LOGINBejo menurunkan tangannya di mangkuk dan beranjak dari duduknya. Dia tersenyum melihat Saka tengah mendekati mereka dengan langkah tegas dan tatapan penuh tanya. Sementara Mila nampak agak gugup seperti orang yang tengah tertangkap basah. Sangat berbeda dengannya yang masih bisa tenang menghadapi kepulangan Saka secara tiba-tiba. "Sedang apa kalian?" "Maaf, Tuan. Nyonya susah sekali makan. Maka dari itu saya berinisiatif untuk menyuapi Nyonya." Sontak Mila mendongak memperhatikannya setelah mendengar kejujuran yang ia berikan pada Saka. Tangan wanita itu diam-diam menarik pakaiannya. Bejo pun melirik pada Mila yang mendelik ke arahnya. Namun Bejo malah hawanya ingin tertawa melihat wajah Mila yang menggemaskan. Niat wanita itu memperingati tetapi kenapa jatuhnya seperti anak kecil yang sedang tantrum. "Oh, itu pun termasuk pekerjaanmu Jo!" Kedua alisnya terangkat mendengar apa yang Saka katakan. Bahkan Mila sampai tercengang mendengar itu. Jadi Saka tidak marah dan
[Oke, Nyonya.] "Apa sich kok jawabannya cuma oke aja. Sebenarnya si Bejo diminta anterin Mas Saka kemana coba? Ditelpon nggak diangkat. Balasannya singkat banget." Mila ngoceh sendiri mendapati pesan Bejo yang bagi wanita itu sangat menyebalkan sekali. Saat ini Mila tengah berada di ruang depan setelah tadi sempat mengurung diri dan keluar setelah tenang juga tau kalau Saka tidak ada. "Nyonya mau makan? Saya siapkan kalau Nyonya mau." "Nggak dech, Bi." "Atuh kenapa, Nyonya? Kenapa kalau makan tuh susah benget? Padahal makan tuh enak loh, Nyonya. Apa masakan Bibi yang kurang lezat? Kurang nendang gitu, Nyonya?" "Eh nggak gitu, Bi. Aku suka sama masakan Bibi tapi kalau lagi nggak mood tuh suka males banget makan." Mila menatap wajah Bibi yang terlihat sedih kemudian meraih tangan beliau. "Tapi malam ini aku mau makan masakan Bibi. Cuma aku lagi ingin makan mie instan. Boleh, Bi?" "Aduh kenapa mie instan, Nyonya? Nanti dimarahin sama Tuan. Kata Tuan nggak boleh maka
Saka terus saja menggedor pintu kamar utama tetapi Mila bertahan dengan kemarahan dan kekecewaan yang pria itu ciptakan. "Oke, Sayang! Oke aku minta maaf. Buka pintunya atau aku dobrak!" ancam Saka tetapi tidak ada jawaban dari Mila apalagi suara kunci terbuka yang menandakan pergerakan wanita itu. Saka pun melangkah pergi dari sana dan berlari menuruni tangga memanggil Bibi. Bejo yang tengah duduk di samping rumah, bersantai menunggu balasan dari Mila mendongak menatap pergerakan Saka. "Bi! Bibi!" seru Saka dan Bibi berlari tergopoh-gopoh mendekati dari belakang dengan cucian yang ada di tangan beliau. "Ada apa, Tuan?" tanya Bibi seraya membungkukkan tubuh beliau. "Carikan kunci cadangan kamar saya!" "Kunci cadangan? Oh tunggu sebentar, Tuan!" Bibi melangkah menuju lemari yang ada di ruang tengah. Beliau membuka setiap laci yang ada di sana tetapi beliau tidak sama sekali menemukan apa yang Saka pinta. "Mana ya?" gumam Bibi. Bibi terus bergerak dengan repot
"Apalagi, Jo?" Bejo menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan dari Saka. Pria itu terlihat tak terima akan sikapnya yang dominan. Dia tau, Saka sedang sangat emosi sekali saat ini maka jangan ditanya, jangan disenggol apalagi ditantang. Namun Bejo tidak perduli. Dia tau Mila tak nyaman dengan sikap Saka. Memang semalam dia meminta Mila untuk bisa melayani Saka sekali lagi tetapi bukan untuk sekarang. Dia lebih tau kondisi tubuh Mila dari pada pria itu. "Maaf, saya hanya ingin menyampaikan kalau Nyonya sedang kurang enak badan. Tadi saat dalam perjalanan, badan Nyonya hangat, Tuan. Bisa Tuan cek sendiri jika tidak percaya dengan saya!" kata Bejo dan Saka menoleh memperhatikan Mila yang menunduk enggan membalas. Tangan Saka terulur menyentuh kening Mila tetapi gerakan Mila yang menghindari membuat pria itu berdecak kesal. "Kamu sakit?" "Hanya agak kurang enak badan saja, Mas." "Tidur dimana semalam?" tanya Saka dan Mila mengangkat kepala melihat ke arahnya.
"Mungkin tapi untuk saat ini untuk Nyonya dulu," jawab Bejo kemudian menyematkan senyuman manis pada Mila yang terlihat mengangguk dan melengos darinya. "Ayo lanjut, Nyonya! Pegangan ya! Aku mau ngebut soalnya." Bejo naik kembali ke atas motornya dan segera menghidupkan mesin. Mila pun duduk di belakangnya kemudian mengulurkan tangan yang segera dia raih agar melingkar kembali di tubuhnya. "Yang kenceng, Nyonya!" "Meluk banget nggak sich, Jo?" "Nggak apa-apa, aman!" jawab Bejo dan menatap gemas mendapati bibir Mila yang mencebik setelah dia mengatakan itu. Motor pun kembali melaju dan mereka menikmati perjalanan ini. Langit terik dan matahari terasa panas ke kulit saat mereka sudah sampai di kota. Bejo menepikan dulu motornya di salah satu toko biru yang ada di sana untuk membeli minum. "Panas ya, Nyonya? Maaf ya saya bawanya motor. Soalnya biar simpel aja nyari Nyonyanya kemarin. Masuk dulu yuk! Ngadem," ajak Bejo tetapi Mila menggelengkan kepala dan anteng saj
Mila membuang muka mendengar pertanyaan yang mungkin wanita itu paham maksudnya. Padahal Bejo sudah biasa saja tetapi Mila pasti akan tergelitik mengingat yang semalam. Apalagi semalam Mila berulang kali sampai. Rasanya pasti sangat-sangat melegakan hingga tidurnya pun sangat nyenyak. "Nyonya," panggil Bejo dan Mila berdecak kemudian beranjak dari duduk tanpa menoleh padanya. Dia pun terkekeh melihat sikap Mila yang malu-malu gengsi. Dia segera mengambil kunci motor untuk meninggalkan tempat itu. "Setelah sarapan kita pulang ya, Nyonya." "Antar aku ke toko roti saja, Jo." "Oke." Bejo mengikuti Mila yang melangkah duluan. Wanita itu terdiam kala melihat pemandangan yang indah di samping Villa. "Kenapa, Nyonya?" "Jangan buru-buru, Jo! Indah banget. Apa nggak ada pedagang makanan dekat sini? Saya masih ingin menikmati suasana di sini." Bejo melihat sekelilingnya tetapi memang tidak ada pedagang makanan di sana. Dia pun turun mendekati jalanan yang terlihat s
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka







