ANMELDEN"Mungkin tapi untuk saat ini untuk Nyonya dulu," jawab Bejo kemudian menyematkan senyuman manis pada Mila yang terlihat mengangguk dan melengos darinya. "Ayo lanjut, Nyonya! Pegangan ya! Aku mau ngebut soalnya." Bejo naik kembali ke atas motornya dan segera menghidupkan mesin. Mila pun duduk di belakangnya kemudian mengulurkan tangan yang segera dia raih agar melingkar kembali di tubuhnya. "Yang kenceng, Nyonya!" "Meluk banget nggak sich, Jo?" "Nggak apa-apa, aman!" jawab Bejo dan menatap gemas mendapati bibir Mila yang mencebik setelah dia mengatakan itu. Motor pun kembali melaju dan mereka menikmati perjalanan ini. Langit terik dan matahari terasa panas ke kulit saat mereka sudah sampai di kota. Bejo menepikan dulu motornya di salah satu toko biru yang ada di sana untuk membeli minum. "Panas ya, Nyonya? Maaf ya saya bawanya motor. Soalnya biar simpel aja nyari Nyonyanya kemarin. Masuk dulu yuk! Ngadem," ajak Bejo tetapi Mila menggelengkan kepala dan anteng saj
Mila membuang muka mendengar pertanyaan yang mungkin wanita itu paham maksudnya. Padahal Bejo sudah biasa saja tetapi Mila pasti akan tergelitik mengingat yang semalam. Apalagi semalam Mila berulang kali sampai. Rasanya pasti sangat-sangat melegakan hingga tidurnya pun sangat nyenyak. "Nyonya," panggil Bejo dan Mila berdecak kemudian beranjak dari duduk tanpa menoleh padanya. Dia pun terkekeh melihat sikap Mila yang malu-malu gengsi. Dia segera mengambil kunci motor untuk meninggalkan tempat itu. "Setelah sarapan kita pulang ya, Nyonya." "Antar aku ke toko roti saja, Jo." "Oke." Bejo mengikuti Mila yang melangkah duluan. Wanita itu terdiam kala melihat pemandangan yang indah di samping Villa. "Kenapa, Nyonya?" "Jangan buru-buru, Jo! Indah banget. Apa nggak ada pedagang makanan dekat sini? Saya masih ingin menikmati suasana di sini." Bejo melihat sekelilingnya tetapi memang tidak ada pedagang makanan di sana. Dia pun turun mendekati jalanan yang terlihat s
"Sudah siap pulang, Nyonya? Sontak Mila menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Wanita itu baru saja terjaga saat matahari menyelinap dari lubang-lubang fentilasi. Bejo membuka pintu kamar. Dia menyambut dengan senyuman hangat dan secangkir susu. Mila terlihat terkejut setelah tidur dengan sangat nyenyak. Sampai Bejo sudah rapi dengan pakaian gantinya yang tadi sempat dia beli di pasar pun Mila tidak tau. Bejo terkekeh melihat wajah polos Mila. Rambut wanita itu berantakan. Mata Mila pun masih terlihat mengantuk. Wanita itu beranjak dari tidurnya seraya menarik selimut agar tetap menutupi tubuh yang masih polos. Bejo melangkah mendekati dan meletakkan minuman hangat di meja. Bejo juga membawa kantong plastik yang berisikan pakaian ganti untuk Mila. "Minum dulu susunya, Nyonya! Mumpung masih panas nich. Bentar lagi pasti dingin." "Itu apa, Jo?" tanya Mila yang malah salfok dengan isi dari kantong plastik di tangannya. " Oh ini, ini untuk Nyonya. Nyonya nggak baw
Sampai sekarang terkadang Bejo tak menyangka jika bisa mendapatkan kenikmatan dunia dari wanita yang memiliki status sah dengan pria lain dengan kegadisannya. Dara keperawanan bahkan dia yang memecahkannya sampai benar-benar mampu menguasai tubuh wanita itu. Penyakit yang menjadi alasan bisa dilalui dengan baik. Dia bisa membuat Mila merasakan surga dunia yang selama ini belum pernah wanita itu rasakan. Bejo pun bisa membuat Mila merasakan kenyamanan kala bercinta yang belum didapatkan dari suaminya. Bejo memperlakukan dengan sangat lembut. Keluar masuk tanpa menyakiti dan itu salah satu yang Mila butuhkan selama ini. Jeritan tak semuanya tentang kesakitan tetapi jeritan kali ini karena Mila dibuat klimaks berulang kali. Tubuh wanita itu menggelinjang manja setelah Bejo masuk dan memompa dengan frekuensi yang rendah. Masih awal, mau masuk saja butuh kesabaran. Bejo harus benar-benar membuat Mila rileks dan kembali membuai hingga merelakan punggungnya berdarah-darah karena ca
"Bagaimana? Belum kamu temukan juga keberadaan istri saya?" "Belum Tuan, tapi tadi bukankan Bejo sudah ikut mencari?" "Sudah, tapi dia juga belum mendapatkan hasil." Saka tidak bisa tidur saat tak kunjung pulang. Ditambah lagi orang-orang yang diminta untuk mencari keberadaan Mila, semua tidak mendapatkan hasil. Jejak Mila menghilang. Titik terakhir memang ada di Bogor sesuai dengan apa yang Bejo katakan tadi tetapi setelah orang-orang dari Saka menuju ke tempat yang Bejo sampaikan pun tidak ada yang berhasil menemukan Mila di sana. "Sekarang Bejo dimana, Tuan?" "Saya tidak tau Bejo dimana. Coba saja kamu lacak dimana keberadaan dia sekarang! Bejo juga tidak becus kerjanya!" umpat Saka sewot sekali. Bukan hanya karena tidak berhasil mendapatkan Mila tetapi juga payah di ranjang karena belum bisa menakhlukkan sang istri. Hal itu yang semakin membuat Saka kesal pada Bejo. Asisten dari Saka pun segera melacak. Beberapa menit tak ada yang bersuara. Saka sendiri kini
"Tunggu, Nyonya! Hape saya berdering," kata Bejo menghentikan pergerakan Mila yang sudah singgah dan terpaksa harus turun lagi. Bejo mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa yang menghubungi. Terlihat nama Saka dengan foto profil wajah pria itu. Bejo menunjukkan layar ponselnya pada Mila agar wanita itu tau siapa yang menghubunginya. "Tuan yang telpon, Nyonya," bisik Bejo. "Angkat dan aktifkan loud speakernya, Jo! Aku ingin mendengarnya." "Oke." Bejo mematuhi apa yang Mila perintahkan. Dia segera menerima panggilan itu dan melirik Mila yang terlihat serius memperhatikan. Diam-diam Bejo gemas melihat wajah penuh keingintahuan yang terlihat sangat lucu bagi Bejo. Ingin rasanya Bejo mencubit pipi wanita itu tetapi sebisa mungkin dia menahan diri. "Hallo Tuan." "Dimana kamu, Bejo?" "Saya masih mencari Nyonya, Tuan." "Kamu nggak becus, Jo! Sudah lewat tengah malam tapi kamu belum juga menemukan istri saya. Cari yang bener, Jo!" "Baik, Tuan. Ini juga sa
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







