Home / All / TURUN RANJANG / TURUN RANJANG 6

Share

TURUN RANJANG 6

Author: Lysta
last update publish date: 2026-04-11 23:11:56

Kenneth melangkah cepat ke ruang tamu dia melihat punggung Valery yang lenyap dari balik pintu utama mansion. Valery berjalan setengah berlari, dia bahkan mengabaikan panggilan Kenneth.

Kenneth harus menjelaskan kesalahpahamannya mengenai yang dilihatnya tadi.

James mengikutinya dari belakang. Dia tak hanya berperan sebagai sekretarisnya tapi juga timnya yang mengkonfirmasi hubungan mereka hanya sebatas atasan dan sekretarisnya.

Prasangka buruk yang selalu melekat mengenai kedekatan mereka baik saat James bertugas di perusahaan Kenneth di Amerika. Kenneth yang memiliki tempramental dingin dan tegas dalam memimpin perusahaannya. Jarang, tepatnya tidak pernah dirumorkan memiliki hubungan dengan lawan jenisnya. Ditambah lagi tidak mempekerjakan sekretaris wanita. Bahkan hanya James saja yang menjadi sekretarisnya.

Bukan tanpa alasan James bertahan menjadi sekretarisnya. Jika mengikuti egonya James ingin sekali mengundurkan diri. James sering dibuat dongkol dan tertekan. Saat mood Kenneth tidak baik.. Tapi, James yang berasal dari Indonesia sebelum menjadi sekretarisnya harus berterima kasih atas bantuan Kenneth.

Saat James yang masih berusia sangat mudah dan belum berpengalaman dalam dunia bisnis. Bisnis ayahnya mengalami kebangkrutan. James mengadu nasib di Amerika untuk membiayai pengobatan ibunya, keluarga yang tersisa. Tapi, lagi-lagi James terbelit utang dan hidup kekurangan. Hingga bertemu dengan Kenneth dalam kondisi mengenaskan akibat dipukuli para penagih utang.

Kenneth tak hanya membantunya mahir melakukan tugasnya sebagai sekretaris. Tapi juga memberi biaya pengobatan ibunya dengan gratis hingga sembuh..

Kedekatan mereka sering disalah artikan. Tapi, James akan selalu berdiri di samping Kenneth meskipun lelaki sedingin kutub es yang menolak bersentuhan dengan orang lain berada di posisi terendah sekalipun.

Kita kembali ke Kenneth yang hendak menuju daun pintu. Langkahnya terhenti saat melihat seseorang berdiri angkuh di depannya. Senyum sinis dan tatapan penuh kebencian mengarah padanya.

“Siapa yang mengizinkan mu masuk ke mansion putraku?” sebuah tanya bernada kurang bersahabat terlontar dari mulut Diana.

Wanita berusia hampir 50 tahun itu melangkah angkuh menghadap Kenneth yang terkesan waspada. Bukan takut oleh paras wajah Diana. Tapi, takut Diana menyentuhnya.

“Maaf saya permisi dulu!” pamit James sambil melangkah melintasi Kenneth.

“Ah, apa kau kacung bodohnya?” tanya Diana sambi mengarahkan tubuhnya ke James yang langsung menghentikan langkahnya. Diana tersenyum dengan kesan merendahkan.

Jangan tanya bagaimana raut wajah James! lelaki tampan dengan wajah imut itu seketika berubah masam.

“Maaf, apa yang barusan Nyonya bilang?” jawab James dengan bibir gemas, terlihat jelas James menahan emosinya. Kedua rahangnya pun mengeras.

Kata “kacung bodoh” tentu saja dia pahami artinya. Meskipun beberapa tahun tinggal di Amerika. Tapi, dia terlahir dan dibesarkan di Indonesia. Bahasa persatuan tak pernah tertinggal saat berbicara dengan Kenneth yang berasal dari negara sama. Bahkan banyak tenaga kerja yang dipekerjakan di perusahaan Kenneth berwarga Indonesia.

Kenneth bukan pilih kasih menerima mereka karena kinerja mereka pun sama baiknya dengan warga setempat.

“Sombong sekali, mentang-mentang menetap lama di Amerika sampai lupa bahasa negaramu,” jawabnya.

Sikap dan bicara Diana akan sarkas pada siapapun yang dekat dengan Kenneth. Baginya, Kenneth musuh terbesar keduanya. Setelah Rose wanita yang melahirkannya, ibu Kenneth.

