LOGINKenneth memasuki ruang kerjanya dengan raut wajahnya terlihat kesal, napasnya sedikit memburu. "Dia ngomong apaan? sembarngan saja bilang begitu," gerutunya dengan tangan kanan melonggarkan dasinya yang seolah mencekik lehernya. Tentu saja Kenneth sedang memaki dokter Richard. Bukan perkara jawaban yang menurutnya ambigu, Kenneth pun menyadari adanya sesuatu yang berbeda di hatinya semenjak bertemu dengan Valery. Kenneth pun duduk kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi dan membiarkan kepalanya mendarat di atas kursi hingga wajahnya menengadah ke atas pandangannya mengarah ke langit-langit. Kenneth memutar kursinya. Kemudian memejamkan kedua matanya. Dia memikirkannya, sesuatu yang akhir-akhir ini mengubahnya terutama emosinya. Rasa kesal yang datang tiba-tiba saat melihat Valery menangisi kakaknya dan rasa pedulinya yang berlebihan pada Valery. Padahal belum pernah melakukannya pada gadis manapun. Satu hal yang tidak dia mengerti, bersentuhan dengan Valery tidak menim
Kenneth melangkahkan kakinya memasuki kamar. Sepulang dari TPU, Kenneth bersama sekretaris James dan pengacara Yerik di ruang kerja. Di perjalanan pulang pun, Kenneth tidak berbicara sepatah katapun. Meskipun beberapa kali melirik Valery yang terlihat kedinginan. Mereka basah kuyup, sialnya di mobil tidak ada baju ganti. Payung yang seharusnya menghindarkannya dari hujan tidak berfungsi malah ditinggalkan begitu saja di area pemakamanl. Kita kembali ke Kenneth yang berdiri menatap Valery. Seperti biasa, Valery tidur nyenyak. Padahal beberapa jam lalu terlihat menangis dan sedih di pemakaman Samuel. Moodnya cepat berubah. “Gadis aneh,” gumamnya. Kenneth pun memutar hendak ke sofa. Dia masih belum nyaman tidur bersama Valery. Kenneth memilih tidur di sofa, di manapun Kenneth tidur asalkan satu kamar dengan Valery mencegah kecurigaan mata-mata Samuel melapor ke pengacara Yerik mengenai hubungan mereka. “Jangan tinggalkan aku, Samuel!” Valery mengigau sambil menangis. “Aku tida
“deg deg deg!” Kenneth merasakan jantungnya berdetak kencang, reaksi dari pelukan Valery. Tak hanya memeluknya, Valery tanpa ragu membenamkan wajahnya meminta perlindungan dari rasa takut suara petir yang bergemuruh keras. Kenneth diam membeku keningnya mengerut, Kenneth merasa aneh. Biasanya, saat orang lain menyentuhnya. Kepalanya langsung pusing, pandangannya menggelap, keringat dingin bercucuran dan perutnya mual. Akal sehatnya pun menghilang, dalam benaknya terlintas ketiga pria sedang menyentuhnya. Kenneth seolah sedang mengalami kejadian buruk itu. Reaksi ekstrim itu tidak Kenneth rasakan. Padahal Valery memeluknya dengan erat membuat getaran hebat yang Kenneth pahmi. Air liurnya Tiba-tiba memproduksi lebih banyak membuat kerongkongannya bergerak menelannya. Kenneth tidak menyalahkan Valery ketakutan karena curah hujan semakin deras disertai kilatan petir bersama gemuruhnya yang keras. Sikap yang wajar. "Kenapa aku baik-baik saja padahal Valery memelukku?" ucap batin
“Perkenalkan saya Agustinus pengacara yang diutus Nyonya Diana mengurus proses perceraian Nona Valery dengan Tuan Kenneth,” ucapnya sambil menaruh berkas di atas meja depan Valery. Mereka duduk saling berhadapan. Sebelumnya, setelah Valery keluar dari kamarnya. Pengacara itu sudah menunggunya di ruang tamu. “...meskipun pernikahanku dengan Kenneth atas permintaan Samuel. Tanpa sepengetahuan Mami Diana. Tapi, melakukan perceraian dalam waktu yang dekat rasanya kurang tepat. Apalagi, kami masih dalam kondisi berduka,” balas Valery. “Selaku pengacara saya memberi kewenangan pada Nona mengenai kesiapan proses perceraian. Tapi, Nyonya Diana menekankan batas waktu pada Nona paling lama 6 bulan ke depan. Saya datang kesini bertujuan melengkapi dokumen-dokumen penting untuk prosesnya,” jawabnya. Valery pun berdiri karena arah pembicaranya terkesan menekan. Apalagi, pengacara Agustinus menyampaikan batas waktu yang diberikan Diana. Valery bukan boneka yang bisa dimainkan dan diatur i
