahkan sangat subur!" ucap Mila dalam hati. "Kenapa? Tidak bisa bicara kan sekarang? Memang sudah terbukti dan mau diapakan pun akan sulit. Apalagi kamu yang membangkang pada orang tua. Jangankan pada ibunya sendiri, pada mertua saja sulit hormat!" "Mah jangan
Kalau sudah begini tentu saja Mila kalang kabut. Wanita itu langsung buru-buru mengenakan pakaian. Badan yang semula lemas pun mendadak seperti mendapatkan kekuatan super entah dari mana asalnya. Mila langsung berlari keluar seraya merapikan penampilannya yang masih pucat. Hanya merapikan rambut saja kemudian membuka pintu ruangan. Tidak seperti Bejo yang bergerak santai masih di kamar mandi tanpa ada rasa panik sama sekali. Itu pun rambut Mila yang basah sengaja digelung agar tidak terlihat kalau baru selesai keramas. Bisa mendapatkan tatapan liar yang mencurigakan kalau sampai dibiarkan terurai. Suara ketukan pintu masih terdengar. Itu sangat mendebarkan bagi Mila yang sebisa mungkin bersikap tenang. Mila memegang handle pintu. Dia menarik nafas dalam dan mencoba untuk tenang. Mila bahkan menakan salivanya kala pintu hendak diputar. "Slow aja, Nya! Nggak usah panik!" Kicauan Bejo sontak membuat Mila menoleh ke arah kamar mandi. Bejo baru keluar dari sana dan tersenyum d
Bejo menghujam Mila yang membuka kaki di atas meja. Dia berdiri gagah di lantai membiarkan Mila terduduk di atas meja dengan kedua tangan melingkar di lehernya. Bejo mengecup bibir Mila, memagut seraya menggerakkan tubuhnya keluar masuk di dalam tubuh Mila. Tangannya menahan kedua kaki Mila agar tetap terbuka dan bertahan dalam pusaran kenikmatan. "Ah, Jo!" Mila mendongak, tubuh melengkung, menyodorkan dada padanya. Bejo pun semakin memeluk Mila, mendekap dengan posesif dan menyusuri tengkuk Mila tanpa melepaskan diri. "Penuhi aku, Jo!" pinta Mila dengan suara yang seksi. Bejo pun semakin menekan penuh ke dalam hingga Mila terpekik suka. Mila tersenyum mendamba merasakan itu. Kedua mata Mila melirik gemas Bejo yang aroma tubuhnya mampu melumpuhkan majikannya. Bejo pun semakin gencar tanpa melepaskan kerja lidah dan mulut dalam menyesap kulit putih Mila. Gairah itu semakin mendidih. Kedutan si Juki menjalar pada Mila yang semakin menjepit. "Nyonya selalu membuat sa
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t