“Anda…” jawab James hendak mendekati Diana dengan kedua rahang mengeras. Dia sudah cukup sabar dengan ucapan sarkas Diana. James pun sudah sangat gemas karena ulah Diana yang selalu mengguncang Kenneth. Tapi, langkahnya tertahan karena melihat Kenneth menggelengkan kepalanya.

James pun menundukkan kepalanya ke Kenneth kemudian meninggalkan mereka dengan kedua rahang mengeras.

“Kau memiliki peliharaan yang menggonggong saat tuannya…” ucapnya lagi. Reaksi James malah membuatnya senang. Bukannya merasa bersalah, seperti itulah Diana mengganggu Kenneth dan orang-orang di sekelilingnya.

“Jika menyadari diri sebagai pengganggu. Sebaiknya berhenti membuang-buang kotoran busuk dari mulut Anda nyonya!” sindir Kenneth.

“K-kau…!” sontak Diana berteriak dengan mata melotot, berbeda dengan Kenneth yang jauh lebih tenang menghadapinya. “Keluar dari mansion putraku! keluar sendiri. Aku tidak sudi mengusir ku dengan menyentuh tubuhmu yang jauh lebih kotor lagi dengan ucapanku,,” jawabnya lagi masih dengan ucapan yang tidak membuat enak didengar.

Kenneth menoleh ke arah Catherine, kepala pelayannya.

“Maaf, Nyonya Tuan Samuel menitipkan ini,” ucapnya sambil menyodorkan sepucuk surat dengan amplop berwarna putih.

Diana langsung mengambilnya kemudian membukanya.

Mami, jika surat ini sampai di tanganmu. Putramu ini pasti sedang menatapmu di langit sambil tersenyum.

Maafkan aku yang tidak mewujudkan keinginanmu menimang cucu. Tapi, mami jangan berkecil hati masih ada putra lain yang bisa mewujudkannya.

Anggaplah Kenneth sebagai putramu, beri dia kesempatan berbakti padamu. Aku tahu itu berat untukmu. Tapi, aku menyayanginya. Aku berharap mami menyayanginya seperti menyayangiku.

Aku yakin saat mami membaca surat ku. Valery dan Kenneth sudah menikah. Aku memberikan hak sepenuhnya mansion kami di tangan Kenneth. Hanya Kenneth yang bisa membahagiakannya. Aku berharap mami merestui mereka.

Tangan Diana yang memegang kertas putih berisi tulisan tangan putra kesayangannya bergetar. Air matanya tak terelakkan. Keduanya bola matanya memerah, Diana mengangkat wajahnya menatap penuh dendam ke arah Kenneth.

“Apa yang sudah kau lakukan hingga putraku terpengaruh olehmu?” ucapnya dengan kedua rahang mengeras. “Jangan pernah bermimpi kau bisa mempengaruhiku seperti putraku. Meskipun surat ditanganku tulisannya,” ucapnya lagi sambil merobek-robek kertas itu. Kemudian melemparkannya ke wajah Kenneth.

Potongan kertas itu berterbangan melintasi wajah Kenneth. Catherine terlihat panik. Tapi, tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memilih diam.

“Apa kau sekarang senang hah! akhirnya kau bisa menguasai satu persatu milik putraku dari Valery dan sekarang mansion-nya. Jangan-jangan kau pun sedang menyusun rencana mengambil perusahaannya. Tapi, jangan pernah bermimpi aku akan membiarkanmu melakukannya,,” sindirnya. Tapi, Kenneth tidak menjawabnya.

“Keluar!” usirnya dengan nada berteriak sambil menunjuk ke pintu.

“Seperti yang tertulis di surat itu. Kau tidak bisa mengusir ku. Aku pemilik mansion ini, Nyonya Diana,” jawab Kenneth penuh penekanan.

“Bagus, akhirnya kau memperlihatkan tujuanmu,” balas Diana dengan kedua tangan mengepal.

“Maksud anda?”

“Jangan pura-pura tidak mengerti,” sindirnya sambil tersenyum sinis. “Kau ingin menguasai semua yang dimiliki putraku, bukan? mungkin saja kau orang dibalik kematian putraku. Bisa saja kau membunuhnya.”

Kenneth mengepalkan kedua tangannya. Tuduhan itu tidak dia lakukan. Kenneth bahkan tidak mengetahui Samuel sakit. Jika saja Kenneth tahu Samuel sedang sakit, mungkin dia akan membantunya berobat sekalipun keliling dunia.

