INICIAR SESIÓNBejo menghujam Mila yang membuka kaki di atas meja. Dia berdiri gagah di lantai membiarkan Mila terduduk di atas meja dengan kedua tangan melingkar di lehernya. Bejo mengecup bibir Mila, memagut seraya menggerakkan tubuhnya keluar masuk di dalam tubuh Mila. Tangannya menahan kedua kaki Mila agar tetap terbuka dan bertahan dalam pusaran kenikmatan. "Ah, Jo!" Mila mendongak, tubuh melengkung, menyodorkan dada padanya. Bejo pun semakin memeluk Mila, mendekap dengan posesif dan menyusuri tengkuk Mila tanpa melepaskan diri. "Penuhi aku, Jo!" pinta Mila dengan suara yang seksi. Bejo pun semakin menekan penuh ke dalam hingga Mila terpekik suka. Mila tersenyum mendamba merasakan itu. Kedua mata Mila melirik gemas Bejo yang aroma tubuhnya mampu melumpuhkan majikannya. Bejo pun semakin gencar tanpa melepaskan kerja lidah dan mulut dalam menyesap kulit putih Mila. Gairah itu semakin mendidih. Kedutan si Juki menjalar pada Mila yang semakin menjepit. "Nyonya selalu membuat sa
Bejo menjulurkan lidahnya, menyesap sampai membuat Mila tersentak, mendongak dengan senyuman yang melegakan. Mila semakin tak karuan sedangkan Bejo begitu sangat menikmati kegiatan ini. "Gue pastikan Nyonya bakal lebih sehat lagi pikirannya. Dia nggak akan gila walaupun dihantam banyak serangan dari orang-orang yang nggak waras. Selama ada gue, mentalnya aman." Bersamanya, Bejo pastikan Mila akan aman. Sakit hati wajar, tapi obat mujarab jarang ditemukan dan ada pun itu sangat mahal. Keysa saja mengincarnya, apalagi Mila yang sudah mendapatkan sentuhan pertama darinya. Sudah pasti akan selalu ketagihan dan meminta. "Ngokop, Jo! Ngokop! Bukan bibir atas tapi bibir bawah. Udah dijamin nano rasanya. Lebih legit dari yang ada giginya. Kalau yang ini udah nggak diragukan lagi. Udah kayak permen yang ada tulisannya 'Selamat menikmati!'." Bejo semakin dalam menyesap hingga ujung hidung pun ikut menggelitik tubuh Mila. Lidah, bibir bekerja sama memberikan sesapannya semakin kuat, me
Tangan Bejo merambat menuju punggung Mila. Masuk dari bagian depan yang sudah dia buka kancingnya dan mencari pengait bra ingin dilepaskan. Bejo ingin membebaskan dada Mila yang masih terhimpit. Sungguh, semakin bertambah berat badan tentu saja pengaruhnya besar ke dada tetapi kalau dilihat memang dada dan bokong Mila saja yang bertambah besar. Perut Mila masih rata dan bagus. "Ah...." Mila menjambak rambutnya. Dada wanita itu berdebar kencang dan nafas mulai tersengal menimbulkan gerakan naik turun tak beraturan. Apalagi kini pengait bra sudah berhasil Bejo lepaskan. Kedua buah pepaya yang besar itu menggelantung menggoda dan siap Bejo lahap berbarengan. Bejo sedikit beranjak. Dia menyeringai melihat dada Mila dan meraih keduanya yang tidak benar-benar bisa terjangkau hanya dengan satu tangan saja. Padahal kedua tangan Bejo sudah memegang kedua buah tersebut tetapi tetap tak mudah menjangkau semua benda kenyal itu hingga Bejo sengaja menyatukan, menempelkan satu sama lai
"Nggak mungkin, Jo." "Mungkin aja." Bejo berusaha untuk memberikan kode tetapi sialnya Mila tidak sama sekali menghiraukan itu. Mila menggelengkan kepala tidak membenarkan ataupun setuju dengan pemikirannya. Kalau seperti ini saja sudah tidak percaya, ya Bejo jalan perlahan dalam membuka pikiran Mila. Biar wanita itu sendiri yang mencari juga menemukan bukti dari kecurigaan dan apa yang sudah dia sampaikan. "Nggak, Jo. Kalau aku pribadi, seperti tidak mungkin itu terjadi. Walaupun memang aku curiga Mas Saka mengincar Mala tapi kalau bisa jangan sampai hal demikian terjadi. "Ya semoga saja apa yang Nyonya harapkan bisa benar adanya. Kalau saya pribadi udah nggak bisa berpikir positif. Ya sama Tuan, ya sama adiknya Nyonya." "Kenapa dengan Mala, Jo?" "Ya kalau memang Mala itu benar orangnya. Nggak mungkin diam aja melihat ayah sampai seperti itu, Nyonya. Begitulah! Nyonya mau percaya syukur, nggak ya udah. Kita lihat aja nanti." Pelan-pelan, jangan langsung dikasi
"Maunya Nyonya saya jawab apa?" tanya Bejo dengan seringai tipis di wajahnya yang membuat Mila melengos melihat itu. Mila mulai melahap ramen yang masih mengeluarkan kepulan asap. Mila begitu sangat menikmati tetapi tak lama kemudian tubuh wanita itu menegang saat Bejo meraih tangan Mila yang tengah memegang sendok hingga mulut Mila terbuka kala melihatnya. "Makannya nggak usah terlalu buru-buru, Nyonya. Kuahnya mengotori bibir Nyonya." Cup Bejo menyerusup bibir Mila. Dia memagut bibir itu yang terdapat kuah ramen, menyapu membersihkan hingga Mila mengangkat kepala dengan bibir yang masih terbuka. Mila pasrah kemudian membalas kecupannya tetapi tidak lama Bejo melepaskan sapuan lidahnya di bibir Mila. Terlihat jelas, Mila seperti kehilangan dan segera menelan salivanya. Bejo mengusap bibir Mila dan meminta wanita itu untuk melanjutkan makannya. "Makan lagi, Nyonya! Kalau dingin nggak enak." Bejo tersenyum tipis melihat ekspresi Mila. Pipi wanita itu semakin merona d
"Buat...." Mila menggigit bibir bawahnya kemudian melirik ponsel yang ada di atas meja. Dering ponsel itu membuat Bejo pun menoleh dan bergerak meraihnya. "Siapa, Jo?" "Suami Nyonya." "Oh Mas Saka. Bawa sini, Jo!" perintah Mila dan Bejo kembali duduk seraya memberikan ponsel pada majikannya. "Semangat amat dapet telepon dari suami," sindir Bejo dan Mila hanya berdecak kemudian menggelengkan kepala. "Hallo, Mas." "Sudah makan siang? Katanya mau ke sini. Padahal aku sedang senggang." "Tadi kamu menolak aku datang, sekarang kamu menagih inginku. Ucapanmu nggak bisa dipegang, Mas!" Mila menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan-pelan. Bejo pun menoleh memerhatikan mimik wajah Mila yang terlihat jengah. Dia tidak bicara, tetapi bergerak menempelkan telinga ke ponsel yang ada di telinga Mila. "Aku tidak menolak, tapi aku mengatakan kalau kamu harus buat janji dulu padaku." "Kapan-kapan saja!" celetuk Mila. "Kamu merajuk terus, Sayang. Sudah ada Bejo kan di
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