“Aku bisa jelas…” ucap Valery dengan bibir nyengir sambil mengangkat kedua tangannya. Valery tidak menyadari dadanya semakin menekan membuat Kenneth merasakan klenger aneh. Dua benda kenyal yang dimiliki Valery mengusiknya. Kenneth secepat kilat menggulingkan tubuh Valery ke sampingnya dengan kasar. Valery menjerit kecil. Meski sudah menebak reaksinya tetap saja dia kaget. “brugh!” Suara punggung Valery jatuh ke permukaan ranjang sangat keras. “Euuh…” Valery mengaduh. Kenneth dengan cepat turun dari ranjang, tubuhnya sedikit oleng. Kenneth seharusnya tidur karena dosis obat penenang mengharuskannya tidur. Tapi terbangun oleh mimpi buruk dan reaksi alami adanya Valery di dekatnya. “Lain kali, jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan!” Kenneth menggerutu sambil melangkah seperti orang mabuk. “Mencuri kesempatan dalam kesempitan,” gumam Valery mengulangi ucapan Kenneth. Matanya langsung membulat, setelah memahami makna ucapannya. Valery pun menengadahkan wajahnya me
James dengan cepat menghampiri Kenneth. James melihat tangannya menjadikan kursi sebagai sandarannya. Wajahnya memucat, sorot matanya terlihat prustasi, Kenneth bahkan terlihat kesulitan bernafas. Catherine sudah diberitahu Samuel, adiknya memiliki sindrom yang tidak memperbolehkannya menyentuhnya. Catherine terlihat kebingungan.James yang sudah terbiasa menghadapi Kenneth saat sindrom-nya kambuh. Dengan cepat membuka penutup botol obat yang digenggamnya.“Ini obatnya, Pak!” ucap James sambil menyodorkan botol obat yang sudah terbuka tutupnya.Kenneth membuka telapak tangannya, James dengan cepat mengeluarkan beberapa pil ke tangannya. Catherine dengan cepat menaruh botol mineral di kursi. Catherine sudah mempersiapkan semua kebutuhan Kenneth tanpa ada sentuhan saat situasinya genting. Kenneth dengan tangan bergetar menenggak pil tersebut. Kemudian meneguk air dalam botol mineral. Baik James dan Catherine hanya menatapnya penuh iba. Kondisi Kenneth terlihat mengkhawatirkan.“Sebaik
Kenneth berjalan mondar-mandir di depan ranjang, sesekali menatap pintu ruang walk in closed yang di masuki Valery. Kenneth sedikit terusik dengan prasangka Valery yang menganggapnya pria penyuka sesama jenis. Sungguh, sebagai pria sejati dia tidak menerimanya. Tapi, bagaimana caranya meralat ucapan
Valery duduk membeku di kursi belakang, dia tidak pulang bersama kedua orang tuanya. Supir yang membawa Kenneth menjemputnya. Kenneth meminta Valery pulang ke mansion yang seharusnya Samuel dan Valery tempati setelah menikah. Valery sedikit dongkol dengan keputusan Kenneth. Bisa-bisanya Kenneth m
Kenneth melangkah cepat ke ruang tamu dia melihat punggung Valery yang lenyap dari balik pintu utama mansion. Valery berjalan setengah berlari, dia bahkan mengabaikan panggilan Kenneth. Kenneth harus menjelaskan kesalahpahamannya mengenai yang dilihatnya tadi. James mengikutinya dari belakang.
Untuk sepersekian detik, mereka saling beradu pandang. Tatapan itu seolah menusuk sampai ke jantungnya. "deg deg deg!" Sekali lagi, Kenneth merasakan jantungnya berdetak kencang bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Netra cantik itu tak hanya menusuk tapi membuat tubuhnya bergetar. Hebatnya, m