Kenneth sangat menyayangi Samuel. Tanpa sepengetahuan Diana. Samuel sering menemuinya bersama ayahnya semenjak dia tinggal di Amerika.

Samuel bahkan mengajarkannya cara berbisnis. Samuel juga investor pertama yang mempercayai kemampuannya bisa membangun perusahaannya di awal dia terjun. Hingga Kenneth bisa mengembalikan modal yang diberikan kakaknya meskipun Samuel menolaknya. Tapi, Kenneth tidak mau berhutang.

Perusahaan yang dirintisnya beberapa kali mengalami guncangan pelakunya Diana. Hingga bangkrut. Sekali lagi tujuan utama Kenneth menerima tawaran Samuel, hanya ingin menghentikan Diana mengusiknya. Dia tidak pernah tertarik mengambil alih semua aset yang dimiliki Samuel. Tapi, cara satu-satunya membuat Diana berhenti mengganggunya dengan menjadi pengganti Samuel sebagai pewaris Liem, dia bisa menekan semua keuangan yang masuk ke dompet Diana.

“Apa kau tidak jera dengan hancurnya perusahaanmu?”

“Akhirnya, Nyonya mengaku sebagai pelaku yang membuat perusahaan ku bangkrut,” jawab Kenneth dengan kedua rahang mengeras.

Diana tertawa lepas, “tentu saja aku tidak akan segan mengatakannya. Perusahaan itu milik Liem. Aku tahu Samuel yang mendanai perusahaan mu.”

“Aku mengakui Samuel menjadi investor pertama perusahaan ku. Aku sudah mengembalikan semuanya beserta keuntungan yang telah kami sepakati sama dengan investor lainnya,” terangnya.

“Omong kosong! memangnya kau sebaik putraku dalam berbisnis, buktinya kamu tidak mampu mengendalikan perusahaanmu hingga berujung bangkrut. Sok-sokan bisa menghasilkan keuntungan dari perusahaanmu,” bantahnya.

“Aku mengakui tidak sebaik Samuel karena dia yang mengajariku berbisnis. Ketahuilah Nyonya, meskipun Nyonya tidak menyukai saya tapi hubungan kami sebagai saudara…”

“Berhenti mengaku-ngaku sebagai saudara putraku! di keluarga Liem hanya Samuel Liem satu-satunya putra kami,” teriak Diana memotong ucapan Kenneth.

Kenneth tidak menjawabnya. Diana mendekati Kenneth yang langsung mundur. Kenneth mampu menahan diri dengan seribu ucapan kasar dan menyakitkan dari Diana. Tapi, tidak dengan sentuhannya.

Diana tersenyum, jelas dia mengetahui kelemahan Kenneth. Dengan cepat Diana menggema tangan Kenneth yang membulatkan matanya mengarah ke Diana yang tersenyum penuh kemenangan. Jelas, Diana senang dengan reaksinya.

Ketakutan, kecemasan dan rasa sakitnya terlihat jelas di mata Kenneth. Rasa yang ingin Diana lihat sebagai pembalasan dendamnya menjadi istri yang telah dikhianati suaminya.

Dia menarik tubuh Kenneth yang oleng. Keningnya pun mulai dipenuhi keringat, nafasnya tercekat.

Hati Diana bersorak senang, seharusnya dari tadi melakukannya ketimbang banyak omong. Diana mendekatkan mulutnya ke telinga Kenneth.

“Apa kau lupa dengan sentuhan ketiga pria itu? kau memiliki tubuh yang kotor sama dengan ibumu,” bisiknya sambil menyentuh tengan Kenneth dari pundak hingga pergelangan tangannya.

deg!

Tak hanya hembusan nafas yang masuk ke lorong telinganya menimbulkan kecemasan ke tubuhnya. Tapi, sentuhannya dan kedekatannya yang terlalu intens.

Kenneth merasakan kepalanya pecah, bayangan ketiga pria itu menggerayangi tubuhnya melintas di benaknya. Pikirannya mulai kacau. Kenneth sosok pria yang kuat tumbang hanya karena sentuhan dan bisikan pengingat yang membuatnya sakit.

Kenneth menarik tangannya tanpa mendorong Diana. Reaksinya yang reflek meskipun akalnya sedikit hilang tidak membuatnya berniat menyakiti Diana dengan mendorongnya sekuat tenaga, meskipun Kenneth bisa melakukannya.

Kenneth masih ingat permintaan yang berulang-ulang kali terucap dari mulut sang kakak. Dia meminta Kenneth tidak menyakitinya, sebagai balasannya Samuel akan melakukan apapun yang diinginkan Kenneth.

