ANMELDEN“Sayang, sepertinya aku tidak benar-benar memahami bagaimana tentangmu,” ucap Greyson. Mendengar itu, Suran pun tersenyum pahit. Sebenarnya, apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya pernah ia putuskan untuk tetap menjadi rahasia kelam yang tidak perlu dia ceritakan pada siapapun. Namun, melihat ketulusan Greyson dari awal hingga akhir, ia merasa menceritakan tentang hal itu seolah menjadi sesuatu yang wajib. Suran menatap Greyson yang menunduk, pria itu benar-benar terlihat bersalah padahal jelas tidak ada hubungannya sama sekali. Amera menyadarkan adanya beberapa hal yang perlu dibicarakan anak dan menantunya sehingga ia pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. “Greyson, kalau aku bilang aku pernah mati apa kau akan percaya padaku?” tanya Suran yang sebenarnya juga merasa ragu. Pertanyaan itu membuat Greyson terdiam untuk beberapa saat, tapi setelahnya pria itupun menganggukkan kepalanya dengan tatapan yang nampak yakin untuk jawabannya. “Aku yakin, aku percaya padamu
Grep! Meskipun tahu panah itu sudah terlalu dekat, Greyson tetap mencoba untuk menyelematkan Suran dengan menarik tangannya. Jleb! “Suran!!!” teriak Amera yang benar-benar terkejut, kejadian itu terlalu mendadak hingga hal seperti ini sampai lolos dari pengawasan. “Tidak!!” Greyson melotot melihat anak panah itu menancap di lengan Suran. “Temukan badjingan itu, bawa ke sini sekarang!” ucapnya pada pengawal yang jelas ada di sekitar mereka. Suran berpura-pura lemah, bagaimanapun dia adalah gadis bangsawan yang harusnya tidak sekuat yang sebenarnya. Greyson pun makin panik karena akting Suran benar-benar terlihat sangat nyata. Pangeran ke-2 sempat melihat ke sekeliling setelah itu. Dia ingin melangkahkan kakinya, memastikan kalau tidak ada yang meninggalkan bukti bahwa itu adalah perbuatannya. Namun, ucapan Greyson membuat langkah kakinya membeku. “Tidak ada yang boleh meninggalkan tempat ini! Kalau ada yang berani, aku bersumpah akan kulakukan segalanya untuk me
Raja mengendurkan pelukannya, tatapannya kini tertuju pada Amera lalu berkata dengan ragu. “Amera... bagaimana dengan wajah Amera?” Ratu pun ikut mengarahkan tatapannya pada Amera, berharap perhatian dari raja tidak akan berkurang sedikitpun darinya bagaimanapun wajah Amera sekarang. Amera tersenyum, Raja dapat melihat itu dari sepasang matanya. “Wajahku hanya milikku, aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawabnya. Mendengar itu, Raja nampak kecewa, tapi dia memutuskan untuk tidak mengatakan apapun. Ratu merasa tersinggung karena sikap Amera yang sangat arogan, apa lagi Amera sedang berbicara dengan Raja, orang yang paling mulia dan penuh penghormatan di seluruh negara. “Selir Amera! Apa kau lupa dengan siapa kaya bicara?” bentak Ratu. Amera langsung menatap Ratu dengan sinis, tidak ada rasa takut sedikitpun. “Tolong ingat baik-baik Yang Mulia Ratu, aku bukan selir Raja lagi, dan itu sudah berlangsung lama. Kenapa anda selalu menganggap ku seperti Amera yang dulu? Aku
Pada saat itu juga, suasana aula berubah.Semua orang terdiam.Tidak ada yang menyangka bahwa wajah yang selama ini tersembunyi di balik topeng itu akan terlihat seperti demikian.Kulit Greyson bersih dan mulus, tanpa bekas luka menjijikan yang selama ini dibayangkan orang-orang. Wajahnya memiliki garis yang tegas, tetapi tetap terlihat begitu sempurna dan seimbang.Matanya berwarna biru es.Tatapan itu tampak jernih sekaligus dingin, membuat siapa pun yang melihatnya sulit mengalihkan pandangan.Rambutnya tertata rapi, sementara perawakannya yang tinggi dan tegap semakin menonjolkan penampilannya.Ia berdiri dengan tenang, tanpa berusaha menarik perhatian.Namun, justru sikapnya yang tenang itu membuatnya terlihat semakin menawan.Seorang bangsawan wanita tanpa sadar menutup mulutnya.“Astaga...”Bangsawan lain yang berdiri di sampingnya ikut terdiam. “Apakah itu benar-benar Pangeran Kesembilan?”“Dia... sangat tampan.”“Selama ini, mengapa dia selalu mengenakan topeng?”“Ini pertama
Keesokan harinya, istana kembali mengadakan acara lanjutan dari pesta tradisi kerajaan. Para bangsawan dan anggota keluarga kerajaan berkumpul di aula utama, mengenakan pakaian terbaik mereka. Suasana dipenuhi percakapan ringan, musik tradisional, serta para pelayan yang sibuk mengatur hidangan dan minuman untuk para tamu. Amera sebenarnya telah tiba lebih awal. Namun, berbeda dari hari sebelumnya, kali ini ia sengaja tidak datang bersama Greyson dan Suran. Ia ingin memberikan ruang kepada putra dan menantunya untuk menikmati acara tersebut sebagai pasangan pengantin baru. Bagaimanapun, mereka baru saja menikah. Amera merasa tidak perlu terus-menerus berada di dekat mereka. Ia juga ingin Suran memiliki kesempatan untuk mengenal para bangsawan dan keluarga kerajaan tanpa harus selalu ditemani ibu mertuanya. Ketika memasuki aula, beberapa orang langsung memperhatikan kedatangannya. Amera mengenakan pakaian sederhana dengan potongan yang tidak berlebihan. Tidak ada hiasan mencolo
Pangeran ke-6 gelagapan. “Ke–kenapa tiba-tiba bahas hal seperti itu? Aku tidak ada hubungannya, aku tidak tahu apapun!”Suran tersenyum tipis, tatapannya menyipit tapi itu sudah cukup membuat pangeran ke-6 sadar bahwa sebenarnya Suran sedang memperingatkan dirinya. Pangeran ke-6 diam-diam mengepalkan tangannya, Suran sukses membuatnya tutup mulut. Greyson dan Amera tersenyum menatap Suran. Mereka berdua lega karena sekarang sudah tidak perlu mendengar suara pengeran ke-6 yang menyebalkan itu. Raja pun menghela napas, ia paham apa yang sedang dipikirkan Greyson dan Amera saat ini. “Kita singkirkan lebih dulu pikiran dan pembicara yang tidak berhubungan dengan pernikahan Greyson serta Suran. Malam ini biarkan menjadi malam yang bermakna untuk kita semua.”Ratu menganggukkan kepalanya. “Benar. Pernikahan pangeran ke-9 dan Suran adalah berkah besar bagi istana, maka penting bagi kita untuk mensyukurinya.”Pangeran ke-6 berdecih lalu tersenyum seolah mengejek ucapan Ratu. Yah... Ratu a