Kenneth merasakan tubuhnya oleng, Catherine berniat membantunya, tapi Kenneth menolaknya. Tangannya dengan cepat bersandar di kursi.

“hah hah hah!” Kenneth merasakan kesulitan bernafas. Pandangannya memudar, kepalanya terasa pusing.

“Jika kau menyayangi diri sendiri. Segera kembali ke Amerika!” ucapnya sambil memutar ke arah pintu.

“Ya Tuhan…” ucap sekretaris James yang berlari ke arah pintu dengan tangan menggenggam botol berisikan butiran-butiran obat.

James yang panik melirik Valery yang menutup mulutnya dengan tangan kanannya, punggungnya merapat di sebelah daun pintu yang tertutup.

Valery terlihat syok, dia tidak percaya dengan semua yang didengarnya beberapa menit yang lalu.

Valery mendengarkan percakapan Diana bersama Kenneth. Valery tidak menyangka Diana yang dikenalnya lembut dan baik sejahat itu.

James menghentikan langkahnya, “Nyonya …”

Valery tidak menjawabnya, kedua matanya berkaca-kaca dengan tangan kanan masih menutup mulutnya.

Setelah meninggalkan Kenneth bersama Diana. James langsung ke mobilnya mengambil obat penenang yang biasa dikonsumsi Kenneth dari dokter psikolog sebagai antisipasi jika Kenneth kambuh. Mengingat sedang berhadapan dengan Diana.

James menatap punggung Valery yang meninggalkannya begitu saja. James pun berlari ke arah Kenneth yang terlihat berusaha menyeimbangkan tubuhnya tidak jatuh ke lantai dengan wajah memucat.

Catherine terlihat kebingungan tanpa berani menyentuhnya.

James dan Diana saling berpapasan, James melihat dengan jelas tersungging senyuman dari bibirnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 7

    Valery berlari ke arah taman area samping mansion. Dia berhenti tepat di depan rumput bunga mawar yang baru kuncup. Valery masih teringat saat pertama kalinya Samuel membawanya ke mansion, diulang tahunnya 3 bulan yang lalu. Kejutan ulang tahunnya yang ke-23 tahun sekaligus lamaran. Kedua kaki Valery mendarat di aspal jalan depan teras mansion dengan kedua mata tertutup kain. Samuel menutupnya dengan kain hitam itu sebelum mobil yang mereka tumpangi melaju menuju mension dari rumahnya. Jangan tanya bagaimana debaran jantung yang Valery rasakan, berdetak sangat kencang. Setiap ulang tahun Samuel selalu memberinya kejutan yang luar biasa. Tapi, kali ini lebih mengejutkan. "Apa aku boleh membukanya?" tanya Valery dengan jantung berdetak kencang. Tangannya memegang tali yang terikat di belakang kepalanya. Tangan Samuel mendarat di kedua bahunya. Kemudian berbisik, "belum saatnya, baby." Bibir Valery terbuka, udara yang berhembus ke lorong telinganya terasa panas. Sungguh, aro

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 6

    Kenneth melangkah cepat ke ruang tamu dia melihat punggung Valery yang lenyap dari balik pintu utama mansion. Valery berjalan setengah berlari, dia bahkan mengabaikan panggilan Kenneth. Kenneth harus menjelaskan kesalahpahamannya mengenai yang dilihatnya tadi. James mengikutinya dari belakang. Dia tak hanya berperan sebagai sekretarisnya tapi juga timnya yang mengkonfirmasi hubungan mereka hanya sebatas atasan dan sekretarisnya. Prasangka buruk yang selalu melekat mengenai kedekatan mereka baik saat James bertugas di perusahaan Kenneth di Amerika. Kenneth yang memiliki tempramental dingin dan tegas dalam memimpin perusahaannya. Jarang, tepatnya tidak pernah dirumorkan memiliki hubungan dengan lawan jenisnya. Ditambah lagi tidak mempekerjakan sekretaris wanita. Bahkan hanya James saja yang menjadi sekretarisnya. Bukan tanpa alasan James bertahan menjadi sekretarisnya. Jika mengikuti egonya James ingin sekali mengundurkan diri. James sering dibuat dongkol dan tertekan. Saat mo

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 5

    Untuk sepersekian detik, mereka saling beradu pandang. Tatapan itu seolah menusuk sampai ke jantungnya. "deg deg deg!" Sekali lagi, Kenneth merasakan jantungnya berdetak kencang bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Netra cantik itu tak hanya menusuk tapi membuat tubuhnya bergetar. Hebatnya, meskipun jantungnya tidak baik-baik saja. Sesuatu luar biasa yang sulit dimengerti Kenneth. Perasaan aneh mengusik hatinya, ketertarikan yang tiba-tiba saja mengusiknya. Perasaan yang tidak seharusnya, mengingat Valery gadis yang dicintai saudaranya dan poisisnya saat ini hanyalah suami, pengganti. Kenneth tahu, Valery sangat mencintai Samuel. Sepanjang berada di rumah duka, dia memperhatikan sikap Valery yang terlihat sangat kehilangan. Valery bahkan melupakannya hingga Samuel dikebumikan. Bahkan tidak menghampirinya saat Diana mengusirnya. Jangankan membelanya, menoleh pun tidak. "Apa kau sudah selesai?" sebuah tanya terlontar manis dari mulutnya membangunkan lamuannya. Tanpa menguba

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 4

    Kenneth berjalan mondar-mandir di depan ranjang, sesekali menatap pintu ruang walk in closed yang di masuki Valery. Kenneth sedikit terusik dengan prasangka Valery yang menganggapnya pria penyuka sesama jenis. Sungguh, sebagai pria sejati dia tidak menerimanya. Tapi, bagaimana caranya meralat ucapannya tadi "tenang saja aku tidak suka disentuh wanita." Tidak salah juga Valery salah faham, siapapun akan menganggapnya seperti yang dipikirkan Valery. "Hais! kenapa lagi aku malah berbicara seperti itu pada Valery?" ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Kenneth tidak memiliki kepercayaan diri untuk terbuka mengenai trauma yang dideritanya pada orang asing. Baginya Syndrome Haphephobia yang dianggapnya penyakit terberat tidak mudah dibagikan pada orang lain. "Hais, kenapa lagi aku malah mengatakan itu?" gerutunya. Tatapan tajamnya tertuju ke arah Valery yang keluar dari ruang walk in closed. Matanya tidak mampu berkedip, Valery mengenakan baju tidur tipis terbuat da

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 3

    Valery duduk membeku di kursi belakang, dia tidak pulang bersama kedua orang tuanya. Supir yang membawa Kenneth menjemputnya. Kenneth meminta Valery pulang ke mansion yang seharusnya Samuel dan Valery tempati setelah menikah. Valery sedikit dongkol dengan keputusan Kenneth. Bisa-bisanya Kenneth masuk tanpa ijin ke mansion mereka. "Sungguh tidak tahu malu!" gerutunya sambil mendengus kesal. Beribu kalimat makian sudah berbaris di kepalanya yang akan meledak saat berhadapan dengan Kenneth. "Pantas saja Mami Diana memakinya agar tidak bermimpi bisa mengambil semua yang dimiliki Samuel. Ternyata kau memang berniat melakukannya, bermula dengan menikahi ku. Jangan pernah bermimpi kau akan mendapatkan hatiku meskipun menikahi ku! Kenneth, dasar pria menyebalkan!" gerutunya berakhir umpat. Mobil pun sampai di mansion, Valery langsung turun kemudian berjalan cepat memasuki mansion. Catherine Wilson, kepala pelayannya langsung menghampiri Valery. "Di mana dia?" tanya Valery sambil

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 2

    "Ikrar pernikahan terlontar dari mulut kami. Sang penghulu mengesahkan bahwa kami sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Tepukan tangan terdengar bergemuruh dari para tamu undangan. Tapi, bukannya senyum bahagia yang terlukis di bibirku. Melainkan isak tangis yang tertahan dengan rasa sesak dalam rongga dadaku. Butiran-butiran air mata tak berhenti melintasi kedua pipiku. Menangisi takdir yang Tuhan berikan, menikah dengan pria lain. Pria asing yang saat ini berdiri angkuh di sampingku. Seharusnya bukan dia yang menjadi suamiku. Sungguh kepalaku terasa meledak saat memikirkannya." Setelah akad pernikahan selesai, Valery tidak membuka veil yang menutupi seluruh wajahnya. Meskipun para tamu undangan mengucapkan selamat dan penasaran ingin melihat paras cantik pengantin wanitanya. Valery tidak mengetahui kehebohan para tamu saat pengantin pria muncul. Mereka mengetahui Samuel yang akan menjadi suaminya. Tapi, malah pria lain. Meskipun begitu tidak ada seorang pun yang mempertanyak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status